
Bunda...
Kenapa aku ber... Ayah ganteng?
Menyusahkan.
By : Nayaka Tanurahardja (5 th)
"Ayah mukanya bisa agak jelek sedikiiiittt aja, nggak?"
Pertanyaan absurd menghujam hati dari anakku.
Kebayang nggak, ada bapak-bapak lagi nyiram pohon pake kaos oblong robek-robek, celana pendek dan sendal jepit, sambil menikmati semilir angin sepoi-sepoi Jakarta Selatan, dikasih pertanyaan macam begitu.
Aku cuma bisa jawab :
"Ikhlasin aja kali Nay..." sahutku.
Sakit hati sebenarnya. Tapi nggak bisa marah juga.
"Aku bosen dititipin hadiah mulu buat ayah... Terus tiap hari pada nanya 'Nayaka kapan papanya jemput lagi?' Mending hadiahnya buatku, ini nggak... Hadiah kuenya juga nggak ada yang enak, enakan buatan ayah..."
Aku hanya bisa menatap Nayaka yang menggerutu sambil main 'ibu-ibuan' di taman Pak Hans.
"Terus tadi pagi juga ada yang nanya, Nayaka, ayah ada rencana nikah lagi nggak? Tante mau banget loh kalau jadi istri kedua atau ketiga atau keempat atau ke selusin..."
Eh, buset...
"nggak usah bilang-bilang bunda." dengusku.
"Telat Ayah, Bunda udah ke rumah tante itu."
Anjr*t!
"Bunda bilang mau ngapain nggak kesana?!" aku panik.
"Hem..." Nayaka agak berpikir. Cute banget tampangnya kalau lagi micing-micing mata begitu, macam berlagak lagi mikirin cara menurunkan inflasi. "Katanya bunda mau itung-itung..." desisnya.
"Ha?"
Aku mikir sedetik
Dua detik
Tiga detik
"Mau bikin perhitungan itu, Boyo..." Suara Mas Yan di arah Nayaka.
Dari tadi dia emang lagi nemenin Nayaka main 'ibu-ibuan'. Dia perannya jadi tamu Nayaka.
"Tehnya tambah lagi Pak Lurah?" tanya Nayaka.
"Boleeeh... Tehnya enak deh Nay." sahut Mas Yan.
"Aku dipanggilnya Jeng, Pakde." protes Nayaka.
"Oh iya, Jeng Nay..." Mas Yan menyeringai, terus pura-pura menghirup air dari cangkir plastik yang kosong.
"Pakde, aku kan belom isiin tehnya, kok udah diseruput?!"
Mas Yan diem.
Aku sibuk sama hape, mencoba menghubungi Milady.
Lagi panik karena nggak hapal nomor Meilinda dan akhirnya nyari ke aplikasi Whatsap, sesuatu menarik-narik kaosku.
"Om, bagi Ceban dong." Rahwana (6th) dengan wajah bengalnya.
"Om sibuk, Papa kamu lebih kaya dari Om." Aku cuek.
"Papa nggak pernah pegang tunai, Om. Paling banter dia bilang 'sana ke Om Arman aja'. Lagian aku udah kapok minta ke papa, kemaren mau beli mie ayam aku minta duit ke dia dikasihnya Giro, aku polos aja kasih ke abangnya, malah diomelin..."
"Itu abang mi ayamnya bego, saya tulis di cek tuh 500ribu loh..." sungut Mas Yan.
"Sayang Jangan Ngajarin Iwan Maki-Makian!!" teriak Milady dari dalam rumah. Jarak taman ke rumah sekitar 20 meter. Kayaknya dia beli toa baru.
"Iyaaa..." sungut Mas Yan.
"Kenapa bisa denger?!" Aku takjud.
"CCTV nya model baru yang bisa denger suara jangkrik." Mas Yan menunjuk CCTV diatas lampu taman dengan jenggot putihnya.
"Bego tuh apa sih Pakde?" bisik Nayaka dengan mata berbinar.
