Office Hour

Office Hour
Girls Time



Pembaca yang budiman, budiwati.


DI episode ini Tante Author ambil alih soalnya Bang Dim dan Bang Sen lagi ke nasabah robot godek.


Ini adalah sesi dimana Selena mulai berteman dengan Meilinda.


**


Meilinda memijat kepalanya yang terasa sakit di bagian kedua pelipisnya. Ia tidak tidur semalaman.


Menangis, lebih tepatnya.


Menangis semalaman, meratapi nasibnya.


Pagi harinya kepalanya bahkan lebih sakit, ditambah dadanya terasa sesak.


Dimas tidak menjemputnya.


Mulai hari ini tidak ada lagi sosok yang sedang menunggunya di depan pintu sambil berdiri bersandar ke dinding di sebelah pintu rumahnya, pakai hoodie dan menatap taman di depannya sambil merokok.


Menyadari kenyataan menyedihkan itu dan rasa trauma pada teras rumahnya, Meilinda pun berangkat ke kantor jam 4 pagi. Ia tahu masih akan ada orang di kantor yang beraktifitas sepagi itu karena sebentar lagi rapat Kinerja akan dimulai.


Tapi setelah masuk ke mobil dan duduk di kursi belakang, ia lagi-lagi menyadari hal menyedihkan.


Mulai hari ini, ia duduk di kursi belakang, tidak di sebelah supir. Dan tidak menikmati pemandangan tangan lentik dengan jemari panjang dan kokoh membelai setir mobil sambil senyum-senyum sendiri, bibirnya yang bersenandung mengikuti alunan lagu dari radio, wangi parfum maskulin bercampur rokok yang khas, juga obrolan mereka yang kebanyakan nggak penting.


Astaga... Pikirnya depresi.


Setengah mati ia berusaha tidak menangis saat bertemu Dimas di pagi hari, di depan ruangan pak David Huang. Sekuat tenaga ia memaksakan diri untuk tersenyum dan bilang ‘aku menunggumu’, sambil berharap dalam hati kalau Dimas memang benar-benar akan segera membereskan urusannya dan melakukan semua ini demi kebaikan Meilinda.


Tapi bahkan sangat sulit untuk bersikap seakan tak ada apa-apa.


Saat ini setelah membereskan pekerjaannya, tibalah ia memeriksa dokumen dari Divisi Audit.


Airmata seenaknya turun dari matanya, menetes ke atas dokumen yang berusaha ia baca.


Bahkan dokumen ini mengingatkan pada sosoknya. Dari judulnya saja sudah pasti dia yang bikin, apalagi guratan tandatangan yang berada di kolom Kepala Divisi SKAI. Meilinda sering membelai tandatangan itu dan sangat hafal lekuk garisnya. Mungkin kalau ada pemalsuan, dirinya bisa mengidentifikasi ke-autentik-kan tandatangan Dimas dalam hitungan detik.


Meilinda membelai guratan itu.


Lalu menghapus air matanya.


Lemah sekali sih aku... Umpatnya. Seperti yang dikatakan pria itu tempo hari saat Meilinda mendekatinya. Ia tidak kehilangan apa pun dari Dimas.


Tapi kenapa rasanya sangat sakit.


Bahkan saat ia memutuskan bercerai dari Jeffry, tidak sesakit ini. Hanya ada rasa kesal. Saat ia putus dari Gunawan juga rasa kesal dan malu lebih banyak dari rasa sakit.


Tapi yang ini....


Karena alasan apa yah mereka berpisah kemarin?


Ah...


Karena Dimas tidak suka akan gaya hidupnya yang hedonis dan otoriter.


Memang apalagi yang akan ia lakukan kalau ada serangga yang mengganggu miliknya? Pasti akan ia lindungi sekuat tenaga walaupun pakai cara yang tidak manusiawi, bukan?!


Dirinya benar kan?!


Dan saat ini ia merasakan kekonyolan itu. Ia ingat saat dulu mereka di coffe shop, saat Meilinda bicara ke Dimas kalau perkelahian itu terjadi karena Dimas diam saja. Pria itu diam karena tidak mencintai siapa pun di sana sehingga insting ‘melindunginya’ nihil.


Apakah Dimas mencintainya?


Rasanya ada yang salah...


Pria itu menyuruhnya menunggu.


Menunggu apa?


Menunggu Dimas membereskan semuanya?


Berapa lama?


Kalau caranya klemar-klemer begitu, berapa lama ia harus menunggu?


