
Jadi, cerita ini request dari salah satu kenalan Author yang maksa minta dibikinin ceritanya udah mulai masuk kategori "teror".
"Tolong dibahas pas Dimas Masak."
Ceile...
Nggak cukup adegan Chef Juna masak?! Chef Reynold bikin desert?! Ato nonton yutub Chef Drew Rivera dan Chef Bobby Tonelli tuh, ganteng abbbbis, nggak harus bayangin tokoh khayalan macam Dimas kan?!
Oke,
Kita mulai khayalan Tante Author...
****
Cooking With Dimas...
Jadi...
Entah bagaimana saat Meilinda hamil muda anak kedua, dan Nayaka sudah waktunya mpasi, tiba-tiba istriku tercinta minta diajarin masak.
Mintanya dengan dua dasar alasan :
Dia pingin bikinin Nayaka makanan yang enak-enak. Gara-gara nonton vloger ibu-ibu muda bikin bento di yutub.
Racun dari instagram...
Bunyi Racunnya :
Don't let your man out of your door with two H :
Hunger
&
Hor ny.
Yah, nggak salah sih.
Tapi nggak tepat juga buat lelaki Indonesia.
Yang terakhir bener sih.
Kalo Hunger, istri nggak bisa masak paling tidak, kita masih bisa cari warteg kok...
Ato ke rumah tetangga yang punya istri bisa masak, dan lakinya lagi kerja.
Eh...
Haha
Bercanda loh...
"Ajarin masak," dia menyerangku bertubi-tubi. Meilinda dateng ke kantor cuma mau ngerajuk minta diajarin masak.
Padahal aku baru selesai meeting pendanaan.
Tahu sendiri Sarah kalo nuntut kesejahteraan suka nge-Gas. Telingaku masih siyok, karena ngedengerin ibu-ibu sosialita menyinyir sambil teriak.
Apalagi dia udah merasa kalah telak dariku. Terbukti saat merasa ' tersakiti' olehku, terus bawa-bawa nama Pak Sebastian nggak mempan, aku malah diangkat jadi Kepala Divisi, dia bawa-bawa nama Pak Hans, eh aku malah jadi Direktur...
Sekarang mau bawa nama siapa lagi hah? Presiden?
Jangan deh, nggak kebayang nanti aku bakalan jadi apa.
"Kamu kalau bosan di rumah, bisa aktivitas dirikan yayasan atau sekolah rakyat, bikin usaha property, atau jualan berlian via online juga boleh. Nggak harus masak kan?" sahutku.
Perasaanku beneran nggak enak.
"Dimas... Masak itu identitas wanita." sahutnya.
Hm...
Aku nggak ngerti.
Identitas wanita itu bukannya sama yah kayak pria?
KTP dan SIM bukan?
Ato yang agak elit dikit, Passport?
"Bukannya Jilbab yah?" sahutku. Sekalian nyuruh halus...hehe.
Dia menatapku dengan cemberut.
"Laki-laki nggak mungkin pake jilbab kan?" Tambahku sambil pura-pura pasang tampang innocent.
Dia menghela napas.
Oke... Usaha ngelesku nggak mempan.
Tapi sepengetahuanku, dalam Islam, mengurus rumah tangga itu memang pekerjaan suami. Tapi istri yang membantu pekerjaan rumah suaminya dengan ikhlas, pahalanya setara dengan ber-jihad. Hadisnya ada nih, HR. AHmad dan HR.Muslim.
Makanya semua ART di rumah, aku yang menggaji, ya mereka kan membantu pekerjaanku soalnya.
Terus, tugas istri apa dong? Ongkang-ongkang kaki aja? Coba cek ke Mbah Google tugas seorang istri, Kalau aku jabarin jatuhnya jadi edisi ceramah agama dong ah!.
Aku sih malah tak tega kalau melihat Meilinda harus kerja keras. Pas sama Pak Hans dia jadi Ratu, masa nikah sama aku dia harus jadi pembantu? Harga diriku di mana, coba?
"Ya udah deh, anything for you," Aku nyerah, nggak kuat sama tatapan Bidadari.
Ia terkekeh.
"Aku ajak yang lain yah, kamu kasih tahu daftar apa aja yang harus aku siapin."
