
"Mas, kamu ngapain tepar di lantai," rupanya Reyna sudah bangun dan sadar sang suami ikut rebahan di sampingnya.
"Harusnya aku yang nanya, kenapa kamu tidur di bawah? Bosen pakai ranjang? Bisa kok aku buang, dan kamu bebas tiduran di lantai," sahut Azka seraya memperbaiki posisinya agar berhadapan dengan Reyna.
"Ehhh, aku juga baru sadar loh kok tiba-tiba ada di bawah, perasaan aku di ranjang," Reyna menggaruk tengkuknya heran.
"Kamu ngegelinding ke bawah deh kayaknya, makanya kalo tidur tuh diem, gak usah atraksi, bayi dalam kandunga kamu nanti bisa ikut celaka," Azka menoyor kening Reyna pelan.
"Ck, namanya juga manusia, mas. Tidak pernah luput dari yang namanya kesalahan. Ini jadi gak jalan-jalannya?"
"Gak ahh, aku pundung," Azka mempoutkan bibirnya agar terlihat lucu.
"Kamu bukannya lucu kayak gitu tapi malah jijik aku, mas. Jangan kayak gitu, gak cocok sama sifat manly kamu," Reyna segera beranjak untuk ganti baju sebelum pergi.
Sementara itu di tempat yang berbeda namun di waktu yang sama, Farel tampak mengantuk sambil bertopang dagu hamir saja ia tersungkur jika saja tidak sadar.
"Farel, kok belum pulang?" tanya Putri ramah, kasihan juga lihat anak sekecil Farel menunggu sendirian, sedangkan semua teman-temannya sudah banyak yang pulang.
"Ehh bu guru, iya nih Ayah belum jemput," jawabnya dengan mata sayu, sepertinya ngantuk berat, kegiatan Farel di sekolah cukup melelahkan, Putri jadi merasa bersalah untuk hal itu dan juga sedikit kesal dengan orang tua dari Farel karena telat menjemputnya.
"Ayo, biar bu guru aja yang anter, mau nggak?"
"Hmm, gak apa-apa, biar Farel tunggu saja mungkin masih di jalan."
"Mau nunggu sampai kapan? Ini sudah satu jam lebih dari jam pulang, siapa tau Ayah kamu masih di kantor ngurusin pekerjaan, jadi mau yah," Putri tetap keukeh. Farel menimang-nimang sebentar sebelum mengiyakan tawaran baik Putri.
"Oke deh, Farel juga sudah ngantuk banget," tanpa berlama-lama Farel setuju.
"Bentar ya, Ibu ambil motor dulu di parkiran," Putri bersorak dalam hati, dengan begini dia bisa tau rumah Azka sang pujaan hati yang selama ini nyantol di hatinya, fakta bahwa Azka sudah menikah tak membuat Putri pantang, malah Putri semakin ingin maju karena tau dirinya lebih cantik dan seksi daripada Reyna, istri asli dari Azka.
"Ayo naik!!"
"Yeay, pulang sama bu guru," Farel bersorak heboh seperti mendapat mainan baru, Putri tentu juga senang, mendapat hati Farel sama dengan mendapatkan hati Ayahnya juga kan?
Dalam perjalanan, Farel berceloteh banyak hal, tentang kehidupannya sehari-hari di rumah bersama Ayah dan Bundanya. Mendengar kata Bunda saja sudah membuat telinga Putri panas.
"Mmm, Farel. Bisa gak kamu ceritain bagian Ayah kamu saja, biar Ibu fokus nyetirnya." Farel yang polosnya melebihi author hanya mengiyakan saja tanpa tau maksud yang terkandung dari ucapan Putri yang licik.
"Ayah itu orang yang hebat, gagah, tampan dan bertanggung jawab, Farel sangat bangga dengannya. Ayah dulu pernah kecelakaan gara-gara buru-buru ingin merayakan ulang tahun Farel."
"Oh iya? Kasian banget, berarti Ayah sayang banget ya sama Farel?"
"Sudah jelas dong, permintaan aku aja Ayah turuti walaupun sulit diterima oleh Oma, bahkan mungkin sampai sekarang." Walaupun polos, jangan lupakan Farel itu orangnya peka banget sama keadaan sekitar.
"Farel memangnya minta apa?"
