Married With Duda

Married With Duda
MWD 58 : Perkara Trauma



"Ehh, bu Putri belum pulang?" tanya Reyna saat melihat Putri yang santai tiduran di atas karpet, terus televisi menyala menampilkan sinetron Indosiar favorit Azka yang tayang malam ini.


Putri tersentak kaget lalu segera berdiri, matanya sayu dan sedikit memerah karena dia habis bangun tidur.


"Ohh kalian sudah pulang, saya tungguin dari tadi sampai ketiduran," sahut Putri dengan suara serak, seraya terua mengucek matanya.


"Ngapain nungguin kita? Ini sudah jam 9 loh, kok belum pulang? Nanti bu Putri dicariin," ujar Reyna lagi.


"Gimana mau pulang, tukang anternya aja baru balik," tunjuk Putri ke arah Azka yang tengah menggendong Farel ala koala, dia sudah tertidur sejak perjalanan pulang.


Reyna menoleh ke arah Azka yang hanya mengangkat bahu acuh kemudian berjalan santai menunu tangga untuk menidurkan Farel di kamarnya, sementara Reyna memilih duduk di sofa samping Putri sambil terus menatap Putri intens.


"Kenapa? Iya tau saya cantik, jadi gak perlu terlalu heran begitu," kekeh Putri dengan wajah malu-malu. Reyna mengernyit, iya Putri memang cantik tapi sifatnya malah kebalikan. Reyna tersenyum simpul.


"Bu Putri gak pulang?" Reyna kembali bertanya karena berfikir mungkin kesadaran Putri sudah pulih sepenuhnya.


"Ya pulang dong, Bu Reyna. Pak Azka nya mana? Minta anterin," jawab Putri, badannya ia sandarkan pada sofa sambil membereskan tas nya.


"Kan bisa minta tolong supir yang anterin."


"Bu Reyna gak tau kalo saya tuh gak bisa pulang dengan orang asing yang saya gak kenal, saya ini punya trauma yang mendalam loh."


"Supirnya baik kok, ramah juga. Saya pernah diantar jemput dan gak terjadi apa-apa," bela Reyna merasa ucapan Putri salah banget.


"Ya itu kan bu Reyna sendiri, kalo saya mah beda, Ibu kan gak punya trauma."


"Tetap saja Bu, Bu Putri harusnya bisa membiasakan diri dan melupakan trauma itu dan mulai berprasangka baik pada orang lain."


"Kok Ibu jadi ceramahin saya? Gak tau ya rasanya menghadapi trauma yang sudah mendarah daging, ibu gak paham jadi gak usah ikut campur dan sok menggurui saya," bentak Putri sambil menatap Reyna tidak suka.


"Bukan maksud saya seperti itu, saya hanya--"


"Putri benar. Reyna, mending kamu diam saja, biarkan Azka yang mengantar Putri agar selamat sampai tujuan, lagipula mang Tarno sudah tidur di kamar belakang. Kamu ini suka sekali melarang, memangnya siapa kamu di rumah ini?" Wati menyahut dari arah dapur, dengan membawa secangkir kopi hangat. Reyna terdiam, kalau sudah Wati backingan-nya Reyna bisa apa, tapi balik lagi pada Azka sendiri, mau atau tidak mengantar Putri sedangkan Reyan juga tau pasti suaminya capek habis bawa mereka jalan-jalan.


Putri tersenyum puas kala melihat ekspresi Reyna yang langsung kicep saat Wati bersuara, kedua siluman Medusa itu saling pandang dan tersenyum penuh kemenangan.


Fokus mereka bertiga teralihkan ke arah tangga, menampilkan Azka dengan baju tidurnya yang bermotif kartun Shincan.


"Ayo sayang, kita tidur. Pasti kamu capek habis jalan-jalan," panggil Azka dengan penuh kelembutan, bodo amat sama Putri dan Wati yang menatapnya penuh harap.


