
Apa yang membuat laki-laki merasa sebagai laki-laki?
Apakah saat ada wanita yang kau cintai di sisimu, mendampingi dan bergantung padamu?
Apakah saat ada anak-anak yang memanggilmu "Ayah" dengan senyum polos mereka?
Apakah saat ada teman-teman terdekat di sisimu yang bilang kepadamu kalau mereka mengandalkanmu?
Atau... saat orang tuamu... Merasa bangga padamu, dan bangga pada diri mereka sendiri telah membesarkanmu dengan baik?
Dan yang terpenting,
Saat kau memberi penghargaan pada dirimu sendiri, kalau kau adalah laki-laki hebat.
Diriku ?
Yah, yang jelas aku merasa beruntung saat ini.
Aku bisa memeluk wanita yang kucintai dan ada keluarga yang peduli padaku. Dengan orang-orang hebat yang mengelilingiku.
Aku harus banyak-banyak bersyukur...
Meilinda menangis di pelukanku, ia mencengkeram lenganku dengan erat. Ia sedang menyesali kebodohannya, kami sedang menyesali kecerobohannya. Terutama kilatan dendam di mata Pak Sebastian yang tidak akan kulupakan. Aku saat ini mengerti perasaannya. Aku juga marah.
Namun aku tidak mengenal Meilinda dari lahir. Pak Sebastian lebih merasa sakit dibanding diriku.
Kami saat ini sedang bernegosiasi dengan Gunawan Ambrose.
Semua yang ada di ruangan ini melihat sosok lain dalam diri Gunawan.
Ambisius.
Terobsesi.
Haus akan kesuksesan.
Ia ingin seperti Bataragunadi, namun ia belum bisa mendapatkannya.
Jadi ia menggunakan diri Meilinda yang rapuh karena pernikahannya kandas untuk mendekati Pak Sebastian, dan meraih yang ia impikan.
Namun maaf,
Belum saatnya brother!
Walaupun kini ia bertingkah menyebalkan dengan keras kepala akan menyebarkan video Meilinda atau Pak Sebastian harus melepas saham Garnet Mining Rusia padanya.
Lalu dengan pandangan licik, ia mengerling ke Meilinda.
Aku tidak harus menjelaskan apa saja yang kami perbincangkan selama 2 jam yang menyebalkan ini kan? Pokoknya dihiasi dengan drama berbau politik.
Sampai akhirnya Gunawan berbicara padaku.
"Pak Dimas," sapanya. "Pertama kali saya berjumpa dengan Anda, saya sudah tahu kalau moment ini akan tiba dengan cepat. Terima kasih Anda datang di saat yang tepat sehingga saya bisa bergerak cepat menyesuaikan diri."
"Sama-sama." balasku.
Intinya, dia mengincar carbonado seharga 1 triliun yang berada di area Garnet Mining Rusia. Berlian itu saat ini menjadi idola di pasar perhiasan. Dan sudah ada beberapa penawar yang masuk bahkan sebelum lelang dimulai. Johan's Company miliknya menjadi perwakilan untuk Garnet Mining dalam melakukan penggalian dan mendistribusian manfaatnya.
"Seberapa besar Anda mencintai istri dan anak-anak Anda?" tanyaku.
Ia mengangkat alisnya.
Semua menatapku.
"Kenapa Pak Dimas jadi bawa-bawa keluarga saya? Sudah kehabisan bahan negosiasi? Secepat ini kalian menyerah?"
"Jawab saja, Pak Gunawan." aku tidak sabar.
"Hm... Yang anda maksud, istri saya yang mana? Saya punya tiga istri, dan punya 9 anak. Saya mencintai semuanya." sahutnya.
Aku mengangguk. Ia mengakuinya, tidak malu-malu lagi. Luar biasa pria ini. Kalau di depan kami, dia mengaku.
"Anda banyak tanggungan keluarga yah Pak Gunawan, seharusnya Anda tidak mengeluarkan kalimat sarkasme,"
"Wah wah wah... Khas keluarga Bataragunadi. Kehabisan ide, mau berniat mengancam keluarga saya, heh?! Saya bisa menuntut kalian semua di meja hijau."
Kami diam.
"Saya tidak seperti mantan suami Meli yang terima-terima saja ditindas oleh Sebastian sampai sekarang. Saya akan bawa pengancaman ini ke pihak berwenang."
"Saya tidak mengancam Pak Gunawan. Saya hanya menyarankan. Anda terlalu berpikiran pesimis..."
Aku menyeringai.
"Pak Gunawan... 6 dari anak Anda adalah perempuan. Apa tidak terpikirkan oleh Anda kalau di masa depan mereka akan disakiti laki-laki seperti Anda menyakiti Meli? Dan anda memiliki 3 istri yang semuanya anda sangat cintai, apa tidak terbayang seandainya mereka... Merasa tidak diperlakukan dengan adil oleh Anda?"
"Saya menemui mereka secara berkala, nafkah juga sama rata. Kalau Anda mau tahu Pak Dimas, Meli yang lebih dulu merayu saya. Saya bahkan tidak membuka pakaian saya." ia menyeringai licik.
Aku merasa Meilinda gemetar di pelukanku.
