
Semuanya sudah kembali pulang, dan hanya mengisahkan Ratna dan Jodha keluarga kecilnya saja. Anan masih berdiam diri menatap Zahra yang dipaksa masuk oleh kedua orang tuanya itu. Adnan ingin sekali berbicara dengan Zahra tetapi kedua orang tua Zahra tidak mengizinkan dan juga dirinya dipaksa pulang oleh ayahnya.
" Adnan ayo pulang!" Nada tegas itu kembali terdengar hingga Adnan dengan berat hati meninggalkan karangan rumah yang sudah tertutup rapat pintunya itu.
Adnan terdut lesu dalam mobil yang seharusnya hari ini adalah hari bahagia ternyata tidak sesuai apa yang diharapkan. Rencana ingin memberi kejutan dan ternyata semuanya ikut terkejut kejutannya memang berhasil tetapi lamarannya tidak. Tentu hatinya hasak sekali menerima penolakan ini tetapi Apa yang diucapkan oleh ayahnya Zahra benar mana mungkin seorang ayah mau menyerahkan anaknya kepada orang asing seperti dirinya yang sama sekali tidak memperkenalkan diri sebelum-sebelumnya.
Adnan menghela nafasnya kemudian ia tersandar di jok mobil Sambil memandangi kotak cincin yang masih ia pegang.
"Bapak benar-benar tidak mengerti apa dengan jalan pikiranmu Adnan. Jika ibumu masih ada dia pasti akan sangat sedih sekali melihat kebodohan kamu. Bagaimana mungkin kamu bisa melamar anak orang tanpa mengenal dulu keluarganya." Lukman bener-bener sangat marah sekali. Lantaran sangat malu terlebih lagi kepada seluruh anggota keluarganya dan juga keluarga almarhum istrinya.
" Mau taruh di mana muka bapak Adnan apa seperti ini Bapak mengajarkan kamu hah?" Lukman Helena nafasnya dia mencoba untuk menahan emosi.
" Kamu itu sudah pernah menikah Adnan. Seharusnya kamu mengerti, kamu bukan anak ABG lagi seperti yoga, kamu sudah tua Seharusnya kamu mikir." Sambil memegang dadanya Lukman kembali menghela nafas. Nafasnya terasa begitu sangat sesak sekali.
" Kamu mau melamar anak orang kayak minta barang saja. Adnan, Adnan. sebelumnya aku juga sudah terkejut mendengar kamu tidak mengatakan apapun kepada Zahra, tidak mengatakan cinta apalagi hubungan jelas. Dan sekarang tiba-tiba ingin melamarnya, harusnya aku tidak usah percaya." Raihan ikut mengomeli adiknya.
" Kamu benar-benar sudah membuat Bapak malu Adnan, membuat keluarga kita malu. Mau taruh di mana wajah Bapak saat bertemu dengan keluarga kamu nanti?" Lukman tersandar lemas dia benar-benar tidak habis pikir harusnya dia menyadari semua ini.
Lukman juga merasa bodoh dirinya saja tidak mengenal keluarga Zahra. Wajar jika keluarga wanita itu tidak mau menerima lamaran anaknya tersebut. Karena jika dirinya berada di posisi Bayu Mungkin dia akan melakukan hal yang serupa.
Di sini Adnan hanya bungkam diam seribu bahasa dia masih sok terkejut antara lamarnya ditolak oleh keluarga Zahra bahkan Zahra tidak mengatakan apapun. Hatinya terasa sakit begitu perih dan nyeri lantaran lamarannya ditolak, sakitnya begitu terasa melebihi saat perceraiannya dulu bersama dia mantan istrinya.
Adnan berpikir apa yang ia bayangkan apa yang ia andaikan ternyata semuanya 0 besar begitu salah sehingga nanti tidak berpikir dampaknya akan seperti apa dia hanya memikirkan egonya saja membayangkan pada sejarah yang terkejut dengan kedatangannya tanpa pikir panjang dengan percaya diri dia datang membawa rombongan dan berkata ingin melamarnya sungguh naif sekali.
