
Berita kehamilan Reyna bukannya membuat Wati senang malah megeluh.
"Huh, nambah lagi beban di rumah ini, satu saja sudah membuatku pusing eeh malah tambah lagi."
Fakta tentang Reyna belum Wati ketahui, Azka memang berniat merahasiakannya karena dia tau, pasti Wati akan bertindak lebih darinya.
"Ma, Azka titip Reyna ya, kondisinya sangat lemah, maklum awal kehamilan memang seperti itu," sebisa mungkin Azka masih menunjukkan perhatian dan keromantisannya di depan Wati agar sang Mama tidak curiga.
"Hey, Mama juga perempuan dan pernah di posisi Reyna, jadi kamu jangan mencoba ajarin Mama ya," tunjuk Wati dengan tatapan tajam. Azka cengengesan sambil menggaruk tengkuknya canggung.
"Farel, ayo sayang kita berangkat sekarang," karena sudah selesai sarapan, Azka harus mengantar Farel ke sekolahnya sebelum ke Kantor.
Sementara itu di lantai atas. Reyna tampak jenuh, bosan sekali rasanya jika harus tetap di kamar, Reyna merasa seperti terkurung di sini. Reyna menatap kopernya yang sudah siap ia seret tetapi gak jadi karena berita kehamilannya yang membuat Azka berubah pikiran.
Jujur, Reyna baik-baik saja sekarang, bahkan jika disuruh ikut lomba lari maraton pun dia sanggup.
"Mas Azka-- eh maksudku tuan Azka, sudah berangkat belum ya?" Reyna menatap jam di ponselnya.
"Harusnya udah berangkat sih," Reyna bangkit dari tidurnya lalu turun dari ranjang.
"Kalo aku kabur boleh gak sih?" Reyna berdialog dengan angin, sudah tentu gak dijawab.
Saat hendak meraih kopernya, tiba-tiba pintu terbuka membuat Reyna gelagapan. Refleks ia bernafas lega karena bukan Azka yang datang melainkan Wati, tapi tetap saja Reyna ketar ketir melihat tatapannya.
Wati menatap Reyna intens, tapi fokusnya beralih ke koper besar yang berdiri di samping Reyna.
"Kamu mau kemana dengan koper besar itu?" tanya Wati seraya berjalan mendekat. Reyna menelan ludahnya kasar, bingung ia hendak jawab apa, suaranya susah sekali keluar.
"Ohh saya tau, pasti kamu kau kabur kan? Sudah bagus Azka kasih kamu tempat tinggal yang nyaman dan bahkan dia berani menentang Mama-nya sendiri hanya demi menikahi kamu dan sekarang, apa balasan kamu? Kamu akan mengecewakannya dengan cara kotor seperti ini? Kamu gak tau saja bagaimana perasaan seorang Ibu jika tau anaknya dicampakkan. Tapi kalo kamu mau kabur beneran juga gak apa-apa, biar nanti saya yang bicara baik-baik sama Azka." Penjelasan panjang lebar, Reyna pikir mantan mertuanya ini akan marah dan melarangnya, ehh tau-taunya sama saja. Reyna menghela nafas pelan.
"Kenapa natap saya kayak gitu? Ada yang salah dengan penuturan saya?"
"Tidak ada, Bu. Aku mau makan, laper soalnya. Ibu kenapa gak bawain saya makanan ke sini, Ibu tau kan kalo perempuan baru pertama kali hamil itu susah banget kalo harus ngelakuin sendiri, aku harap Ibu paham dengan ucapanku, ditambah lagi aku sedikit kesusahan berjalan karena bayi lucu ini," ujar Reyna mengusap perutnya. Mata Wati membola, apa yang dia dengar tadi? Reyna memerintahnya? Ohh tidak, anak ini semakin kurang ajar saja.
"Kamu memerintah saya? Berani sekali ka---"
"Sstt, Ibu jangan berisik nanti bayi nya keganggu, dia sedang tidur nyenyak, tapi kalo Ibu gak mau ya sudah biar aku ambil sendiri," Reyna berlalu melewati Wati yang sedang meluap-luap karena emosi.
.
.
"Dasar mertua gila, dia bahkan tidak menyisakan sedikitpun lauk untukku, apa aku terlupakan di rumah ini? Jelas saja iya, mana mungkin nenek lampir itu mengingatku." Reyna berdecak kesal, terpaksa dia harus memasak sendiri.
