
"Kamu tau, terlepas dari siapa pun manajer baru kita, aku tidak peduli, yang jelas aku bahagia bisa kembali ke tempat ini, banyak yang menawarkan pekerjaan lain tapi aku menolak karena sudah terlanjur nyaman di sini," Ana merentangkan tangannya memeluk bangunan Kafe, jiwa Ana sepertinya sudah terikat di sini sampai segitunya.
Dodi dan Rizky hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah ana yang kekanak kanakan, padahal tingkah nya yang seperti itu tidak membuat gaji naik.
Reyna baru sampai bersama Azka dan Farel yang ikut serta, karena gak mungkin kan ditinggal sendirian di rumah. Ana menyambut kedatangan pasutri baru itu dengan bahagia. Baru kali ini Mereka bertiga melihat Azka dengan pakaian santai, biasanya selaku pakai setelan kemeja dan jas.
"Na, boleh jadi pelakor nggak di rumah tangga kalian, Tuan Azka makin tua makin tampan aja," Ana berbisisk tepat di telinga Reyna, takut di dengar oleh yang bersangkutan bahaya, bisa-bisa dipecat kan gak lucu.
"Boleh aja, kalo mas Azka mau," Reyna terkikik geli melihat ekspresi Ana yang cemberut. Tenang saja, Ana tidak sejahat itu, seluruh ucapannya tadi cuma bercanda jangan dianggap serius, Ana masih punya harga diri kok, gak suka rebut suami orang apalagi suami sahabat sendiri walaupun sempat tertarik juga sama Azka sejak mulai bekerja di Kafe hanya saja gak dilirik, ya gak apa-apa mungkin masih ada lelaki lain yang lebih pantas dan baik untuk Ana.
Sempat di tutup dengan garis polisi akibat aksi berdarah yang merenggut nyawa Andi dan Lia membuat Kafetaria harus berhenti beroperasi sementara, padahal kejadiannya tidak terjadi di Kafe Azka melainkan di kediaman Andi sendiri, mungkin karena Andi yang sempat menjadi manajer di sini dan Lia pegawainya, itu yang menyebabkan Kafe milik Azka ikut kena getahnya. Untung saja sekarang sudah mendapat izin dari kepolisian untuk menjalanakan bisnis ini kembali.
Azka menggunting garis polisi yang melintang panjang sampai ke belakang, sempat ragu juga apa pelanggan nya bisa sebanyak seperti yang dulu, mengingat peristiwa berdarah bukan main ngeri nya, sebagian orang mungkin trauma berkunjung ke sini.
"Hai kursi, hai meja, hai mesin kasir. Sudah lama kita tidak bertemu," Ana memeluk satu persatu objek yang disapanya, sejak masuk tadi dia langsung berhambur ke dalam.
"Padahal belum lama ditinggalin tapi sudah berdebu," Dodi mengusap hidungnya yang kemasukan debu halus.
"Peluk aja tuh meja sampai debunya hilang, lumayan pembersih gratis," sambung Dodi lagi mendelik ke arah Ana.
"Terserah, yang penting semua yang berhubungan dengan Kafetaria ini aku sangat merindukannya," Ana menjulurkan lidahnya tak peduli dan masih berlanjut pada kegiatan tak bermutu nya.
Cukup lama mereka prepare semua yang dibutuhkan, tapi itu tidak membuat mereka capek malah jadi menyenangkan walaupun banyak yang harus dikerjakan, tetapi jika bersama sama akan menjadi lebih ringan dan cepat selesai. Tenang, Ana, Dodi dan Rizky akan mendapat persenan dari kerja kerasnya hari ini karena sudah bersedia turut membantu.
Ana bertugas di bagian ngelap barang seperti meja dan kursi, Dodi mengepel lantai dan Rizky mengelap jendela. Sementara Reyna dan Azka pergi membeli seluruh bahan makanan dan minuman yang dibutuhkan untuk Kafetaria. Saat ini mungkin sedikit berbeda dari Kafe yang dulu, merubah menu tidak ada salahnya bukan?
Reyna menyeka peluh nya yang menitik di keningnya, akhirnya selesai juga. Sekitar jam 3 sore mereka kelar. Ana merebahkan tubuhnya di atas lantai yang habis di pel oleh Dodi.
