Married With Duda

Married With Duda
bab 10



Sudah seminggu lebih Zahra tidak pernah lagi menghubungi Adnan dia benar-benar menyiapkan handphonenya padahal sudah beberapa kali laki-laki itu terus menghubunginya mengirimnya pesan tetapi Zahra tidak pernah mengobris atau membalasnya lantaran dia sudah sangat kecewa sekali dan sudah selama seminggu ini Zahra tidak mau juga bertemu dengan anak padahal laki-laki itu menunggu di depan rumah untuk bertemu dengannya namun Zahra tidak mau keluar dan bahkan saat Adnan menemuinya di sekolahan Zahra buru-buru menghindar.


Dan saat itu pula Adnan mulut oke kebodohannya dia dimaki habis oleh sang ayah dan juga kakaknya lantaran terlalu bodoh.


" Coba kamu jelaskan padanya Jika kamu ingin melamarnya dengan begini Zara tidak akan salah paham sama kamu Adnan." Rehan malah ikutan kesal.


Lagian wanita mana yang mau menunggu tanpa diberi kepastian seakan harapan palsu lah yang Adnan berikan untuk Zahra tentu saja wanita itu kecewa dan marah karena jika dirinya perempuan dia pun akan merasakan hal yang serupa seperti Zahra.


" Tapi aku hanya ingin memberinya kejutan kak Aku ingin dia terkejut tiba-tiba aku melamarnya menjadikannya sebagai istriku bukan," jawab Adnan. Dia masih kekeh dengan pendiriannya yang ingin memberikan Zahra kejutan dia pikir apa yang ia lakukan adalah benar.


" Hadeeew, kok bisa gue punya adik sebodoh ini." Heran mendesah lantaran adiknya benar-benar memiliki pikiran yang pendek sekali.


" Wanita itu tengah kejutan bro, dan mereka juga ingin kepastian. Status yang jelas, bahkan cinta mereka ingin diungkapkan padahal sudah sangat jelas jika laki-laki memperlakukannya melebihi dari hanya sekedar cinta. Namun tetap saja mereka mengharapkan kata-kata cinta dari mulut kita. Itulah wanita," ujar Rehan menceritakan kisah hasil dari pengalamannya.


Karena istrinya ingin selalu mendengar ucapan cinta dari dirinya padahal sudah tahu sekali Jika dirinya sudah sangat cinta mati kepada istrinya tersebut.


" Jangan-jangan dulu lo memang nggak pernah ya ungkapan kata cinta pada mantan istri lu dulu?" Selidik Rehan.


" Pernah. Tapi saat merayakan anniversary saja," jawab Adnan.


" Pantes," ujar Rehan.


" Pantes kenapa?" Adnan tidak mengerti.


" Pantes cerai." Rehan pun kemudian bangkit lalu pergi menemui istrinya ketimbang dia mendengar keluhan bodoh dari adiknya mending dia mengungkapkan cintanya kepada sang istri tercinta yang sudah menunggunya di dalam kamar.


Adnan mendengus kesel nonton kakaknya itu tidak menemukan solusi apapun, malah dirinya ejek dan dibilang bodoh. Adnan meraih kotak cincin yang sudah dia siapkan jauh-jauh hari lalu ia buka dan melihat dua cincin yang sangat indah sengaja dipesan oleh Adnan untuk membahagiakan Zahra dan berusaha memberikan yang terbaik untuknya.


" Aku harap kamu suka Zahra, aku sudah menyiapkan ini tunggu Aku tunggu aku datang melamarmu," ucapan begitu sangat yakin dia raih satu cincin yang akan ia berikan kepada Zahra nanti lalu ia kecup rambut cincin tersebut.


Adnan tidak menyerah walaupun panggilan teleponnya tidak dijawab sama sekali pesan-pesannya tidak dibaca apalagi dibalas namun tidak akan menyerah begitu saja dia akan datang ke rumah Zahra, namun kali ini tidak sendiri, melainkan dengan ayahnya dan juga Adnan akan membawa cincin ini untuk jadikan mahar saat melamarnya nanti.


