
Hari demi hari berlalu, dan Reyna masih tetap pada kebiasaan nya yakni mengurung diri di kamar, Reyna gak makan? Oh Ayolah, Azka sejak lama sudah menyediakan kulkas pribadi dan berbagai jenis makanan ringan di laci ranjang, jadi Reyna gak perlu susah-susah untuk turun ke bawah, tapi terlalu banyak snack juga gak baik untuk perkembangan janin apalagi tanpa makanan berat. Jujur saja, Reyna juga gak pernah lapar, hanya makan satu bungkus snack perutnya sudah kenyang, ucapan Wati membuatnya kehilangan selera makan.
Tampak sesekali Reyna keluar kamar hanya untuk menikmati udara segar di halaman depan sekalian untuk menemui Farel juga. Untuk pertama kali, Reyna meminta Bi Ela mengantarkan sarapan untuknya nanti ke kamar setelah Farel berangkat sekolah. Reyna akhir-akhir ini lebih banyak diam dan irit bicara, kadang ngomong seperlunya saja membuat Bi Ela sedikit khawatir, terlihat jelas guratan di wajahnya.
Reyna berjalan menuju halaman depan diikuti Farel di belakangnya, Reyna memejamkan mata sambil menikmati angin sepoi-sepoi di pagi hari.
"Sana sarapan sama Bibi, habis itu berangkat ya," ucap Reyna seraya mengusak surai hitam milik Farel.
"Gak mau, mau disuapin sama Bunda. Sudah tiga hari Bunda gak keluar kamar, dan tiga hari juga Farel makan sendiri," ucap Farel sambil mengerucutkan bibirnya kesal. Reyna terkekeh gemas.
"Gak apa-apa, itung-itung buat Farel jadi mandiri kalo Bunda gak ada nanti," sahut Reyna seraya kembali membelakangi Farel, rasanya tidak tega ngomong seperti ini pada anak yang belum tau maksudnya tetapi sudah pernah mengalami, Reyna gak bisa bayangin Farel kehilangan orang tersayangnya untuk yang kedua kali begitu juga dengan Azka.
"Gak, gak boleh ada yang ambil Bunda, gak boleh ada yang memaksa Bunda untuk tinggalin Farel," Farel memeluk Reyna dari belakang, dapat Reyna rasakan bahwa Farel tengah menangis, terisak. Tidak menyangka reaksi Farel akan seperti ini.
"Kok nangis?" Reyna mensejajarkan tubuhnya kemudian menangkup wajah kecil Farel.
"Bunda jangan ngomong kayak gitu lagi, Farel gak suka. Seolah-olah Bunda akan pergi ninggalin Farel sama Ayah di sini," Reyna terkesiap akan penuturan bocah di depannya, ternyata Farel paham apa yang dia maksud.
"Sudah-sudah, ayo sarapan bareng, bentar lagi jam delapan," tak ingin berlarut dalam kesedihan, Reyna menuntun Farel masuk.
Farel tidak diantar supir ke sekolah tetapi bareng Putri, lagi? Hampir setiap hari, tapi bedanya kalo anter pulang gak pernah mampir sejak kepergian Azka ke luar kota, entah apa alasannya tetapi saat diajak mampir sama Wati selalu nolak dan bilanh kalo masih ada kegiatan les di rumahnya.
Reyna memejamkan matanya sambil duduk santai di bangku taman. Sejenak Reyna mengingat dialognya bersama sang suami di telpon, Azka mengatakan bahwa kemungkinan besar dia akan pulang satu minggu lagi dikarenakan urusan tidak terduga muncul yang menyebabkan Azka harus tinggal lebih lama di sana.
"Kamu gak apa-apa kan aku tinggal lebih lama?"
"Iya gak apa-apa, kamu selesaikan saja tugas kamu dengan baik, jangan pikirkan aku, aku bisa jaga diri."
"Nggak, Mas. Setiap hari aku lebih banyak mengurung diri di kamar jadi gak terlalu banyak interaksi sama Mama, sejauh ini huhubgan kamu lancar-lancar saja."
"Syukurlah, aku lega mendengarnya. Pokoknya selesai tugas ini aku langsung pulang, gak mau tau."