"Heh itu masih basah woyy, nanti lantai nya kotor lagi kena badan kamu," protes Dodi.
"Yaelah, ini tuh tubuh bukan tanah, lebay banget."
"Kan tubuh manusia diciptakan dari tanah, bego."
Ana merenung, benar juga.
"Terima kasih telah bekerja keras semuanya, cicipi lah menu baru kami," Azka datang sambil mengenakan apron warna hitam layaknya Barista handal padahal baru belajar, membawa tiga gelas kopi ice cappucino racikan dia sendiri di atas nampan, menyajikan pada ketiga pekerjanya. Sebelumnya, minuman itu gak ada dalam menu.
"Wahh, kita seperti pelanggan saja," ucap Dodi sumringah.
"Yahh memang, hari ini kalian pelanggan tapi besok kalian jadi pegawai," Azka terkekeh seraya ikut duduk. Mereka yang mengira Azka orangnya dingin dan datar ternyata seramah dan se-humble ini.
"Hmm, enak," gumam Ana, tenggorokannya jadi segar kembalj setelah meminumnya.
"Sebenarnya, Reyna yang punya usulan untuk menambah menu ice cappucino ini, katanya resep dari nenek nya dulu, saya sempat ragu tapi setelah mencoba sendiri ternyata benar-benar enak, syukurlah kalian suka, harap-harap pelanggan yang lain juga suka." Mereka lanjut ngobrol seputar kegiatan sehari-hari selama nganggur satu minggu.
Semuanya menoleh kala mendengar suara lonceng berbunyi jika pintu dibuka. Dua perempuan muda dengan style pakaian jaman kini tampak ngos-ngosan di ambang pintu.
"Apa Kafe ini sudah buka?" Sambil meraup oksigen sebanyak banyaknya, dia masih sempat bertanya. Azka beralih memandang ketiga pegawainya bergantian.
"Sebenarnya sudah, tapi kami akan mulai bes--"
"Ahh syukurlah, aku sudah lama ngidam ingin ke tempat ini, terakhir kali aku ke sini Kafe nya ditutup, sungguh menyebalkan, aku bahkan belum mengunjungi Kafe ini sama sekali, dan ini lah kali pertama, aku kira akan ditutup selamanya, penantianku ternyata tidak sia-sia," gadis cantik itu mulai memasuki Kafe dan duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan jendela, biasanya kursi dekat jendela lah yang paling banyak diminati pelanggan.
"Sepertinya kita mulai berbisnis hari ini saja. Semuanya, bersiap pada posisi kalian!"
Dodi membawa buku menu ke pelanggan tadi.
"Terima kasih, Tuhan. Akhirnya aku bisa minum kopi buatan Kafe ini, suami melarangku minum kopi sore-sore, tapi kayaknya aku akan melanggarnya sementara."
"Ohh ternyata Nona sudah punya suami ya, sayang sekali saya tadi ingin meminta kontak anda," kekeh Dodi dengan raut wajah kecewa.
"Maaf sekali, tampan. Tapi kamu bisa berkenalan dengan adikku, namanya Jane, dia masih lajang, kau bisa meminta kontaknya, mumpung baru putus dengan pacarnya," malah promosiin adiknya, dasar kakak laknat. Gadis yang bernama Jane tersebut menatap sang kakak dengan tajam. Memang wajah mereka sebelas dua belas, tapi wajah Jane masih terlihat segar dan alami dibanding Jena sang kakak.
"Bolehkah?" Dodi tampak ragu-ragu seraya terus melirik Jane yanh tampak tak nyaman.
"Tentu saja tidak. Sorry, you're not my type." Berasa tersambar petir di sore hari yang indah ini, Dodi baru kali ini merasakan patah hati yang luar biasa, wanita mana yang berani menolaknya mentah-mentah seperti ini, yahh walaupun banyak yang akan bersikap sama dengan Jane jika digoda oleh Dodi. Suara gelak tawa dari belakang membuat Dodi berbalik arah dan mendapati Ana sambil memegangi perutnya karena capek tertawa. Dodi mencebik kesal, setelah menulis pesanan Jane dan Jena, Dodi segera pergi. Jena sebagai kakak meminta maaf atas perlakuan Jane kepadanya.
