
Mari kita simak bagaimana cara Tiga Serangkai menghadapi cewek-cewek saat Dimas sibuk Raker. Biarkan saja si BoypKethek berkutat dengan keribetan pekerjaan, sekali-kali kita bahas orang lain.
Yak, perkenalkan Trio Jomblo kita kali ini.
Dimulai dengan seseorang yang males juga Tante Author bahasnya karena orientasinya udah nggak nggenah.
Fendi
Dilihat dari kualitas (masalah pekerjaan) kuantitas ( masalah gaji) dan Kontinuitas (masalah masa depan) sebenarnya adalah manusia yang paling unggul dibanding yang lain. Dia memiliki pekerjaan yang memang dia kuasai dengan baik, etos kerja disiplin tapi hura-hura juga jago. Gajinya jelas dua kali lipat dari Dimas. Apalagi dana dari Alex Beaufort yang tadi dipalak Dimas akan dicatatkan atas pencapaian Fendi. Udah pasti tu cowok bakalan kebanjiran bonus. Walau pun masa depannya tak jelas untuk masalah jodoh dan pasangan hidup, namun ia cukup enjoy dengan kehidupannya.
Kalau dia straight udah pasti bakalan jadi rebutan cewek-cewek.
Kalau Daniel,
Dilihat dari Kualitas, yaaaa... sebenarnya Tante nggak recomended karena dia gampang galau dan plin plan. Versi yang kalau kerja nggemesi. Disuruh dua kali baru ngeh. Urusan Kuantitas, juga kurang sreg ya karena dia anak baru, jadi gajinya UMK lebih dikit.
(UMK itu sama sih dengan UMR sebenarnya. Upah Minimum Regional (UMR) ialah standar upah minimum pekerja yang berlaku di tingkat I atau wilayah provinsi, termasuk kabupaten/kota di dalamnya. Namun, istilah UMR pun sudah tidak digunakan lagi. Sebagai gantinya, merujuk pada Keputusan Menteri Tenaga Kerja (Menaker) dan Transmigrasi Nomor 226 Tahun 2022, UMR tingkat I diganti dengan istilah Upah Minimum Provinsi (UMP) sedangkan UMR tingkat II diganti dengan nama Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK).)
Tapi kalau masalah Masa Depan, dia dapet warisan gede banget dari Alm. Bapaknya yang tuan tanah. Kebetulan, turun temurun tanah itu di kawasan Jakarta Selatan. Dan berada di pinggir jalan, di daerah pertokoan. Dulu bentuknya masih kebon nggak jelas, ada kali 3 hektar tanah engkongnya itu. Hebatnya, di akhir penghujung hidupnya, Bapaknya Daniel menjual tanah itu. Laku puluhan Miliar. Dibagi-bagi ke istri dan anak-anaknya sama rata. Dalam sekejab, Daniel jadi konglomerat.
Tapi ya gitu dia, karena terbiasa hidup sederhana jadi memutuskan untuk tetap bekerja dan hidup dengan lurus.
Dan... Andre Wicaksana. Campuran Tionghoa-Prancis. Tinghoanya dari suku Uyghur yang terkenal cakep-cakep banget parasnya. Dia keponakan Pak Stephen. Keluarganya kaya raya, hidupnya bebas, rada nyentrik, Ngefans sama Axl Rose, dan hobi keliling dunia. Pas duitnya udah habis, dia kerja buat nabung, dan setelah itu resign, balik lagi keliling dunia. Jenis cowok yang nggak bisa diajak buat menetap dan berumah tangga. Udah pasti kalau dikekang bakalan kabur.
Pacarnya banyak sebenarnya tapi nggak bakalan ke-detect karena nyebar di seluruh dunia. Makanya Selena ogah lama-lama pacaran sama dia, lah wong disuruh diem di rumah aja nggak bisa, kuliah males-malesan, nggak bisa diatur pula. Jad menurut Selena, Andrew itu cocoknya buat seneng-seneng aja.
Saat ini,
Ada 14 orang di ruangan, 4 lainnya udah pulang karena minder mendengar nama Bataragunadi.
Sisa 10 orang yang masih keukeuh nungguin Dimas kayak fans fanatik. Dan semuanya cantik-cantik, seksi semua, beberapa bahkan lebih cantik dari Selena.
Dari outfitnya udah pasti mereka kaum hedon.
"Kita beneran nggak bisa bicara dengan Dimas sama sekali?" tanya salah seorang cewek.
"Tadi nggak liat Mbak, Dimasnya kabur. Saya yakin kalian sempat bertatapan,"
Sahut Andrew.
"Dia beneran pacaran sama Meilinda Bataragunadi?! Itu kan udah tante-tante!!"
"Emang seleranya Dimas yang begitu kali, mau tau aja urusan orang," Sungut Fendi.
