
Reyna kembali membereskan barang mana saja yang perlu ia bawa kalo ada yang ketinggalan tinggal balik ambil ke sini. Sebelum benar-benar pergi, Reyna ingin memastikan kondisi rumah, sejauh ini Reyna belum mengendus keberadaan Wati yang tadi sempat menghinanya, Reyna tak kan bisa melupakan itu, jika Reyna sudah kehilangan sopan santun mungkin Wati sudah patah tulang dibuatnya, tapi untung saja dia masih bisa memaafkan walaupun sulit.
Dengan langkah pelan dan hati-hati, Reyna menyeret kopernya berharap tidak ada yang sadar. Ehh iya, ada Bi Ela di bawah, apa bisa beliau jaga rahasia? Ada satu kendala lagi bagi Reyna, dengan kehadiran Bi Ela membuat aksi kaburnya sedikit sulit karena khawatir ART baru tersebut mengadukan dirinya kepada Azka. Reyna terdiam di sisi tangga, mengatupkan bibirnya sambil memikirkan bagaimana caranya melewati Bi Ela yang saat ini tengah mengepel lantai sambil nyetel musik DJ, Reyna gak habis pikir, emak-emak jaman sekarang ternyata sudah update ke versi terbaru, Reyna saja yang masih muda gak terlalu doyan yang kek gitu, palingan dia kalo bersih-bersih setel musik yang bernuansa sedih, Reyna kalo ngerjain tugas rumah harus ada drama sedikit biar seru.
"Apa iya aku nunggu di sini sampai sore?" Reyna menopang dagu sambil terus mebgawasi Bi Ela.
"Cepat pergi napa, Bi." Reyna menggaruk kepalanya, mulai bosan nunggu kepastian yang tak kunjunh datang.
"Lah lahh, kok malah naik ke sini." Bukan main paniknya Reyna kala melihat Bi Ela melangkah ke arah tangga, cepat-cepat dia serey kopernya secara paksa sehingga menimbulkam suara keras saat ia mendobrak pintu dengan keras. Langsung dia pura-pura tidur di ranjang.
"Non, baju kotor di mana? Bibi mau nyuci," Bi Ela membuka pintu dan melihat Reyna dengan posisi terngkurap sambil ditutupi selimut.
"Hmm, belum ada yang kotor, Bi. Soalnya aku belum ganti baju dari seminggu kemarin, coba periksa kamarnya Mas Azka," Reyna pura-pura membuat seolah dirinya baru bangun tidur, kentara banget bohongnya.
"Kamar tuan Azka dikunci, sudah Bibi dorong-dorong tapi gak bisa kebuka, hampir aja Bibi dobrak," kekeh Bi Ela seraya berlalu menuju kamar Farel.
Reyna bernafas lega, Bi Ela sama sekali tidak me-notice kopernya. Syukurlah, setidaknya dia tidak se-cerewet yang ku bayangkan.
"Bibi mau nyuci sekarang?" tanya Reyna.
"Iya, biar cepat kelar dan Bibi bisa pulang."
"Nyuci di mana?"
"Di Alfamart depan."
"Kenapa di sana?"
"Aduhh, non Reyna. Bibi nyuci di belakang rumah dong, kan tempatnya memang di sana, masa gak tau kan udah lama tinggal di sini."
"Ohh iya juga, basa-basi doang, Bi. Maaf ya Reyna gak bisa bantu."
"Loh ngapain bantu toh? Ini kan sudah tugas Bibi jadi non Reyna gak perlu minta maaf."
Bi Ela pamit pergi ke bawah untuk nyuci baju. Reyna tersenyum senang karena ini adalah kesempatan emas baginya. Setelah memastikan Bi Ela sudah hilang dari pandangan, Reyna kembali menyeret kopernya dan meniti tangga secara perlahan agar suara langkahnya tidak terdengar.
Reyna berjingkrak heboh saat sudah berhasil keluar dari pintu utama, wahh dia seperti maling yang berhasil kabur, sepertinya Reyna cocok jadi perampok. Tapi, Reyna gak boleh senang berlebihan dulu, masih ada satu tantangan lain lagi yang tak kalah berbahaya, yaitu melewati pos satpam.