"Kurang pintar cenderung ber IQ rendah." sahut Mas Yan.
Nayaka memiringkan kepalanya, lalu mencondongkan tubuhnya, berbisik lagi.
"IQnya serendah apa, Pakde?"
"Udah dong Nay..." keluhku.
"Cebannya gimana? Keburu tukang baksonya pergi!" Rahwana merajuk.
"Papa tuh punya koki bereputasi Michelin, Iwaaan... Kamu mau bakso model apa juga dia bisa bikinin! Ngapain harus jajan bakso pinggir jalan sih?!" gerutu Mas Yan.
"Nggak tau, Pah, lebih enak aja rasanya. Selain itu juga bisa membantu perekonomian rakyat kecil sekitar sini..."
Mas Yan dan Aku jadi diam lagi...
Anak umur 6 th udah mikirin ekonomi. Fixed bakal jadi Menteri dia...
"Apa aku hubungin Atmana aja, minta slot menteri buat Iwan?" bisik Mas Yan.
"Mas, itu masih 20 tahun lagi, kali."
"Siapa tahu saya udah mati 20 tahun lagi, kan masa depannya udah terjamin..."
"Nggak usah aneh-aneh deh..." gerutuku sambil merogoh dompetku.
Adanya 50ribu.
"Jangan lupa kemba-."
"Aku sekalian traktir temen-temenku yaaaaa." Rahwana udah ngacir ke depan gerbang sambil bawa kabur lembaran biru dari dompetku.
"Itu duit jatah rokok 3 hariiiii..." keluhku.
Mas Yan mengutak-atik ponselnya.
"Heksa, kamu di pos depan rumah? Iya, Rahwana menuju ke sana mau jajan bakso. Pastikan abangnya cuci tangan yang benar-benar bersih sebelum meracik baksonya. Kalau dia ngeyel, paksa cuci tangan di bak kamar mandi..." geram Mas Yan.
Duile...
"Sayang... Kamu di mana?" aku akhirnya berhasil menghubungi Meilinda.
"Kamu nggak usah muncul-muncul lagi di sekolahan Nayaka ya! Barusan udah kulabrak yang nekat nanya jadi bini kedua ketiga keempat kamu!!"
Dari suaranya yang agak serak kayaknya dia habis menggelegar membabi buta barusan.
"Aku nggak nyalahin kamu, masih kesisa emosinya!" dia agak sewot. "Aku sebentar lagi sampai rumah. Kita harus membicarakan hal ini dengan lebih serius, aku takutnya berpengaruh ke Nayaka."
Yang aku agak kuatir mengenai Meli, kadang dia labil.
Bukan 'kadang' lagi sih, sering...
Apalagi kalau menyangkut diriku.
Belakangan aku juga memperhatikannya saat nimbrung dengan ibu-ibu sejenis, macam Milady dan Selena... Ditambah Bianca atau Mitha. Kelihatan banget kalau dia jadi pendiam. Seperti tidak percaya diri.
Apa perlu konsultasi ke psikolog pernikahan yah? Aku suka nggak ngerti yang masalah perasaan wanita.
Jadi setelah memastikan tidak ada yang terluka secara fisik, nggak tahu yah kalau secara mental, aku akhirnya menyudahi siraman tanaman dan bergabung minum teh bohong-bohongan di atas tikarnya Nayaka.
"Nay, kenapa tehnya nggak pake air aja?" tanyaku.
"Kalo pake air namanya bukan main ibu-ibuan dong Yah! Itu mah beneran!" Nayaka protes lagi.
Oke..
Logika anak umur 5 tahun.
Ditambah dia perempuan, jadi tidak terbantahkan.
Kami yang laki-laki ini lebih baik manut aja dari pada terjadi gempa lokal.
"Ayah sekarang jadi supir Naya yang datang ke rumah minta gaji yang nunggak dibayar." sahutnya memberiku peran.
Nggak bonafit banget sih jabatanku... habis nonton sinetron yang mana sih dia?!