Sementara itu kedua orang tua Zahra ternyata sudah berada di rumah mereka memperhatikan jika anak gadis mereka nampak lebih murung dan sering mengurung diri di kamar mereka bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi selama mereka tidak ada kemudian ibunya Zahra pun bertanya.


" Sebenarnya ada apa? Ibu perhatikan kamu berbeda sekali dari biasanya, sekarang Kamu terlihat tampak murung dan selalu diam di kamar, sebenarnya apa yang terjadi Nak?" Naluri seorang ibu tidak pernah salah. Rindi yakin jika anaknya memiliki masalah.


" Zahra tidak apa-apa Bu, Ibu tidak perlu khawatir," kata Zahra dia menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu.


" Ibu tahu kamu berbohong, tapi jika kamu belum mau menceritakan kepada ibu ya sudah Ibu tidak memaksa." Rindi tidak ingin memaksa anaknya bercerita, namun dia berharap sekali masalah anaknya tidak seperti dulu yaitu ditinggalkan kekasihnya selingkuh padahal mereka sudah tunangan. Rindi tidak ingin anaknya itu kembali terluka.


Kemudian Rindi bicara dengan suaminya masalah Zahra yang nampak murung akhir-akhir ini.


" Menurut bapak bagaimana apa kita tetap merencanakan perjodohan ini?" Kata rindu dia duduk di samping suaminya.


" Ya mau bagaimana lagi, keluarga Pak Ramli tidak ingin menunggu lama dan kita sudah janjikan bahwa Zahra dan juga Faris akan menikah dalam bulan ini. Jadi mau tidak mau kita harus membicarakan tentang masalah perjodohan ini dengan Zahra secepatnya," ucap Bayu.


Ternyata kedua orang tua Zahra sudah memiliki rencana lain saat mereka berada di luar kota waktu itu mereka bertemu dengan sahabat lama dan mereka pun berencana untuk menjodohkan anak-anak mereka mengingat jika saat ini usia Zahra memang sudah matang untuk menikah. Jadi tidak ada salahnya mereka yang memilihkan calon suami untuk anaknya agar supaya tidak terulang lagi kejadian 4 tahun yang lalu itu.


" Ya sudah jika itu sudah menjadi keputusan Ibu hanya berharap rindi tidak lagi terluka dan mau menerima Faris. Karena laki-laki anak yang baik dan sholeh."


Keesokan harinya Rindi dan juga Bayu kini sudah bertatapan dengan Zahra, mereka sengaja meminta Zahra berkumpul karena ingin menyampaikan sesuatu yaitu tentang masalah perjodohan yang mereka rencanakan saat berada di luar kota waktu itu.


"Ada hal penting apa sebenarnya Pak, Bu?" Tanya Zahrah menatap bingung kedua orangtuanya yang menampilkan wajah sangat serius sekali.


"Begini Zahra, ada sesuatu yang Inu sampaikan sama kamu, ini menyangkut masa depan kamu dan Ibu yakin jika pilihan Ibu dan juga Bapak sangat tepat. Dia adalah laki-laki yang baik dan juga sangat sholeh, Ibu yakin pasti dia akan membuat kamu bahagia kedepannya," ucap Rindi sedikit ragu.


Cara mengerutkan kening yang tidak mengerti dengan arah pembicaraan mereka. Laki-laki, masa depan apa maksudnya?


" Maksud Ibu dan Bapak apa?" Tanya rindu dia ingin arah pembicaraan lebih jelas lagi.


Rindi menghela nafasnya kemudian diam menatap sang suami.


" Ibu dan bapak berencana mau menjodohkan kamu dengan anak sahabat Bapak yang ada di kota Bandung. Kamu pasti kenal dengan laki-laki yang mau kami jodohkan itu, dia adalah Faris. Kamu ingat kan teman masa kecil kamu dulu," ucap Rindi.


Ternyata laki-laki yang akan dijodohkan dengan Zahra adalah teman masa kecilnya dulu. Zahra sudah lupa lantaran mereka sudah lama tidak bertemu.