"Hah? Yang lain tuh siapa aja??" Aku panik.
Jadi...
Di sinilah kita berada.
Rumah ibuku di Bekasi.
Alasannya :
Karena dekat pasar. Kalau ada bahan yang kurang, tinggal meluncur naik sepeda.
Di Bekasi, Bayam seiket cuma seribu.
Di Darmawangsa, Bayam seiket ceban.
Bedanya sampai Rp. 9.000.
Alasannya sesimple itu.
Peserta kursus masakku, semua wanita di tiga novel Tante author.
Kita tampilkan.
Bidadari Surgaku, Meilinda.
Si bawel Nyi Blorong, nama disensor
Si Barong gemoy, Cecil
Ratu Sejagat, Milady ( ngapain dia di sini, dia kan udah jago masak, coba?!)
Wanita Dingin, Bianca ( sebenernya juga udah jago masak, tapi dia digeret Milady karena katanya aku mau buka kursus masak sehari. Tuh, dia lagi ngeliatin aku sambil nyengir licik...)
Farah si wanita agresif, calon istri Leon (yang ini digeret sama Bianca, sebenarnya dia nggak mau datang. Dia nggak bisa masak karena memang nggak suka masak.)
Mitha, wanita solehah calon istri Trevor. Yang ini ada karena aku minta datang, untuk bantu-bantu menyembuhkan batinku yang kemungkinan akan teraniaya sama ibu-ibu otoriter. Dia jagonya masak makanan bersantan.
Daaan, Jeng Jeng Jeeeng! Ari Sangaji dong ah!
Dia bisa masak dikit-dikit. Jago banget masak. tema masakan Gothic. Jadi semua yang dimasaknya berubah jadi hitam... alias gosong. Dia kesini soalnya aku butuh bantuan buat cuci piring. Kan kasihan ibuku kalau rumahnya kotor.
Sementara dewan juri sekaligus penyemangat anggota kursus adalah...
Mas Bram, yang sibuk sama laptopnya di ujung sana, kelihatannya lagi ada proyek,
Trevor yang daritadi mondar mandir di sebelah Masku karena bantuin proyek Masku,
Alex yang ngobrolin bisnis baru sama Mas Yan,
dan Leon yang dari tadi sibuk sama ponselnya sambil bicara dengan bahasa Jerman, kelihatannya ngobrol sama Gerald.
Yang absen cuma Pak Danu karena lagi tidur di petinya.
Ini kan siang hari, nanti dia kebakar.
Eh...
Pokoknya dia ada kesibukan yang lain.
Dan kelihatannya Cecil agak lega karena kalo masakannya gagal nggak malu-maluin di depan pacarnya.
Anyway... Kelihatannya bapak-bapaknya juga nggak peduli sama kegiatan para wanitanya karena sibuk sendiri. Buat apa juga orang kaya masak? Kan mereka pada punya ART...
Kayak Mas Yan, chef pribadi predikat Michelin...
Nah, ngapain coba Milady masak? Mending dia arisan aja buat investasi, ya gak?
Ini semua gara-gara nurutin Meilinda yang kurang kerjaan.
Aku cuma pasrah...
"Kita masak apa nih sayang?!" Meilinda menatapku dengan mata berbinar.
Duh...
Hari Sabtu begini, mending leyeh di kamar sambil nonton Netflix dan cuddling deh, daripada main masak-masakan... Liat deh senyumnya, bikin aku jadi pingin... Ehm.
"Yang gampang aja, banyak kerjaan..." desisku sambil mengangkat bahan masakan yang menurutku paling gampang sejagat.
Indomie...
Bukan. Nggak estetik.
Yang dibahas di atas.
Sayur bening, alias Sayur Bayam.
Jrenggg!!
Sayur bayam versi gampang. Tinggal cemplung.
Bahannya...
Sudah pasti Bayam, bukan rumput.
Diganti rumput juga boleh kalo punya fetish tertentu. Bodo amat lah aku.
Terus bawang putih, bawah merah, royco agak banyak, garem dikit, gula sesuai insting.
Dan Jadilah atas izin Illahi.
Sesimple itu.
Masa sih nggak bisa?!
Pasti bisa lah ya...
