Office Hour

Office Hour
Fraud



Bagaimana kondisiku di Hari Minggu?


Lebih parah!


Kerjaku hanya tidur-tiduran.


Beruntung Ibu dan Mas Bram nggak protes. Aku memang cerita ke mereka kalau aku akan dinas sehari ke Hambalang, ke rumah keluarga Bagaswirya. Mas Bram mungkin tahu perihal keluarga itu, dan dia langsung memberi kode ke ibuku kalau seandainya aku ingin istirahat seharian, jangan diganggu.


Padahal aku capek bukan gara-gara itu.


Tapi gara-gara aku berusaha menghilangkan benakku dari bayangan mesum nan seksi dari Bossku sendiri. Bahkan membayangkan Milady saja aku sampai tak bisa. Aku benar-benar sakit parah kayaknya.


Aku butuh pengalih perhatian.


Mau main game tapi tidak mood, mau masak tapi malas belanja ke pasar, di meja makan kerjaku hanya memainkan coklat yang ditorehkan ke atas piscok.


“Bikinanku nggak enak ya Mas?” tanya Mas Bram yang sedang menggoreng Pisang Coklat di dapur.


“Enak kok, Mas,” desisku. Bagaimana mungkin nggak enak kalau piscok aja di tata ala koki Michelin. Emang dasar Masku ini tingkat masaknya udah level perfeksionis. Lelehan coklatnya aja dia bikin sendiri pakai buah kakao karena kurang percaya sama coklat olahan.


“Kok cuma makan dikit? Atau mau gorengan yang lain?”


Aku melirik Mas Bram yang pas masak aja gayanya maskulin, cuma pakai celana pendek, dada berotot tanpa kaos. Tato kembar seperti milikku, mentereng di bahu kiri sampai ke lengan.


“Lagi agak sakit Mas,”


“Kecapekan?”


“Kayaknya,”


“Ada kejadian apa di Hambalang?”


“Ketemu genderuwo...”


“Oh, pantas,” dan Masku nggak nanya macam-macam lagi.


Kayaknya dia udah tau.


“Om Dimaaaaaaas!!” Seseorang memelukku dari belakang dan mengguncang-guncangkan tubuhku dengan keras. “Makan apa Om? Waaah piscok! Om Bram aku bagi dooong!”


“Lah, iki pisang ambon ne diangkut dulu dong nduk!” omel ibuku.


“Lali aku Budeee,” dan Via pun ke arah ruang tamu untuk menggeret sebatang pisang ambon besar-besar masuk ke dalam dapur. Bahan buat bikin kue, mau dijual ibuku di warung nasi uduknya. betewe, lancar juga bahasa jawanya ni anak, padahal baru sebentar dia di Indonesia.


“Ngapain kamu kesini, non?” desisku sambil membantunya mengangkat pisang ke dapur, ke hadapan Mas Bram. Biar nasib si pisang kuserahkan ke Mas Bram untuk di ‘autopsi’. Alias dibersihkan dan disimpan dengan baik dan benar sampai saat dibutuhkan sudah matang sempurna.


Via, atau Viola Sandro, adalah keponakanku. Jadi sepupuku di Italy punya anak. Itulah Via.


Dia memang sering main ke rumahku kalau kesepian di kosan. Baru 6 bulan dia tinggal di Jakarta dan kuminta bantuan Trevor untuk merekomendasikannya bekerja di Jarvas.co.


Iya ini dia Via yang kemarin dibahas Putri.


Cewek mungil, pendek, kurus, dadanya gede dan rambutnya panjang dicat merah. Cewek Italy memang jarang yang badannya tinggi, yang jelas wajah mereka cantik-cantik eksotis kayak si Via ini.


“Aku lagi sebel kebangetan sama Boss, jadi aku butuh pengalih perhatian,”


“Harusnya itu kata-kataku,” desisku.


“Om Dimas lagi-lagi dikerjain Bu Meilinda ya?” tebaknya.


“Semua juga tau tingkahnya kayak apa di kantor,” gerutuku.


“Temenin aku aja ke Mall yuk Om?”


“Pengalih perhatian model kamu tuh yang begitu ya?”


“Aku kan cewek om, ya iya lah!”


“Tapi aku nggak-“


“Om Dimas traktir aku beli baju ya,” potongnya cepat.


Baru aja aku mau bilang aku lagi bokek males traktir-traktir, udah dipalak aja.


Jadi setelah selesai mandi, kupeluk Mas Bram dari belakang, kubisiki dia tepat di daun telinganya sambil meletakkan daguku di bahunya, dan kutatap dia dalam-dalam dengan mesra, “Mas... minta kartu debitnya ya?”


“lebih deket lagi tak siram minyak, kowe...” gerutu Mas Bram sambil menyerahkan dompetnya.


“PIN-nya dong Om Say,” desisku.


“696969,”


**


Aku kurang suka tempat ramai.


Karena wajahku.


Tapi sepertinya, karena yang menggandeng lengan dan pinggangku adalah cewek cantik, semua tidak berani mendekat.


Semua orang di mall menatapku dan Via. Padahal aku udah pilih Mall yang jual barang-barang mewah, maksudnya biar nggak banyak orang yang berkunjung. Tapi tetap saja aku jadi pusat perhatian, ternyata.


“Limit lo 500ribu, nggak lebih,” desisku.


“Lah! 500rebu mending kita ke Mangga Dua tadi!” protes Via.


“Bisa babak belur kalo gue ke sana diserang nci-nci...”


“Naekin dong Limitnya, kita tuh lagi di Pacific Place gitu loh Om! 500rebu beli apa coba?!”