****
Sementara itu jika kediaman Bayu kini tiga beranak itu tengah duduk di sofa dengan isak tangis kecil dari Zahra.
" Apa laki-laki seperti itu yang kamu cintai Zahra?" Tanya Bayu.
" Sudah berapa lama kamu mengenalnya?" Bayu mengajukan pertanyaan lagi.
" Sudah 3 bulan," jawab Zahra lirik dengan suara serak dia menghapus air matanya di dalam pelukan ibunya.
" 3 bulan, selama 3 bulan kamu sama sekali tidak mengenalkan dia kepada kami. Apa kamu mengetahuinya kedatangannya malam ini ingin melamar kamu?" Tanyanya kembali. Zahra menggeleng pelan.
Bayu mengusap wajahnya kasar bahkan anaknya saja tidak mengetahui maksud kedatangan laki-laki itu ingin melamarnya bagaimana mungkin dia bisa menyerahkan begitu saja putrinya itu. Kemudian Bayu menghela nafasnya kembali.
" Apa alasan kamu tidak mau mengenalkan dia kepada bapak dan ibu?" Begitu banyak pertanyaan yang diajukan oleh Bayu.
" Zahra ada cerita ke ibu waktu kita habis membicarakan perjodohan. Zahra bilang jika mereka tidak memiliki hubungan apapun. Walaupun mereka dekat, tetapi status hubungan mereka hanya sebatas teman saja. Maka dari itu Zara tidak mau mengenalkan dia kepada kita," ujar Rindi menjawab pertanyaan dari suaminya.
" Astaghfirullahaladzim, Zahra, Zahra. Bagaimana bisa laki-laki seperti itu kamu cintai, hidup ini bukan hanya sekedar makan cinta aja Nak. Tapi butuh komitmen, jika di awalnya saja dia sudah buruk seperti itu lantas bagaimana kedepannya? Wajar saja dia sekarang statusnya duda, kita tidak tahu permasalahan apa, dia dengan istrinya hingga berakhir dalam perceraian," ujar Bayu menasehati anaknya.
" Katanya ..."
" Kamu hanya mendengar dari katanya saja Zahra! Apa kamu sudah bertanya langsung kepada mantan istrinya? Kita tidak tahu apalagi hanya mendengar dari katanya saja," potong cepat Bayu hingga membuat Zahra terdiam.
" Dari awalnya saja dia sudah tidak baik lantas bagaimana untuk kedepannya." Bayu mana buka air putih lantaran tenggorokannya terasa sangat kering sekali.
" Keputusan bapak sudah pulang dalam waktu dekat ini kamu menikah dengan Faris." Kemudian Bayu bangkit keputusannya tidak bisa diganggu gugat lagi.
" Tapi Pak?"
" Bapak sudah mengenalnya dan begitupun juga dengan keluarganya tambah apa yakin dia jauh lebih baik dibandingkan laki-laki tadi. Apa yang kamu sebenarnya harapkan dari dia Zahra, bahkan hanya untuk mengungkapkan status kalian saja dia tidak bisa lalu bagaimana kedepannya untuk menghidupi dan menjaga keluarganya? Jadi berhentilah berharap kepadaNya Zahra buka kembali hati kamu untuk Faris karena Bapak yakin hanya ke Paris lah yang layak menjadi suami kamu!"
Setelah usai mengatakan itu Bayu pergi meninggalkan Zahra yang menangis dalam pelukan istrinya Bayu pergi ke kamar kepalanya sudah terasa sangat pusing sekali ditambah masalah Adnan yang tiba-tiba datang melamar anaknya sungguh tidak dapat bisa dipercaya laki-laki seperti itu mau mengambil anaknya tentu Bayu tidak akan pernah mengizinkan.