Married With Duda

Married With Duda
MWD 53 : Jamuan Makan Siang



Azka kembali bekerja di perusahaan setelah sudah sekian lama gak menginjakkan kaki pada lantai kantor kebanggaannya. Seperti biasa, Rudy sang asisten selalu menyambut di depan pintu, mengambil alih tas kerja Azka, sebagai asisten yang berdedikasi dia selalu bersedia melakukan apa saja. Rudy mengikuti sang atasan dari belakang.


Lift untuk karyawan sudah penuh, sebenarnya ada lift yang khusus untuk Bos, tetapi karena sering error dan suka berhenti di tengah jalan membuat Azka selalu gugup dan takut jika nyawanya harus berakhir di lift, tapi kali ini mungkin terpaksa karena Rudy meyakinkan jika lift khusus Azka sudah diperbaiki.


Azka berdehem sebentar, sebelum menekan tombol untuk naik ke lantai 10, di mana di sana lah letak ruangannya, paling atas.


"Hari ini aku akan pulang cepat, Rudy. Ada yang harus kuurus di rumah, jadi untuk selanjutnya kamu yang handle ya." Rudy mengangguk kemudian segera keluar setelah memberikan Azka sebuah agendanya pagi ini. Azka berdecak kesal, kenapa harus ia yang datang menuju perusahaan orang ini, bukankah mereka yang butuh kerja sama dengannya, Azka lagi malas bepergian, pikirannya selalu tertuju pada Reyna yang sejak kemarin malam mengeluh sakit pada perutnya.


Mau tidak mau, Azka harus tetap jalan demi untuk memperbaiki hubungan kekerabatan dalam perusahaan. Selain donatur perusahaan mendiang sang Papa, beliau juga teman dekat Papa Azka, jadi Azka sendiri tentu tidak akan menolak undangan jamuan makan siang perusahaan yang akan diadakan di sana, jadi agenda Azka bukan rapat melainkam memenuhi undangan makan siang, yag walaupun tidak spesial dan tidak penting menurut Azka tetapi silaturahmi harus selalu dijaga, itulah pesan mendiang Papa Azka. Tempatnya tidak terlalu jauh, Azka saja yang malas, akibat bepergian ke luar kota dia jadi mager buat pergi lagi.


Tamu tampak memenuhi aula, makanan tersebar di mana-mana, tinggal comot aja. Banyak sekali pebisnis hebat yang menghadiri acara singkat ini, Azka tidak heran, pemilik acara ini lumayan terkenal.


"Hey, Azka. Aku kira kamu tidak akan datang memenuhi undangan hari ini." Pak Agus, teman akrab Papa nya dulu menghampiri Azka yang berdiri mematung di antara puluhan tamu. Azka tersenyum canggung kemudian menyambut jabatan tangan yang lebih tua.


"Ayo sini, sini. Biar ku perkenalkan kamu dengan yang pain," tanpa menunggu jawaban Azka, Agus langsung saja menyeret Azka ke kerumunan yang sejak tadi menunggunya.


Azka merasa kecil di antara kumpulan yang sudah berpengalam ini, memang hanya dia pengusaha yang masih muda, yang lain sudah bau tanah kuburan--- astaga, salah ngomong, maksudnya sudah berumur lah ya biar lebih sopan sedikit.


"Ohh ini ya putranya almarhum Pak Salman, tampan sekali ya, lihat badannya atletis banget."


"Kalo dia jadi menantuku sih, aku setuju banget."


"Kenapa sih aku lahirnya cepet banget, padahal mau gebet pemuda tampan ini."


"Aduh, tatapannya bikin saya mau sekarat."


Kurang lebih begitu obrolan para wanita paruh baya yang tidak henti-hentinya memandang wajah Azka, dan tanpa sadar mengeluarkan pujian yang hampir saja membuat para suaminya ketar ketir, takut sang istri berpaling.