Terus terang Meilinda tidak tahan akan penganggu yang setiap hari datang. Seperti pagi ini sudah ada beberapa cewek yang mondar-mandir cari Dimas.


Yang keukeuh menunggu pria itu dimasukan ke ruang meeting, sisanya pulang saat dibilang Dimas tidak di tempat.


Kenapa mereka datang sekarang?


Dari mana mereka tahu Dimas ada di sini?!


Rasanya ada yang aneh...


"Eh..." terdengar suara dari arah pintu.


Meilinda mengangkat kepalanya.


Selena di depan pintu, menatapnya dengan kuatir dan sedikit salah tingkah.


"Bu Meilinda nggak jawab waktu saya ketuk pintu, Maaf bu, saya pikir tak ada orang di dalam..." sahut Selena.


“Maryanti dimana?” tanya Meilinda.


“Maryanti dan yang lain sedang istirahat makan siang. Bu Meilinda tidak makan?” Selena menghampirinya dengan anggun sambil membawa bantex.


Ia segera menyadari kalau Meilinda tidak baik-baik saja.


"AH, maaf ya bu saya hanya mau menyerahkan ini. Dokumen dari Pak Dimas sebagai penunjang temuan,”


Meilinda tidak menjawab, malah ia menunduk di atas meja dengan tangisan yang lebih kencang.


"Bu?” Selena mengelus punggung wanita berparas setengah timur tengah itu perlahan. “Bu Meilinda butuh bantuan?”


“Kamu...” Meilinda menghapus air matanya dan berusaha tersenyum di depan Selena, “Bagaimana perkembangan hubungan dengan Bram? Lancar?” tanyanya lembut.


“Yaaa, lancar sih,” Selena mengernyit dan mendekatkan wajahnya ke Meilinda, “Si kampret itu ngapain? Jujur Bu, Pak Dimas berbuat aneh-aneh lagi ya?!”


“Dia.. hehe. Saya hanya... diputusin, kok,”


Mata Selena langsung melotot, “Dia- gila!! Gue lempar juga nih bantex ke kepalanya!! Apa alasannya?!”


"Dia nyuruh saya buat nunggu dia beresin mantan-mantannya, soalnya kalo diberesin pas masih ada hubungan, katanya dia takut saya akan lebih sakit hati!"


"Alasan macam apa'an itu?!?"


"Emang awalnya saya duluan yang gertak minta putus soalnya saya sudah capek digantungin. Ngomong sayang sama saya tapi masih belain mantan, di depan banyak orang pula! Tapi akhirnya malah saya yang..." Meilinda menghela nafas tak sanggup melanjutkan kalimatnya.


"Tapi kan Bu Meilinda kan cuma gertak kan ya awalnya?! Nggak serius kan minta putus?!"


"Mana mungkin saya serius ! Saya sayang banget sama dia!! Itu kan cuma gertakan..."


Tangisnya makin kenceng.


"Ah... lo juga sih yang nyari gara-gara! Pantesan lo dicerai..." gumam Selena menggerutu.


Meilinda langsung diam.


Dia mengangkat wajahnya dan menatap Selena dengan marah. "Barusan bilang apa kamu?!" tanyanya kesal.


"Gue realita aja ya Mbak! Lo tuh terlalu manja! Pinginnya disembah-sembah kayak ratu! Ga berlaku lah sama cowok macam Dimas! Orang kayak dia mau terikat komitmen sama elo aje gue kaget, sekarang malah mau lo prank putus, ya lari laaahhh!!" Selena berujar dengan tidak bersikap menghormat lagi. Menurutnya Meilinda sebagai wanita juga tidak tegas bertindak.


Meilinda diam.


Berpikir.


Masih nggak konek, akhirnya dia nanya lagi.


"Tapi akhirnya dia mutusin gue juga tuh." sahutnya nggak mau kalah. Ia juga memutuskan tidak akan bersikap formal lagi ke Selena. Di matanya, Selena sudah bukan lagi rivalnya karena hubungan bucin wanita itu dengan Bram.


"Ya karena lo yang duluan bikin masalah ya terpaksa lo harus sabar. Anggap aja alesannya emang bener, dia mau lo nunggu, ya terpaksa lo harus nunggu. Ya kalo lo berspekulasi sendiri ya begini akibatnya, nangis nggak jelas! Ya lo harus tanya ke Dimas sendiri, berapa lama dia mau lo tunggu, lo kasih tuh dateline! Melebihi dateline, lo cari cowok lain!"