"Ehh, non. Sini, bibi yang masak," Reyna sampai terlonjak kaget karena ART baru ini muncul dari bawah meja dan mengejutkannya secara tiba-tiba.
"Hehe bukan, tadi sendok yang habis bibi cuci menggelinding ke bawah meja. Udah sini, biar bibi yang masak, non Reyna duduk di meja saja, ibu hamil gak baik berdiri terus-terusan nanti bisa capek. Non Reyna mau makan apa, biar bibi masakin?"
"Hmm apa aja deh, bi. Yang penting bisa dimakan," Reyna terkekeh diikuti oleh Bi Ela yang juga ikutan tersenyum.
"Sayur sop aja ya, biar janinnya tambah sehat," usul Bi Ela. Jujur, di saat seperti ini Reyna tak pandai pilih-pilih makanan, tapi jika untuk sayur sih Reyna kurang suka.
"Tapi tambah daging juga kan, Bi?"
"Iya, mau daging sapi atau daging ayam? Mumpung stok lagi banyak, Bibi habis pergi belanja tadi."
"Daging ayam aja deh."
"Pilihan yang bagus. Tunggu beberapa menit ke depan, dan makanan akan siap sebentar lagi," Bi Ela langsung fokus memasak sementara Reyna duduk santai di meja sambil menopang dagu memperhatikan Bi Ela yang lihai sekali dalam memasak, lihat saja caranya memotong wortel sangat lincah sekali.
Dalam sekejap mata, sayur sop buatan Bi Ela akhirnya jadi, baunya menyebar di sekitar dapur, lezat sekali. Bi Ela kemudian menghidangkannya di meja makan tepat depan Reyna.
"Monggo di cobain? Kalo kurang garam bisa ditambah lagi."
"Gak, Bi. Ini udah enak banget."
"Iya kah? Syukurlah, Bibi lega dengernya, kirain keasinan atau mungkin hambar karena sejak tadi Bibi sedikit gak fokus saat memasak."
Gak fokus apanya, padahal aku perhatiin lincah bener kayak ikan lele.
"Oh-hoh, begitu ya Bi. Bibi santai saja, ini sudah pas takaran garamnya sudah bener," Reyna melanjutkan makannya sementara Bi Ela lanjut cuci piring yang sempat tertunda gara-gara Reyna minta makan.
Reyna memejamkan matanya sejenak saat Wati menghampiri nya, jujur saja wanita paruh baya itu menghilangkan selera makannya.
"Kenapa, Mama?" Reyna memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Wati melotot tajam kala Reyna memanggilnya dengan sebutan 'Mama'.
"Kamu bilang apa tadi? Mama? Hey, sampai ajal menjemput pun saya tidak sudi mempunyai menantu seperti kamu," Wati berteriak sehingga suaranya menggelegar menenuhi dapur. Reyna tersenyum simpul kemudian melipat jarinya dan menatap Wati intens.
"Kalo itu sih terserah, Mama. Yang penting aku itu menantu Mama yang sebentar lagi akan melahirkan penerus dari keluarga ini, seharusnya Mama bahagia dong."
"Huh, penerus. Penerus kamu bilang? Jangan mimpi, bawa pergi saja anakmu itu jauh dari rumah ini. Saya yakin itu bukan anak Azka, siapa tau kamu main belakang. Saya memang dari dulu curiga sama kamu saat pergi ke luar kota, kamu bilang mau ketemu keluarga lah, sampai Azka dan Farel ingin ikut kamu melarangnya dengan keras, dan itu cukup untuk membuktikan anak dalam kandungan kamu itu bukan anak Azka."
"Cukup, Ma!!!" Reyna menggebrak meja sampai membuat sendok dan garpu meloncat ke bawah karena getaran yang sangat kuat.
"Aku memang orang miskin yang tak punya apa-apa, tapi aku masih punya harga diri, pemikiran kotor Mama sangat kejam dan sama sekali tidak benar, aku tidak akan pernah berbuat seperti itu terlebih lagi aku sudah bersuami." Reyna berlari keluar, tangisnya sudah tidak dapat dibendung lagi, perkataan Wati membuat hatinya sakit bagai ditusuo ribuan pedang, sebenci itukah dirinya sampai memfitnah Reyna selingkuh?
"Baiklah, ini semua sudah cukup membuktikan bahwa aku dan bayiku tidak dibutuhkan lagi di sini."