Reyna tersenyum kecut, ia terpaksa berbohong demi membuat Azka tenang dalam menyelesaikan pekerjaannya, jika ia mengadu atas ucapan Wati dua hari lalu mungkin hari itu dan detik itu juga Azka akan pulang dan memarahi sang Mama, bukankah hal tersebut malah akan semakin memperburuk hubungannya dengan sang mertua, tidak, Reyna tidak ingin dicap lebih buruk lagi oleh Wati, cukup Reyna saja yang membendung rasa sakit Azka tidak perlu ikut campur.
"Non Reyna, makanannya sudah Bibi anter ke kamar," Reyna dikejutkan oleh suara Bi Ela yang menginterupsi telinganya.
"Iya, terima kasih Bi. Reyna akan makan nanti," sahutnya dengan senyuman manis, iya senyuman manis tetapi menyembunyikan banyak sekali luka. Bi Ela izin pamit ke belakang karena masih ada cucian yang butuh belaian.
Setelah puas menikmati udara segar ditemani terpaan angin, Reyna memutuskan untuk membawa kakinya masuk rumah. Sial sekali dia harus bertemu Wati di ruang tamu, wanita paruh baya itu tampak angkuh sambil berjalan menenteng tas bermerek miliknya, Reyna berusaha menghindari tatapan tajam Wati. Reyna sedikit menunduk memandang lantai dan memberhentikan langkahnya menunggu Wati berlalu lebih dulu.
"Cih, dasar ****** tak tau diri." Entah untuk keberapa kalinya Wati menyebutnya dengan sebutan itu. Reyna mengangkat kepalanya seraya menghela nafas kasar, dia sudah lelah dengan Wati, mungkin tindakannya kali ini akan sedikit kasar dan terkenal tidak sopan, tapi Reyna juga berhak mengekspresikan rasa kesal dan marahnya. Dengan kuat Reyna mencengkeram bahu Wati sehingga menyebabkan sang empunya kaget.
Wati segera berbalik hendak protes, namun...
Plakkk!!!!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Wati sehingga meninggalkan bekas kemerahan. Deru nafas Reyna naik turun, kesabarannya sudah habis, tidak bisa ia tahan lagi untuk saat ini.
Wati terdiam beberapa saat, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi meskipun pipinya berdenyut tak karuan, namun apa yang dilakukan Reyna tadi sukses membuat emosinya memuncak.
"Beraninya kamu." Wati balas menampar pipi Reyna namun tidak sekeras tamparan Reyna. Keributan ini sukses mengundang kegugupan Bi Ela yang menyaksikan pertengkaran dari awal, dan Ela akui memang Wati yang bersalah di sini, tapi apalah daya dia hanya seorang pembantu yang berusaha menghidupi keluarganya, jadi tidak ada hak baginya untuk ikut campur atau menengahi perdebatan sengit majikannya, tetapi jika dibiarkan Bi Ela akan merasa bersalah seumur hidup.
"Jangan salahkan aku yang seperti ini, Ma. Mama sendiri yang memancing emosi aku, jika saja Mama tidak menaruh umpan aku tidak akan terpancing. Apa tidak ada sedikit rasa belas kasih ata rasa sayang yang Mama tumpahkan padaku, iya aku paham sampai kapan pun Mama gak akan pernah nerima aku sebagai menantu, tapi setidaknya jangan perlakukan aku seperti sampah di rumah ini, aku juga punya perasaan. Bagaimana jika Mama ada di posisi aku yang sekarang, tidak akan ada yang terima jika takdir mereka seperti ini, Ma. Selama ini aku sudah berusaha sabar menghadapi segala ucapan Mama yang sukses membuat hati aku sakit, tapi aku tidak pernah menggubris dan selalu memaafkan kesalahan Mama bahkan jika Mama tidak minta maaf langsung padaku. Tolong, beri aku kesempatan untuk menjadi anak sekaligus menantu yang baik buat Mama. Kalau Mama tidak menerimaku, tolong terima bayi ini kelak jika dia lahir, jangan perlakukan dia seperti Mama memperlakukan aku, dia belum ngerti apa-apa, jadi jangan libatkan dia, aku mohon," Reyna terisak, terduduk lemas di lantai, sungguh kondisinya sangat menyedihkan saat ini. Wati membuang muka dengan malas, tanpa menjawab sepatah kata pun dia langsung melenggang pergi meninggalkan Reyna yang masih terduduk di lantai.