
Malam semakin larut dan herannya kami berempat malah main kartu sambil ngobrol. Pak Sebastian malah tadinya pingin main qiu-qiu, tapi karena tak enak dengan ibuku akhirnya kami memainkan kartu mengusung konsep lebih syariah, yakni 4-1.
“Ini ada sontoloyo yang ngarah kartunya sama kayak punya saya,” gerutu Pak Sebastian.
Aku menatap kartuku. Semuanya keriting.
Pak Sebastian kalau ambil kartu, selain keriting, dia buang.
Jadi yang dia maksud ‘sontoloyo’ kayaknya aku.
Diam saja lah.
“Nggak usah senyum-senyum kamu,” omel Pak Sebastian.
“Lah, main kartu kok dilarang senyum,” desisku.
“Saya tahu kamu senyum-senyum bukan karena angka kartu kamu lebih tinggi dari saya, ini saya ada merahnya nih!”
“Nggak usah ngaku kelemahan duluan gitu dong, yang penting seragam dulu aja kartunyaaa,” gumamku.
“Memang Dimas senyum-senyum karena apa Yah?” tanya Trevor sambil memicingkan mata melihat ke arah kartunya.
“Paling ngebayangin Meli,” gerutu Pak Sebastian.
“Ehm!” aku berdehem karena tenggorokanku langsung kering.
“Ciuman kok di garasi rumah orang, di depan CCTV pula. Apa namanya itu kalau bukan karena mau pamer,” Pak Sebastian membuang kartu merahnya, kayaknya dia dapat kartu keriting angka besar barusan.
Bram dan Trevor terperangah, kembali menatapku antusias.
Aku hanya menunduk sambil entah bagaimana dan kenapa bibirku malah menyunggingkan senyum. Akhir-akhir ini panca inderaku suka nggak kompak. “Terbawa suasana, Pak,” ujarku sambil ambil kartu.
“Dibilang terbawa suasana, tapi kok kelihatannya gerak geriknya seperti sudah terbiasa,” Pak Sebastian melanjutkan argumennya.
Senyumku makin lebar, beneran gada akhlak. Aku jadi teringat lagi kan, betapa manisnya rasa bibir Bu Meilinda.
“Bajigur...” gumam Pak Sebastian sambil membuang kartunya. Kayaknya dia lagi ngomel bukan karena pingin minum.
Tiba-tiba ponsel Trevor berdering. Kami reflek menatap ponselnya di meja, tertulis nama Milady.
“Yak," sapa Trevor. Terdengar suara wanita dari seberang. Aku dan Bram menghabiskan waktu dengan menatap plafond atau ubin, tapi tampak Pak Sebastian memandang Trevor dengan serius.
“Lady ini udah malem jangan suka gangguin aku masalah kerjaan dooong, aku lagi maen kartu sama Dimas!” omel Trevor.
Lalu terdengar protes dari seberang telepon.
“Lah salahnya sendiri kenapa nggak pulang tenggo, kan tadi udah kubilang nggak usah dikerjain sekarang! Yang namanya keberhasilan suatu proyek selain tergantung sama jadwal, juga yang paling penting campur tangan Tuhan! Kalo kejadiannya kayak begitu ya di luar kuasa kita sebagai manusia. Udah kamu pulang saja. Nanti itu jadi urusan manajemen.” sahut Trevor menyudahi pembicaraan.
“Nasabahnya Gunawan??” tanya Pak Sebastian.
“Iya Yah,” sahut Trevor. “Aku terlanjur teken kontrak, sebelum tahu tentang kasus Tante Meilinda,”
“Ya sudah lanjutkan saja kerjanya asal menguntungkan,”
“Ya kita udah sugesti jelek duluan jadinya,” kata Trevor.
“Ngomong-ngomong, Sekretaris kamu rajin juga ya,” terdengar nada menyindir dari mulut Sebastian.
Aku melirik Pak Sebastian karena curoga. Kenapa dia selalu menyinggung-nyinggung mengenai Milady. Seakan dia sedang merasa cemburu dan berniat memata-matai semua yang ada hubungannya dengan Milady.
“Lebih perhatian daripada pacar kamu yang di Jepang,” desis Pak Sebastian lagi.
“Milady memang rajin, tapi bukan berarti aku mau dijodohin sama dia,”
“Kamu tidak bisa berdekatan wanita lain selain Milady,”
“Dan Ayumi,” Trevor menyebutkan nama pacarnya yang ada di Jepang.
“Ayumi bukan wanita baik-baik,” desis Pak Sebastian.
“Tidak selamanya pilihan Ayah benar, buktinya Jeffry ternyata Gay,” Trevor menyindir masalah rumah tangga Meilinda.
“Kalau soal Ayumi, ayah punya bukti-bukti valid,”
“Aku nggak cinta Milady, Ayah. Dan Milady kayaknya lagi jatuh cinta sama laki-laki lain. Dimas aja dia tolak kok,”
Aku langsung tegang.
Mas Bram cekikikan. Kayaknya dia seneng banget aku jadi bahan bulan-bulanan.
“Oh, kamu pernah nembak Milady?” perhatian Pak Sebastian sepenuhnya kepadaku.
“Ayah mulai jahil pingin ngejodohin gue sama Milady.” Jelas Trevor.