"Terus mas-masnya ini mau ngapain, hah?! Mau ngehalangin kita ketemu gitu?! Heh kita nih bukan ayam yang bisa digiring masuk kandang yah! Kasih Dimas ke kita!!" Seru salah satu cewek.
"Terus kalo udah dikasih mau pada ngapain, hah?!"
"Kami butuh kejelasan soal hubungan kita. Dia mau pilih siapa?" Sahut salah satu cewek.
Andrew dan Fendi berpandangan, mereka mulai merinding.
Ini cewek-cewek spooky banget ya, mereka udah dibilangin kalau Dimas pacaran sama
Meilinda, kurang kenceng apa suara Fendi, nggak mungkin nggak denger. Mereka malah tanya Dimas mau pilih siapa.
Beneran mereka nggak mau mendengar omongan siapapun.
Dan mereka tetap maksa ada Dimas, padahal Andrew udah ngomong kalau Dimas nggak mau ngomong sama mereka.
Cewek-cewek ini bebal ato bego?
"Ini yang ngebuat gue benci cewek." Desis Fendi. “Kebanyakan emosi, bikin buta tuli.”
"Gue yang straight aja merinding, boy..." Sahut Andrew.
Lalu kerumunan itu mendesak maju. Mereka terdesak.
"Aduh. aduh. aduh... Kok kalian pada murahan sih!!" Akhirnya Daniel Berseru.
Semua menatapnya sambil melotot merasa terhina.
"Apa kata kamu?!?" Seru para cewek.
"Kita nggak bakal kasian yah walopun kamu ganteng juga!!"
Daniel menggelengkan kepalanya. “Nggak etis dong kalo cewek itu ngejar cowok, jadi
hilang cantiknyaaaa!!!” seru Daniel.
"Eh Mbak, namanya siapa?!" Daniel menunjuk salah satu cewek yang tinggi langsing kayak model.
"Isabel. Kenapa?!" Tantang cewek itu. Dia yang paling vokal.
"Aku suka sama kamu. Jadi istriku yah!!" Sahut Daniel
Semua bengong.
"Jangan gila dooong..." Bisik Fendi kuatir.
"Kamu siapa mau jadiin saya istri?! Ih! Ogah!!"
"Kenapa? Aku ganteng juga kok, tinggi juga, punya kerjaan tetap juga, sama kayak Dimas. Kenapa nggak mau?!"
"Ya aku nggak suka sama kamu."
"Tapi aku suka sama kamu! Kamu harus mau jadi istri aku, sekarang kita ke KUA! Kasih nomer bapak kamu biar aku telpon!"
"Kok kamu maksa sih?! Aku udah bilang aku nggak suka sama kamu!!" Jerit Isabel.
Daniel maju mau meraihnya, Isabel mundur sambil panik.
“Ayolah, secara inteligensi dan keuangan aku sama saja sama Dimas. Aku juga type setia kok! Bagian mana yang kurang?!”
“Sudah kubilang aku itu nggak suka sama kamu!! Kamu tuli?!”
Daniel menghentikan langkahnya dan tersenyum, lalu merendahkan suaranya.
"Terus... Apa bedanya kamu maksa Dimas biar suka sama kamu?"
Semua diam.
Andrew dan Fendi sampai terperangah.
Briliant banget ternyata si Anak Betawi ini...
Isabel menghela napas dan memalingkan wajahnya. Sebenarnya ia sudah tahu kalau Dimas tidak menaruh perasaan apapun padanya, tapi ia benar-benar sudah jatuh cinta.
Dimas hanya menemaninya nonton satu kali waktu itu, itu pun karena nggak sengaja
ketemu di bioskop. Ia baru saja diputusin, dan Dimas kebetulan baru beli rujak
di kantin dekat bioskop, ia masuk bioskop karena mau motong jalan pulang.
Akhirnya karena merasa kasihan, Dimas membelikannya tiket. Saat nonton mereka
juga nggak bicara banyak, hanya nonton sambil makan rujak.
Dimas memang orangnya baik, mungkin itu yang bikin cewek-cewek jadi suka.
"Tapi... Sejujurnya aku beneran suka sama kamu, bukan cuma karena mau menyadarkan kamu sih..." Daniel menyeringai.
Isabel melotot padanya.
"Gimana? Aku masih single loh..." Sahut pria itu lagi.
Fendi dan Andrew sampe geleng-geleng kepala.
“Sudah ngerti ya perumpamaannya, Mbak-mbak. Sekarang bisa semuanya pulang aja? Kasian yang mau beneran kerja jadi keganggu,” Sahut Andrew akhirnya.
“Kalo... masnya ini masih single juga?” tanya salah satunya.
Andrew menyeringai.
Fendi undur diri, males ditanya-tanya.