Office Hour

Office Hour
Pertanyaan Bertubi-tubi



Selesai meeting aku memesan espresso double, tolak angin, Panadol dan balsem GPU buat kerokan ke Sarif.


Kepalaku pusing.


Jadi aku hanya bisa menyandarkan tubuhku di kursi sambil menengadahkan kepalaku. Dan kacamata hitam kw tanpa minus yang masih nangkring untuk melindungi dari lampu neon.


"Dimas!!!"


Astaga... Telingaku langsung berdengung.


"Brooooo!!!" Pak Haryono langsung memelukku. "Lo nggak diapa-apain kan brooo!!! Gila gue kuatir beneerr!!"


Ngiung ngiung ngiung...


"Bro, bisa agak tenang ga, rahasia itu bro ntar pada heboh," bisikku.


"Oh iya bener! Sini! Sini!" Pak Haryono langsung menggeretku masuk ke ruangan beliau.


"Jadi gimana ceritanya lo bisa ngelacak gue?" aku duduk di kursi tamunya sambil berusaha menegakkan punggungku yang pegal. Kalau kuprediski kayaknya ada campur tangan Pak Aman juga di sini, yang bisa melacak orang seaduhai ini kan cuma beliau, si mantan Brigjen turunan Korea-Kroasia.


"Kacrut Bro!!" Pak Danu menghambur masuk. Di belakangnya ada Pak David juga. "Sekali lagi lo bikin heboh, gue tugasin lo jadi Direktur Kepatuhan sekalian!! Asw bener lo!!" ia juga memelukku.


Pak David menepuk punggungku. "Pengaruh viag-ranya udah habis durung?" tanyanya.


"Saya dicekokin 3 biji Pak, udah pasti masih ngefek,"


Semua reflek menatap bagian bawahku.


"Nggak usah diliatin gitu dong ntar dia berdiri lagi, " aku langsung melipat kakiku. "Susah payah saya mikirin hutang negara biar dia bobok manis,"


"Kenapa lo mikirin hutang negara?"


"Iya biar nggak semangat."


"Kacau lo..."


Kami semua menyeringai.


Lalu orang yang paling tidak kuharapkan, masuk ke ruangan.


"Dimas?"


Meilinda Adinata Bataragunadi.


Aku bangun.


Maksudku bukan aku yang bangun, tapi 'aku' yang lain, bagian kecil tubuhku, hal terpenting bagi seorang pria.


Aku langsung ambil bantal dan kuletakkan di pangkuanku.


"Anjay,” desisku.


Aku bisa mendengar Meilinda menjelaskan situasi, bahkan menjabarkan kronologis pencarian, sampai ucapan terima kasih karena membantu dia di demo barusan, tapi semua kata-katanya bagaikan gaung di telingaku.


Semua bercampur aduk jadi satu.


Kepalaku makin sakit.


Dan yang lebih sakit lagi, yang di dalam perut bawahku ini menghentak-hentak ingin keluar. Tapi kutahan mati-matian.


"Mel, Kita ngerti, tapi kamu keluar dulu deh," kata Pak Danu Akhirnya. Mungkin dia melihat reaksiku yang diam saja nggak berani ngapa-ngapain dan hanya bisa menunduk. Mode kalem begini bukan tipeku soalnya.


"Eh, kenapa?" Meilinda tampak kebingungan. Aku masih menunduk sambil balik badan. "Mas, kamu nggak ingin ketemu saya?"


Aku diam


Semua diam


"Saya salah apa lagi Mas?!"


Duh, bukan begitu!


Sebenernya pingin banget peluk dia.


terus meledak keluar di atas dad-


Hush!!


Setan, setan, pergilah!!


"Mel, plis," desis Pak Danu masih sabar. Iya akunya yang nggak sabar.


"Dimas, kamu lihat saya dong!" Meilinda sepertinya mulai sewot.


"Meli\, kalo kamu di sini udah pasti Dimas bakalan kon**ak terus\, bisa-bisa kamu langsung diperko**sa didepan kita! Udah sana pergi dulu! Ah\, gitu aja nggak ngerti!!" Sahut Pak Haryono gamblang. "Dia lagi susah payah nahan birahi\, ini! Pengaruh obat perangsangnya masih terasa!!"


Meilinda langsung melongo, lalu ia menangkupkan tangannya ke kedua mulutnya untuk menutupi wajahnya yang langsung merah.


"Oh, Astaga..." desisnya. "Oke, Oke, Aduh, sori yah! " katanya kemudian sambil beranjak untuk keluar.


