
Farel mampir di Kafe dekat kampus sebentar, menjernihkan pikirannya usai mengikuti tugas susulan dari dosen sebagai ganti Farel gak ngerjain tugas kemarin. Lagi dan lagi dia yang pulang paling akhir dibanding teman-temannya, hal itu membuat Farel jengah lama-lama.
Memfokuskan tatapannya ke depan sambil terus mengaduk asal caramel latte dalam gelas. Farel mendengus, memijat pangkal hidungnya frustasi. Hari ini, ia lumayan banyak mengeluarkan tenaga hanya untuk persentasi bodoh itu.
Perlahan tangannya meraba kantong celana, mencari benda canggih yang selalu ia bawa kemana-mana. Netra bak elangnya membola saat benda yang dicarinya ternyata tidak ada di tempat semula. Panik bukan main, melempar ransel ke atas meja untuk melihat apakah ada di sana, sampai buku dan pulpen berhamburan di lantai gara-gara benda pipih itu tak juga ditemukan.
Berusaha Farel ingat di mana ia letakkan ponsel mahalnya itu, padahal baru kemarin beli sudah hilang aja. Bukan masalah harga atau merek nya sih, tapi dalam ponsel itu ada sesuatu yang penting, menyangkut masa depan yang cerah.
Farel buru-buru pergi setelah mengingat di mana ia meletakkan ponselnya sembarangan. Harap-harap masih ada dan tidak digondol oleh orang tak berperikemanusiaan. Untung saja jaraknya dekat, jadi gak sampai satu jam-an Farel dalam perjalanan.
Sampai di depan gedung fakultas, Farel dapat melihat gerbang sudah ditutup menandakan bahwa siapa pun gak boleh masuk. Farel berusaha mencari cara agar bisa manjat pagar yang tingginya 10 kaki. Kalo gak boleh manjat, bujuk pak satpam bisa kali ya?
Farel ngetuk besi gerbang dengan batu agar suaranya melengking sampai ke dalam.
"Cari apa ya, dek?" Pak satpam melongokkan kepala saat telinganya tidak sengaja menangkap suara besi pagar diketuk berkali-kali. Farel membasahi bibirnya sebelum mulai bicara.
"Boleh saya masuk, pak? Ponsel saya ketinggalan di dalem," ucap Farel memohon, dahinya mengkerut sempurna. Satpam tadi mikir sebentar, menatap Farel lamat-lamat untuk mencari sebuah kebohongan.
"Aduh, gimana ya?" Sambil garuk-garuk kepala, sang satpam belum terlalu yakin dengan Farel.
"Serius, pak. Saya salah satu mahasiswa di sini," Farek berusaha meyakinkan padahal mereka berdua tiap hari ketemu.
"Iya saya tau, tapi raut muka adek ini mencurigakan." Farel mendengus kesal dibilang muka-muka meragukan, satpam ini minta dihujat memang.
Usai negosiasi dalam jangka waktu yang lumayan lama, akhirnya dengan terpaksa satpam membukakan gerbang untuk Farel dan diberi waktu hanya 5 menit. Awalnya nolak karena jarak kelasnya cukup jauh dari gerbang, tapi okelah, Farel masih bisa lari. Setelah mengucapkan terima kasih, Farel segera pergi menuju kelasnya.
Farel ngos-ngosan di depan pintu, menopang tubuhnya di dinding kelas sebelum masuk, terlebih dulu ngatur nafas agar stabil. Farel celingukan mencari benda yang disebutnya penting itu.
Bukan di atas meja ternyata, Farel mengucap syukur dalam hati saat mendapati ponsel miliknya tergeletak di bawah meja, buru-buru ia periksa apakah ada yang retak atau lecet.
