Office Hour

Office Hour
Cinta Dalam Kesulitan



Aku tidak mendengar ada suara dari ruang meeting.


Sepi, sunyi senyap.


Barulah saat aku masuk lebih dalam, aku langsung mengerti kenapa keadaannya seperti itu.


Pak Sebastian sudah duduk di kursi paling ujung, kursi paling nyaman, paling mahal, paling bergelimang dosa.


kenapa?


Karena di kursi itu biasanya diduduki oleh pengambil keputusan, dan biasanya pengambil keputusan dianggap orang yang paling dzalim, haha!


Semua manajemen sudah ada di sana, termasuk Trevor. Kenapa juga dia bawa-bawa pejabat sister company macam Trevor, seharusnya internal kita nggak bisa diinterupsi anak usaha lain, kayak nggak percaya sama pejabat sini.


Bagaikan bisa membaca pandanganku, Trevor cuma berujar : “Saya cuma penggembira yaaa. Sekaligus asisten dadakan,” sahutnya.


Nasib lo jadi anak Bapak lo.


“Eeeeh, Biang kerok sudah datang. Sini duduk di sebelah saya,” sahut Pak Sebastian sambil menatapku dengan pandangan meremehkan.


Semua menatapku.


Di ruangan yang seluas 150 m2 itu penuh orang, dengan masing-masing Direktur dan Komisaris membawa satu atau dua asistennya. Nggak mungkin cuma membahas diriku kan? Mungkin keuangan Garnet Bank lagi morat-marit, atau mungkin ada kasus fraud besar, atau tidak mencapai target, atau bener dia lagi milih sekretaris baru buat bikin Harem. Meeting sama BI saja nggak sampe begini tegangnya.


Bisa banyak kemungkinan karena ini meeting terbesar yang kuikuti.


“Kamu nyaman kerja di sini, Mas?” tanyanya padaku.


Pertanyaan macam apa itu? Aku nggak jawab.


“Karena yang saya baca situasinya, keberadaan kamu di sini membuat tidak nyaman banyak orang,” sambungnya lagi. Aku menghela napas sambil ogah-ogahan menatap lantai. Ketahuan dengan cepat.


Aku nunduk sambil Dzikir.


“Jangan terlalu sering mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaan ya, saya mulai mempertanyakan profesionalisme kamu,” Ujar Pak Sebastian.


“Sekarang, saya minta kepada divisi yang berwenang untuk membantu Dimas mengusut pelaku ‘perusakan properti kantor’ kemarin. Siapa pun pelakunya, akan saya pastikan selain dipecat tidak akan bisa bekerja di perusahaan besar mana pun. Dengar semuanya?!” ia mengatakan kalimat itu dengan santai tapi tajam, membuat orang langsung bertekuk lutut


Kami hanya terdiam.


“Bukan karena yang jadi korban adalah adik saya dan pacar bang-satnya ini, tapi karena ia telah berani mengusik salah satu Direktur di Lembaga Keuangan milik saya dan berbuat vandalisme. Jelas?!” Sambungnya.


Terserah dia mau menghujatku apa, yang penting statusku sekarang adalah PACAR Meilinda. Yess!


Aku pun melayangkan pandanganku ke segala arah dan mengamati semua peserta meeting di sana. Semua menatapku.


Ada yang bengong, ada yang sinis, ada yang mesem-mesem, ada yang tegang.


Aku merasa seperti yang punya perusahaan.


Kulihat Fendi ada di kursi di samping, ia duduk di belakang Bu Sarah. Fendi hanya mengangguk padaku, memberi kode kalau rahasiaku aman bersamanya. Jadi belum ada yang mengutak atik Gio.


Aku benar-benar harus membuka meeting terbuka saat ini karena posisiku juga sudah terdesak.


Bukannya aku tidak memikirkan perasaan Gio ya, instingku mengatakan laki-laki itu berada dalam tekanan saat melakukan vandalisme. Aku memeriksa banyak tayangan di area gedung membuntuti aktivitas Gio seminggu terakhir. Hasilnya aku mendapati ada 14 orang selain Gio yang terlibat.


Aku jadi membayangkan bagaimana ekspresi wajah Gio yang biasanya ceria apabila ia ketahuan. Selain dia yang terlibat adalah Geng Ciwi-ciwi yang suka nongkrong bersamanya. Biasanya mereka bergosip di ruangan auditor membicarakan diriku. Aku mengenal mereka semua.


Selesai meeting aku merenung di ruanganku.


Gio tidak berada disitu, hari ini dia ijin sakit.