Iya kan?
ini tuh bukan bayam high level yg pakai kencur, temu kunci, minyak wijen, santan, daun salam, lengkuas dll dsb loh.
ini versi yang amat sangat sederhana ala-ala ngajarin anak TK masak.
Tapi kenapa perasaanku makin nggak enak yah?!
"Hari ini kita masak sayur bening." desisku malas.
"Apa itu?" tanya Malampir.
Elah... Sayur bening aja nggak tau.
"Maksudnya masak air, gitu?!" tanya Selena.
Bianca menatap Selena bagai melihat Alien turun ke bumi mandi di kali.
"Kamu serius nanya ato bercanda?" tanya Bianca.
"Serius nanya. Atau sayurnya transparant? Apa ada jenis yang begitu? Sejenis ubur-ubur ato plankton gitu?"
"Dia serius nanya." sahut Bianca ke Milady memberi pernyataan.
Milady menatap Bianca dengan pandangan keibuan. Sepertinya dia memberi kode supaya Bianca memaklumi kemungkinan banyaknya pertanyaan yang akan jauh lebih aneh sebentar lagi.
"Kamu setiap hari mengalami hal absurd seperti ini?" tanya Bianca padaku, masih dengan poker face khasnya.
Aku hanya menghela napas dan berdehem.
"Maksudnya sayur bayam." lanjutku.
"Ooh... Sayur bayam aja gitu lah nyebutnya... Yang pake bayam kuahnya bening pake extra jagung kan?!" sahut Selena.
Ya iya lah cantiiiiik...!! Batinku meradang.
Kan aku udah bilang Sayur Bayam! Bagian mana yang kurang mengindikasikan sayur itu pakai Bayam, bukan Pohon Beringin. Hih! gue tarik juga nih paku di ubun-ubunnya!!
Si Ari lewat di belakangku ngasih palu.
"Buat apa'an?"
"Buat nyabut pakunya mbak Seleb?"
"Kok lu tauk?!"
"Batin Pak Dimas kedengeran sampe keluar,"
Aku mencibir sambil mengibaskan tangan mengusir Ari dan palunya.
"Terserahlah..." sungutku.
"Tapi gue mau masak yang laki gue suka, Bram kamu suka apa?!" tanya Selena.
Mendengar namanya disebut, otomatis Masku mengangkat wajahnya dari layar laptop dan menghentikan klik-an mousenya, tapi masih tersisa kerutan di dahinya.
"Eh? Kamu satu tahun nikah sama aku, nggak tahu aku suka makan apa?" tanya Masku balik.
"Kamu pemakan segala yang dihidangkan ibu soalnya." sahut Selena.
Tampak sekali raut wajah Masku mencoba bersabar.
"Aku suka mendoan." akhirnya setelah beberapa detik dia menjawab.
Sejak kapan dia suka mendoan?!
Tatapanku menyerangnya meminta konfirmasi. Dia balik menatapku merespon balik sinyal.
Radar antar saudara langsung bekerja, berkomunikasi lewat gelombang magnetik.
Makanan favorit Masku gulai tunjang pakai 12 macam herbal. Makanan setaraf profesional chef hotel bintang lima yang masaknya 'pake lama'.
Dan dia bisa membuatnya sendiri.
Nggak ada itu cerita pake santan instan, dia harus peras sendiri santannya dari kelapa langsung dengan tingkat kekentalan tertentu. Dan bumbunya ditumbuk pakai batu, bukan diblender.
Iya, Masku lebih jago masak dibanding aku dan ibuku.
Yang membatasi hanya tingkat workaholicnya aja, jadinya jarang punya waktu di dapur.
Kayaknya, biar Selena nggak kesusahan sok-sok'an bikin makanan kesukaannya, dia otomatis jawab mendoan.
Masakan tergampang versi Masku.
Karena...
You know lah..
Mendoan adalah tempe balur tepung dan disajikan setengah mateng.
Jadi nggak mungkin gosong karena asal goreng sebentar dan tiriskan.
Kecuali ngegorengnya sambil nyambi memonitor pergerakan saham.
"Tuh! Dia sukanya mendoan." sahut Selena.
Aku berdecak.
"Iya mendoan cocok disajikan pakai sayur bayam." aku jawab sekenanya. "Kalo lo udah gape bikin nih sayur, berikutnya lo bikin tuh tempe tepung."
