
Seiring waktu berjalan komunikasi mereka berjalan begitu sangat baik bahkan keduanya sering saling bertemu dalam satu hari setiap jam makan mereka menyempatkan diri untuk bertemu.
Keduanya terlihat semakin dekat dan akrab walaupun status mereka masih di ambang putih abu-abu lantaran Adnan masih belum menyatakan perasaannya hingga membuat keduanya saling menahan diri. Padahal sudah sangat jelas sekali Jika Adnan begitu sangat tertarik dengan Zahra. Dan begitupun juga sebaliknya, hanya tinggal satu langkah lagi saja Zahra masih menunggu untuk Adnan menyampaikan perasaannya tersebut.
Terkadang Zahra berpikir sudah lebih dari 3 bulan mereka menjalani pertemanan dengan sangat baik sudah saling mengenal lebih dekat bahkan sudah sama-sama saling suka lantaran apalagi yang ditunggu oleh laki-laki itu ingin sekali Zahra mengungkapkan perasaannya lebih dulu namun lantaran gengsi yang membuatnya harus menahan diri.
" Jadi sampai sekarang kalian belum jadian?" Tanya Sinta sahabat Zahra.
" Ya begitulah kami masih saja berteman tapi mesra," jawabnya lesu wanita itu merebahkan dirinya di sofa.
" Kenapa nggak lo ungkapkan aja perasaan lu padanya duluan, dengan begini lu sendiri tidak perlu menunggu dia menembak," saran Sinta lantaran greget dengan status mereka berdua yang masih di ambang putih abu-abu padahal terlihat jelas sudah sama-sama saling menyukai.
" Masa iya perempuan nembak duluan, gengsi dong," sahut Zahra.
Padahal di zaman sekarang sudah banyak kok perempuan yang mengungkapkan perasaan nya lebih dulu, buktinya para pelakor dengan terang-terangan mereka menggoda suami orang.
" Terserah sih jika lo masih betah menunggu kepastian darinya. Kalau gue sih ogah jika udah ngungkapin perasaan terus dia tolak ya sudah cari yang lain." Sinta memakan cemilannya sambil menonton drakor.
Zahra mendesah dia bingung dan bimbang entah apa sebenarnya yang membuat Adnan menunda mengungkapkan perasaannya Apa laki-laki itu masih ada keraguan lantaran trauma karena kisah cintanya dengan mantan istri kandas di tengah-tengah jalan.
Zahra sudah berusaha untuk meyakinkan Adnan jika dirinya akan menerima laki-laki itu apa adanya, bahkan sampai latar belakang keluarganya yang terbilang cukup. Dan bahkan jika suatu saat nanti Adnan mendapatkan hak asuh anaknya, Zahra pun siap bersedia menjadi Ibu sambung anak Adnan dan akan menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri.
" Tapi menurut lo kira-kira Adnan beneran suka sama gue nggak sih?' Zahra mulai meragukan Adnan jika laki-laki itu menyukai dirinya.
" Kalau diperhatiin dari sorotan tatapan matanya dia benar-benar sangat suka sama lu," jawab Sinta sambil terus fokus nonton drakor.
" Masa lu nggak ngerasa sih, kan ketahuan dari cara dia bicara, perhatiannya dan sikap lembutnya," lanjutin Shinta.
" Iya sih, cuman aneh aja. Mau sampai kapan dia menunda ungkapkan perasaannya itu sama gue, capek tahu digantung," keluhnya sambil mendesah kecewa tiga bulan dirinya digantung tanpa kepastian.
" Gimana kalau lu pancing aja dia?" Usul Sinta.
" Maksudnya?" Cinta tersenyum kemudian dia kembali memasukkan cemilan itu ke mulutnya.
" Serahkan saja semuanya sama gue," ucapnya dengan senyum licik, Zahra mengangkat bahunya lantaran tidak mengerti entah apa yang akan direncanakan oleh sahabatnya itu.
Keesokan harinya dan tepat di hari Minggu Zahra dan Adnan akan bertemu dan mereka ingin nonton bioskop bersama. Dan di sanalah Shinta mulai merencanakan sesuatu untuk memancing Adnan supaya laki-laki itu segera mengungkapkan perasaannya, karena cinta benar-benar sangat gregetan dengan laki-laki yang lemot seperti Adnan.
"Lo yakin mau ngerencanain ini?" Tanya Zahra saat dirinya sudah berdandan cantik dan tinggal menunggu jemputan saja.
" Serahkan saja semuanya sama gue percaya deh," ucap Shinta meyakinkan gadis itu sudah memberitahu Zahra untuk rencananya yang akan membuat Adnan segera mengungkapkan perasaannya.