"Maklum lah baru putus, dia sangat sensitif, sekali lagi aku sebagai kakanya meminta maaf," ucap Jena lirih.
"Don't worry, Miss. Memang aku sudah ditakdirkan untuk ditolak," Dodi dengan ekspresi nya yang sok sedih, padahal memang betul-betul sedih.
"Makanya gak usah sok ngerayu orang, lihat dulu penampilan pantas atau nggak. Lagian wanita itu cantik, blasteran lagi, ya jelas lah kamu gak termasuk tipe dia," Ana habis-habisan mengejek Dodi yang patah hati.
Rizky bagian pengantar pesanan, dengan langkah panjangnya dia terlihat berwibawa sambil membawa nampan, siapa saja akan terpesona melihatnya tak terkecuali, Jane. Perempuan yang sempat menolak Dodi.
"Jangan menganga seperti itu, nanti kemasukan lalat baru tau rasa," tegur Jena, Jane langsung mengatup bibirnya rapat-rapat, tapi netranya tak bisa lepas dari wajah Rizky yang masih fokus menatap pesanannya.
"Jika butuh apa-apa lagi, bisa panggil saya," dengan ramahnya dia tersenyum sehingga menampakkan lesung di pipinya.
"Excuse me, boleh kita tukar nomor telpon?" Jane blak-blakan menyerahkan ponselnya. Rizky sempat linglung sampai akhirnya dia dengan senang hati memberikan nomor ponselnya, jujur dia tidak berharap lebih, apa salah berteman 'kan?
"Thank you, kamu mirip persis seperti tipe idamanku." Jena menggeleng pelan menghadapi sikap sang adik jika melihat laki-laki tampan. Jena jadi merasa bersalah yang kedua kalinya pada Dodi.
Tepat di seberang, Dodi menatap sinis interaksi Rizky dan Jane.
"Dasar cewek gatal, munafik. Tinggal bilang aku jelek aja pake sok-sok bilang aku bukan tipe dia, cihh. Itu lagi si Rizky, ganjen banget." Dodi yang sudah terkena penyakit iri dengki akan mengeluarkan segala bualannya. Ana menepuk bahu lelaki gempal itu agar bersabar.
"Kalo memang sudah takdir begitu, gak usah ngejulidin orang, menurutku kamu deh yang ganjen," Ana kembali tertawa, senang sekali mengganggu Dodi.
Tak pernah merak duga sebelumnya, terutama Azka yang sempat ragu jika Kafe miliknya tidak akan seramai dulu malah berbanding terbalik, baru juga buka sudah banyak pelanggan yang ngantri panjang di depan pintu, rezeki memang gak kemana. Mereka sampai kewalahan melayani sampai Reyna dan Azka juga harus turun tangan.
.
.
"Huh, bekerja di Kafe membuatku lelah, apalagi kalo kita ngikutin saran pelanggan tadi yang bilang sebaiknya Kafe kita buka 24 jam, gak kebayang capeknya," Reyna menghempas tubuh kurus nya di atas sofa, istirahat sebentar sebelum menyelesaikan tugas yang lain. Reyna bukan hanya sibuk di luar tetapi di rumah pun tak kalah juga.
Reyna menatap Azka yang berlalu pergi, sepertinya dia akan mandi. Cepat-cepat Reyna mengejarnya untuk menyiapkan air hangat, karena di waktu begini Azka memang harus mandi air hangat.
Selesai dengan suami, kini Reyna beralih kepada Farel, masih belum bangun juga sejak tadi.
"Ya sudah, kamu mandi nya nanti saja ya, sayang."
Karena terlalu nyaman kerja di Kafe, sampai lupa bahwa dia belum buat makan malam. Reyna mengintip ke arah dapur dan menemukan Wati yang sudah bersidekap dada sambil menghentakkan kaki ke lantai, lantaran gak ada makanan apa pun di atas meja, bahkan bahan pun belum dibeli. Habis sudah kena omel lagi. Reyna memejamkan matanya dan mendongak, sambil menarik nafas perlahan, dia memberanikan diri menghampiri sang mertua, raut wajahnya sudah berubah membuat Reyna ingin mengurungkan niatnya. Belum juga balik badan kehadirannya sudah disadari oleh Wati.