"Dia bilang mendoan, bukan tempe tepung." sahut Selena.
Bianca langsung menunduk menahan tawa.
Milady membalikkan tubuhnya. Mungkin dia berdoa memohon kekuatan.
Terdengar Mitha langsung mengucap Subhanallah.
"Serah lu dah..." sungutku. Ari lewat dibelakangku sambil menyerahkan teflon.
"Buat apa'an?"
"Getok palanya, Pak?"
"Hush! Hush! " kembali aku mengibaskan tangan ke Ari danmemintanya menjauh sebisa mungkin.
"Mbak Seleb, secara teknis, mendoan dan tempe tepung itu memang sama-sama tempe berbalur tepung. Kalau di Solo makanan itu jadi sarapan pagi-pagi sambil nonton gosip artis. Pake teh anget oke banget!! Bedanya kalau mendoan gorengnya setengah mateng aja, kalo kematengan udah jadi kripik tempe judulnya. Rasa yang paling mencolok dari mendoan adalah ketumbar dan apek tepungnya. Jangan lupa tingkat kelebaran antara tempe biasa dengan tempe goreng tepung harus diperhatikan. Semakin lebar ukuran tempenya, semakin mengukuhkan level sultan mendoan tersebut. Ketebalan tepung setengah matangnya juga meningkatkan kualitas mendoan itu sendiri. Biasanya tempenya disajikan tipis. Jadi daripada dibilang tempe balur tepung, lebih pantas dibilang tepung isi tempe, daaaan itu endull bangeeettt!! Duh aiir liurku...."
Beberapa dari kami langsung haus mendengar Cecil bicara panjang kebar tentang mendoan. Seakan ia bicara hanya untuk menggenapkan kuota jumlah kata di episode novel ini.
Tampak Ari langsung mengambil air es dari kulkas dan menegak langsung dari botolnya. Sisa air di botol tinggal beberapa teguk ia baru ingat kalau Boss gantengnya ini juga kehausan, jadi dia lempar ke arahku dan aku menegaknya sampai habis.
"Lanjut yah. Alasan gue ngajarin bikin sayur bening adalah karena ini masakan penuh cinta dan cocok untuk ibu-ibu yang lagi sibuk. Sayur bayam kaya akan berbagai macam vitamin dan kebeningan kuahnya menandakan bersihnya hati dan pikiran." desisku ngasal.
Bianca menimpukku dengan pipilan jagung, berniat menyadarkanku. Pipilnya diambil dari meja Farah yang daritadi menahan bosan sampai dia nekat ngemil jagung mentah.
Terdengar tepukan Meilinda dengan mata yang masih berbinar.
"Cocok banget jadi masakan perdana aku buat kamu, sayaaaang!!" sahutnya.
Aku beneran menyesal kenapa aku ngajarin bikin sayur bening padahal masih ada sayur yang lebih mudah. Seharusnya aku ajarin dulu bikin sayur kangkung karena bahannya cuma 3 macam aja udah bisa enak dimakan.
Kangkung, baput dan saus tiram botolan. Selesai.
Aaarrggh!
Aku menghela napas lagi.
"Pertama, ambil panci yang nomer 1." aku angkat panci sayur. Para ibu-ibu mengikuti gerakanku.
"Isi pake air galon sebanyak setengah panci."
Ibu-ibu mengikuti gerakanku.
"Taruh di atas kompor." kataku.
"Lalu nyalakan api medium."
"Medium itu seberapa klik sih?" terdengar Nyi Blorong bertanya ke Bianca.
"Dua klik." jawab Bianca.
"Kok elu tiga klik?"
"Medium versi saya."
"Itu si Farah kenapa apinya gede banget begitu?"
"Dia mau membakar masa lalu yang pedih." jawab Bianca asal.
"Biar cepet mateng." jawab Farah.
"Nggak bisa dong nanti nggak seragam jadinya," protes Selena.
"Heh jangan ngobrol sendiri, dengerin dosen ngomong di depan ini..." sungutku.
"Siap Paaaakkk..." sahut Selena dan Farah dengan malas, khas suara mereka yang cempreng. Bianca dan Milady terkekeh berbarengan.
"Terus ambil mug terdekat." sahutku.
