
"Ayah kenapa senyum-senyum terus dari tadi? Ayah gila ya?" Farel yang udah kepalang penasaran memutuskan untuk langsung bertanya, selain merasa terganggu Farel juga sedikit takut jika saja benar Azka sedang mengidap penyakit kejiwaan atau nggak ya kesurupan.
"Sembarangan kamu, Ayah masih normal," jawab Azka sewot, udah gitu dia kembali senyum lagi persis seperti awal. Farel bergidik ngeri, mana mereka berdua lagi di ruang makan. Hawanya jadi berubah saat Azka kemudian tertawa cekikikan sambil meremat kuat garpu dan sendok di tangannya sambil pukul-pukul meja.
Oke, Farel mulai merinding sekarang, pelan-pelan dia menurunkan kakinya dari kurai hendak berlari.
"Mau kemana kamu? Makan cepat, nanti kamu telat masuk," titah Azka yang sadar akan gerak-gerik Farel, tapi sama sekali gak curiga jika putra sulungnya itu takut dengan sikapnya.
Farel menelan salivanya susah payah, mengangguk samar dan mulai memakan sesuap demi sesuap nasi yang tinggal setengah lagi di piringnya.
Reyna datang bersama Azarin menuju meja makan, akhirnya Farel bisa bernafas lega karena tidak berdua lagi dengan sang Ayah yang super aneh dan menyeramkan.
Melihat kedatangan sang istri, Azka tampak sumringah, berdiri menghampiri Reyna dan mencuri satu kecupan di pipi. Farel mendelik malas, tidak suka melihat jika Azka bermanja pada Reyna, hanya dia yang boleh, Azarin juga gak boleh.
"Mas, awas! Aku mau suapin Azarin dulu," Reyna mendorong dada Azka untuk menyingkir dari hadapannya, jujur saja Reyna masih kesal dengan kejadian semalam yang terjadi secara tiba-tiba, dia bahkan belum siap, Azka menyerangnya tak henti-henti.
Azka menyingkir lalu kembali ke kursinya sambil terus menatap dan mengawasi pergerakan Reyna. Cara jalannya hati-hati sekali, tampak sesekali Reyna meringis merasakan sakit di area bawah. Bukannya merasa kasihan, Azka malah merasa bangga dengan hasil karyanya, suami laknat emang.
"Bunda kok jalannya pincang? Kaki Bunda sakit ya?" tanya Farel di tengah heningnya suasana sarapan. Reyna tersenyum canggung sambil menatap Farel lembut kemudian gantian menoleh ke arah Azka dengan tatapan kesal, yang ditatap hanya menaikkan alisnya tanda bertanya.
"Bunda cuma kesandung do--"
"Iya, Bunda kesandung kaki Ayah kemarin di kasur," sela Azka santai sambil menyeruput kopinya. Reyna menatap Azka tajam, lagi-lagi Azka tidak peduli, malah menyunggingkan senyum nakal. Farel yang tak tau apa-apa hanya mengangguk sok paham padahal dalam hati bertanya-tanya.
Selesai sarapan, Reyna membereskan bekas makan mereka. Farel sudah lebih dulu pergi ke mobil sementara Azka masih mantengin Reyna yang sibuk cuci piring.
"Masih sakit?"
"Astaga, Mas. Kamu bikin kaget saja," Reyna hampir memecahkan piring yang dipegangnya karena kaget. Azka terkekeh sembari mengusak pucuk kepala Reyna.
"Kalo gak mau jawab pertanyaan aku gak apa-apa kok. Malu ya?" ledek Azka saat Reyna sontak menunduk karena pipinya yang bersemu merah karena pertanyaan Azka.
"Apaan sih, udah sana pergi!"
"Ihh aku serius nanya loh, kalo emang masih sakit nanti pulang kerja aku beliin salep pereda."
"Emang ada?" Reyna kembali mendongak, Azka mengangguk mantap.
"Ada lah, mau nggak?"
"Gak usah deh, nanti juga sembuh sendiri."
"Bagus dong, ntat malem bisa nambah lagi."