“Kita makan aja yuk, tuh ada Tesate,”


“Ngapain jauh-jauh ke sini cuma makan sate, woy!”


Dan terbukti loh, dia makan banyak banget. Ada kali tagihan makan sejuta cuma berdua. Padahal aku cuma pesen tongseng. Ya memang kalau kulihat 1 menu harganya memang seratus ribuan sih.


“Kamu kalo di depan pacar makan juga begini gayanya?” desisku.


“Ya kalo di depan pacar yang kalem, Om,” dia angkat kaki ke kursi.


“Pantesnya aku ajak makan ketoprak pinggir jalan aja,”


“Enak nih Om, mau?” Dia kasih aku Rawon yang dipakein sambel semangkok.


“Kamu makan sambel pake rawon ini judulnya,” aku langsung batuk-batuk.


“Lemah banget sih om, ini cuma rawit, bukan Carolina...”


Dia bilang aku lemah... tapi aku memang menyerah sama rawit.


“Om...” panggilnya kemudian.


“Hm?” aku menyeruput es teh manis 29ribu.


“Itu bukannya Bosnya Om Dimas ya?”


Aku pun menoleh ke belakang.


Tampak di sana, Bu Meilinda sedang menunduk sambil tersenyum di depan seorang pria. Pria separuh baya berbaju batik mahal itu menyerahkan kantong kertas warna orange yang tulisannya Hermes. Dari lagaknya, Bu Meilinda mengucapkan ‘terima kasih’ dengan hormat.


Aku kenal pria itu, kalau tak salah namanya Siswoto. Nasabah kami.


Dan aku pun memvideokan adegan itu karena merasa ada yang tak beres.


Lalu menatap Bu Meilinda dengan kesal.


Pak Siswoto pun pergi, lalu Bu Meilinda melenggang dengan senyuman di bibir tebalnya.


Pernah kudengar kiasan, kalau ada yang memperhatikan lekat-lekat dengan sendirinya insting kita akan tergerak. Dan mungkin karena aku memperhatikan sosok itu, tak sengaja kami bertatapan.


Saat ini ia memakai dress yang tak pernah kulihat.


Baru kali ini aku melihatnya semanis itu. Dan tidak seperti biasanya, wajahnya kali ini tidak terlalu banyak memakai make up. Gaya Natural mungkin namanya. Biasanya lisptiknya berwarna merah membara, ini hanya pink sederhana.


Ia memakai blus hijau zamrut, membuat kulit putihnya semakin bersinar dan tampak eksklusif.


Ia hanya menatapku. Entah apa yang dipikirkannya.


Aku tidak mungkin tak menyapanya, dia kan Boss ku. Masa kami cuek-cuekan.


Jadi kutinggalkan Via sebentar dan kuhampiri dia.


Bu Meilinda tampak jengah saat aku datang.


“Mas,” dia tampak mengalihkan pandangannya ke tempat lain.


“Tadi bukannya Pak Siswoto ya bu?” aku memiringkan kepala sambil menunduk melihat isi tas yang ditentengnya.


“Hanya pertemuan biasa saja kok, dia kan masih saudara jauh saya,”


“Yang Gunawan Ambrose juga katanya masih saudara jauh,”kataku menyindir. “Jaminan Pak Siswoto yang lama tidak cukup untuk penambahan limit kreditnya,” aku sekaligus memperingatkannya.


Bu Meilinda menghela nafas menanggapiku.


“Ya kamu diam-diam saja, itu urusan marketing. Nanti akan ada bagian untuk kamu. Yang penting tidak usah jadi temuan,”


“Apa?” desisku kecewa. Apa maksudnya ‘bagian untukku’ dan ‘tidak usah jadi temuan’?!


Tapi ini tempat umum. Aku tidak bisa mendebatnya.


Jadi aku hanya bisa diam saja dan berbalik arah.


“Dimas,” Bu Meilinda menarik tanganku.


Aku berhenti dan menoleh sedikit. Mungkin wajahku saat ini terlihat sangat kesal karena aku benar-benar tidak mood tersenyum.


“Tidak usah berpikiran macam-macam ya, kerjakan saja tugas kamu,” kata Bu Meilinda.


“Kalau begitu kasusnya, Ibu harus memberi saya bagian yang senilai dengan benda di dalam tas itu,”


Aku tahu tas di sana isinya ratusan juta. Dan pengajuan kredit yang diminta Pak Siswoto nilainya 20 miliar. Jaminan sudah tidak cukup untuk menutupi nilai kreditnya.


Ini namanya gratifikasi.


“Apa yang senilai dengan benda di dalam ini?” keningnya berkerut.


“Pikir saja sendiri, juga biaya tutup mulut saya atas kejadian tadi malam ya,”


Sebut saja aku jahat, tapi keadaan Bu Meilinda yang bertentangan dengan etos kerjaku kali ini, namanya fraud, sebuah kecurangan, cukup membuatku sangat kecewa.


Tampak Bu Meilinda menarik nafas panjang.


“Kemarin malam itu ceritanya panjang sampai kunci borgol saya terpelanting masuk ke kolong sofa. Kunci utama saya simpan di dalam tas, Gunawan memang suka kalau saya bergaya ekstrim seperti itu,”


“Gunawan itu suami ibu?”


“Bukan urusan kamu,”


“AH ya benar juga, buat apa saya memikirkan Bu Meli ya,” desisku, “Saran saya, Pak Siswoto sudah cukup dibantu Bu Meilinda, kembalikan saja tasnya,”


“Tas ini harganya 700juta,”


“oh, harga diri seorang Bataragunadi hanya segitu yah,” aku menepis tangannya dan kutinggalkan dia kembali ke restauran.