"Hah? Mug?" Bianca mulai merasa aneh. Tapi dia menurutiku ikutan ambil mug.
"Tuang kopi sachet ke dalamnya..."
"Ha?" ulang wanita es, tapi dia tetap menurutiku.
Milady udah ngakak aja bawaannya.
"Nah, sebelum masak yang utama pokoknya ngopi dulu lah buat ketenangan pikiran..." aku menyeringai sambil mengaduk kopiku.
"Yeee... Dosen gendeng!" umpat Selena.
"Gue setuju lah yang ini..." sahut Farah.
"Bagi Boooos.." sahut Ari sambil merebut kopiku lalu ngacir ke sebelah Farah sambil toast.
"Habis itu...."
Belum juga aku selesaikan kalimatku...
"Sayang!! Ini kenapaaa!!!" teriak Meilinda.
Aku reflek mendekapnya, menariknya dari kompor, ambil alat pemadam dan memadamkan kompornya
Apinya udah segeda gaban.
Setelah akhirnya api padam, dibantu Trevor yang dengan gaya maskulinnya menarik tuas APAR, aku mengatur napasku dan segera memeluk Meilinda.
Kopi gue mana kopi...(mulai stress)
Baru masak air aja jadi tragedi!!
"Sayang..." aku memeluknya dengan posesif.
Terdengar decakan Pak Sebastian.
"Udahan yah aku nggak kuat..." keluhku sambil memegangi dadaku yang sesak. "Baru masak air aja aku udah jantungan... Udah lah aku udah cukup sama kamu apa adanya nggak usah main masak-masakan asal ada yang bisa dimakan aja.. Plis..." engahku.
Aku memohon sambil berlutut memeluk kakinya.
Aku beneran deg-degan rasanya usiaku jadi setua Mas Yan.
"Yaaah sayaaanggg... Maaafffff..." desis Meilinda sambil memelukku juga.
"Buset..." aku bisa mendengar suara Farah. Dia langsung mematikan api di kompornya karena trauma juga.
"I'm done. Mending gue beli kaefsi aja langsung." desisnya sambil menyeruput kopi.
Ari menyerahkan kopiku yang udah tinggal setengah gelasnya.
Cewek ganteng ini kayaknya punya kebiasaan menyisakan sesuatu hanya beberapa tegukan saja untukku sisanya ia rampas.
"Ya Ampun ini cewek-cewek parah amat sih..." desis Alex nggak sabar yang langsung menyudahi diskusinya dengan Mas Yan sambil menggeret Leon yang pasrah ke depan podium.
Kami memperhatikannya.
"Lihat baik-baik ya, jangan teralihkan." sahutnya tegas.
"Pisau tangan kanan. Bawang putih tangan kiri, taruh di atas alas, geprek."
Gubrak!! Bunyinya.
"Singkirkan kulitnya, iris kasar." desisnya. Dia mengiris dengan kecepatan cahaya.
Aku dapat saingan memasak.
Cukup mengejutkan.
"Woooowww..." sahut Selena.
"Cemplungin bawang ke air mendidih." sahut Alex.
"Kupas kulit bawang merah..." Leon melanjutkan demostrasi. "Iris bagian belakang dan depan biar gampang buang kulitnya, iris tipis." dia juga mengiris dengan kecepatan cahaya. "Masukin ke panci."
Byur.
"Widihhh... " sahut Selena sambil berdecak kagum.
Kami memperhatikan dengan seksama duo chef rumahan yang berkolaborasi membentuk sinergi sayur bayam.
"Yang paling pertama di rebus adalah jagung karena dia paling keras. Taruh bonggol di alas. Jangan ada tangan yang ikut-ikutan, angkat semua tangan, terus hantam pake pisau paling besar kayak menggakl orang yang paling lo benci!"
Gubrakk!!
Bonggol terbagi dua.
"Lakukan pada bonggol yang tersisa. Berantakan nggak papa yang penting jagungnya kebelah. Sekali lagi, jangan ada tangan yang ikut-ikutan!"
Gubrak!! Gubrakk!!
"Masukin semua ke panci."
Byur
Leon lanjutkan dengan bayam.