Setelah bersusah payah menghindari tatapan sang satpam yang setia berjaga 24 jam, Reyna segera memesan taxi untuk mengantarnya segera ke Halte Bus.
Lama Reyna menunggu di sana karena ini bukan jam keberangkatan dari Jakarta ke Bandung, terpaksa ia harus menunggu sekitar 30 menit, sempat protes dan ingin kembali saja tapi mengingat usahanya untuk sampai di sini bukan main effort-nya, masa ia harus kembali lagi ke neraka--eh maksudnya rumah besar itu. Sambil menunggu Reyna habiskan waktu untuk melamun tentang rumah tangganya dengan Azka yang tak tau entah sampai kapan hancur.
"Mas Azka itu ganteng, tapi sayang orangnya pendendam, ngapain juga aku jatuh hati sama dia jika tau akhirnya akan begini. Huh, hidupku sangat plot twist sekali, ending yang mengejutkan." Baru saja diomongi, tiba-tiba orangnya telpon. Reyna merenggut kesal saat nama Azka tertera di ponselnya sebagai orang yang saat ini menghubunginya.
"Iyuh, dasar. Kamu tau, mas? Aku benci kamu, camkan itu," setelah puas memaki, Reyna menggeser tombol hijau dan mendekatkan benda pipih itu di telinganya dan berusaha bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa.
"Halo, kenapa?"
"Kamu di mana sekarang?"
"Di rumah," Reyna menggigit bibirnya kuat karena terpaksa berbohong, jika dihitung selama umurnya dia jarang sekali berbohong, dan bohong bukan keahliannya. Sekali saja dia berbohong pasti akan ketahuan dengan cepat.
"Ohh, benarkah?"
"Iya, kenapa? Tidak percaya?" Reyna seolah menantang.
"Nggak kok, siapa bilang aku tidak percaya. Aku hanya takut kamu kabur karena aku melihat seseorang yang mirip sekali denganmu, saat ini sedang duduk di kursi panjang sambil menunggu bus dan dengan koper besar miliknya yang terlihat tidak asing."
Reyna menatap sekeliling, penuturan Azka tentu mengarah padanya. Reyna berusaha mencari keberadaan lelaki itu, yakin sekali jika Azka ada di sekitar sini, sampai manik matanya melihat Azka tengah melambai sambil tersenyum smirk ke arahnya. Reyna menelan salivanya dengan susah payah, Azka tampak berjalan ke arahnya. Reyna merasa seolah menjadi patung saat ini, tak bisa menggerakkan anggota tubuhnya sementara Azka semakin dekat. Hendak kabur namun kakinya seperti menempel di trotoar.
Sudahlah, terima nasib saja. Reyna benar-benar pasrah, karena mau bagaimana lagi? Azka sudah berdiri tepat di depannya sambil melayangkan tatapan tajam seolah ingin memakan orang. Reyna membuang muka, tak berani menatap manik mata kelam Azka.
"Pulang!!" Satu kata, namun terdengar seperti sebuah gertakan yang dilontarkan Azka. Reyna lagi-lagi menelan salivanya dengan susah payah.
"Jalan sendiri atau mau ku gendong?" Reyna segera menoleh dan berdiri.
"Saya bisa jalan sendiri," Reyna melemparkan tatapan tajam ke arah Azka, walaupun seperti itu dalam hatinya, Reyna mendadak panas dingin saat Azka membalas tatapannya tak kalah tajam, seketika nyalinya menciut.
"Berhenti bersikap formal padaku, dan bicaralah seperti saat kita masih suami-istri." Azka benar-benar benci jika Reyna kembali bersikap formal dan seolah dirinya adalah majikan Reyna lagi.
Hening di antara mereka sungguh membuat Reyna tak nyaman jika sudah berada satu mobil dengan Azka, apalagi dengan status mereka saat ini yang sudah jadi mantan. Keadaan hening tersebut berlanjut sampai mereka sampai di rumah.
Yahh, aku kembali lagi. Kali ini, siksaan model apa lagi yang akan aku terima di sini?????