Meilinda menghela napas. "Emang segampang itu ngelakuinnya?! Gue capek sama cowok! Nikah pertama gue dikadalin ama sesama cowok pulak, jatuh cinta kedua gue udah habis-habisan eeh bininya tiga! Sekarang jatuh cinta ketiga malah mantannya ratusan!! Ah jadi biksu aja sekalian ke Tibet aja gue langsung!!" umpat Meilinda.


"Kalo biksu bukannya di Thailand ya bu..." desis Cecil.


Langsung dihujani dengan tatapan sedingin es dari Meilinda dan Selena. “Sejak kapan lo di sini?!” jerit mereka berdua ke Cecil.


“Habis... kayaknya obrolannya seru hehehehehe,” desis Cecilia cekikikan.


Selena akhirnya beranjak dan menjatuhkan dirinya di sofa. "Kalo gitu masalahnya, mau nggak mau lo harus bikin dia duluan yang ngomong 'pacaran lagi' ke elo."


"Caranya gimana? Gue udah keluarin segala keseksian gue dari kemarin-kemarin, stok tenaga udah habis!!"


"Cuma segitu kemampuan lo buat orang yang lo sayang, hah?! Ah cemen..." sahut Selena.


Meilinda menggebrak meja karena merasa terhina.


"Lo jangan sembarangan yah, gue bisa bersikap begini cuma gara-gara lo calon istri Bram! Dikit lagi lo anggap remeh gue-"


"Mau apa lo emangnya hah? Nyingkirin gue lagi? Pake duit kakak lo? Cuma itu yang lo bisa?! Kemana harga diri lo, hah?!" sahut Selena menantang. "Gue jujur-jujuran aja sama lo nih ya, gue ga suka ngejilat orang. Gue bersikap apa adanya sama lo karena gue care. Ngerti ga?! Gue care sama lo bukan karena gue bakalan iparan sama Dimas, tapi karena gue ngerti penderitaan lo, Ampun dah dikit-dikit bawa-bawa kakak lo!! Sekalian aja satu keluarga lo bawa-bawa!!"


Meilinda terdiam.


Kenapa kata-kata Selena langsung menghentak hatinya? Itukah yang dimaksud Dimas. Tapi memang pria itu tidak menjelaskan secara gamblang maunya, tapi entah bagaimana kurang-lebih Meilinda berpikir kalau maksud Dimas sama seperti yang diungkapkan Selena barusan.


"Begini cara lo care sama gue?"


"Iya begini cara gue!"


Meilinda menghela napas.


Ternyata Selena mirip sekali dengan Dimas, tapi dalam wujud wanita.


Baiklah, aku akan sabar menunggu, paling tidak ia bisa berpatokan terhadap sifat Selena. Pikir Meilinda selanjutnya.


Dan setidaknya Selena bersikap apa adanya dan nggak nusuk dibelakang.


"Mbak seleb aneh ya!" kikik Cecil.


Selena langsung menatapnya sambil merengut.


"Mbak seleb pasti jarang punya temen ya! Judesnya nggak kira-kira. Sampe dewi khayangan aja dihantam... Seru juga. Pantes Pak Dimas bertahan sama mbak Seleb habisnya bagaimana pun walo marah-marah sebenernya Mbak Seleb orangnya peduli banget sama kita-kita ya! Tapi orang-orang sering salah paham sih," sahut Cecil dengan mulut bawelnya.


“Diem Cecil...” gerutu Selena sambil buang muka.


"Mbak seleb tinggal bilang ke Dewi khayangan kalo mau ngajakin hang out demi melupakan hal durjana aja susah amat sih?! Aku aja ngerti maksudnya... ya udah yok!! Kabur dari kerjaan mumpung nggak ada yang mendesak kecuali raker minggu depan!!"


"Sekalian kita massage sekalian. Tuh udah mata panda, pasti lo nggak tidur semaleman! dasar bucin, inget umur dong!!" Selena melenggang keluar ruangan. "Gue tunggu di lobi, tampang lo jangan kayak gitu! Menyedihkan banget deh,"


Meilinda menatap sosok Selena yang keluar ruangan, lalu menatap Cecil sambil tersenyum. Cecil hanya menyeringai..."Ayolah, hari ini kita seneng-seneng! Girls time!!" ajaknya riang.


Meilinda mengangguk bersemangat sambil menyambar tasnya dan menggandeng Cecilia mengejar Selena.