Office Hour

Office Hour
Vila Vampir (7)



Kami menyusuri jalan setapak di tengah hutan. Menurut kami, Pohon-pohon di sini terlihat aneh, besar-besar berhimpitan dengan padat dan sukar dilalui.


Namun jalan setapak yang kami injak seakan membelah hutan dan teksturnya rata. Bagaikan menunjukan jalan pada kami ke arah tujuan.


Aku jalan paling belakang, memastikan kami berenam tetap pada jalur dan tidak ada yang tertinggal.


Namun sudah berjalan setengah jam, dari tadi hatiku tidak tenang.


Aku melihat Leon jalan paling depan. Jaket Army hijaunya dan golok besar tangan kanan untuk berjaga-jaga.


Setelah itu ada Andrew di belakangnya. Lalu Daniel dan Fendi.


Dan aku berhenti.


"Koh Awu..." panggilku.


"Apa?" ia terdengar tak sabar.


"Laper." sahutku.


"Hah?! Lo laper bro? Ini mumpung siang ada cahaya, cuaca enak buat jalan, loh..."


"Udah berenti dulu makan mie cup yah?!" pintaku. Aku meminta dengan kesungguhan hati. Berharap dia menangkap kode yang kuberikan.


"Emang lo bawa mie cup, Mas?" tanya Daniel.


Aku mencibir ke arahnya, memberinya kode "Diem lo."


Tapi tampaknya Leon langsung menangkap sinyalku.


"Oke, disini aja ya berhentinya." sahutnya.


Aku bernapas lega. Nggak sia-sia dia ditunjuk jadi CEO.


Eh, apa hubungannya, coba.


Maksudku, feelingnya akan bahaya kuat banget. Mungkin karena dia terbiasa kerja di lapangan, jadi dia bisa merasakan alam berbicara.


Bedeuh....!


Jadi kami duduk menggelar matras di tengah jalan setapak, lalu duduk dan membuka perbekalan kami.


Aku membagi-bagi gelas kopi...


Cuma ada empat gelas, jadi yang satu aku ambil dari tutup tumbler, sedangkan aku meminum kopi langsung dari tumblernya.


Oke... Sekarang...


"Kamu siapa?" tanyaku.


Semua diam.


Saling lihat-lihatan


"Apa bro?" tanya Daniel.


"Gue nggak ngomong sama lo. Jumlah kita ada enam ini." dengusku.


Semua diam lagi.


Cuma ada bunyi Leon menyeruput kopinya.


Dan yang di sebelah Leon, menyeringai padaku.


Laki-laki berjaket warna orange dengan tulisan Mapalaya Universitas X.


"Hehe akhirnya ada juga yang bisa lihat saya." kata cowok itu.


"Bisa lah, sweater kamu mencolok banget warna orange."


"Iya Mas, biar kalo hilang bisa langsung ditemukan, tapi untuk saya kayaknya percuma, nggak mungkin bisa ketemu karena semuanya hangus..."


"Hangus? Perasaan Gunung Sindoro meletus itu lebih dari 100 tahun lalu,"


"Bukan hangus karena letusan gunung kok." dan ia tersenyum simpul.


Aku?


Bodo amat.


"Habisin kopinya, terus raib sana, sebelum saya panggil Broki." dengusku.


"Saya boleh ikut barisan ini sampai depan villa nggak Mas? Mau ke sana juga kan?! Soalnya dari dulu nggak ketemu-ketemu jalannya. Saya udah 30 tahun muter-muter di sini aja."


"Hah? Dari 30 tahun yang lalu nggak ketemu jalannya? Ini beneran villa yang sama dengan yang gue tuju ato bukan?!"


"Vila keluarganya Khamandanu kan?"


"Eh... Bener sih."


"Lo ngomong ama siapa sih bro?" tanya Daniel.


"Lo perhatiin dong kopinya berkurang, ya sama yang minum kopi lah." dengus Leon.


Semua langsung menjauhiku sambil terperajat.


Kecuali Leon yang lanjut makan pocky.


"Siapa bro?" tanya Leon padaku.


Aku membaca sweater yang cowok ini kenakan.


"Kayaknya mahasiswa pecinta alam..." Sahutku.


Cowok itu mengangguk.


"Dia mau ikut sampe depan villa katanya." kataku.


"Ya udah, tapi jangan ganggu. Sampe ketahuan kita disasarin, gue panggil backup. Coba tanya dia, gue punya aura macam apa?" desis Leon.


Aku menatap cowok itu. Cowok itu hanya begidik.


"Aura temennya Mas DImas, seram. Ada backing dari dunia yang levelnya lebih tinggi. Kayaknya pengalaman di tempat macam begini ya?" sahut cowok itu.


"Nama kamu siapa?"


"Nama saya Dana, Mas."


"Oke... Habis ini kita jalan lagi, kamu di belakang Fendi. "


"Anuu kak, ada 2 lagi temen saya yang katanya mau ikut. Mereka selama ini selalu mendampingi saya. Dibunuh sama-sama sih,"


"Bro, temennya dua orang mau ikut." sahutku ke Leon.


