
Sebagai ungkapan maaf yang tulus, Azka memutuskan akhir pekan ini untuk mengajak anak dan istri tercintanya untuk liburan, karena terhitung sudah lama juga mereka tidak refreshing otak selama bekerja. Usul tersebut tentu langsung disetujui oleh Reyna selaku pemeran utama dalam rencana liburan ini, Farel yang kelebih bahagia tidak bisa mengekspresikan kebahagiaannya karena sudah lama sekali tidak menghabiskan waktu bersama keluarga di luar rumah.
Ini khusus keluarga cemara, Wati gak diajak karena bisa mengacaukan suasana, bukan kemauan Azka juga sih tapi Wati yang bilang gak mau ikut karena gak mau mengganggu.
"Ayah, Bunda, lihat! Aku keren kan?" Farel berputar di depan Azka dan Reyna memperlihatkan penampilannya dengan memakai baju baru yang kemarin di belikan oleh Azka di pasar obral, gak deh, bercanda, ya kali orang kaya beli baju di pasar obral, ya jelas di Mall gitu loh...
Farel menaiki sisi ranjang dan melompat ke bawah layaknya superhero, Azka ikutan berakting sebagai orang jahat yang akan dikalahkan oleh Farel.
Reyna tersenyum melihat interaksi Ayah dan anak itu, sangat manis, mengingatkan nya kembali pada mendiang sang Papa, sudah cukup lama Reyna tak merasakan kasih sayang lagi.
Sebelum pergi, tak lupa pamitan pada Wati yang mukanya kusut sejak tadi, kesel banget karena rumah bakalan sepi.
"Kan ada Bi Ela di rumah, Ma. Mama bisa ajak dia main petak umpet, dulu kan Mama suka main permainan itu sama Azka," bujuk rayu Azka agar sang Mama tidak cemberut lagi.
"Ngaco kamu, emangnya Mama terlihat seperti anak kecil ya bagi kamu? Udah sana pergi! Hati-hati di jalan, jangan tabrak tembok tetangga." Azka tersenyum simpul dan untuk sentuhan akhir, Azka mencium pipi Wati sebagai tanda kasih sayang yang tak terbataa untuknya, walaupun Wati tuh agak jahat tapi tetap Mama-nya Azka.
"Ayah, Ayah!! Kita mau kemana?" Farel menjulurkan kepalanya untuk sekedar bertanya.
"Rahasia dong, yang pasti hari ini kita akan mengunjungi banyak tempat yang selama ini ingin Farel kunjungi. Farel pasti akan suka, sayang. Tempat yang Ayah pilih gak akan pernah salah," ujar Azka.
"Ish, Ayah gak seru main rahasia-rahasiaan," Farel berkacak pinggang, mulai kesal dengan Azka.
"Bunda, kita mau kemana?" Tidak mendapat jawaban pasti dari Azka, Farel beralih bertanya pada Reyna.
"Ikut apa kata Ayah saja ya, sayang. Bunda juga sebenarnya gak tau." Wajah Farel makin ditekuk, sementara Azka ingin ngakak karena jawaban sang istri sangat polos, hampir saja ia kehilangan kendali.
Mobil mewah Azka berhenti tepat di depan sebuah taman bermain, tetapi bukan taman bermain biasa, yahh mereka sekarang ada di Dufan atau Dunia Fantasi yang terletak di kawasan Taman Impian Ancol, Jakarta Utara. Dufan ialah taman bermain terbesar yang menyediakan berbagai atraksi modern seperti halilintar, istana boneka, bianglala, hysteria dan lain sebagainya.
"Aku gak pernah tau ada tempat sebagus ini di Jakarta." Azka sontak menoleh. Bagaimana bisa ada orang yang tidak tau Dufan.
