
Reyna mengira dia akan kembali ke kamar semula, tetapi salah, Azka malah menariknya untuk masuk ke kamarnya.
"Untuk seterusnya kamu tidur di sini, supaya aku bisa lebih mudah mengawasi kamu, dengan CCTV yang aku pasang di setiap sudut akan membuat kamu cepat ketahuan kalo berniat kabur lagi," Azka menatap sekeliling begitu juga Reyna, ada empat buat CCTV di setiap sudut kamar. Azka menyilangkan kedua tangannya dan tersenyum bangga, Reyna mejutar bola matanya malas, untuk menatap Azka saja ia enggan, entah jin bangsa mana yang merasuki lelaki ini sehingga dia menjaga Reyna seketat ini, tidak bisakah ia membiarkan Reyna pergi saja, bukankah sudah Reyna tanda tangani surat perceraian mereka, jadi untuk apa satu ranjang lagi? Bukankah gak adil sama sekali?
"Kenapa? Kamu gak terima kita satu ranjang lagi?" Seakan tau isi pikiran Reyna, Azka menanyakannya dengan blak-blakan membuat Reyna membuang muka.
"Jangan berusaha kabur lagi, istirahat sekarang biar aku panggilkan Bi Ela untuk merapikan pakaian kamu ke lemari," Azka berlalu pergi menyisakan Reyna yang planga-plongo gak tau harus ngapain kalo sudah terkurung begini.
Bi Ela datang gercep sekali seperti angin, tanpa basa-basi dia langsung bergerak mengeluarkan seluruh pakaian Reyna dalam koper lalu menatanya di lemari besar nan mewah milik Azka. Reyna hanya diam memperhatikan. Bi Ela tak banyak tanya, dia memang gak terlalu kepo urusan majikannya, walaupun dalam hatinya ingin tau kenapa Reyna punya niatan kabur seperti tadi. Padahal jika diukur dari segi ekonomi, keluarga ini sudah sangat kaya terlebih lagi Azka yang super perhatian pada Reyna, cuma minus dapet mertua jahat kayak Wati, Bi Ela juga gak jarang diomelin hanya karena masalah kecil.
"Aku akan ke Kafe sekarang," ucap Azka seraya mengganti bajunya.
"Kau mau ikut?" Merasa gak ditanggapi sama sekali oleh Reyna, Azka memilih untuk melontarkan pertanyaan saja.
"Bolehkah?" Reyna masih ragu-ragu, namun matanya yang berbinar tak bisa berbohong, tersirat kerinduan terhadap sahabatnya di Kafe, Azka tau itu.
"Tentu saja, asal kamu gak punya niat kabur lagi." Reyna mencebik kesal, apapun masalahnya pasti kabur yang akan menjadi sindiran bagi Reyna.
"Farel di mana?" Reyna mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan Farel, tumben jam segini tuh anak belum pulang.
"Dia masih ada kegiatan lain di sekolahnya, entah lah aku tidak tau yang jelas gurunya bilang mau aku menunggu di sana, tapi aku tidak mau dan memilih untuk menjemputnya nanti jika sudah selesai, lagipula apa yang akan aku lakukan di sana sambil menunggu Farel, palingan juga diajak gibah," jelas Azka panjang lebar. Reyna mengangguk pelan.
.
.
Jika sudah sampai Kafe, Reyna dan Ana akan menghabiskan waktu istirahat mereka untuk bercerita tentang kehidupan masing-masing, cukup seru sampai mengundang tawa dari keduanya, yang lain hanya bisa memperhatikan sambil menerka apa sih yang seru dari obrolan para gadis itu?
Reyna tentu merahasiakan soal perceraiannya yang terjadi secara singkat kemarin, tapi murungnya tak bisa membohongi Ana, dia jelas tau bahwa temannya ini ada masalah.
"Ada yang salah? Apa tuan Azka tidak memperlakukan kamu dengan baik selama hamil?" Reyna mendongak dan menatap intens manik mata Ana.