"Bukan 'orang' kali.  Ya udah asal nggak ganggu dan cuma sampe depan villa ya." sahut Leon sambil lanjut makan rengginang.


Eh, kok ada rengginang?!


Dan temennya...


Ya Tuhanku.


Hampir aja aku lari!


Dua sosok tinggi, keduanya mengenakan jaket kulit yang sering dipakai biker, dengan jeans dan sepatu boot. Tapi mereka berdua tanpa kepala.


"Jangan takut kak, mereka ilmunya belum terlalu tinggi jadi ada bagian yang tidak bisa kelihatan." kata Dana


"Bukannya memang matinya di..."


"Eh... Iya itu juga sih. Hehe"


Aku menghela napas.


Horor, sumpah...


"Kenapa baunya jadi wangi begini?!" keluh Leon sambil beranjak.


Jadi kami kembali menyusuri jalan setapak. Dengan kompas mati dan tanpa sinyal, ditemani setan mahasiswa pecinta alam dan dua nohead di sebelahku.


Aku takut?


nggak juga sih...


Entah kenapa perasaanku lebih ke sedih.


Dan bertanya-tanya, kenapa mereka hanya mau sampai di depan villa. Apa ada hubungannya dengan penghuni villa itu?


Matahari cukup terik, ada di atas kami.


Nohead di sebelahku menarik lenganku, mencegah kami maju.


Ia melambaikan tangannya.


"Bro, disuruh berhenti." sahutku ke Leon.


Leon langsung berhenti.


"Kenapa?" tanyanya.


Leon tidak menyadari kalau di depannya ada ular gede banget lagi lewat.


Tak berapa lama Nohead di sebelahku mempersilahkan kami jalan kembali.


Kenapa jadi kayak di cerita KKN begini?!


No head di sebelahku menginstruksikan dengan tangannya supaya tetap maju dan jangan menoleh.


"Cin, lo denger nggak?" desis Fendi menghentikan langkahnya.


"Denger, tapi kita disuruh maju dan jangan menoleh ke kiri."


"Duh..." keluh semua.


Aku?


Noleh ke kiri...hehehehe


Ada yang lagi nari di kejauhan.


Melambaikan tangan padaku.


Cantik


Tapi seram.


Nohead di sebelah kiriku menarik senjata dari punggungnya.


Mengancam si penari supaya tidak mendekat.


Setan takut juga diancam senapan?! Widih...


Setelah itu makin banyak yang berliweraan nggak jelas di sekitar kami, bentuknya macam-macam. Aku entah bagaimana merasa aman-aman saja karena dua Nohead di samping kanan-kiriku ternyata melindungi kami.


Kuperhatikan, Dana melenggang santai.


Ia tidak membawa ransel gunung seperti kami, selayaknya Mahasiswa pecinta alam. Dan dua Nohead ini membawa senapan di belakang punggung mereka.


Siapa sebenarnya mereka bertiga?


Tidak berapa lama perjalanan, tiba-tiba kami melihat helikopter di atas kami.


"Bro!! Ada heli bro!!" seru Daniel kesenengan.


Aku memicingkan mata menatap ke atas sambil melindungi mataku dengan tangan.


Tulisan di helinya Garnet Oto.


Pepohonan di samping kami tiba-tiba...


Yah...


Menghilang.


Digantikan dengan kebun teh.


Semua terperangah...


Dana menyeringai.


"Ooh... Ternyata begini ya rasanya keluar dari circle. Lega banget yaa. Akhirnya bisa pulang juga." sahutnya. "Makasih ya Mas..."


Dan dia menghilang bersamaan dengan kedua nohead.


"Dari tadi tuh sebenarnya nggak ada hutan?!" tanya Andrew.


Dia dari tadi sok berani ternyata takut juga sebenarnya.


Heli berhenti di depan kami, membuat kami memicingkan mata karena anginnya.


Seseorang melompat keluar dari heli, berpakaian suit keren.


"Selamat siang bapak-bapak,"


Silau meeen ada Pak Arman!


"Kita nggak butuh bantuan Lo!" dengus Leon.


Pria itu menyeringai. "Iya deh Pak Leon, saya juga nggak berniat membantu sih, tapi tadi Mbak Lady mengancam mau membom villa kalau kalian tidak sampai juga ke villa dalam satu jam."


Arman menatap tiga sosok di belakangku.


Dana dan 2 nohead.


Lalu dia mengangguk hormat dan berpaling.


"Kamu... Kenal?"


"Oya, saya kenal. Pak Dimas bisa lihat mereka toh?"


"Siapa mereka?"


"Hem... Nanti juga Pak Dimas tahu kalau kita sudah sampai villa."


Kami semua masuk ke heli dan Beranjak ke vila.


*****


"Kenapa Mas Yan bisa di sini duluan?!" seruku kesal sambil menunjuk Pak Sebastian, dengan cerutu di pinggir bibir, duduk santai di ruang tamu villa.