"Jangan sampai aku tampol kamu pakai panci ya, Mas," Reyna mengangkat tinggi-tinggi pancinya.
"Bercanda, tapi kalo mau ya gak apa-apa juga sih, malah aku seneng."
TUNG...
Yes berhasil, akhirnya kepala Azka dipentung juga pake panci.
Azka mengusap kepalanya dengan muka memelas.
"Jahil lagi aku pukul lebih keras," ancam Reyna sambil berkacak pinggang.
"Iya, gak jahil lagi."
"Aku berangkat ya sayang, tuan muda sudah marah," kekeh Azka lalu berlari keluar. Reyna sampai tak habis pikir dengan suaminya itu.
.
Tidak ada yang istimewa hari ini, seperti hari-hari biasanya.
Reyna tengah sibuk mengutak atik laptop hadiah pernikahan mereka dari Azka tahun kemarin, entah apa yang ia cari. Suara bel pintu mengganggu fokusnya, dengan malas ia menuju pintu utama, berniat mencari tau siapa yang bertamu pagi-pagi menjelang siang ini.
"Iya siapa? Eh?"
"REYNA!!!!" Yang dipanggil menyipitkan matanya.
"Ini aku Sapira, masa kamu lupa."
"Hah? Sapira? Ya ampun apa kabar," mereka sontak berpelukan ala-ala teletubbies mengabaikan tiga orang yang hanya memandang mereka jengah.
"Kamu bawa siapa, Sapi?" tanya Reyna menatap bergantian pada tiga orang tersebut, laki-laki tinggi tegap di samping Sapira, Reyna sudah bisa tau kalo itu suami Sapira, dua laki-laki lagi Reyna tidak kenal.
"Suami aku lah, dan si kicil-kicil molek ini anakku. namanya Udin sama Idin," jawab Sapira memperkenalkan dua anaknya yang kembar tapi beda rupa. Reyna membulatkan bibirnya paham.
"Ayo masuk, jangan sungkan. Anggap aja rumah aku."
"Ya emang rumah kamu Reyna, gimana sih."
"Oh iya lupa, begini nih suka lupa daratan aku tuh," kekeh Reyna.
"Kalian mau makan apa? Di dapur cuma ada kue lebaran sama brownies tapi sudah habis sisa nampan doang."
"Kalo sudah habis ngapain nawarin?" Sapira sedikit kesal.
"Ya gak apa-apa sih. Tunggu bentar, aku ambilin. Kalian mau jus apa?"
"Jus Durian aja lah, kebetulan di kota suamiku gak ada pohon Durian," jawab Sapira sambil menyandarkan punggung pada sandaran sofa.
"Durian sudah habis dimakan opet, mau jus sirsak aja gak?"
"Terserah kamu Reyna, aku capek."
Reyna mengacungkan jempol lalu bergegas ke dapur untuk menjamu tamu jauhnya. Karena mereka tumben dateng ke sini jadi harus dijami dengan baik.
5 menit menunggu, Reyna datang kembali dengan 4 gelas air bening.
"Loh, katanya jus sirsak kok air biasa?" tanya Sapira mengamati benda cair di dalam gelas, apakah memang penglihatannya yang kurang bagus.
"Aku lupa, sirsaknya masih di Minimarket, bentar ya aku minta Bi Ela belikan. Oh iya, untuk Udin sama Idin mau makan apa, biar aunty pesenin gofood."
Udin dan Idin hanya diam sambil menggeleng malu.
"Mereka berdua memang malu-malu kambing, tapi kalo makanan sudah tersedia di depan muka mereka gak tengok sekitar lagi," sahut Sapira membicarakan kebiasaan putranya.
"Ohh bagus dong, aku jadi gak perlu pesan gofood," Reyna kembali memasukkan ponselnya ke saku celana. Sapira dan suaminya saling pandang dengan raut bingung. Memang minta ditampol si Reyna, mana mukanya polos banget tanpa beban. Nyesel Sapira mampir ke sini.
Mereka lanjut berbincang membicarakan perihal yang tidak penting sampai hidangan yang asli tersaji di meja. Sapira tercengang karena banyak sekali makanan enak di depan mata.