"Tidak, Ana. Semuanya baik-baik saja, hanya saja aku terlalu capek." Tidak mau ikut campur terlalu jauh, Ana memilih diam memberikan Reyna waktu untuk berpikir, mungkin ada masalah yang tidak boleh dia ceritakan secara umum walaupun Ana bisa jaga rahasia.
"Waktu istirahat sudah habis, aku harus kembali ke tempat ku, nanti aku kesini lagi," bukan tanpa alasan Ana meninggalkan Reyna tetapi karena Azka yang menghampiri mereka dan menatap Ana seolah menyuruhnya kembali ke depan.
"Aku ingin bicara, masuk ke ruangan sekarang, aku akan menyusul setelah menyerahkan buku menu ini pada Dodi." Reyna perlahan menyeret tungkainya menuju ruangan yang dimaksud Azka, sambil menunggu dia memainkan ponselnya bertukar kabar dengan Sapira.
Reyna mengalihkan atensinya kala pintu terbuka menampilkan sang mantan suami dan di tangannya membawa sebuah map coklat yang tak asing di matanya. Namun, Reyna memilih untuk tak mempedulikannya, toh dia sudah bercerai dan lambat laun berita ini akan tersebar.
Azka meletakkan map tersebut ke atas meja, Reyna masih tetap fokus pada ponselnya walau hatinya bergejolak ingin tau.
"Bisa kamu fokus padaku sekarang? Aku merasa terabaikan." Reyna membuang nafas kasar lalu memasukkam benda persegi panjang tadi ke dalam tas.
Azka menarik sudut bibirnya lalu kembali meraih map tadi dan mengeluarkan isinya. Reyna masih diam memperhatikan gerak gerik Azka. Awalnya Reyna terkejut karena surat itu masih ada pada Azka, tapi dia berusaha menyembunyikan nya.
"Reyna, mari akhiri semuanya. Aku mengeluarkan surat perceraian ini jauh seminggu setelah kamu mengetahui fakta nya, aku melakukan semua ini hanya untuk menggertak dan menekanmu, itu saja, dan lambat laun aku mulai sadar bahwa balas dendam sama sekali tidak ada gunanya. Yang lalu biarlah berlalu, lagipula kita sudah sama-sama saling menderita satu sama lain, hal itu membuat dendamku lenyap seketika. Kita tidak butuh ini lagi." Reyna melotot saat Azka merobek kasar lembaran yang sempat menjeratnya dalam kubangan hitam dan pahitnya perceraian.
"Aku belum menyerahkan nya pada pengacaraku karena aku masih dalam keadaan ragu. Ikatan kita yang sudah terjalin selama tiga bulan sepertinya sudah mengubahku, Reyna. Maukah kamu menerimaku kembali? Kita akan mulai semuanya dari awal lagi, tanpa ada rasa takut dan curiga di antara kita," Azka meraih jari jemari Reyna dengan penuh harapan. Sebenarnya Azka sama sekali tidak dendam pada Reyna meskipun Reyna adalah anak dari seseorang yang sudah pernah menghancurkan hidup keluarganya, satu hal yang Azka tau bahwa semua adalah salah orang tua Reyna bukan Reyna sendiri, jadi untuk apa mengaitkannya sementara Reyna tidak tau apa-apa, jadi Azka memilih untuk mengakhiri semua ini, jujur saja dia tidak tahan berjauhan dengan Reyna terlebih jika Reyna tengah hamil anaknya.
Reyna masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar, bukankah ini berita bahagia untuknya, karena selama ini Reyna selalu merasa cintanya hanya bertepuk sebelah tangan, tapi tidak untuk yang sekarang, Reyna benar-benar bisa merasakan ketulusan hati seorang Azka. Reyna mengangguk antusias sambil berurai air mata. Azka tersenyum simpul lalu merengkuh tubuh Reyna ke dalam pelukannya, saling menyalurkan rasa rindu masing-masing.