Married With Duda

Married With Duda
MWD 62 : Dia Putriku



Azarin Reysa Mahendra, nama putri dari pasangan Reyna dan Azka, memutuskan untuk menaruh marga Mahendra di belakang nama Azarin. Sebelumnya terjadi perdebatan sengit antara Azka dan Wati yang tidak terima setelah pemberian nama pada anaknya, namun Azka tetap bersikeras karena bagaimanapun juga Azarin adalah putrinya, ya bagaimana tidak kan emang Azka yang buat dibantu Reyna tentunya.


"Sampai kapanpun Mama gak setuju dengan tindakan kamu, Azka. Marga Papa-mu tidak akan pernah cocok dipakai oleh anak itu," ujar Wati dengan wajah berapi-api, perkara nama doang rusuh minta ampun.


"CUKUP, MA. Mama gak berhak menilai, Azarin tetap darah dagingku, jadi tentu saja dia berhak menyandang marga keluarga kita," bentak Azka tak kalah marah karena tidak terima putrinya direndahkan seperti ini.


"Terserah, yang jelas Mama tidak akan menganggapnya cucu sampai kapan pun." Wati mengakhiri kalimatnya lalu melenggang pergi dengan wajah yang penuh amarah.


Azka mengusak surai legamnya kasar, frustasi rasanya jika masalah serumit ini, bisa Azka pastikan kehidupan Reyna dan Azarin sepertinya tidak bakal tenang dikarenakan sang Mama yang begitu menentang kehadiran mereka berdua. Bahkan Azka sempat berpikir jika Wati perlahan mulai menerima Reyna sejak kepergiannya ke luar kota beberapa bulan lalu, tapi dugaan Azka salah besar, nyatanya sama saja.


Beruntung Reyna tidak mendengar perdebatan mereka berdua karena istrinya itu sibuk di kamar menidurkan bayi nya. Azka membuang nafas kasar, tangannya bergerak meengacak tumpukan kertas di atas mejanya hingga berhamburan di lantai, Azka tidak peduli, hanya ini caranya melampiaskan amarahnya agar cepat mereda.


"Nanti saja aku bereskan jika sudah tenang," gumam Azka lalu bergegas keluar dari ruangan kerjanya untuk menemui Reyna di kamar.


Seketika amarahnya hilang kala melihat pemandangan yang begitu menghangatkan hati. Reyna tengah menyusui Azarin sambil sesekali bercanda walaupun putrinya itu belum ngerti sama sekali.


Merasa diperhatikan, Reyna berbalik arah dan benar saja ada Azka di ambang pintu tengah menatap ke arahnya, Reyna melemparkan senyum manisnya, meski capek harus begadang setiap hari tapi dia tidak pernah mengeluh, Azka akui itu. Selama ini Reyna tidak pernah sama sekali protes atau mengeluh minta gantian begadang jagain Azarin, selalu Reyna yang turun tangan walau dipaksa Azka untuk tidur saja, lagian ASI nya juga sudah disiapkan dari awal jadi Reyna gak perlu repot.


"Kamu ngapain berdiri di sana, Mas?" tanya Reyna kemudian memperbaiki posisinya menghadap le arah Azka, jahitannya masih terasa jika ia banyak bergerak. Azka buru-buru berjalan mendekat lalu duduk di tepi ranjang tepat di samping sang istri.


"Sudah malem, mending kamu istirahat biar aku yang jaga Azarin," usul Azka yanh tentu saja dibalas gelengan kuat dari Reyna.


"Sudah menjadi tugas aku, Mas." Lagi, entah kali ke berapa Reyna mengucapkan kalimat itu yang langsung berhasil membuat Azka bungkam, mau dipaksa bagaimanapun juga Reyna tetap keras kepala.


"Kamu juga butuh istirahat, Azarin biar aku yang nidurin."


"Nanti kamu capek, dia suka rewel soalnya."


"Ya maka dari itu kita berbagi tugas sayang, biar sama-sama ngurusin."


"Gak-gak, mending kamu yang istirahat. Kemarin kan sempat lembur."


