
Saat ini Zahra sudah bersiap-siap dia akan pergi untuk bertemu dengan Adnan. Ya berharap ini yang terakhir atas pertemuan mereka.
" Zahra kamu mau ke mana?" Tanya Rindi melihat anaknya sudah siap anak pergi.
" Mau ke rumah Sinta Bu biasa ada sesuatu yang mau ngomong sama dia," bohong Zahra. Ibunya pasti akan mempercayainya jika mengatakan ingin bertemu dengan cinta karena mereka sudah terbiasa seperti ini ibunya berpikir jika dirinya akan curhat kepada sahabatnya itu.
" Oh ya udah hati-hati di jalan sebelum sore cepatlah pulang nanti bapak kamu marah melihat kamu tidak ada di rumah." Rindi mengingatkan.
" Siap bos," ucap Zahra kemudian dia menyelimunya lalu berpamitan pergi.
Kemudian Zahra mencari taksi untuk bertemu dengan letnan di cafe yang sudah ia tentukan cafe tempat mereka sering menikmati makan siang bersama tempat favorit mereka. Saat dalam perjalanan Zahra mengeluarkan handphonenya di dalam tas kemudian dia mengirim pesan kepada Adnan.
" Aku sudah otw."
Pesan singkat dan jelas Zahra pemberitahuan karena jika dirinya sudah dalam perjalanan agar dia tidak mau menunggu terlalu lama saat di sana nanti.
" Aku sudah menunggumu di cafe."
Tanpa duga ternyata Adnan sudah sampai lebih dulu Zahra tidak lagi membalas pesan tersebut diam kembali memasukkan handphone ke dalam tas kemudian melihat arah jalanan menatap gedung-gedung mobil yang lalu lalang dia hanya ingin hidup bahagia sesuai dengan orang tuanya harapkan. Setelah sampai di cafe langsung bergegas keluar dari taksi tak lepas setelah membayar kemudian gadis itu langsung saja menuju di mana saat ini Adnan sudah duduk menunggu dirinya di tempat biasa.
" Maaf ya sudah menunggu lama," ujarnya kepada Adnan saat sudah tiba, Zahra duduk cepat di hadapan laki-laki ini dia dapat melihat senyum bahagia yang Adnan tampilkan menyambut kedatangannya.
" Nggak apa-apa makan sampai besok menunggu pun aku ikhlas kok," jawabnya terserah ya bercanda sambil terkekeh kecil.
Zahra hanya tersenyum tipis saja bisa-bisanya laki-laki di hadapannya ini setelah mengalami kejadian tadi malam masih bisa bercanda seperti ini.
" Aku tidak bisa berlama-lama takut nanti papa keburu pulang jadi apa yang mau kamu sampaikan sama aku," hujan Zahra langsung kepada intinya dia tidak ingin perasaan dalam hatinya kembali tumbuh jika terus bersama dengan laki-laki ini dia tidak ingin hatinya semakin terluka.
" Buru-buru sekali padahal kita baru saja bertemu, jujur aku sangat merindukan kamu," ucap Adnan seakan kejadian tadi malam tidak terjadi sama sekali dia masih saja bersikap santai.
Zahra menghilangkan nafasnya, dia membuang pandangannya ke arah lain Jika boleh jujur dirinya juga sangat merindukan laki-laki ini namun berusaha sebisa mungkin untuk menolak lantaran dirinya tidak bisa bersama lagi seperti dulu.
" Zahra Aku belum minta maaf karena aku telat nyatakan cintaku padamu padahal sejak pertama kali kita bertemu. Jujur aku sudah mulai tertarik denganmu, Sudah mulai menyukaimu, dan bahkan jatuh cinta padamu." Adnan menggenggam tangan Zahra yang berada di atas meja.
