Married With Duda

Married With Duda
MWD 51 : Hasutan



Hari-hari berjalan seperti biasanya, kejadian saat Reyna menampar Wati seolah sudah terlupakan, dan Wati sendiri terlihat tidak terlalu mempermasalahkan, namun sikapnya tetap sama, dingin dan datar jika bertemu Reyna, bahkan Wati sempat terang-terangan menatap Reyna dengan sinis saat Reyna keluar kamar hanya untuk sarapan dan mengantar Farel ke sekolah, habis itu kembali mengunci diri di kamar.


Dua hari lagi Azka akan balik ke Jakarta, tentu Reyna senanh mendapat kabar bahagia itu, sedikit bebannya hisa berkurang kala mendengar suara sang suami di seberang yang mengabarkan jika dia akan segera pulang.


Azka bahkan tidak memberitahu sang Mama tentang kepulanganannya dan masalah tentang dirinya yang menunda kepulangan seminggu yang lalu, bukan mau kasih surprise sih tapi masih kesal aja dengan kejadian di rumah sakit, anggap saja Azka durhaka, terserah.


Kebahagiaan Reyna terlihat jelas dan ditangkap oleh Bi Ela tengah tersenyum di wastafel sambil cuci piring.


"Aduh, non Reyna kelihatan bahagia sekali, tumben, ada apa nih," ujar Bi Ela seraya mengelap meja makan. Reyna menoleh dan hanya menanggapi wanita paruh baya itu dengan senyuman, manis sekali. Wati yang berdiri di depan lemari pendingin berusaha mengupinh dialog kedua orang yang berada tepat di belakangnya, hanya berjarak lima kaki.


"Gak ada kok Bi," jawab Reyna asal.


"Masa iya sih?" Reyna mengangguk antusias, selesai dengan aksi cuci piring, Reyna melepas apronnya dan bergegas ke kamar.


"Nyonya ngapain berdiri di depan kulkas?" Wati terlonjak, saking seriusnya nguping sampai gak sadar Reyna sudah pergi.


"Ya terserah saya dong, kulkas-kulkas saya kenapa kamu yang sewot," maki Wati kemudian berlalu pergi dengan raut wajah kesal. Bi Ela mengerutkan dahinya bingung.


Kabarnya sekarang, Wati ikut penasaran apa yang membuat Reyna sebahagia itu, biasanya setiap keluarga kamar, matanya selalu bengkak dan merah, tentu Wati tau banget kalo Reyna menghabiskan waktu di kamar untuk menangis, hanya saja gak ada yang negur atau bertanya.


Setelah merapikan kamar, Reyna berinisiatif untuk menjemput Farel dan mengatakan kabar bahagia ini kepadanya. Reyna diantar oleh sopor pribadi yang biasa mengantar Azka ke kantor jika males bawa mobil sendiri. Tak lupa bekal makan siang Reyna bawakan biar bisa dimakan Farel nanti di mobil.


Tidak sampai 15 menit, mobil mulai memasuki pekarangan TK, banyak anak-anak seumuran Farel berlarian menuju orang tua mereka yang datang menjemput. Reyna menatap sekeliling mencari keberadaan jagoannya yang selama ini sudah mengisi hari-harinya selama tidak ada Azka. Hanya Farel yang belum kelihatan batang hidungnya, padahal teman satu kelasnya sudah banyak yang berhambur keluar.


"Cari aja kali ya ke kelasnya, siapa tau masih ada di sana," Reyna berpesan pada pak Ambia, supir pribadi Azka untuk menunggu sebentar. Pintu kelas Farel terbuka lebar yang memudahkan Reyna untuk masuk. Senyum Reyna menghangat kala melihat Farel tengah berbincang dengan Putri, ekspresi nya sangat bahagia.


"Bunda!!" Farel sontak berdiri dan menghampiri Reyna kemudian memeluknya erat. Senyum Putri kian memudar, padahal rencananya hampir berhasil namun ada Reyna yang datang mengganggu. Putri menghela nafas dan menampilkan senyuman paksa untuk menyambut Reyna.


"Terima kasih, bu Putri, karena sudah menjaga Farel," ucap Reyna seraya meraih tangan Putri.