"Ini yang paling ribet. Lakukan paling terakhir soalnya matengnya paling cepet. Waktunya bisa pas berbarengan sama jagung mateng. Kuncinya cuma tiga hal..." Leon mengangkat tiga jemarinya.
" 1. Pastikan yang dipakai hanya daunnya. DAUNNYA AJAAAAAA... Ngerti?
Kalo ada ulatnya JANGAN LANGSUNG REFLEK DIBUAAAAANGGGG!! Ngerti? nggak boleh mubazir, nanti rejeki nggak lancar.
Cuci sampai bersih perlembar. Jangan kuatir, jagung matengnya agak lama kok. Asal nggak nyambi manicure aja..."
"Ribet amat koh... Beli yang udah dipetikin ada nggak?" sahut Farah.
"Itu sama kayak kamu nanya bedanya beli di pasar Bekasi sama di supermarket Darmawangsa... Yang ceban biasanya udah dipetikin tapi isinya cuma seperempat dan nggak ada ulatnya."
"Oke kita pilih itu. Asal nggak ada ulatnya." timpal Selena.
Kami, para chef berdecak kesal...
"Kalo ada ulatnya biasanya nggak pake pestisida, say... Jadi alami. Yang nggak ada ulatnya pakai pestisida, cucinya harus benar-benar bersih atau kamu bisa keracunan..." Ratu sejagat ambil alih penjelasan.
"Gue balik lagi makan kaefsi..." sahut Farah.
"Dasar generasi micin..." sahutku.
Saat itu Leon udah selesai menyortir bayam dan memasukannya ke panci.
"Terakhir masukin kaldu bubuk..." Leon mencipratkan kaldu dengan gaya estetik. "Yang Banyak!" dia menambahkan dengan tegas. " terus garam sesuai insting..."
Alex ambil alih "Gula dengan takaran suka-suka lo aje." dia beneran ngasal ngelempar gula masuk ke panci.
Ngelempar loh...
Tuing...
Sesendok teh...
Udah pasti remahannya kemana-mana.
"Udah selesai! Nggak sampe sehari semalem yah ibu-ibu. Usahakan tetap bening nggak usah pake ditambah-tambahin coklat ato susu ato apalah itu...Udah pasti rasanya nggak enak! Udah gue balik ah! Wasting time banget deh!" sahutnya sambil menghampiri Bianca dan membopong wanita itu di bahunya lalu ngibrit keluar ruangan.
Bianca meronta mencoba membebaskan diri tapi Alex dengan sigap memasukkan tubuhnya ke mobil dengan nggak sabaran.
"Gue balik juga, mau malem mingguan. Yuk Yang... sebelum filmnya mulai." sahut Leon.
"Eh, kita ke time zone dulu kali..."
"Oh iya... Buruan ngacir kalo gitu..."
Dan mereka pergi dari sana.
Meilinda iseng mencoba bayam kreasi Alex dan Leon.
"Wah... rasanya enak... Seger banget! Hebat juga..." desis Meilinda.
"Ayo balik sayaaaang! Kamu jangan maksain ah!" Rajukku sambil mengelus perutnya.
"Yah aku nggak jadi masaaaak..."
"Aku kapok ngajarin kamu masak!" aku merogoh dompetku dan mengeluarkan 500ribu ke Ari. Biaya dia cuci piring kekacauan yang terjadi.
"Kurang kali, Pak Dimas! Pak Alex gulanya berceceran..." Ari tetap menengadahkan tangannya.
Sialan si Alex...
"Nih sejuta! Di hemat-hemat!!" gerutuku.
"Sipp bisa beli knalpot racing di Shopee..." gumamnya.
Berakhirlah sesi pelajaran memasakku, yang seumur hidup nggak bakalan mau kulakukan lagi. Kecuali satu sesi dibayar semilyar.
Sipp!
(ini bayam versi amat sangat sederhana sekali ya buibuuuuu. kita semua tahu bayam high level itu pakai temu kunci, kencur, daun salam, wortel, bahkan ada beberapa yang mengubahnya menjadi bobor bayam dgn santan dan jahe. yang lain tambah minyak wijen dan biji wijen. Tapiiiiiiii.... ingat, ini pelajaran bagi sosialita yang seumur hidupnya tak pernah menyentuh kompor. jadi umpamanya bagaikan mengajari anak 5 th memaksak. hihihi)