
BRAKK!!!
Aku tersungkur menabrak rak buku jati di belakangku, beberapa buku tebal jatuh ke lantai menandai kerasnya pukulan yang dilayangkan padaku.
Ini sudah berapa pukulan yah? Ketiga? Keempat? Yang jelas, saat ini aku mati rasa.
Aku juga tidak berusaha membalas karena menurutku, aku pantas menerimanya.
Aku juga ingin memukul diriku sendiri karena lalai dengan kelakuanku.
Menyebalkan!
Bahkan untuk memukul diri sendiri. Aku harus minta bantuan orang lain...
"Saya tahu suatu saat kamu akan bikin masalah, tapi saya tidak menyangka kamu bertindak keterlaluan," desis Pak Sebastian dengan suara Rendah.
"... Yang menjaganya dari lahir saat ibu saya pergi, itu saya. Bukan ayah saya, bukan yang lain. Dalam satu waktu kamu sia-siakan perjuangan saya begitu saja. Harusnya kamu mati hari ini!!" Sambungnya dengan emosi.
Aku terbatuk karena sesak di ulu hatiku, dan sedang berusaha berdiri dengan bantuan siku.
Di ruangan ini, hanya ada kami berdua. Aku dan Pak Sebastian.
Ia berteriak, "Ayo balas!! Sampai mana kamu bisa tahan pukulan saya!!"
Namun menurutku itu tidak menuntaskan masalah.
Kalau kubalas, itu akan memperlihatkan betapa pengecutnya aku. Pantas dipukul namun malah membela diri. Biar saja sampai babak belur aku lakoni, memang aku pantasnya sekarat kok.
Aku bahkan bisa mengerti kegundahan Pak Sebastian saat ini, aku juga begitu, terasa sakit saat melihat Meilinda terbaring lemah di tempat tidurnya dengan infus di tangan.
Anemia, vonisnya.
Namun ia bersikeras dirawat di rumah.
Diduga kecapekan.
Ia mengakui kalau sudah seminggu ini stressnya bertambah karena memikirkanku, bahkan menyewa detektif swasta untuk mengusut keanehan mengenai para wanita yang datang ke kantorku.
Rasa bersalah langsung menyelimutiku, dari dulu aku selalu saja menyusahkan orang lain.
Kalau hantaman ini bisa membayar segala tingkah laku konyolku, aku akan dengan senang hati menerimanya.
Akhirnya karena kondisi tubuhku awalnya sangat prima dan tidak mudah dijatuhkan, aku bisa melihat dari sudut mataku yang sedikit buram kalau Pak Sebastian mengambil tongkat golfnya sambil menghampiriku.
Sudahlah...
Aku mati juga ikhlas. Asalkan semua yang kutinggalkan bisa hidup damai. Sekedar diingat juga gak masalah bagiku.
Aku merasakan ujung tongkat yang dingin menyentuh dahiku.
"Kalau disini bisa gegar otak," desis Pak Sebastian.
Lalu tongkat itu bergeser ke rahangku.
"Di sini bisa tuli dan buta..."
Ke dadaku.
"Di sini bisa sesak napas dan kejang-kejang..."
Ke kakiku.
"Di sini bisa lumpuh..."
Lalu naik ke arah bawah perutku.
"Apa di sini saja? Yang sering bikin masalah kan bagian ini ya,"
Kalo bagian itu sering bikin masalah aku udah punya anak banyak kali... Umpatku dalam hati.
Kenapa nggak dari dulu saja kulakukan, paling tidak kalau sudah terlanjur hamil kan nggak ada yang mau mukulin bapaknya, tulang punggung yang cari nafkah, soalnya.
"Oke," lalu ia bersiap untuk memposisikan tubuhnya memukulku seperti aku ini bola golf.
Tiba-tiba mulutku ini bergumam.
Sebuah kata yang tidak bisa kuhentikan.
Sebuah kekehan.
Entahlah kenapa aku tertawa.
Mungkin karena aku memang menunggu saat-saat ini, mungkin aku memang masih terpengaruh obat yang kemarin dicecoki paksa ke dalam mulutku, atau mungkin juga aku udah gila kebanyakan dipukulin.
"Masih bisa ketawa, heh?! Hebat juga kamu. Kalau begitu langsung saja lah ke kepala, biar kamu gegar otak sekalian," kata Pak Sebastian.