Pegangannya merenggang. Aku malah semakin memeluknya dengan erat.
Aku ingin ia tahu, masa lalunya tidak akan mempengaruhiku untuk tetap maju mencintai dirinya.
"Yang Anda lakukan ke Meli itu tidak adil, bagaimana anda bisa bilang kalau istri-istri Anda, yang sama-sama wanita dengan Meli, merasa diperlakukan adil? Mereka bahkan tidak saling tahu."
Gunawan tegang.
"Dari kalimat Anda, Pak Dimas, menyiratkan kalau anda akan membocorkan mengenai keberadaan mereka satu sama lain. Yah, saya sudah bersiap-siap. Kalau mereka minta bercerai, saya malah dengan senang hati menalak mereka."
"Ooooh... Langsung saja talak 3 kalau begitu. Anak-anak ikut aku."
Terdengar suara yang kukenal.
Aku tersenyum puas.
Mitha ada di belakangku.
Dan ketiga istri Gunawan yang lain.
"Mitha...? Kok kamu..."
Gunawan langsung gemetar.
Mitha maju dan menatap sinis Gunawan.
"Aku udah curiga saat kamu bersikeras membuat akta pisah harta. Alasan kamu untuk perjanjian pinjaman bank, kalau pinjaman gagal bayar, paling tidak masih ada aset yang tidak bisa disita oleh bank karena milik saya, jadi kita masih punya tempat bernaung. Ternyata untuk persiapan ini... Mau menalak kami bertiga, atau salah satu saja?" sahut Mitha.
"Sudahlah, talak saja kami bertiga... Toh kami masih bisa cari makan sendiri yah Mbak Yu?!" sahut salah satu yang memakai kerudung bunga.
"Betul. Kami baru saja menandatangani kontrak kerja dengan Garnet Grup. Aku mulai minggu depan kerja di Garnet Hotel sebagai manager operasional. Mbak Atika kerja di Garnet Retail sebagai supervisor. Kalau Mbak Mitha?" kata yang pakai kerudung sutra motif ottoman.
"Pak Sebastian memberiku jabatan untuk bidang usaha Garnet Grup yang baru, akan bergerak di sektor perhiasan. Bahan kami akan ambil dari Garnet Mining yang saat ini dikuasai Johan's Company. Itu loh... Perusahaan kamu yang pemegang saham terbesarnya adalah aku. Waktu kamu mendirikannya kan pinjam uang dari aku lima milyar yah! Aku sampai jual emas yang kukumpulin sebelum nikah sama kamu loh itu! Masih pakai namaku juga untuk menghindari pajak, karena nama kamu sudah terdaftar sebagai pejabat Garnet Mining, kan?!"
"Mitha, kamu nggak bisa begitu dong! Ada undang-undangnya."
"Loh...sudah sah secara hukum perdata loh kalau Johan's Company itu milik aku. Salah sendiri kenapa bawa-bawa namaku, tapi malah mengkhianatiku?!"
"Aku melakukannya untuk kalian semua!!!" teriak Gunawan. "Gaya hidup kalian yang suka hedon, sosialita, memaksaku untuk mencari duit lebih banyak! Seharusnya kalian bisa mengatur keuangan lebih bijak jangan semua dibebankan padaku!!"
"Heh!!! Siapa yang selingkuh di belakang kami, hah?!" Kerudung bunga berkacak pinggang, maju menghadang suaminya. "Barang branded yang kami miliki kan menyesuaikan gaji dan jabatan kamu, yang suka kamu pamerkan dengan gembar-gembor itu! Kalau kami tahu ternyata semua itu dari hasil deviden saham Mbak Mitha, kami tidak akan menerimanya!"
Kami melihat Gunawan langsung pucat diserang ketiga istrinya.
Lalu ia menatapku.
Entah bagaimana ia tahu kalau aku adalah dalangnya. Jadi ia bersiap menyerangku.
Saat itu tongkat golf Pak Sebastian teracung di depan lehernya.
"Heh baji ngan..." suara Pak Sebastian rendah dan penuh dendam. "Urusan kita belum selesai..."
"Sebastian," Gunawan menatap Pak Sebastian dengan ketakutan. "Ada perjanjian kerja yang telah kita sepakati bersama, kamu tidak bisa begitu saja memecat aku.”
"Iya, sayangnya begitu. Tapi, Saat ini istri kamu sudah menjadi karyawanku, dan dia pemilik sah perusahaan yang kamu gadang-gadang adalah milik kamu itu, jadi secara teknis, Mitha adalah atasan kamu mulai sekarang. Kalau ia masih mau menerima kamu. Itu terserah dia sebagai Boss."
Mitha menyunggingkan sebelah senyumnya.
"Saya pastikan kali ini ia akan bekerja dengan benar Pak Yan."
"Mitha, tolong jangan pecat aku, kamu tahu kan kalau aku masih harus memberi nafkah ayah ibuku? Adik-adikku? Plis Mitha,"
"Serahkan semua copy master video itu," Mitha menengadahkan tangannya.
"Mitha..."
"Serahkan, Gun..." Mitha berujar dengan tegas. "Semuanya, tanpa sisa!"
Gunawan menarik napas panjang.