Married With Duda

Married With Duda
MWD 59 : Anggota Baru



Pagi-pagi buta sekitar jam 4, Reyna terbangun karena merasakan sakit pada perutnya yang luar biasa, padahal biasanya kalo mengalami kontraksi tidak sesakit ini. Baru Reyna ingat, jika kandungannya sudah memasuki 9 bulan, tapi baru dua hari masa iya dia akan lahiran sekarang.


Dengan tangan kiri yang bergetar, Reyna berusaha menjangkau lengan sang suami yang masih tertidur pulas di sampingnya, mengguncangnya pelan harap-harap Azka bisa terbangun, untunglah Azka bukan tipe orang yang kebo kalo tidur, buktinya dia langsung bangun baru diguncang sebentar saja oleh Reyna.


Belum selesai nyawanya terkumpul, Azka begitu kaget sekali mendapati Reyna yang merintih kesakitan sambil memegangi perutnya. Orang lain kalo baru bangun, bengong dulu kumpulin nyawa beberapa menit, nah beda kalo Azka, baru bangun dia langsung loncat dari kasur menyambar kunci mobil.


Buru-buru Azka menggendong Reyna, gak peduli seberapa berat istrinya yang bertambah dua kali lipat karena ada jabang bayi dalam perutnya, tetapi Azka tidak memikirkan itu, yang ada di kepalanya hanya rumah sakit, Reyna harus cepat sampai di rumah sakit.


Mata Azka terbelalak kaget karena melihat ada darah mengalir dari paha menuju betis Reyna, dan itu cukup banyak, Azka kepalang panik, dia segera meletakkan Reyna di kursi samping kemudi, kebetulan mobilnya sudah ada di depan pekarangan rumah karena kemarin malam lupa masukkin ke bagasi.


Azka segera melajukan mobilnya, satpam yang sepertinya habis keliling komplek tampak buru-buru berlari ke arah gerbang untuk membukakan gerbang. Mobil Azka melaju membelah jalanan kota yang agak gelap karena masih belum ada kendaraan yang berlalu lalang di jam segini, ada sih tapi jarang, jadi inilah kesempatan Azka untuk ngebut di jalanan agar cepat sampai di tempat tujuan.


Reyna segera diletakkan di atas brankar yang dibawa oleh salah satu petugas rumah sakit, tampaknya emergency sekali, Azka ikutan mendorong sambil terus mengeluarkan kata-kata semangat untuk sang istri yang sepertinya akan berjuang sekarang juga untuk melahirkam bayinya.


Reyna segera dibawa masuk ke ruang bersalin, dan Azka sendiri dilarang masuk, tentu hal tersebut membuatnya kesal setengah mati, dia kan suami Reyna masa tidak diizinkan masuk, padahal sering Azka lihat tuh di channel YouTuber, ada kok yang nemenin istrinya lahiran sambil dicium dan dikasih semangat, lah ini kok nggak dikasih.


"Maaf, Pak. Anda tidak diperkenankan untuk masuk," ucap salah satu suster yang turut mendorong brankar tadi.


"Kenapa? Saya suaminya, seharusnya saya ada di dalam bersamanya, mendampinginya," protes Azka dengan wajah frustasi, baru kali ini dia merasakan paniknya luar biasa.


"Tapi dokter harus melakukan beberapa pemeriksaan terlebih dulu, jadi tidak boleh ada yang masuk," jelasnya lagi, tetapi yang namanya Azka keras kepala, gak peduli lah dia yang namanya pemeriksaan, yang jelas dia harus ada di samping Reyna saat ini juga.


Suster tersebut menutup pintu ruangan, menyisakan Azka yang sedari tadi menahan kesal dan amarahnya. Ingin sekali dia tendang pintu kaca yang menghalangi antara dia dan istrinya ini. Tak bisa tenang, Azka terus saja mondar mandir depan pintu sambil sesekali mengusap wajahnya kasar.


"Lama-lama ku bakar juga rumah sakit ini," ujar Azka masih menahan kesalnya.


Tiba-tiba pintu terbuka, menampilkan dokter lelaki dengan nametag Rozi, menggunakan masker yang biasa untuk operasi. Azka segera menghampiri dan mengintrogasi dokter muda yang saat ini berdiri di depannya.


"Bagaimana istri saya, dokter?" tanya Azka dengan wajah mengintimidasi.


"Boleh saya masuk?"