" Maafkan aku karena telat mengungkapkan semuanya, aku pikir tidak akan pernah masalah jika aku tidak mengungkapkan. Tetapi aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menunjukkan rasa suka aku, rasa cintaku ke kamu. Aku rasa itu sudah cukup, tapi nyatanya semuanya tidak. Aku terlalu ego karena memikirkan diri sendiri," selanjutnya lirih.
Adnan benar-benar memohon dia sangat serius sekali ingin memulai semuanya dari awal lagi ternyata laki-laki itu tidak menyerah walaupun sudah ditolak nanti permalukan namun dia tetap berusaha ingin memulai kembali kisah cinta kisah asmara dari awal lagi. Zahra semakin menjadi bimbang, padahal tadi dirinya sudah memutuskan untuk menerima perjodohan ini dan pergi meninggalkan Adnan. tetapi saat melihat sorot mata yang begitu serius Zahra menjadi galau kembali.
" Zahra Aku benar-benar sangat mencintai kamu, aku serius ingin menjalani hubungan dengan kamu. makanya aku tiba-tiba langsung datang ke rumah kamu dan langsung melamar kamu lantaran aku ingin, kita langsung menjalani hubungan ke jenjang pernikahan tanpa adanya pacaran lagi."
Zahra masih bungkem yang benar-benar dibuat bingung jujur dalam hati dan memang masih sangat mengharapkan Adnan karena dirinya juga mencintai laki-laki ini lalu bagaimana dengan ayahnya tentang perjodohan ini cara tidak berani mengatakan semuanya pada Adnan.
" Jika kamu benar-benar serius sama aku Mas tolong buktikan buktikan ke bapak kalau kamu tidak pernah main-main."
" Aku selama ini memang tidak pernah main-main Zahra Aku serius," potongnya cepat.
" Tapi kamu tidak pernah memberikan aku status yang jelas Mas, makanya aku menganggap kamu selama ini hanya main-main. Dan Aku bahkan tidak sampai berani mengatakan tentang kamu kepada kedua orang tua aku lantaran kamu tidak pernah memberi aku kejelasan yang pasti."
Adnan terdiam karena di situlah kebutuhannya seharusnya dirinya mengatakan dari awal jika ingin menjalani hubungan serius dengan Zahra tanpa memberi harapan palsu apalagi tidak jelaskan aku jika dirinya memang bersalah.
" Aku minta maaf salah itu, aku terlalu bodoh dan juga egois harusnya dari awal aku sudah mengatakan padamu kalau aku mencintaimu dan harusnya juga dari awal aku sudah memperkenalkan diri kepada orang tuamu, aku minta maaf," sesalnya dengan perut wajah penuh penyesalan.
" Kamu mau kan mulai dari awal lagi dan kita sama-sama membuktikan kepada orang tua kamu bahwa kita saling mencintai dan akan aku membuktikan jika aku layak menjadi suami kamu," lanjutnya sangat serius sekali.
Zahra menghilangkan nafasnya kemudian dia menatap sorotan tatapan serius dari laki-laki di hadapannya ini tatapan mata yang penuh cinta penuh kasih sayang dan kelembutan yang membuat hatinya luluh.
" Baiklah aku akan memberikan kamu satu kesempatan lagi Dan tolong buktikan ke pada kedua orang tua aku Mas."
" Terima kasih Zahra aku pasti akan membuktikan bahwa aku benar-benar serius sama kamu," ucapnya begitu sangat senang.
" Tolong buktikan dalam waktu dekat ini mas karena aku akan segera menikah dengan laki-laki lain. Laki-laki yang sudah dipilihkan oleh kedua orang tuaku."
Mbak bisa gambar petir hati Adnan senyum bahagia tadi tiba-tiba hilang saat mendengar bahwa Zahra akan dinikahkan dengan laki-laki lain.
" Apa maksud kamu?" Tanya Adnan ekspresi wajahnya berubah menjadi murung.
" Aku sudah dijodohkan Mas, tempat seminggu setelah waktu aku kembali dari luar kota waktu itu."