
Kembali lagi ke hotel,
Aku menceritakan soal ancaman Gunawan ke Bu Meilinda.
Dia hanya diam.
Mungkin dia baru menyadari, lagi-lagi ada pria yang memanfaatkannya untuk mendekati kakaknya. Atau untuk mengeruk hartanya.
Suatu hal yang di mataku miris, apalagi dalam hal mencintai, Bu Meilinda tidak pernah tanggung-tanggung memberikan segalanya.
Termasuk kehormatannya.
“Maaf ya aku nangis terus...” dia malah minta maaf padaku.
“Manusiawi,” desisku.
“Aku menyesali kebodohanku,”
“Bagaimana dengan perasaan kamu ke orang itu?” Aku membuka jaket dan kaosku. Rasanya udara jadi panas padahal malam ini suasana Ciumbuleuit agak mendung dan kabut tipis mulai turun dari arah hutan.
“Langsung lenyap saat melihat Mbak Mitha mengajakku mengobrol. Aku malah merasa sangat jahat Mas. Kok bisa-bisanya aku tidak tahu,” ia melepas dressnya dan hanya menyisakan bra dan panty putih. Saat ia mengibaskan rambutnya aku tahu dia juga kegerahan sepertiku.
“Aku tahu dari Arya mengenai profil Gunawan dan istri-istrinya,” kataku sambil duduk di sofa dan memeriksa ponselku.
“Istri-istri? Kok jamak?! Dia punya Istri yang lain?!?” serunya kaget
“Eum...”
“Kok kamu nggak ngomong dari kemarin? Sejak kapan kamu tahu info itu??”
“Hem...”
“Siapa aja yang tahu mengenai masalah ini?”
“Arya nggak tau kok, aku cuma minta dicarikan profil Nasabah Mencurigakan,”
“Siapa saja yang tahu, Dimaaaas??”
“Em... Alex,”
“Alex siapa?”
“Alex Beaufort,”
“Alex... Beaufort? Alexander Lucas Beaufort? Yang Presdir Beaufort Corp? Atau ada Alex Beaufort yang lainnya?”
“Iya Alex Beaufort yang itu,”
“Gimana caranya dia tahu?”
“Aku minta bantuannya untuk melacak segala transaksi yang memperjual belikan foto dan video mesum kamu, sampai ke Deep Web,”
“Ya TUHAAAAAAAAN! ALEX BEAUFORT LIHAT VIDEO MESUMKU!!”seru Bu Meilinda, “Kok bisa dia mau-maunya disuruh-suruh kamu?”
“Dia teman kuliahku,”
“Dia teman kuliah kamu?!”
“Juga Leonard Zhang, Baratadhika, dan Bianca Damar juga teman kuliahku sekaligus kakak kelas Arya,”
“Kenapa circle kamu semuanya elit, kamunya masih di tahap ini?”
“Nanya apa nyindir?”
“TERUS ALEX BEAUFORT TAHU APA SAJA DIMAAAS??”
“Cuma itu kok, dia sudah kasih liat hasilnya dan untung saja sebelum diperjual-belikan berhasil dia hapus,”
“Aku nggak tahu harus lega atau sedih,”
“Bu...” aku garuk-garuk kepala, “Ada indikasi sebagian rekaman masih disimpan di komputer pribadi. Aku nggak bisa lacak kalau tidak tahu ip addressnya. Satu-satunya jalan adalah memasang sistem warning alert saat foto tersebar,”
“Saat itu terjadi pasti ada jeda waktu kan, harus tersebar dulu baru terlacak?!”
“Betul,”
“Jadi keburu publish ya, baru bisa dihapus? Bagaimana kalau ada yang sempat rekam?”
“Makanya, yang ini yang mau kubahas,”
“Duh, nyesel aku! Bagaimana ini Maaas,” ia tampak ketakutan.
“Ada kemungkinan Pak Sebastian akan sempat melihatnya dulu sebelum sistemnya me-warning,”
“Duh, saya tidak ingin kakak sampai tahu,”
“Tapi Bu, lebih baik Pak Sebastian tahu dari awal, sehingga kalau terjadi sesuatu dia bisa menanggulanginya lebih awal. Yang memiliki sistem secanggih itu adalah Garnet Security Agency, GSA, satu saja rekaman publish, virus dari GSA akan disebarkan sehingga video dengan wajah ibu akan terhapus seluruhnya, termasuk domain di komputer yang menyebarkannya,”
“Nggak sekalian aja minta Alex untuk sistem semacam itu,”
“Ibu coba pikirkan, bukankah lebih baik kita libatkan saja Pak Sebastian dari awal. Kalau dia tahu dari orang lain malah lebih menyakitkan lagi kan?! Masalahnya saat ini, orang yang aku kenal hanya Alex, aku nggak kenal Pak Sebastian. Masa aku ujug-ujug datang ke GSA, siapa aku?”