"Ohh tentu saja, silahkan," dengan senang hati dokter Rozi membiarkan Azka masuk untuk melihat Reyna. Kayaknya sudah anteng saja, Reyna tengah mengobrok santai dengan para suster dan diselingi candaan yang membuat Reyna terkekeh kecil. Melihat kedatangan Azka, Reyna begitu senang menyambutnya, para suster izin pamit keluar membiarkan bagi kedua pasangan ini untuk bercengkrama sebentar untuk beberapa jam ke depan.


"Udah gak sakit lagi?" tanya Azka memulai pembicaraan.


"Sakit sih, tapi masih bisa aku tahan dan gak terlalu sakit kayak yang tadi," jawab Reyna sambil meringis.


"Jangan banyak gerak, kamu diem aja." Reyna mengangguk dan mulai memejamkan mata, rasanya capek banget, Reyna menatap langit-langit kamar rumah sakit seraya tangannya terus menggenggam tangan Azka erat.


.


Jam demi jam berlalu, Reyna sudah pembukaan ke-8 dan dengan polosnya Azka request untuk ganti dokter karena Azka lumayan terganggu jika dokter yang akan menangani persalinan Reyna laki-laki jadi harus diganti dengan dokter perempuan, mau tidak mau dokter Rozi resign dari ruangan Reyna dan memanggil salah satu dokter perempuan untuk menggantikan tugasnya karena salah satu komplain dari suami pasien. Sudah beberapa permintaan Azka tersebut ditolak dikarenakan dokter perempuan itu sedang ada tugas di kamar lain, namun Azka yang sifatnya keras kepala tidak peduli yang jelas harus sesama jenis, gak bisa yang lawan jenis, aset miliknya masa harus dibagi sama orang lain meski notabennya adalah dokter yang akan menangani persalinan, itu semua hanyalah omong kosong bagi pikir Azka.


Sudah mendekati pembukaan ke-10, waktu berlalu begitu cepat. Akhirnya, dengan bantuan dan dorongan dari kalimat indah nan penenang dari sang suami (Dokter sama suster gak dianggap), Reyna berhasil melahirkan bayi perempuan yang sehat.


Air mata bahagia tidak bisa ditahan lagi, sepasang suami istri tersebut menangis terharu sambil berpelukan dan saling mengucapkan terima kasih satu sama lain, terutama Azka yang sudah tidak bisa lagi membendung rasa bahagianya, tak henti-hentinya ia menciumi seluruh wajah Reyna penuh sayang.


Suster yang sudah membersihkan bayi mereka kemudian menyerahkan nya pada Azka untuk diadzanin dulu biar kelak jadi anak yang Sholeh dan berbakti kepada kedua orang tua. Setelah itu, Azka membawa bayi cantik itu tidur di samping Reyna untuk memberinya ASI, untung saja setelah melahirkan Reyna tidak pingsan seperti kebanyakan pasien di rumah sakit ini, jadi gak ribet buat nenangin bayi tersebut.


Mereka sampai lupa pada Farel yang hari ini akan sekolah, bahkan gak pamit sama sekali pada Jagoan mereka itu, yah namanya juga orang lagi panik-paniknya mana sempat mikir kesitu.


Ini sudah pukul 10 pagi menjelang siang, sepertinya Farel sekolah diantar supir begitu pikir Azka. Ia bergegas menghubungi sang Mama untuk memberitahukan kabar bahagia ini dan memintanya untuk datang menjaga Reyna sementara di rumah sakit, sedangkan Azka akan ke Kantor sebentar karena ada meeting mendadak siang ini, sebenarnya Azka enggan meninggalkan Reyna namun keadaan yang memaksa, Reyna juga sudah bicara jika dia gak apa-apa ditinggal sebentar lagipula kerjaan Azka lebih penting sekarang, mau tidak mau Azka mengiyakan setelah Wati datang dia langsung pulang untuk mandi dan ganti pakaian.


Wati duduk dengan angkuh di sofa, Reyna sudah dipindahkan ke ruangan VVIP jadi tempatnya cukup luas dengan ranjang beda banget sama yang pertama kali Reyna tiduri, bayi mereka letakkan di atas box bayi samping Reyna.


Hening cukup lama dalam ruangan tersebut, tidak ada yang membuka obrolan, diam satu sama lain. Reyna juga tidak tau harus mulai ngomong apa, sementara Wati juga tampak acuh dengan sekitar, toh tugas dia hanya menjaga bukan menghibur, begitu isi hati Wati.