Untuk ukuran pria dengan usia setua dia, tenaganya masih bisa diandalkan. Dia tidak terengah memukulku, tidak nampak berkeringat juga, seakan sudah terbiasa melakukan hal seperti ini.
"Kalo mati, kan, udah nggak bisa ngomong yah siapa yang mukulin kamu?" bisiknya.
Dasar psikopat... makiku dalam hati.
Keinginan untuk bangkit? Nol.
Jangan-jangan malah aku yang psycho, lagi dipukulin masih sempat ketawa.
"Sudah cukup."
Aku bisa mendengar suara Mas Bram.
Kenapa dia ada di sini?!
Dari mana dia tahu aku di sini?
Berikutnya aku bisa mendengar mereka berdebat.
Aku juga mendengar suara Selena.
Teriakan demi teriakan menusuk-nusuk telingaku. Kanan kiri keluar masuk... Perih.
Suara tersebut tidak bisa kucerna dalam bentuk kata-kata, hanya suara kencang. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
Aku menelan ludah rasa darah untuk membasahi tenggorokanku. Lalu berusaha memosisikan tubuhku untuk terduduk dan bersandar di dinding.
Memulihkan tenagaku, memulihkan napasku.
Barulah saat aku bisa mengatur ritme napas dan menggerakkan jemariku, aku bisa mendengar yang mereka katakan.
"Kamu jangan lupa yah Bram, usaha yang diberikan Garnet Grup kepada kamu, dan keluarga kamu! Kamu dikasih keringanan bisa bekerja sambil sekolah, bahkan sekarang diposisi manajer, semua karena kami!"
"Saya tidak ingat pernah mengemis untuk jadi di posisi sekarang, Pak! Yang saya ingat saya juga memberikan semua yang saya punya untuk Garnet, sehingga bisa diposisi sekarang,"
Jawaban Masku cukup tegas, namun benar adanya.
Dan sebelumnya kami bekerja tidak setengah-setengah, bahkan sering nggak pulang ke rumah untuk suatu proyek. Bagaimana Pak Sebastian bisa sesumbar kalau posisi kami sekarang adalah campur tangan manajemen? Karena apa? Karena hubunganku dengan Meilinda?
"Oke, karena kamu sudah diposisi melawan... Selena, kalau kamu bersikeras menikah dengan Bram, saya akan putuskan kontrak kerja dengan ayah kamu, itu berarti Garnet Hotel tidak akan pakai usaha ayah kamu untuk pasokan perabot lagi! Lalu kamu, Bram yang merasa berkuasa atas segalanya, kamu akan dipecat! Hah! Mau apa kamu sekarang?!"
"Fine, kalau itu keputusan Anda. Saya ambil Dimas sekarang!"
Aku masih bisa mendengar Masku berbicara, lalu menarik tubuhku. Setelah itu aku tidak mengingat apa pun.
**
Saat aku sadar, aku melihat Selena di hadapanku, menatapku dengan pandangan yang belum pernah kulihat. Matanya sembab dan wajah tersedih yang pernah kulihat, lebih sedih daripada waktu dia ketakutan ketahuan sama Mas Bram soal Andrew.
"Lo kenapa, Mala..." desisku dengan sisa-sisa tenaga yang ada.
Dia malah makin sedih.
Lalu memelukku.
"Sumpah, gue pikir lo udah mati! Gue udah bertekad gak ninggalin kuburan lo sampe 40 hari bikin tenda di sana!! Daripada malaikat nanyain lo, terus lo nggak bisa jawab!" desisnya di leherku.
Anjrit... Jadi kepikiran, kan!
"Lo ga usah nakutin gue, ini perih banget ..." desisku.
"Syukurlah, Ya Tuhaaan..." dia terisak lagi.
Aku menghela napas.
Sebenarnya sih nggak pingsan beneran yah, cuma kepingin tidur aja. Habis capek sih.
Tapi ketidurannya kayaknya kebablasan.
Aku bisa menatap sekelilingku. Aku di kamarku.
Di rumahku.
Sayup-sayup aku bisa mendengar suara ibuku, lalu suara Bram. Mereka sedang mendiskusikan sesuatu.
Lebih dominan suara ibuku sih.
Suara Bram terdengar sedang menenangkan ibuku.
"Udah, gue dah gapapa. Lo ga usah lebay," desisku.
"Kacrut!Dikuatirin malah ngatain gue lebay!" sungut Selena.
"Masalahnya tekanan dada lo bikin gue sesak,"Aku terkekeh.