"Farel minta, Ayah nikah sama Bunda Reyna dulu, dan setelah sembuh mereka berdua menikah, Farel saat itu senang sekali sampai nangis." Farel tertawa senang, usai menceritakan kisah hidupnya. Ohh jadi mereka menikah atas dasar permintaan konyol Farel dan itu sama sekali tidak disetujui Mama Azka? Itu berarti mereka tidak saling mencintai, dan aku masih punya kesempatan dong. Kisah yang menarik. Putri menarik sudut bibirnya tipis, ngobrol panjang lebar dengan Farel membuat Putri dapat ilmu yang banyak tentang Azka. Tak terasa mereka sudah tiba di depan gerbang yang masih tertutup, satpam yang berjaga di sana buru-buru membuka gerbang kala melihat anak dari majikannya yang datang.
Putri memasukkan motornya seusai mengucapkan terima kasih. Putri takjub dengan desain rumah mewah nan megah milik Azka.
"Bu guru, ayo masuk dulu. Ayah sama Bunda ada di dalam," Farel meraih jemari Putri mengajaknya masuk. Awalnya Putri menolak, namun Farel memaksa ya sudah, sekalian pantengin rumah ini dari dalam, batin Putri.
"Astaga, sayang. Kamu pulang sama siapa? Maafin Ayah ya karena telat jemput kamu," Azka sedikit kaget karena Farel sudah berlarian ke arahnya pengen digendong, kebiasaan memang, sudah gede masih aja minta gendong.
"Farel pulang sama bu guru, nah itu dia," Farel menunjuk dengan telunjuk mungilnya. Putri yang merasa ditatap tersenyum canggung, secara tatapan Azka tuh kayak ngajak nikah kalo definisi dari Putri.
Azka balas tersenyum lalu menghampiri Putri yang berdiri mematung di sisi sofa.
"Saya mengucapkan banyak terima kasih karena sudah bersedia mengantar Farel, saya minta maaf juga karena sudah merepotkan," ucap Farel seramah mungkin.
"Ahh soal itu, bapak tenang saja, sudah jadi tugas kami sebagai guru yang bertanggung jawab atas semua muridnya," jawab Putri malu-malu kambing.
"Hmm, silahkan duduk, Bi Ela akan membawakan minuman untuk anda."
"Sebenarnya saya sudah harus pulang sekarang."
"Tidak baik menolak, minum saja dulu," Azka tidak menerima penolakan, tapi kalo disuruh nikah sama Putri sudah tentu akan ditolak.
Putri memperhatikan sekitar, mencari keberadaan Reyna yang sedari tadi tidak muncul. Bukan apa-apa sih, hanya saja Putri penasaran bagaimana penampilannya setelah hamil, apakah masih seperti dulu atau malah makin jelek ya, aku penasaran.
Seperti peribahasa 'pucuk di cinta ulam pun tiba', yang ditunggu-tunggu Putri akhirnya datang juga. Wanita dengan perut yang sedikit buncit tampak menuruni tangga.
"Ohh, masih sama ternyata," ucap Putri dengan pelan.
"Sama apanya?" tanya Azka yang tidak sengaja mendengar ucapan Putri yang lebih mirip gumaman.
"Ahh itu, cara minum Farel ternyata masih sama," kehabisan alasan, Putri malah membuat Farel menjadi sasaran mata elang Azka.
"Ohhh begitu." Merasa tidak penting, Azka langsung mengabaikannya tanpa bertanya lagi. Hampir saja ketahuan, dasar mulut susah banget dikontrol.
"Ehh, ada gurunya Farel di sini," Reyna berjalan ke arah Putri sembari menjabat tangannya.
"Bu Reyna makin cantik aja meskipun tengah hamil," ucap Putri memuji padahal dalam hati ia sudah gumoh karena mengeluarkan pujian yang tidak seharusnya. Masih cantikkan aku tentunya.
"Ibu bisa aja, muka kayak topeng pulu-pulu ini dibilang cantik," kekeh Reyna merendah. Nyadar juga ternyata.
Setelah Reyna datang, Azka memutuskan untuk naik ke kamar, sempat ditegur oleh Reyna namun alasan Azka membuat Reyna membiarkan sang suami pergi. Tinggallah mereka berdua di sofa, lanjut ngobrol hal yang tidak berfaedah menurut Putri yang orangnya suka bosan kalo bicara empat mata apalagi dengan Reyna yang sudah ia anggap saingannya.
"Saya pamit undur diri dulu, sudah hampir sore. Duluan ya, bu Reyna. Saya harap bisa ketemu ibu lagi walaupun hanya berpapasan di jalan gak apa-apa yang penting saling sapa." Aku berharap itu tidak akan pernah terjadi, karena menatap wajahnya saja aku sudah muak.
"Kapan-kapan mampirlah lagi, pintu selalu terbuka."
"Iya, terima kasih. Sampaikan salam saya pada Farel dan juga, hmm bapak Azka."
"Tentu saja."