Tapi tiba-tiba dia berhenti. "Ah! Satu lagi!"


Apa lagi sih! Aku mengerang mengeluh.


Aku bisa merasakan langkah kakinya mendekat. Wangi parfum yang kurindukan selama ini tercium di hidungku, hampir mendobrak pertahananku.


Ia ada di belakangku, mendekatkan wajahnya ke telingaku.


"Saya cinta sama kamu. Saya nggak mau tunggu lagi. Sore ini Saya akan minta ayah saya untuk menikahkan kita secepatnya."


Aku langsung membeku.


Butuh waktu untuk mencerna kata-katanya.


Otakku saat ini belum bisa digunakan untuk berpikir logis. Sehingga pada akhirnya saat aku akan menanyakan maksudnya, ia sudah tidak berada di belakangku dan sosoknya sudah berada di luar ruangan.


Aku juga melihat Pak Sebastian berbicara dengan Meilinda di depan ruangan Pak Haryono.


Ngapain sih doi masih disini, kan demonya sudah selesai.


Pak Sebastian tampak mengerutkan kening dan berdebat sedikit dengan Meilinda, lalu Meilinda mengibaskan tangan dan berlalu. Pak Sebastian mengelus dagunya sambil berpikir kemudian menoleh kepada kami yang berada di ruangan Pak Haryono.


Lalu dia masuk.


Seketika semua berdiri sambil menghormat padanya.


Loh... kok dedek-ku tidur? Apa dia juga takut sama Genderuwo Taman Lawang?


"Heh!" sahutnya padaku. "Kerjanya melet anak orang," desisnya jengkel.


Aku menyeringai. Baru kali ini aku lihat Pak Sebastian dengan hati riang. Soalnya entah bagaimana keadaanku langsung stabil kalau ada dia.


"Diapain aja pas diculik? Saya harus jadi produser nggak? Siapa tahu kamu mau bikin film dokumentary 'detik-detik penculikan betmen kadut'," sahutnya.


Aku berani bertaruh yang dimaksud dengan betmen pasti adalah umpatan 'kampret'.


"Yah, begitulah pak. Bapak mikirinnya adegan apa? Ya itulah yang terjadi," desisku tanpa beban karena masih di dalam pengaruh obat. Kayaknya bukan hanya obat biru yang dicecoki ke tenggorokanku. Mungkin ada semacam dopamin atau semacamnya.


Ia terdiam, lalu menutup pintu, dan menghujaniku dengan seringai liciknya.


"Adegan asusila?" matanya tampak berkilat.


Semua langsung menatapku seketika.


"Nggak seru ah!"


“Dih! Itu aja saya udah mikir asuransi jiwa Pak! Saya belom bayar  premi 2 bulan!”


"Disodorin apa aja lo?" tanya Pak Haryono.


"Semuanya."


"Anjay..." desis semuanya. Mungkin mereka berharap jadi diriku saat itu. Tapi beneran deh, diculik itu sama ketakutannya. Aku yang notabene adalah laki-laki aja udah kuatir banget mereka berbuat hal-hal gila ala sikopet padaku. Jaman sekarang manusia tak tertebak tingkahnya. Dipaksa bercinta dengan seseorang yang tidak kita sukai itu yang ada bukan enak, tapi perasaan jijik.


Dalam hal ini, karena aku adalah laki-laki, mungkin mereka nyangkanya enak-enak aja. Karena bisa jadi itulah fantasi liar mereka. Tapi aku ini tipe yang setia terhadap satu wanita. Pelecehan semacam ini sebenarnya membuat batinku sakit. Tapi dijelaskan dengan cara apa pun mereka tidak akan pernah mengerti. Aku bagaikan berkhianat terhadap Meilinda.


Apa aku masih pantas jadi suaminya?


"Cantik-cantik, itu... dan brutal." sahut Pak Haryono menjelaskan ke Pak Sebastian. "Salah satunya pernah terlibat cakar-cakaran sama Meli, dulu waktu rebutan Dimas di ruangan si David,"


"Posisi lo gimana?" pertanyaan nggak jelas bernada iseng lagi-lagi dari Pak Haryono.


"WOT."


"Anj**ay..." desis semuanya lagi.


“lokasi lo dimana sih?”


"Gue di area basement gedung X."


"Ha! Deket amat dari sini, itu. Tabur bunga lah besok kita, sekalian makan Tahu Pong deket situ," desis Pak Sebastian.


"Iya dah, mau tabur duit ke rekening saya juga ayok," jawabku malas.


"Lo diiket Mas?"


