Married With Duda

Married With Duda
bab 16



" Zahra apa boleh besok kita bertemu? Please jawab aku Zahra."


Setelah di dalam kamar dan tidak menjawab sama sekali omelan bapaknya yang benar-benar marah kepadanya.


Adnan merebahkan dirinya di tempat tidur dia bahkan belum berganti pakaian sambil terus memandangi kotak cincin yang masih setia ia pegang itu kemudian Adnan mengambil handphonenya lalu mengetik pesan dan ia kirimkan kepada Zahra.


Adnan Ingin bertemu dengan wanita itu dia masih saja belum menyerah dan Adnan ingin menyampaikan kata maaf yang paling utama agar wanita yang ia cintai itu tidak salah paham lantaran dirinya yang begitu banyak misteri kejutan yang tidak jelas ini.


" Baiklah, besok kita bertemu di tempat cafe biasa tapi jangan jemput aku biar aku pergi sendiri agar Bapak tidak curiga."


Zahra membalas pesannya Adnan dan membuat laki-laki itu menyungging kan senyumnya. Mungkin di pertemuan mereka besok dirinya bisa meminta maaf dan Adnan ingin memulai kembali hubungannya dari awal mulai mengatakan cinta kepada wanita itu kemudian mendekatkan diri kepada keluarganya Adnan ingin membuktikan jika dirinya bersungguh-sungguh. Dan ingin membuktikan jika dirinya adalah laki-laki yang baik walaupun statusnya sebagai duda beranak satu dan Adnan akan membuktikan jika dirinya juga berhak menjadi suami Zahra.


Setelah mendapatkan pesan dari Zahra Adnan langsung melepaskan bajunya dia ingin mengguyurkan tubuhnya dengan air dingin agar pikirannya menjadi jernih kembali dan tubuhnya yang terasa lengket bersih agar dia bisa tidur nyenyak malam ini dan bersiap besok untuk bertemu dengan Zahra.


Sementara Zahra di dalam kamar dia masih saja menangis, lantaran Apa yang diucapkan ayahnya itu tidak bisa lagi ia bantah itu artinya dirinya akan menikah dengan laki-laki yang tidak dia inginkan perjodohan yang tidak bisa dibatalkan itu membuat hatinya tertekan, namun Zahra tidak bisa menolak keinginan ayahnya tersebut sehingga mau tidak mau dia menerima perjodohan ini dan menikah dalam waktu dekat ini.


Tepat sekali Adnan mengirim pesan dan meminta dirinya bertemu kemudian Zahra menghapus air matanya lalu dia membalas pesan tersebut lantaran ingin memberitahu jika dirinya akan menikah dalam waktu dekat ini dengan laki-laki lain laki-laki pilihan ayahnya.


Mungkin ini sudah menjadi takdirnya untuk mengakhiri kisah cintanya yang tidak jelas dengan Adnan. Karena memang di awal kejelasan dan kepastian itu tidak ada. Ya mungkin inilah yang dinamakan bukan jodoh, sehingga Zahra harus mengakhiri semuanya baik-baik. Dan Zahra berharap semoga Adnan mau menerima keputusannya nanti.


" Aku berharap semoga kamu bisa mendapatkan istri yang jauh lebih baik lagi Mas, mungkin kita tidak berjodoh. Selamat tinggal cintaku aku bahagia bisa mengenalmu."


Zahra memejamkan kedua matanya lantaran sudah terasa begitu sangat lelah sekali.


Keesokan paginya Zara terbangun lantaran pintunya diketok, dia melihat jam wekersnya di atas nakas ternyata sudah jam 08.00 menjelang siang wajar saja pintu kamarnya Sudah diketok untuk membangunkan dirinya.


" Iya Zahra udah bangun," teriak Zahra dengan nada malas.


Handphonenya berbunyi pertanda ada pesan masuk cara melihat ada notifikasi dari Adnan yang mengirimkan pesan.


" Nanti kita ketemuan jam berapa?" Laki-laki itu sepertinya sudah sangat tidak sabaran sekali. Kemudian Zahra membalas pesannya itu.


" Siang saja." Balasan singkat kemudian dia taruh kembali hp-nya di atas meja lalu Zahra memakai baju lantaran tadi baru selesai mandi belum memakai baju.


Setelah selesai memakai baju biasa Zahra keluar dari kamar hari ini dia tidak mengajar dia meminta izin untuk cuti sehari dengan alasan tidak terlalu enak badan cara ingin istirahat sebentar di rumah menenangkan pikiran.


" Ayo makan dulu," kata Rindi saat melihat anaknya turun dari tangga. Zahra berjalan menuju ke arah meja makan dia menarik kursi kemudian duduk dan melihat menu sarapan di di atas meja.


Zahra terlihat tidak bernafsu sekali ingin memakan sarapan itu entahlah mulutnya terasa sangat pahit mungkin terlalu banyak beban pikiran hingga membuat tubuhnya terasa tidak tidak enak kemudian Zahra meneguk susu yang sudah disediakan oleh ART nya.


" Loh kok nggak dimakan?" Tanya Rindi melihat sarapan anaknya masih utuh di atas meja makan.


" Males Bu nanti saja Zahra tidak nafsu untuk makan," jawabnya malas kemudian Zahra duduk di sofa ruang keluarga yang memeluk bantal sofa dan merebahkan tubuhnya.


Rindi menyerngit kemudian dia menghampiri anaknya dan duduk di sampingnya sambil membelai lembut pucuk kepala Zahra.


" Apa kamu masih memikirkan kejadian semalam, hem?" Tebak Rindi.


" Iya Bu, Zahra tidak bisa melupakan kejadian tadi malam dan juga perjodohan yang sudah kalian siapkan untuk Zahra."


Rindu tersenyum lantaran dia mengerti perasaan anaknya namun dia sendiri tidak bisa membantah apa yang sudah menjadi keputusan suaminya dia hanya bisa mendukung anaknya dan menasehati Jika pilihan mereka mungkin yang terbaik untuk masa depan anaknya.