“Sukurin!” desisku menantang.
“Urusan kita belum selesai ya," sahut Pak Sebastian santai lagi.
Aku tegang lagi.
”Mengenai Meli, Saya kali ini akan diam. Tapi kalau sampai Meli mulai menunjukkan tanda tanda...” ia tampak berpikir, “...tidak nyaman, kamu bisa sampaikan permohonan maaf ke ibu dan kakak kamu. Tenang saja, saya pastikan pusara kamu nggak jauh-jauh dari rumah ibu kamu.”
Boleh tambah kopi nggak?
Rasanya aku tambah ngantuk.
Aku memang begini orangnya, semakin diancam malah semakin ngantuk.
“Oke,” Pak Sebastian meletakkan kartu-kartunya ke atas meja, semua keriting dengan angka besar.
Astaga, main 4-1 dia menang loh... Kartuku lebih kecil angkanya, walau pun keriting semua juga.
Tapi punya Trevor malah acak adut, ada yang hitam ada yang merah. Parah sumpah.
“Saya menang...” desis Bram sambil menunjukkan koleksi Kartu Hati-nya yang nilainya tinggi.
“Kalau Boyo-Kethek nggak ikut-ikutan ngarah keriting ya saya yang menang,” gerutu Pak Sebastian.
Pikiranku juga terasa keriting jadinya. Ribet banget main kartu sama Sultan.
“Nih, ceknya,” Pak Sebastian menyerahkan cek senilai 100juta ke Mas Bram. Hadiah si Pemenang.
Siaul!!
“Boyo, karena angka kamu lebih kecil dari saya, hukumannya, kamu serahkan data istri-istri Gunawan yang lain, selanjutnya biar saya yang bergerak,"
Aku mengangguk pasrah. Itu berarti kerjaanku dobel. Aku harus menghubungi Alex lagi untuk melacak profil istri kedua ketiga keempat, keseratus kalo ada.
Tapi hatiku ini terasa ada yang mengganjal.
Nuraniku menggedor-gedor hatiku.
Akhirnya aku pun bertanya.
“Maaf pak, kalau boleh tahu apa yang akan bapak lakukan?” Masalahnya, mengingat sifat dasar Pak Sebastian yang suka banget sama adegan tiran, aku malah deg-degan dia bakalan ngapa-ngapain Gunawan.
Ya Gunawan memang breng-sek. Tapi Meilinda juga harus disalahkan karena teledor.
Membayangkan Mitha dan anak-anaknya harus sebatangkara karena Gunawan di-apa-apakan Pak Sebastian, membuat aku semakin khawatir.
“Bukan urusan kamu," sahut Pak Sebastian pendek.
Aku menghela napas. “Karena Saya sudah terseret terlalu jauh, Saya merasa perlu mengingatkan Bapak," Aku mengangkat wajahku menatap Sebastian. “Bu Meilinda tidak ingin masalah ini diketahui siapa pun karena dia ingin menyelesaikan sendiri, ini aib baginya. Tindakan Bapak kemungkinan akan membuatnya makin terpuruk dan malu karena berhubungan sama harga dirinya sebagai wanita. Dalam hal ini dia sudah pasti pihak yang akan kalah kalau dijejerkan dengan istri-istri Gunawan,”
Bram menyengol-nyenggol kakiku mengisyaratkan supaya aku tidak kelepasan. Aku mengindahkannya. Aku tak peduli Sebastian akan bertindak apa kepadaku. Tapi ini mengenai nurani.
“Saya rasa kita tanyakan dulu pada Bu Meilinda maunya bagaimana. Ini urusannya, walaupun saya mengerti bahwa Anda walinya, dan Pak Hans juga orang tuanya. Tapi ada baiknya dia bersikap dewasa dan lapang dada mengenai masalah ini. Saya dan Trevor juga memiliki kepentingan terhadap Gunawan ini soalnya Pak, banyak pekerjaan yang berhubungan dengannya,”
Pak Sebastian berdecak kesal.
“Ya saya juga tahu harus berbuat bagaimana, saya bukan anak kecil yang harus dinasehati Boyo-Kethek!”
“Ya siapa tahu situ khilaf main hantam aja,” desisku.
“Terus terang aja, saya memang hampir menginstruksikan Arman supaya menembak jidat si Gunawan,”
Buset...
“Tapi kalau kamu mau tahu langkah apa yang akan saya ambil, saya akan memanggil Mitha lebih dulu. Kami sudah lama tidak bertemu. Walau punnanti dia harus kecewa dengan hasil pertemuan kami, tapi saya merasa berkewajiban untukmemberitahunya. Langkah selanjutnya biarkan dia yang memutuskan. Yang penting Meli nggak dekat-dekat lagi sama Gunawan,” kata Pak Sebastian sambil menyeruput kopinya.
Horeeeeeee !!
Aku beneran harus sujud syukur di sepertiga malam. Pasti ibuku sedang mendoakan aku di belakang sana.
Aku menyesap kopiku, mengambil ayam goreng, dua tempe, dua tahu, sesendok telur dadar.
Malam itu diakhiri dengan helaan napas Pak Boss. “Di sini nggak jualan nastar ya?” tanyanya kemudian.
**