
Farel meringis pelan saat merasakan kepalanya seperti ditimpa sesuatu yang berat, buru-buru Farel menjelaskan pandangannya untuk melihat apa yang terjadi. Tak perlu dijelaskan bagaimana ekspresi Farel saat tau pantat Ardin mendarat indah di kepala bagian belakangnya.
"Buset, goa biawak. Bangun gak lo setan!" Farel mencubit keras paha Ardin sehingga membuat empunya berteriak kesetanan, cubitan di paha sakitnya gak main-main, Ardin saja sampai keluar air mata.
Sambil terus mengusap paha nya yang mulai ungu kebiruan, Ardin menatap Farel seperti meminta pertanggung jawaban. Akibat teriakan Ardin tadi semuanya ikut kebangun kecuali Divan, mereka diam di tempat sambil celingukan khas orang baru bangun tidur, planga-plongo kayak orang bego.
"Ada apa sih? Ribut banget, masih pagi juga," ucap Yusril kesal, memilih untuk lanjut tidur sambil meluk Gary yang dia kata bantal guling.
"Gue pulang. Lo semua jangan lolos sampai sore, udah siang bego," Farel meraih ranselnya di atas lantai yang dipakai alas kepala oleh Divan, dia saja yang gak kebagian space tidur di sofa.
"Halah, mumpung gak ada kelas," sahut Ardin, pindah posisi menimpa Divan yang masih terlelap gak sadar sekitar meski kepalanya tadi sudah terbentur lantai, tapi hal itu sama sekali tidak membuatnya bangun.
"Terserah, gue mau pulang. Lo semua jangan kangen," kekeh Farel geli sendiri dengan ucapannya. Ardin memutar bola matanya sinis, mendelik tajam lalu mengangkat kaki kanannya untuk menendang tulang kering Farel. Pemuda tinggi itu meringis tertahan, dengan sisa tenaga yang ada, Farel membalas tendangan Ardin pada kakinya.
"Eits, gak kena. Coba lagi," ejek Ardin, berusaha menjauhkan kakinya dari jangkauan Farel.
Dengan muka masam, Farel bergegas keluar tanpa sepatah kata, minimal say goodbye pun gak ada, keluar ya keluar aja sambil nendang pintu lumayan keras, gak peduli sama si pemilik rumah yang teriak-teriak gak terima.
.
Tiba di rumah, Farel langsung disambut oleh perempuan tua dengan outfit khas orang kaya, siapa lagi kalau bukan Oma-nya, si Wati.
"Ya ampun, sudah lama Oma gak nengok cucu kesayangan Oma. Kamu apa kabar sayang?" Wati memeluk erat tubuh tinggi Farel, serius dia kangen banget sama cucunya yang satu ini.
Farel tersenyum kecil kemudian membalas pelukan Wati sekilas.
"Farel sehat, Oma," jawab Farel seadanya. Wati melepaskan pelukannya dan menatap Farel sendu.
"Kamu gak bahagia Oma pulang?" tanya Wati dengan nada sedih, pundaknya merosot turun sambil menunduk lesu. Farel jadi merasa bersalah, bukan karena dia tidak senang dengan kepulangan Wati, hanya saja sikap Wati Farel kurang suka, dia selalu membanding-bandingkan Farel dengan Azarin, sengaja mamerin perhatiannya hanya pada Farel saja di saat mereka lagi kumpul di ruang keluarga. Gak jarang Azarin didapati nangis sesenggukan oleh Farel di kamarnya.
"Oma sepertinya lelah, istirahat saja ya," Farel memegang kedua bahu Wati untuk sekedar menghibur wanita tua itu.
"Tidak, Oma tidak capek. Walau lelah, melihatmu saja sudah membuat rasa capek Oma hilang," kekeh Wati sembari mencubit hidung bangir Farel.