Tapi aku tahu dia tidak akan kabur kemana-mana. Ibunya mengalami stroke dan harus dirawat di rumah. Gio sebagai tulang punggung harus mengeluarkan biaya untuk pengobatan ibunya karena ayahnya sudah meninggal. Belum adiknya yang saat ini kuliah dan ada juga yang masih sekolah. Dia tidak bisa kabur meninggalkan ibunya dan pindah rumah bukan sesuatu yang ringan.


Akhirnya karena merasa butuh teman bicara, aku pun menelepon Meilinda.


“Dimas?” Sapanya di dering kedua,


Duh, suaranya kok jadi lembut begini, bikin aku tegang.


“Bisa ngobrol sebentar?” tanyaku


“Aku boleh ngomong duluan nggak?” Lah kok malah jadi duluan.


“Eh? Boleh aja sih,”


Wadoooooh!


Kenapa sore-sore dia malah ngomongin begituaaaan, aku kan jadi tergugah!


“Teruuus,” katanya lagi, “Jam tangan kamu udah sampai?”


“Udah sih, kupakai nih,”


“Oh, itu ada GPSnya ya Mas, biar kakak tahu kamu lagi di mana aja, hehe,”


Kenapa dia ngomongin hal itu seakan tak ada beban? Terus dipikir aku terima-terima aja dikuntitnya gitu?


“Besok kutinggalin jam tangannya di ruko spa plus-plus,” desisku sebal.


“Jangan dong, nanti kakak kesana terus nggak pulang gimana hahahahah!”


Dih, gemesin ni pacarku. Hwehehehehe.


“Kakak kesitu ya?” tanyanya.


“Iya, barusan selesai meeting besar. Dia marah banget,” sahutku.


“Tapi kamu nggak diapa-apain?”


“Anggota tubuh masih lengkap, sih. Kepalaku masih di tempatnya. Tapi hatiku tinggal separuh nih,”


“Kenapa? Kamu sakit?! Kakak saya mempermalukan kamu di depan umum ya!!”


“Bukan. Soalnya kamu nggak masuk kantor jadi hatiku cuma separuh yang tertinggal,”


Buaya kadut. Sempet-sempetnya mulut manisku ini.


“Wahahahahaha!! Gilaaa! Aku langsung pusing iniii!” seru Meilinda dari seberang sana.


“Kamu pusing karena lagi sakit,”


“Eh iya aku lupa bilang aku sampai diinfus vitamin, katanya tekanan darahku rendah,”


Aku tegang, “Kok kamu masih sempat-sempatnya ketawa sih Mel? Itu kan kondisi serius! Kamu tuh jarang sakit loh,’


“Kayaknya ini Cuma karena shock sih. Kamu udah ketemu pelakunya belum?”


“Oh, pelakunya ya. Kamu juga kayaknya udah tahu tersangkanya sih,”


Tok!


Tok!


Tok!


“Mas?”


Aku menoleh ke arah pintu dan mendapati Pak Danu menyapa dan berjalan ke arahku. Aku menyudahi teleponku dengan Meilinda dan balas menyapanya. Dia duduk di kursi di depan mejaku.


“Pak,” sapaku.


Pak Danu menghela napas berat,“Sapa sih yang lapor sama Big Boss tentang kejadian kemarin?” tanyanya. Kayaknya cape bener doi.


“Yang begituan pasti langsung heboh dan merambat ceritanya Pak,” Sahutku.


Pak Danu memandangku dengan serius sambil mengangguk.


“Bro, gue sebenernya nggak pingin ngomong begini, tapi gue harus kasih tahu,” ia mencondongkan tubuhnya ke arahku.


“Sebelumnya sori banget ya bro, gue harap lo nggak tersinggung, tapi tindakan lo ini sudah bikin susah semuanya. Lo yang cinta-cintaan, kita semua yang kena. Di sini yang kerja keras demi keluarganya itu banyak, nggak semuanya single. Tapi gara-gara hubungan lo sama Meilinda, kita semua diacak-acak sama Big Boss,” Pak Danu merendahkan suaranya.


Aku mendengarkan dengan seksama, aku sangat-sangat mengerti yang beliau kuatirkan.


Pak Danu menyenderkan tubuhnya ke sofa berusaha santai. Pria berusia 47 tahun itu menatapku dengan matanya yang setajam elang, namun nanar sedih seakan menanggung beban berat.


“Gue harap ini yang terakhir, Bro. Sesuai prosedur, gue dan manajemen akan melakukan yang terbaik. Tapi kalo terjadi lagi, gue terpaksa minta lo angkat kaki dari sini,” sahutnya sambil berdiri, meninggalkanku termenung di mejaku.


**