"Azka, tolong antarkan Putri pul--"


"Gak bisa, aku gak berani diantar oleh orang asing," tutur Putri dengan raut muka yang dibuat sesedih mungkin.


"Ya sudah, jalan kaki saja, ribet banget," ketusnya penuh penekanan.


"Azka!!!! Jangan seperti itu, kasihan Putri nanti dicariin sama orang tuanya, lagipula rumahnya deket kok," Wati membela.


"Kenapa gak daritadi siang sih dia pulang? Harus gitu tunggu Azka balik? Kalo memang deket ya jalan aja, masih banyak kok kendaraan yang berlalu lalang," Azka tidak mau kalah, sudah cukup dia mentoleransi sikap Putri yang terang-terangan ingin mencari perhatiannya.


Wati menghela nafas kasar, tau banget gimana keras kepalanya Azka, jadi untuk saat ini Wati tidak bisa membantu Putri. Mau tidak mau, Putri harus menginap malam ini, kebetulan ada kamar kosong di sebelah kamar pembantu, karena kamar tamu yang lain dipakai buat taruh barang, dan gak mungkin Putri disuruh tidur di sana.


.


"Mas, kamu kok gak mau anterin Putri pulang? Kan deket tuh rumahnya, mungkin berjarak 15 meter dari rumah," ujar Reyna setelah mereka berdua rebahan di ranjang, dengan posisi Reyna membelakangi Azka dan Azka sendiri tengah mengolesi minyak di perut Reyna, entah minyak apa yang jelas Reyna langsung merasa baikan jika diolesi minyak tersebut.


"Gak usah pedulikan dia, aku lagi males bahasnya," sahut Azka sambil sesekali mencium pucuk kepala Reyna lembut. Reyna mengerucutkan bibirnya, padahal cuma ingin tau alasannya doang.


"Kamu gak suka sama Putri ya?" pertanyaan Reyna yang tentu saja sudah jelas jawabannya.


"Kamu bercanda? Ya jelas gak lah, ngapain aku suka sama dia."


"Kenapa? Bukannya Putri itu cantik, baik, dan pintar juga, malah katanya dia lulusan terbaik di kampurnya, pokoknya lebih baik dari aku," Reyna berbalik badan dan menatap Azka sendu, meminta jawaban yang jujur.


Azka balik menatap Reyna.


"Kamu pasti kemakan ucapan Mama ya, yang suka bandingin kamu sama perempuan itu? Sudah aku bilang, jangan hiraukan apapun perkataan Mama, semua itu gak bener. Bagi aku, kamu adalah perempuan paling cantik, baik dan pintar melebihi siapapun, jadi stop bandingin diri kamu sendiri," Azka mencubit hidung Reyna.


"Masa iya, padahal aku tuh biasa aja, sekolah pun hanya sampai SMP, yakin gak nyesel?" goda Reyna, namun bohong jika dia tidak sedih.


"Mau kamu gak sekolah pun, jika kamu sudah jodohku, akan Mas terima dengan senang hati karena itu kamu, bukan orang lain. Bahkan Farel saja baru pertama kali ketemu kamu dia langsung jatuh hati, apa masih ragu kalo kamu tuh istimewa?"


Reyna diam sebentar, memutar kembali memory pertama kali dia tidak sengaja bertemu Farel dulu. Reyna tertawa pelan, mengingat bagaimana reaksi Azka yang mengira dirinya adalah penculik anak, untung saja Reyna tidak menggeplak mulut Azka dulu karena kesal.


"Apanya yang lucu? Aku bicara fakta loh, gak main-main sama sekali," Azka merenggut kesal. Padahal dia menyampaikan dengan bijak dan penuh keyakinan, ehh Reyna malah tertawa.


"Aku hanya teringat masa pertama ketemu kamu, Mas. Bisa-bisanya kamu kira aku culik Farel sampai mau dibawa ke Polisi," jawab Reyna membuat Azka ikutan mikir dan langsung tertawa saat mengingatnya.


Rasa kantuk kian menghampiri, akhirnya mereka terlelap merangkai mimpi.