"Buu... Kasian bu... Udah setahun nggak digaji..." aku ngomong asal aja.
"Loh?! Gimana sih kamu?! Gaji kamu itu setiap bulan kita transfer loh! Nih ke rekening istri kamu!" Nayaka pura-pura memperlihatkan layar ponsel, dari lembaran daun pisang.
Aku sama Mas Yan lihat-lihatan.
Kenapa nada ngomelnya mirip banget sama Meilinda?!
"Kamu itu ngajarin anak gimana sih?!" sindir Mas Yan sambil berbisik.
Sementara Nayaka masih ngomel nggak jelas.
Aku sibuk mikir mengenai siapa yang harus bertanggung jawab terhadap pembentukan kepribadian anak.
"Bakso! Baksoooo!" Rahwana menyeringai sambil membawa mangkok ayam.
"Bagi..." desisku.
"Pilih bakso apa naik gaji, hah?!" seru Nayaka.
"Bakso." jawabku.
"nggak bisa dong ayah! Harusnya pilih aku, aku kan anak ayah!!" Jerit Nayaka.
Lah...
"Tinggal tiga loh ini, aku habisin aja ya?!" sahut Rahwana.
"Eh, jangan..." desisku.
"Ayah Jahaaattt!!!" Nayaka menjerit.
"Lah kenapa jadinya ayah yang jahat?!" aku protes.
"Ayah kamu emang jahat, dulu suka bikin nangis bunda kamu." Mas Yan kompor.
"Aaa..mmmm...." Rahwana memasukan bakso sekaligus dua kemulutnya.
"Dih pelit..." desisku.
Meilinda datang.
"Kenapa sih ini ribut- ribut?" tanya Meilinda. Dia keluar dari mobil sambil mengendong Yoga.
Nayaka menjerit semakin kencang.
"Ayah jahaaat!!! Lebih pilih bakso daripada gajian!! Terus katanya bunda suka nangis dan peliiittt!!"
Kata-katanya campur aduk.
"Sayang..." Meilinda menatapku angker.
"Bukan aku." sahutku cepat. Males deh kalo begini.
Milady datang.
"Rahwana Bataragunadi!! Kamu dapet darimana itu bakso?! Higienis apa nggak? Itu abangnya cuci tangan dulu nggak habis pipis waktu bikin baksonya?!" dia histeris melihat Rahwana makan bakso abang-abang. Kalo lagi marah persis ibuku, nyebut nama lengkap.
"Yah udah habis Mah!" sahut Rahwana santai.
"Sayang kok kamu bolehin dia jajan bakso sih?!" Milady ngomel ke Mas Yan.
"Dimas yang ngasih duit..." sahut Mas Yan sambil berpangku tangan memandangku dengan licik.
"Lah!!" seruku mencoba protes.
"Dimas! Kalo dia radang tenggorokan lagi gimana?!" Milady ngomel.
"Aku tuh bela-belain marah-marah ke cewek-cewek kurang ajar yang ngefans sama kamu, kamunya malah bilang aku pelit?!" omel Meilinda.
"Naya nggak suka ayah punya istri duaaaaaa!!!" jerit Nayaka.
"Enak loh Nay, nanti yang ngasih kamu jajan ada dua orang bunda." Mas Yan kompor lagi.
Aku diam.
Capek.
"Ya udah, ayah punya istri dua ajaaaa!! Ya Bunda yaaaa?! Biar Naya jajannya banyak!!" Nayaka tiba-tiba berbinar.
"Mama mau bakso? tinggal satu nih..." tawar Rahwana.
"Dibilang jangan makan bakso abang-abang! Bandel banget sih! Udah habis berapa mangkok kamu?!" Omel Milady.
"Ditraktir lima mangkok sama Om Dimas." Sahut Rahwana.
Milady melotot padaku.
Meilinda cemberut padaku.
Aku?
Lanjut nyiram pohon, sekaligus kepalaku.
Dasar bocil...
(TAMAT)