"Masih bisa becanda, lagi!" ia melepas pelukannya.
Aku mengangkat wajahnya dan menghapus air matanya yang masih menetes di pipinya.
"Gue udah nggak papa," sahutku lembut.
"Bener?"
"Hm," aku mengangguk.
"Ya udah deh..." Dia melanjutkan membereskan perban dan obat yang berserakan.
Lalu aku teringat satu hal.
"Len... tapi lo bisa nikah kan?!" tanyaku kuatir.
Ia menghela napas, sepertinya masih kesal.
"Ah, masa bodo lah masalah itu. Dari dulu juga gue nggak nurut sama bokap nyokap. Masih banyak perusahaan lain yang bisa kita ajak kerjasama kok, negara ini ga hanya dimiliki oleh satu orang," sahut Selena. "Justru, gue malah mempertanyakan kesetiakawanan Pak Yan. Seandainya dia beneran mau putus kontrak bokap gue, yang udah berpuluh-puluh tahun jadi suplier tetap, Dia tega banget ninggalin temennya sendiri, temen SMAnya yang selalu di sampingnya hampir seumur hidup! Padahal gue yakin Mbak Meli juga tidak akan setuju. Apa coba masalah Pak Yan? Emang dasarnya nggak suka aja sama lo, terus bawa-bawa orang lain!"
"Jadi ceritanya lo tenang-tenang aja nih."
"Yah..." Selena mengangkat bahunya. "Simpanan Bram udah banyak, gue cuma harus menekan gaya hidup hedon gue sedikit. Gampang lah itu asal Bram nggak ninggalin gue."
Aku terkekeh.
"Lo bener-bener udah siap jadi istri yah, siap-siap lo jadi ibu Kos! Mas Bram usaha kos-kosannya dimana-mana!" desisku.
"Udah laaah, Lo udah siap jadi suami belom?" tanyanya balik.
Aku tersenyum sinis.
Lalu menggeleng.
"Kapan lo siap?"
"Nggak akan pernah siap."
"Terus? Mbak Meli udah mau bilang ke Pak Hans, itu."
"Iyah, bahkan mungkin udah bilang."
"Terus gimana?!"
"Len... Kebanyakan wanita sudah siap jadi istri, tapi kebanyakan lelaki belum siap jadi suami. Bukan karena nggak bisa ambil tanggung jawab, tapi nggak yakin bisa membahagiakan wanitanya melebihi kebahagiaan yang dikasih orangtua si wanita."
"Pikiran lo terlalu muluk, deh, " sahut Selena.
"Gue nggak tega kalo ngeliat Meli pas nikah sama gue tiap hari pake daster, rambut dicepol, harus nyuci, nyapu, ngepel, masak, tampang kusam keringetan, nungguin tukang sayur di depan rumah... Padahal Pak Hans kasih dia yang indah-indah, yang mahal-mahal, begitu nikah sama gue jadi melarat. Mau ditaroh di mana muka gue kalo ditanyain Pak Hans! Masa dia mau ceburin anaknya ke lobang got?!"
"Terus lo rela dia jadi milik Pak Stephen, gitu?!"
"Ya enggak!"
"Heh! Dasar bego!" Selena menimpukku pakai botol antiseptik. "Lo itu selama ini terlalu banyak pertimbangan! Gara-gara sikap lo yang nggak maju nggak mundur itu malah bikin Mbak Meli sakit! Kepikiran nggak sih lo, Pak Hans malah bahagia kalo gara-gara lo Mbak Meli malah mandiri, malah bisa ngerjain kerjaan rumah tangga, lo kepikiran nggak kalo kebahagiaan terbesar seorang wanita itu bukan punya duit banyak, tapi senyum di wajah suami dan anak-anaknya! Bukannya duit itu nggak penting, tapi lo kan nggak miskin-miskin amat, kali! Lo punya gaji, lo punya tabungan, nyokap lo bahkan punya usaha! Masih banyak jalan menuju Roma hoy!!" ia melempariku pakai gumpalan perban.
Aku jadi berpikir.
Kenapa ucapan Selena malah membuat hatiku plong, yah...
"...lo yakin Len?!"
"Gue ini cewek juga, Pak!"
Aku diam.
Apakah selama ini aku sudah salah?
Lalu menghela napas.
Dan menyandarkan kepalaku ke dinding, Diam menatap plafon.
Kayaknya aku butuh merenung sebentar, mengikhlaskan kebegoanku.