Mereka makan dengan tenang, namun sesekali terselip canda tawa di antara mereka, entah menertawakan apa, Azka tidak tau, padahal gak ada yang lucu, perkara garpu jatuh aja diketawain sampai bengek, padahal menurut Azka gak lucu sama sekali, bahkan ada yang batuk diketawain, kan aneh. Azka berada di kumpulan orang-orang miring, kenapa bisa mereka jadi seorang pebisnis hebat jika hal kecil saja sudah membuat tertawa ngakak. Jokes bapak-bapak memang beda, begitu pikir Azka.


Acara makan siang sudah selesai, ini waktunya untuk Azka kembali, namun langkahnya ditahan oleh pak Agus seakan melarang Azka beranjanh barang selangkah dari tempatnya.


"Kenapa buru-buru, dessert nya belum sampai," ujar Pak Agus sambil tersenyum penuh arti, Azka menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba dingin, perasaannya sudah gak enak, tapi kenapa?


Mata Azka selalu melirik jam tangannya, padahal sudah janji sama Reyna akan pulang jam 2, paling telat mungkin sore, asal jangan malem aja.


"Ehm, begini. Jika tidak ada apa-apa lagi, saya boleh undur diri?" tanya Azka sopan, karena firasatnya sudah buruk, lihat saja bagaimana ekspresi bapak-bapak yang tengah meminum minuman warna warni yang sudah tersedia di atas meja.


"Sebenarnya, acara ini sampai nanti malam, dan tamu yang sudah datang tidak diperbolehkan pulang sebelum acara selesai," ucap pak Agus santai. What? Aturan dari mana itu? Azka memasang raut tidak terima, seketika matanya terbelalak kaget saat para perempuan sexy dengan pakaian mini mulai memasuki aula, lampu tiba-tiba mati dan diganti dengan lampu kelap-kelip(kayak yang di club malam), musik mulai berbunyi dengan keras memekakkan telinga. Azka tak habis pikir, laki-laki yang sudah tua seperti mereka masih saja menginginkan hiburan semacam ini, lalu bagaimana reaksi para istri mereka? Azka beralih menoleh pada ruangan yang lain di mana para istri dari tua bangka itu tengah asik ngerumpi sambil sesekali tertawa kencang seolah musik keras itu tidak mengganggu kegiatan mereka, apa mereka tidak cemburu atau marah karena kelakuan para suami mereka yang sudah terang-terangan dipeluk wanita muda yang jauh lebih cantik dari mereka, masih muda pula.


Azka menggelengkan kepalanya melihat pemandangan aneh ini, Azka menoleh pada pak Agus yang tampak menikmati suasana sambil memegang segelas bir, berjoget dengan dua wanita sexy di samping kiri dan kanan, encok baru tau rasa.


"Kamu tidak ikut?" Tiba-tiba Azka dikejutkan dengan suara perempuan, dia adalah Reni, istri dari Agus sendiri, raut wajahnya datar menatap jauh manik mata Azka.


"Tidak, Bu. Saya tidak minat," jawab Azka sekenanya, memang benar dia tidak suka hiburan seperti ini, jika stres tinggal minta Reyna cium, sudah hilang stres nya. Reni juga salah satu teman Wati, jadi mereka satu keluarga audah saling kenal dan akrab, sudah seperti saudara kalo kata pak Agus, jadi Azka gak terlalu segan untuk berbicara dengan keluarga mereka.


Reni beralih menatap suaminya yang masih asik berjoget ria tanpa mempedulikan kehadirannya saat ini, tatapannya kosong, menatap Agus dengan ekspresi benci dan kecewa, Azka tau itu.


Karena tidak berani merusak suasana dan mood dari wanita paruh baya di sampingnya, Azka memilih mengalihkan fokusnya pada benda pipih di genggamannya.


"Dia sungguh bejat, tidak pernah memikirkan perasaan istrinya sendiri, perempuan mana yang tidak akan terluka jika suaminya berbuat hal seperti itu, bahkan tepat di depan mata." Setitik, dua titik, tiga titik, bahkan kristal bening itu berlomba-lomba meluncur, Azka sedikit tertegun dengan ucapan Reni.


Jangan lupa komen, biar tau tanggapan kalian baca episod ini hehe....