Di sebelahnya, Pak Danu lagi berdiri sambil milih-milih snack.


Leon menghela napas merasa sia-sia.


"Saya juga mau tanya, kamu ke mana saja selama ini. Ada jalan alternative lewat belakang, langsung belok dari jalan utama Wonosobo." sahut Mas Yan.


"Kita dua hari perjalanan rasanya jauh banget sampe ketemu setan!" Omelku.


"Makanya... Banyak berserah diri sama Yang Di Atas..." balasnya. "Udah sana ganti baju, terus bikinin nastar. Milady lagi pingin Nas-"


"Ih, baru juga datang!" potongku.


Vilanya bagus, pake banget. Besar dan mewah kayak hotel.


Namun... Saat aku melewati koridor mau ke arah kamar, aku melihat batu nisan.


"Eh, bro..." aku menghentikan Arman yang berjalan di depanku.


"Ya Pak?"


"Itu nisan?"


Arman menoleh ke samping.


"Iya, Pak... Mau lihat?"


"Punya siapa? Ada mayatnya?"


"Nggak ada." Arman membuka pintu ke arah halaman samping dan berjalan ke arah nisan.


Rufus Lionel Khamandana.


Aku hampir pingsan.


"Ini nisan Bapaknya Pak Danu." Kata Arman. "Mayatnya tidak pernah ditemukan sampai sekarang. GSA pernah diterjunkan ke sepanjang Gunung Sindoro 10 tahun lalu untuk melakukan pencarian ulang mayatnya, dia menghilang bersama dua orang pengawalnya sekitar 30 tahun lalu. Kami menemukan residu abu di kordinat sekitar 10 kilometer dari sini. Lebih tepatnya, saya yang menemukan. Itupun tidak sengaja saat saya tersesat... Setelah dites ternyata itu dari serat kain sweater. Aslinya berwarna..."


"Orange... Sweater Mapalaya Universitas X." Sambungku.


"Iya Pak... Dia sangat bangga dengan kampusnya. Dan suka memakai sweater itu. Sosok yang tadi kita lihat adalah sosok terbaiknya saat dia masih mahasiswa. Dia suka naik gunung, ini gunung favoritnya. Karena itu dia sangat senang saat Kanjeng Putri mmeberikan Villa ini sebagai hadiah. Dan dua orang pengawalnya, adalah agen dari Garnet Grup. Bisa dibilang senior saya, walaupun saya belum pernah bertemu langsung..." Arman menghela napas. "Dari rohnya, sepertinya kematian mereka cukup tragis." sambungnya.


Aku menitikkan air mata.


Entah kenapa...


Lalu berdoa di depan nisan itu.


“Jadi, kamu hanya ingin pulang...” kataku.


Sebuah tangan menyentuh bahuku. Aki Tirem di belakangku.


“Makasih Mas Dimas, Kedatangan Mas Dimas kemari juga sebenarnya tidak kebetulan, tapi takdir. Kanjeng Gusti sudah menguji mental Mas Dimas di Hambalang, bersama Banda. Harus orang dengan sifat yang santai, bisa berpikiran terbuka, namun tidak labil,” katanya.


Lalu sambi berjongkok di sebelahku ia kembali menjelaskan, “Selain itu harus ada hubungannya dengan tiga Keluarga. Antara Bataragunadi, Bagaswirya atau Baskara Beaufort. Tapi masalahnya dari keturunan mereka belum ada yang sefrekwensi gelombangnya. Mungkin karena emosi mereka belum stabil ya Mas. Orang yang tidak tertarik dengan harta duniawi adalah orang yang pas. Masalahnya Mas Dimas saat itu belum menjadi suami Bu Meilinda.”


“Sekarang karena saya sudah jadi bagian keluarga, jadi saya bisa mengantarkan mereka?”


Aki Tirem mengangguk, Lalu menatap ke arah hutan di depannya dengan mata menerawang. “Selain itu, Mas Dimas sedang menanti buah hati. Semakin ‘wangi’ aromanya. Penghuni sini tidak suka kalau Mas Dana keluar dari hutan. Karena ia sakti dan sebenarnya sebagai penjaga empat arah. Penari yang tadi Mas Dimas lihat, itu namanya Sri Ratu Damaya. Ia salah satu penjaga empat arah. Dia tidak suka saat Mas Dana keluar jadi dia menampakkan diri ke Mas Dimas. Berharap Mas Dimas terhipnotis. Sayangnya... Mas Dimas sedang jatuh cinta, hehe ... jadi tidak terpengaruh,”


AKu menggaruk kepalanya.


“Terus, kondisi hutan saat ini timpang dong Ki?”


“Tenang saja, Mas. Saya sudah dapat penggantinya Kok, hehehe,”


"Cepetan nastarnya! Saya udah mau pulang nemenin cek kandungan!!" terdengar seruan Mas Yan dari dalam villa.


Ceile...


*****


Episode kali ini serius yeee...


Episode berikutnya kocak lagi, okeeee