"Tidak usah sungkan, saya hanya ingin lebih dekat dan akrab dengan Farel, begitu juga dengan bapaknya." Putri berucap dalam hati, kalo di depan Reyna mungkin sekarang sudah terjadi aksi jambak-jambakan.


"Ahh lupakan, saya hanya ingin tau karena sudah lama sekali saya tidak melihatnya, bu Reyna. Jangan salah paham," Putri melambaikan tangannya di udara berusaha meyakinkan Reyna yang masih setia dengan tampang bingungnya. Seketika, Reyna langsung tersenyum tanpa membalas ucapan Putri, seraya menarik tangan Farel untuk segera keluar kelas. karena kasian pak Ambia capek nunggu di luar panas-panasan.


Di dalam kelas, Putri menghentakkan kakinya kesal, padahal tinggal satu langkah saja dia sudah berhasil menghasut Farel untuk membenci Reyna, berdasarkan ide dari Wati, berusaha menjelekkan Reyna di depan Farel, tapi sepertinya tidak mempan untuk anak seumurannya.


Reyna memberikan Farel sebuah kotak makan bentuk kartun Doraemon.


"Makan ya sayang, biar nanti sampai rumah kamu langsung tidur siang," ucap Reyna, tangannya bergerak membuka kotak bekal lucu tersebut. Farel hanya menurut sambil mengangguk lucu, tapi ada satu saat di mana dia langsung terdiam dan mulutnya gatal sekali mau cerita apa saja yang diucapkan Putri tadi di kelas. Reyna yang menyadari perubahan raut putranya hanya menatap sekilas.


"Farel, kamu kenapa? Gak mau makan?" Reyna meletakkan bekal untuk Farel di sebelahnya kemudian mengusap surai hitam Farel lembut. Farel mendongak, menatap sang Bunda.


"Sini cerita sama Bunda, tapi kalo gak mau juga gak apa-apa," ungkap Reyna merasa tidak ada sahutan dari Farel.


"Bunda, masa tadi ibu guru bilang sama Farel kalo Bunda itu bodoh dan gak becus jadi orang tua buat Farel." Reyna sontak terdiam mendengarnya, ngapain pula Putri ngomong seperti itu pada Farel, dan apa tujuannya, padahal waktu Reyna lihat mereka tampak ngobrol baik-baik saja.


"Farel gak usah ngada-ada deh, mana mungkin ibu guru ngomong seperti itu, beliau kan baik orangnya," Reyna berusaha mengusir pikiran jahat, tetapi yang namanya anak kecil pasti selalu jujur.


"Farel gak bohong, Bunda. Bukan tadi saja bu guru ngomong seperti itu, tetapi setiap hari. Farel kan jadi risih dan mau marah tetapi karena bu guru sudah baik, jadi Farel cuma nanggepinnya sambil ketawa," jawabnya dengan bibir yang melengkung ke bawah.


"Sudah-sudah, yang penting Bunda gak seperti apa yang ibu guru bilang kan," Reyna mencoba menghibur.


"Terus kata bu guru, yang cocok jadi Bunda Farel cuma dia, katanya begitu," seolah tidak mendengarkan ucapan Reyna, Farel melanjutkan kalimat yang selama ini memenuhi kepalanya akhir-akhir ini. Reyna sudah tidak bisa berkata-kata lagi, Putri sudah kelewat batas, padahal selama ini Reyna selalu menganggapnya keluarga dan senantiasa menyapa dan menhambut jika dia datang ke rumah, tapi apa balasannya, dia hanya ingin menikung dan satu hal yang pasti, Putri bersekongkol dengan mertuanya. Jika tidak, bagaimana mungkin Putri bisa tau kekurangannya jika bukan Wati yang memberitahunya.


Reyna menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi mobil, air mata mulai memenuhi pelupuk matanya, orang yang ia percaya juga sama menghianati, lantas manusia mana yang harus Reyna yakini sebagai teman.


"Bunda, are you okay?" Farel mengusap punggung tangan Reyna, Farel merasa bersalah karena mengeluarkan unek-unek di depan Reyna.


"Iya Farel, Bunda baik-baik saja."


Maafkan kalo ada typo mweheheh😊