"Syukurlah, masih aman," Farel menghela nafas lega, dikantonginya HP tersebut agar tidak hilang lagi dan segera meninggalkan kelas yang kosongnya mirip kuburan, hawa tidak enak juga mulai menyeruak di sekitar Farel, sekilas cerita-cerita seram yang pernah Rian ceritakan padanya tentang kampus ini mulai terngiang di otaknya. Farel mengusap tengkuknya yang tiba-tiba merinding, dengan langkah seribu ia berhasil pergi dari dalam kelas dengan keadaan selamat.
"Ya sudah. Lain kali jangan tinggalkan barang penting lagi di kampus ini," petuah pak satpam yang langsung diiyakan oleh Farel, mengucapkan terima kasih lalu bergegas pulang.
.
Farel menghentakkan kakinya kesal, telinganya terasa panas karena mendengar teman tongkrongannya membahas masing-masing pacar mereka. Farel yang notaben nggak pernah pacaran dan memang gak punya cewek merasa iri dan geram.
Yang lain sontak menatap Farel aneh, ada yang tertawa mengejek waktu tau maksud kekesalan Farel apa.
"Makanya cuy, cari cewek. Gak bosen lo sendiri mulu, padahal kalo dipikir-pikir ya, lo banyak yang naksir deh, cantik-cantik pula," ucap Gary, dia yang paling semangat kalo masalah memojokkan Farel. Ucapan Gary tersebut diangguki yang lain, karena memang begitu kenyataannya, mugkin Farel doang yang terlalu pemilih, bukan pemilih sih hanya saja gak ada yang nyantol di hati Farel. Satu hal yang Farel tau, perempuan di fakultasnya hanya memuji paras Farel dan terobsesi untuk memilikinya, jadi hal itu sama saja dengan mencintai fisik kan?, bukan cinta yang sesungguhnya.
"Bacot lo semua, gue gak tertarik," jawab Farel acuh, membuang puntung rokoknya sembarang arah lalu menginjaknya.
"Oh, jadi lo gak tertarik sama lawan jenis, berarti lo belok dong?" tanya Yusril sambil menutup mulut tak percaya dengan mata yang membola. Satu jitakan keras mendarat di kening Yusril, siapa lagi pelakunya kalo bukan Farel yang merasa difitnah.
"Sembarangan lo kalo ngomong. Maksud gue itu, gue masih males buat menjalin hubungan yang ujung-ujungnya putus, mending ta'aruf terus langsung nikah, ya nggak?" Farel naik turunin alisnya, bangga dengan teori yang baru saja dia ucapkan.
Gary dan Yusril saling tatap sambil saling lempar senyum sinis, gak percaya banget sama omongan Farel.
"Halah sok-sok an ta'aruf, ujung-ujungnya lo juga yang gak tahan," timpal Divan dibarengi tawa kencang oleh yang lain. Farel merotasikan matanya, melempar bantal sofa ke arah wajah Divan dan tepat sasaran.
"Gue denger-denger, lo naksir dosen cantik di kampus kita itu ya? Siapa sih namanya, Maria ya kalo gak salah," tiba-tiba Ardin nyeletuk membuat Farel yang saat itu tengah meneguk es teh nya tersedak sampai membuat celana Fian yang duduk di sampingnya ikut kena imbas.
"Anak setan, gue baru ganti celana anjir," Fian sontak berdiri dan berlari ke toilet rumah Ardin, kebetulan tempat nongkrong mereka di rumah Ardin, mumpung sepi ya udah dijadiin Basecamp untuk sementara waktu karena tempat mereka yang biasa sudah digusur jadi harus cari tempat baru lagi. Rian dan Sandi gak ikut karena mereka ada kendala, gak tau kenapa bisa barengan yang jelas Farel gak terlalu permasalahin.
Fian baru balik dari toilet dan pas banget suasana lagi hening, semua pada sibuk dengan urusan masing-masing, gelak tawa yang ditujukan pada Farel lenyap seketika membuat Fian ikutan diam dan duduk dalam keheningan.
"Njir, gue berasa nongkrong di kuburan bareng setan."