Bu Meilinda pun menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Tampaknya ia membulatkan tekadnya untuk menerima omelan dari kakaknya.
“Kamu dampingi aku kan?” tanyanya padaku.
“Ya iya lah,” desisku.
Lalu ia mengangguk tegas.
“Oke, ayo kita telpon kakak,”
**
Dan akhirnya kami memutuskan untuk Video Call Pak Sebastian.
Wajah Bu Meilinda agak pucat, dan gerakannya sangat gugup. Kami menekan tombol ‘call’ dan dia menggenggam lenganku dengan manancapkan kukunya yang panjang.
“Jangan bicara sepatah kata pun," desisnya memperingatkanku.
Tak berapa lama wajah Pak Sebastian yang khas, kening berkerut, mata memicing, kacamata baca, dan senyum sinisnya terpampang di layar ponsel.
“Kamu habis ngapain?”
Dari sekian banyak pertanyaan kenapa malah terucap kalimat yang itu?!
Aku melayangkan pandangan bingung, sama dengan Bu Meilinda juga memicingkan mata. “Maksudnya kak?”
Terlihat mata Pak Sebastian menatapku dan Bu Meilinda bergantian. “Habis ngapain, saya tanya,” ia menambahkan penekanan ke kalimatnya.
Aku dan Bu Meilinda saling bertatapan dengan ekspresi bingung.
“Saya sudah bilang, jangan macam-macam. Kamu berdua. Setidaknya angkat VC dari saya dengan pakaian yang lebih pantas," kata Pak Sebastian.
Aku reflek melihat ke bawah, Bu Meilinda juga.
Kami berdehem saat mengetahui permasalahannya.
“Terus terang saya kuatir sama kamu, Meli. Tapi sepertinya kamu sudah menemukan bang-sat yang lain ya,” kata Sebastian lagi. “Buang-buang waktu saya saja,"
“Bukan begitu kak, kami baru saja dari bepergian, dan di sana ada kejadian menyebalkan. Pulang-pulang rasanya panas sekali. Dimas menemaniku dari kemarin untuk melacak jejak Gunawan,”
“Gunawan? Gunawan yang mana?”
“Gunawan Ambrose, kak,”
“untuk apa kamu lacak jejaknya?”
Dan selama 10 menit, Bu Meilinda menceritakan kejadian yang selama ini dialaminya, termasuk tragedinya denganku di ruangan direktur,”
Pak Sebastian, herannya, mendengarkan tanpa menginterupsi sedikit pun.
Tapi tampak urat menonjol di keningnya, tanda kalau ia sebenarnya sangat marah. Juga terdapat kesedihan di matanya.
Ia menatap Bu Meilinda dengan sendu, aku juga bisa membaca adanya perasaan yang sangat khawatir di raut wajahnya.
“Bodoh...” gumamnya saat Bu Meilinda mengakhiri ceritanya. Ya, aku setuju dengannya. Suatu kebodohan Bu Meilinda. Tapi patut dibantu.
“Saya akan memikirkan rencana selanjutnya, jangan kaget kalau saya berbuat macam-macam dengan Gunawan. Lalu... kamu, Dimas?”
“Ya Pak?” jawabku sambil menaikkan alisku, tidak menyangka kalaua ku juga ikut dipanggil.
“Kamu ada hubungan apa dengan Milady?”
Aku sampai-sampai memiringkan kepalaku dan kurasa dahiku berkerut karena berpikir keras.
Karena aku merasa pertanyaan itu sangat aneh. Kenapa dia tiba-tiba bertanya mengenai Milady??
“Teman, karena dia sekretaris Trevor, dan Trevor teman saya, jadi saya kenal Milady,” jawabku.
“Yakin hanya itu hubungan kalian? Bukan TTM-an? Atau FWB?”
Aku melongo dong. Selama ini aku dianggap apa sih oleh orang-orang.
“FWB Pak? Gimana ya maksudnya?”
“Saya lihat kalian sangat akrab,”
“Ya, karena teman karib,”
“Saya tidak percaya laki-laki dan perempuan bisa jadi teman,”
Lah! Lah! Lah! Kok pembahasan jadi melenceng? Aku kok merasa seperti tertuduh yaaaa?!
“Tapi kenyataannya kami memang berteman. Kalau Pak Sebastian menyangka Milady ada hubungan special, Bapak salah. Pacar saya Bu Meilinda soalnya,”
Bu Meilinda langsung mencubit pinggangku.
Astaga...
Aku keceplosan!
“Jadi siapa yang harus saya habisi? Gunawan atau Dimas?”
Haduh!