"Aku lembur gak ada hubungannya sama jagain Azarin. Aku minta kali ini saja kamu nurut sama aku, ya." Azka memaksa Reyna untuk menyerahkan Azarin ke gendongannya. Reyna menghela nafas pelan, lalu menyodorkan Azarin yang sedang mengulum dot nya.


"Aku ke dapur sebentar, ambil botol susu yang baru buat nanti," Reyna bergegas keluar kamar.


Membuka kulkas dengan perlahan untuk mengambil susu yang sudah dia pompa kemarin untuk Azarin karena memang bayi mereka itu tidak bisa kekurangan ASI.


Perut Reyna berbunyi, jika diingat-ingat dia bahkan belum makan malam sejak tadi karena sibuk nidurin Azarin. Tapi apa ada makanan yang masih tersisa, karena Reyna paham banget sama keluarga suaminya ini, sekali masak sekali makan gak ada yang namanya sisa-sisa. Terpaksa Reyna harus masak sendiri, tapi males banget.


"Makan mie instant aja kali ya?" pikir Reyna kemudian berbalik membuka laci lemari di samping kulkas, untung masih ada stok banyak karena kebanyakan penghuni rumah setiap hari makan nasi jadi jarang makan mie instant.


Baru saja Reyna hendak membuka bungkus mie-nya, suara dari arah belakang menginterupsi kegiatannya sehingga dia terdiam cukup lama.


"Bagus ya, masih menyusui berani makan mie instant, gak takut dehidrasi kamu," ucap Wati dengan tampang angkuhnya. Reyna berbalik dan tersenyum kikuk.


"Aku lapar, Ma. Gak ada makanan, karena males masak ya sudah aku makan mie saja, lagipula gak berlebihan kok cuma satu bungkus doang," jawab Reyna.


"Terserah kamu sih, ngapain saya peduli, mau kamu makan pasir kek, itu bukan urusan saya," Wati kembali pada ekspresi datar lalu berjalan ke arah kulkas untuk mengambil air dingin. Padahal tadi Reyna udah seneng banget diperhatiin sama Wati tapi malah berubah lagi, Reyna mengedikkan bahunya lalu kembali pada aktivitasnya.


.


Reyna buru-buru ke lantai atas, meniti anak tangga sambil tangan kanannya menggenggam botol susu, takut Azarin bakal rewel kalo sama Ayah-nya mengingat begitu lama dia tinggal ke dapur hanya untuk ambil susu nyatanya malah makan dulu.


Pemandangan hangat yang tak bisa Reyna sangka, Azka tengah santai menggendong Azarin sambil sesekali melantunkan ayat suci Al-Qur'an agar Azarin semakin terlelap. Reyna tersenyum manis, lalu perlahan menghampiri dua orang kesayangannya, meletakkan botol susu yang tadi ia bawa di atas nakas.


"Kalo sudah tidur letakkan di box bayi saja, mas. Biar kamu gak terlalu capek," ucap Reyna yang sudah berdiri tepat di hadapan Azka.


Azka mengangguk lalu berjalan menghampiri box bayi untuk menidurkan sang buah hati, lagipun tangannya sudah kebas karena gak pindah posisi sedari tadi, tapi gak apa-apa yang penting Azarin nyaman, buat anak apa sih yang nggak.


.


Tepat pukul 2 pagi, Reyna terbangun karena suara tangisan Azarin memenuhi ruang kamar. Reyna beringsut turun dari ranjang untuk menghampiri buah hati yang sepertinya terbangun karena kekurangan ASI. Mau tak mau Reyna harus menyusui sekarang juga meski matanya setengah terbuka karena dipaksa bangun.


Tidak butuh waktu lama bagi Reyna untuk menidurkan Azarin, setelah dianggap terlelap, Reyna kembali menidurkan Azarin pada tempat tidurnya lalu ia ingin kembali menyambung mimpinya tapi lagi-lagi Azarin menangis. Reyna menghela nafas pelan, begadang lagi.


Hello, I'm comeback. Ada yang nungguin book aku gak sih? Kalo gak ada sih gapapa hehe.