" Iya itu tandanya dia berarti tidak serius sama lu oneng, berarti dia hanya ingin berteman tanpa status aja. Dan gak mau memiliki hubungan apapun," jelas Sinta.
Zahra pun terdiam bener apa yang dikatakan sahabatnya itu. Daripada dirinya terus digantung tanpa kepastian seperti ini lebih baik di harus minta penjelasan karena jika memang Adnan memang tidak menginginkan status hubungan yang lebih serius lagi, maka dirinya akan berhenti untuk berharap.
" Ya sudah kalau gitu berangkat dulu ya, kayaknya dia udah di depan rumah deh."
Cepat-cepat Zahra keluar dari rumahnya dan benar saja suara mobil yang berhenti di depan rumahnya adalah mobil Adnan dia pun tersenyum melihat laki-laki itu keluar dari mobil, Adnan terlihat sangat tampan sekali dengan kemeja putih dipadu celana jin membuatnya semakin kian terpana dengan duda beranak satu ini.
" Sudah siap?" tanya Adnan.
" Emmm ..." Zahra mengangguk cepat kemudian laki-laki itu tersenyum lalu membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Zahra masuk lebih dulu. Kemudian barulah iya masuk juga dan pergi menuju ke bioskop 21 untuk menonton film.
" Orang tua kamu masih belum pulang dari luar kota?" Tanya Adnan saat dirinya tengah fokus menyetir.
" Kayaknya minggu depan sih, kenapa memangnya?" Tanya balik Zahra.
Kedua orang tua Zahra ada pekerjaan di luar kota hingga sudah hampir satu bulan belum kembali dan selama itu pula Zahra belum berani mengenalkan Adnan kepada mereka lantaran bingung ingin dikenalkan sebagai apa, jika hanya teman rasanya kurang pas untuk memperkenalkan kepada kedua orang tuanya. Karena status hanya sebagai teman itu sudah lumrah bagi laki-laki dan perempuan jadi tidak terlalu perlu untuk dikenalkan beda hal jika dengan hubungan ke lebih serius lagi seperti pacaran misalnya. Maka dengan senang hati Zahra cepat-cepat memperkenalkan Adnan kepada mereka.
" Yang nggak kenapa-kenapa sih aku hanya ingin tahu saja," ucapkan kemudian dia kembali fokus ke jalanan.
Zahra hanya tersenyum kecut saja, harapannya tadi Adnan ingin bertemu dengan kedua orang tuanya dan mengasih tahu tentang hubungan mereka untuk ke tahap lebih serius lagi dan langsung melamar dirinya di hadapan kedua orang tuanya itu. Tetapi semuanya ternyata salah. Ada perasaan sedikit kecewa kemudian Zahra menetap ke arah luar jendela biar tidak lagi berkata apapun dan berharap sekali semoga rencana Shinta berhasil dan Adnan segera mengungkapkan cinta padanya.
" Sebelum nonton bagaimana kalau kita makan dulu?" Usul Adnan.
" Boleh, soalnya aku juga kebetulan belum makan."
Kemudian Adnan memarkirkan mobilnya di sebuah cafe untuk mereka menikmati makan siang bersama. Adnan turun lebih dulu dari mobil kemudian dia membukakan pintu mobil untuk Zahra perilaku Adnan benar-benar sangat romantis sekali laki-laki itu mengulurkan tangannya Dan disambut oleh Zahra kemudian ia keluar dari mobil, sayang sekali mereka belum memiliki status apapun hingga membuat darah bosen karena selalu digantung.
Saat menunggu pesanan tiba Zahra mengirim pesan kepada Sinta dan memberitahu jika dirinya berhenti di sebuah cafe untuk makan siang bersama.
" Sibuk banget kayaknya, lagi chattingan sama siapa sih?" Kepo Adnan lantaran sedari tadi Zahra sibuk dengan handphonenya.
" Sama teman," jawab Zahra singkat kemudian dia kembali membuka handphone karena ada notifikasi pesan whatsapp masuk.
Terlihat Adnan sedikit murung melihat Zahra yang sibuk dengan dunianya sendiri. Laki-laki itu menghela nafasnya berat tak lama kemudian makanan pesanan mereka sudah disajikan namun lagi-lagi Zahra masih sibuk dengan handphonenya dan malah memilih mengabaikan makanan itu.
" Zahra makanannya sudah ada loh, tidak baik diabaikan," ucapkan dengan nada ketus dia benar-benar tidak suka jika Zahra hanya sibuk dengan dunia sendiri dan mengabaikan dirinya bahkan makanannya.