“Gunawan saja Pak, Kasihan dong saya anak yatim ini,” desisku sambil kabur ke teras untuk merokok.
**
“Dimas," suara itu mendayu memanggilku untuk masuk setelah aku menghabiskan setengah batang rokok di tengah udara dingin Randa Bentang.
Aku menoleh dan menatapnya dengan pandangan bertanya.
“Sudah?” tanyaku.
Ia berdiri di pinggir pintu sambil tersenyum, anggukkannya menandakan kelegaan.
Manisnyaaa.
Kuharap yang melihat sosok memikatnya hanya aku seorang.
Dia sudah memakai kimono hotel dan berdiri menyejajariku di teras.
“Apa yang saat ini kamu pikirkan?” tanya Bu Meilinda.
“Bahwa sudah tidak ada jalan untuk mundur,” jawabku.
“Dari?”
“Dari hubungan kita,”
“Kakak tanya banyak hal mengenai kamu dan sepertinya besok ia akan secara khusus mengunjungi kamu. Aku dikhianati dua pria di saat yang hampir bersamaan, jadi sebenarnya kamu berada di posisi sulit,” katanya.
“Kamu dikhianati dua pria bersamaan, tapi kenapa masih percaya denganku?”
“Karena sepertinya aku lebih mengenal kamu dibanding pria lain, baru saja kusadari hal itu,”
“Ohya?”
“Begini,” Bu Meilinda menghela nafas dan menghadapku, “Hubunganku dengan Jeffry di masa lalu tidak seperti yang orang lain pikirkan. Kami jarang berkomunikasi hal-hal pribadi. Di depan publik kami memang mengusahakan tetap mesra dan bersinergi, tapi saat kembali ke rumah dia serasa dingin,”
“Apa kalian berhubungan intim? Sebagai suami istri?”
“10 tahun pernikahan kami, aku hanya merasakan beberapa kali berhubungan dengannya. Aku yang lebih sering meminta, kupikir dalam kehidupan rumah tangga, hal itu diperlukan agar kami selalu rukun. Jeffry itu cinta pertamaku dan pria pertamaku Dimas. Aku dekat dengan banyak laki-laki tapi pertama kali aku berpacaran adalah bersamanya. Pun kegadisanku bukan dia yang merebut,”
“Siapa?” aku benar-benar ingin tahu, sebut saja aku kepo.
“Virginityku dilakukan dengan alat. Jeffry yang minta. Dia bilang, daripada aku merasa bersalah, kamu lakukan sendiri dulu. Dulu, Aku tidak tahu arti ucapan itu, tapi aku tetap teringat jelas karena merasa ada yang salah,”
“Kamu sebenarnya dari pertama sudah punya feeling terhadap orientasinya,”
“Ya, tapi aku tak mengacuhkannya. Aku terlanjur mencintainya,”
“Saat itu, bagaimana caramu memergokinya?”
“Hm...” Bu Meilinda menarik nafas panjang dan menatap ke kegelapan malam di depan kami, “Suatu hari dia terbru-buru memesan tiket ke Paris. Kutanya ada apa dia bilang urusan pekerjaan. Merasa heran, saat dia sedang sibuk mengurus ini itu, ponselnya di depanku dalam keadaan tidak terkunci. Aku membuka pesan singkat yang masuk... dari bahasa Prancis. Kalau diterjemahkan... ‘Ma Cheri, kondisi Lily sudah membaik, tidak perlu terlalu terburu-buru, aku akan menjaga buah hati kita,”
“Lalu?”
“Aku hafalkan nama si pengirim, aku hafalkan nama di sana, dia bilang ‘Lily’. Dan saat kubuka instagram dengan nama mereka, aku melihat satu profile dengan wajah dua orang pria berpelukan salah satunya Jeffry. Lalu kubuka lamannya,”
“Lily anak mereka?”
“Ya, salah satu anaknya. Mereka memiliki dua anak perempuan yang diadopsi, di Paris,”
Aku pun menghela napas panjang dan kupeluk pinggangnya agar mendekat ke arahku. “Kita sama-sama tak beruntung soal cinta, ternyata,” kataku.
“Hm,” ia merebahkan kepalanya di bahuku. “Tapi dengan kamu... kita berdebat akan banyak hal. Jeffry tidak pernah mendebatku, ia selalu menuruti kemauanku. Gunawan apa lagi, jenis pria royal,”
“Dengan cara itu kamu mengingatku? Soal perdebatan selama ini?”
“Kamu mengingatkanku kalau aku bukan wanita sempurna, bahkan lebih sering terlihat bodoh di matamu,” ia terdengar menggerutu tapi bibirnya membentuk senyuman.
“Mau menoreh kenangan bersama?” tanyaku.
“Hehe,” ia mengangguk.