"Iya, "


"Baju lo dibuka paksa macam film-film semi gitu?!"


"Iiiyaaaa,"


"Ajigile," desis mereka lagi.


"Lo dicekokin obat mas?!"


"Iya..."


"Berapa butir?!"


Aku mengangkat 3 jari tanganku.


"Masih berefek dong sekarang?!" goda Pak Sebastian.


"Iya," Ngantuk tapi nggak bisa tidur!


"Makanya dia duduk pak sekarang, tadinya masih bisa ditahan. Meli masuk langsung standby mode lagi!" Sahut Pak Haryono.


Pak Sebastian geleng-geleng.


Aku menelungkupkan wajahku di meja.


"Terus pas digrebek Sa'ad lo lagi pada ngapain?" Duh lagi-lagi pertanyaan ini. Aku sebal jadi kuungkapkan saja detailnya.


"Mereka xxxx saya, terus ya saya nurut aja daripada nyawa terancam, akhirnya saya di xxxx, terus mereka xxxx, mereka jadi xxxx saya tetep xxxx, mereka nggak kuat sendiri! Terus antrian berikutnya xxxx saya juga..." sahutku. Aku bahkan nggak inget aku ngomong apa aja. Mulutku bergerak sendiri.


"Anjay," desis semuanya. Pak Sebastian malah ngekeh melulu dari tadi. Kayaknya dia seneng banget aku disiksa.


"Kamu mau nuntut, Mas? Perbuatan tidak menyenangkan, saya bisa sediakan pengacara." Kata Pak Sebastian, tumben dia baik sama aku.


"Kalo gitu Visumnya harus hari ini!" kata Pak Haryono.


"Tunggu Bang Sa'ad aja. Kalau besok muncul efek samping, saya mohon bantuan," desisku. Karena kalau melibatkan polisi pasti Bang Sa'ad kena pasal karean dia kan tadi main hakim sendiri.


"Ya sudah, hubungi saya saja kalau kamu perlu," Sahut Pak Sebastian.


Semua menatapku dan doi bergantian, mungkin kesannya aku dan Pak Sebastian akrab banget karena aku dianggap pacarnya Meli, tapi kurasa Pak Sebastian baik padaku karena ada niat tersembunyi terhadap ibuku.


"... Biaya pengacaranya potong gaji." tambahnya.


Sadis...


"Pak Dimas!"


Terdengar suara yang mengganggu pendengaranku.


"Ini kopi sama obat Maag, perlu paracetamol nggak? Jangan lah bisa bisa numpuk-numpuk di darah! Dan mau dikerokin dimana?!"


Si Selena Malampir nongol di balik pintu dan menghambur masuk ruanga Pak Haryono, tak lupa ia menunduk menghormat ke Pak Sebastian sebelum duduk di depanku.


"Sini, lo..." aku melambaikan tangan padanya.


Aku perlu menguji suatu teori.


Aku bisa melihat semua laki-laki di ruangan ini pasti menatap Selena dari atas ke bawah saat dia berjalan melewati mereka menuju ke arahku. Tidak ada yang bisa menolak appeal Juru Kunci Gunung Berapi ini.


"Coba sini liat mata gue," sahutku.


"Mau ngapain sih Pak Dimaaaas?!" Nadanya curiga tapi agak malas meladeniku.


"Jangan bawel."


Ia menatapku lekat-lekat.


Aku menatap dari atas kepala sampai sepatunya dengan seksama.


Aku menatap belahan dadanya.


Hm...


"Mal..."


"Hm?"


"Lo itu sebenernya cowok yah?!"


Semua diam.


"Bagian mana yang mengindikasikan saya cowok, Pak Dimaaasss????!!" ia sewot dan agak meninggikan suaranya.


"Habis, gue nggak bereaksi di depan lo,"


Selena diam.


Wajahnya merah dan ia menatapku tajam.


Mungkin harga dirinya langsung terkoyak mendengarku. Tapi gimana dong, uji ini kubutuhkan untuk menilai aku masih dalam kondisi stabil atau belum. Ternyata sudah stabil. Kalau sampai Selena membuatku naik juga, fix pengaruh obatnya kuat banget.


Lalu ia membuka kancing bajuku dan menarik kemejaku dengan paksa, memutar kursiku, tangannya menahan tengkukku dengan kasar supaya aku agak membungkuk, dan tanpa suara langsung membubuhkan balsem ke punggungku dan mulai mengerokiku.


"Bodo amat," umpatnya.


Aku hanya berdoa semoga koin buat ngeroknya nggak diganti cutter.