"Eh-eh, sini kamu!" Reyna putar badan sambil tersenyum getir.
"Kamu tau sekarang waktu apa?" Pertanyaan dengan nada pelan namun penuh penekanan bisa membuat Reyna ketar ketir.
"Waktu makan malam, Bu."
"Kalau sudah tau, terus kenapa gak ada makanan sama sekali?" Nada bicaranya naik satu oktaf.
"Kita gofood aja, Ma. Reyna juga pasti capek seharian ngurus Kafe." Reyna bisa bernafas lega karena Azka datang tiba pada waktunya. Wati mendecih pelan, bisa-bisanya Azka lebih membela Reyna dari pada dirinya.
"Ya sudah cepat lah, Mama sudah sangat lapar, kamu gak dengar cacing pita di perut Mama sudah meraung-raung layaknya singa." Merasa akan kalah jika sudaj berhadapan dengan Azka yang keras kepalanya nurun sama Papa nya, Wati memilih ngalah saja.
"Makanannya tiba sebentar lagi, Mama tenang saja." Wati sontak membuang muka lalu pergi ke ruang TV.
.
.
Heran, sudah tengah malam tapi Azka tak lekas kembali ke kamar, inisiatif untuk mencari sang suami mulai terlintas. Reyna mengintip ke ruang kerja Azka yang setengah terbuka, memang sejak selesai makan malam Azka sudah memberi tau Reyna akan ke ruang kerjanya sebentar tapi sampai sekarang gak balik-balik.
"Ohh ternyata masih di sini." Reyna berpikir sejenak, gak ada salahnya membuatkan suaminya kopi sebagai teman begadang, karena sepertinya Azka tidak fokus pada pekerjaannya karena matanya yang sesekali merem melek. Reyna segera bergegas menuju dapur.
Kondisi lantai satu gelap, karena seluruh lampu di matikan, untung saja Reyna hafal tata letak saklar setiap lampu di rumah ini.
Sedikit demi sedikit Reyna tau apa yang disukai maupun yang tidak disukai Azka, seperti kopi pahit ini. Azka tidak suka kopi yang terlalu manis, entah alasannya apa, padahal Reyna suka sekali kopi manis, kali ini mungkin mereka belum serasi dalam hal kesukaan.
Langkah Reyna terhenti, suara Azka membuat Reyna penasaran, lelaki tersebut sedang berbicara via telepon dengan seseorang, tetapi bukan itu yang menjadi permasalahan, Azka tampak berapi-api dengan kalimatnya, dia sungguh terlihat marah sekarang. Reyna menelan salivanya dengan paksa saat Azka menyebut satu nama yang begitu familiar di telinganya.
"Abdi Irawan? Itu kah nama orang yang sudah mencuri semua uang perusahaan Papa? Sudah lama kasus ini beredar tapi baru sekarang diselidiki lagi. Aku sungguh membenci orang itu, sampai kapan pun tidak akan ku maafkan, sampai dia berlutut di kaki ku sekalipun tidak akan pernah. Aku berjanji akan membuat anaknya merasakan bagaimana menderitanya kami dulu, karena dia lah kondisi ekonomi keluarga kami hancur, itu lah masa-masa terpuruk kami. Aku cukup bersyukur dia sudah lenyap dari dunia ini, tetapi aku masih belum puas melihatnya tersiksa lebih dulu. Tapi tidak apa, aku masih bisa membalaskan dendamku pada anaknya."
Prangggg!!!!
Tangan Reyna lemas seketika sehingga menjatuhkan nampan dan cangkir isi kopi itu sekaligus, nafasnya terasa sesak, dadanya naik turun, mukanya pucat pasi, keringat mulai membanjiri keningnya padahal hawa di sini sangat dingin. Kejadian sekilas itu berhasil menyita fokus Azka.
"Ada sedikit masalah di sini, kita lanjutkan nanti saja." Azka menutup telponnya secara sepihak lalu bergegas keluar, sejenak dia mengumpat kesal karena lupa menutup pintu.
"Reyna? Apa yang kamu lakukan di sini?"
Sorry for the typo🙏, aku gak jago bikin alur yang menegangkan, jadi maklumi saja ya hehe....