"Aza, sini bentar deh," panggilan Farel mengalihkan atensi Wati, melirik sekilas dari ekor matanya lalu kembali fokus pada cucu kesayangannya. Azarin yang merasa dipanggil melangkah ragu mendekati dua manusia yang berdiri di depannya setelah meletakkan bawaannya di atas meja.
"Kenapa ya, bang?" tanya Azarin dengan gurat penuh tanya sambil melirik canggung ke arah Wati yang masih saja enggan untuk menatap balik.
"Kamu udah ketemu Oma? Beliau baru datang ke sini," terdengar bodoh bagi Azarin, tentu saja dia sudah tau Wati berkunjung ke sini, bahkan Azarin yang lebih dulu ketemu sama wanita tua itu dibanding Farel.
Tanpa mengeluarkan suara, Azarin hanya menanggapi Farel dengan angguka kepala.
"Baguslah kalo kalian sudah bertemu. Farel ke kamar dulu, mau mandi. Oma duduk dulu saja bareng Aza di sebelah sana, tunggu Bunda sama Ayah pulang," usul Farel sambil menuntun Wati ke sofa diikuti Azarin dari belakang.
Wati menghembuskan nafas kasar setelah ia ditinggali berdua saja dengan Azarin di ruang keluarga. Suasana jadi tiba-tiba canggung, Azarin jadi tidak nafsu makan, untuk menelan saja dia harus berusaha sepelan mungkin, karena jujur saja hawa di sekitar mereka benar-benar sunyi.
FYI, Setelah Farel beranjak dewasa, Azka mengajak keluarga kecilnya untuk pindah dari rumah utama, meninggalkan Wati sendirian di rumah sebesar itu. Awalnya Wati dengan tegas menolak karena dia tidak suka kesepian, tetapi keputusan Azka sudah bulat, Azka hanya tidak ingin Reyna tertekan bila harus satu atap dengan Wati setelah perlakuannya pada Reyna beberapa tahun lalu termasuk pada Azarin juga.
Reyna sendiri bingung mau bela siapa, kasihan juga nanti Wati sendirian tapi di sisi lain Reyna juga sudah capek menghadapi sikap Wati yang terlalu menekan Reyna, jadi dengan keputusan yang tepat Reyna memilih ikut kemauan Azka untuk pindah. Hal itu lah yang membuat Wati semakin benci pada Reyna dan juga Azarin karena Wati berpikir menantu yang tak pernah ia anggap itu sudah mempengaruhi akal sehat Azka sehingga memilih untuk durhaka pada Ibu nya sendiri.
"Oma, sudah makan?" Suara Azarin sedikit bergetar. Wati berdecak kesal, menatap Azarin dengan tajam.
"Jangan ajak saya bicara, dan berhenti panggil saya Oma, karena saya bukan Oma kamu, mengerti?!" Wati menekan setiap kalimatnya membuat Azarin langsung terdiam. Matanya sudah berkaca-kaca tapi berusaha Azarin tahan agar air matanya tidak mencelos keluar, selera makannya benar-benar sudah hilang, pelan-pelan dia meletakkan piring yang ia pangku tadi ke atas meja.
Untung saja Farel datang tepat waktu, jadi Azarin bisa bergerak dengan bebas. Farel duduk tepat di samping adiknya.
"Nasinya kenapa gak dihabiskan?" tanya Farel, melihat isi piring Azarin masih banyak, seperti belum tersentuh sama sekali.
"Huh, namanya juga anak tidak tau diuntung, kerjaannya cuma hamburin uang Azka, dia pikir nyari uang kayak metik daun apa," celetuk Wati sewot, Azarin semakin menunduk meremas ujung seragam sekolahnya.
"Oma, cukup! Berhenti memojokkan Aza seperti itu," Farel mengeraskan rahangnya, tidak terima adiknya dikatai seperti itu.
"Memang benar kan, dia itu anak tida tau diri yang lahir dari rahim perempuan miskin--"
"MAMA!!! CUKUPPP!!"