"Kamu serius? Tempati ni sudah terkenal khalayak ramai, bagaimana bisa kamu tidak tau?" tanya Azka tak percaya dengan apa yang baru saja ditangkap oleh indra pendengaran nya. Reyna menunduk, tidak ingin mengenang masa kelam itu lagi. Bagaimana ia akan pergi liburan jika orang tuanya saja sibuk dengan pekerjaan, dan sejak mereka meninggal pun Reyna gak sempat menghabiskan waktu untuk liburan bahkan sekedar ke pantai saja dia hanya pergi dua kali, dan sejak itu gak pernah lagi.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Yang terpenting sekarang kita ada di sini dan untuk bersenang-senang." Azka menggandeng tangan Reyna penuh cinta seolah masalah kemarin tidak pernah ada, Farel sudah lebih dulu masuk dan memebeli gulali. Padahal Azka belum membeli tiket masuk, entah bagaimana bisa Farel asal nyelonong masuk dan melambai ke arah mereka sambil memegang gulali.
"Gak boleh Farel, itu terlalu tinggi untuk anak di bawah umur seperti Farel, mending naik itu aja ya," Azka menunjuk komidi putar yang nganggur karena belum cukup penumpang.
"Gak mau, naik itu bikin pusing, maunya itu," Farel merengek sambil mencebikkan bibirnya, hampir saja ia guling-guling di tanah.
Azka melirik Reyna yang mengangguk mengiyakan, dia juga tertarik pengen naik itu. Azka pasrah saja ditarik oleh kedua manusia kesayangannya.
Bianglala bergerak dengan pelan penumpangnya bisa menikmati indahnya ketinggian, apalagi kalo malem pasti lebih seru.
"Ayah, Ayah!! Ayo naik itu," Azka meneguk salivanya saat Farel menunjuk wahana yang paling ia hindari selama ini, yaitu wahana Hysteria. Wahana yang dapat memacu adrenalin, tapi tidak, Azka tidak berani, lihat di TV saja sudah membuat ngeri apalagi dia ikutan naik. Jika dibandingkan dengan wahana Kora-kora sih lebih ekstrim Hysteria.
"Naik Kora-kora aja ya, lebih santai," bujuk Farel harap-harap putranya ini paham, dia mana mungkin menunjukkan kelemahannga di depan Reyna yang planga-plongo melihat perdebatan Azka dan Farel hanya masalah wahana.
"Gak mau naik kora-kora, ohh yang itu aja deh, Ayah." Azka mengusap wajahnya kasar, Farel gak main-main memilih wahana, kali ini sepertinya lebih berbahaya daripada Hysteria atau mungkin sama. Farel berlari menuju wahana Tornado dan berjingkrak heboh memanggil Azka dan Reyna.
"Kamu berani naik wahana itu?" tanya Azka pelan.
"Hmm, kalo belum coba aku belum tau, Mas."
"Tapi kamu lagi hamil, wahana itu ekstrim, Reyna."
"Gak apa-apa, Mas. Soalnya aku juga lagi ngidam naik wahana itu." Reyna terlihat santai, namun tidak untuk Azka yang sulit sekali menelan ludahnya, melihat wahana yang berputar di udara dengan kecepatan maksimal membuat Azka bergidik ngeri, sampai bulu kuduknya berdiri, menyesal sekali rasanya mengajak Farel dan Reyna ke sini, kalo tau begini mending ke pantai saja.
Azka langsung pucat pasi setelah menaiki wahana tornado yang disarankan Farel, tuh anak bahagia sekali lihat Ayahnya mual-mual.
"Ini minum, mas. Aduh, kamu payah sekali. Kalo gak kuat bilang dong dari tadi."
"Kamu nyalahin aku? Kamu sendiri yang gak peka." Reyna mengatupkan bibirnya, di suasana seperti ini seharusnya mereka tidak berdebat jadi Reyna memilih diam saja.
Tempat selanjutnya, mereka menuju SeaWorld Ancol, tempat di mana mereka melihat berbagai jenis biota laut di dalam sebuah aquarium besar. Farel paling suka kalo masalah isi lautan, apalagi lihat ikan dia suka banget.
Mereka bertiga mengambil gambar sepuasnya untuk dijadikan kenang-kenangan.