Married With Duda

Married With Duda
MWD 35 : Hamil?



Azka datang bersama seorang dokter, entah dokter dari planet mana yang ia bawa tengah-tengah malam begini.


"Sebelah sini, dok," Azka menuntun dokter kemaleman itu menuju kamar Reyna, Azka sejak tadi mendengar Reyna muntah-muntah karena kebetulan kondisi kamarnya tida kedal suara jadi bisa terdengar dengan jelas, Azka tentu khawatir berharap kondisi Reyna bukan karena ulahnya, Azka benar-benar takut menyakiti perasaan orang yang sudah bersarang sempurna di hatinya.


Reyna jelas kaget dengan kedatangan Azka pada jam 3 dini hari dengan membawa dokter, Reyna mengerutkan dahi saat Azka mendekatinya dan mengarahkan pada sang dokter agar memeriksanya.


"I-ini ada apa ya?" tanya Reyna seraya terus memegangi perutnya yang tiba-tiba mual lagi, kepalanya sungguh pusing, Reyna ragu jika harus pergi besok dari rumah ini.


Dokter muda tersebut mengikuti arahan Azka untuk mendekat, dia langsung duduk di samping Reyna di sisi ranjang. Saat ini posisinya Reyna di tengah-tengah diapit oleh Azka dan dokter tadi, Reyna berdehem pelan sebelum akhirnya dia berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya yang padahal belum diisi sejak tadi malam, alhasil dia hanya memuntahkan air, Azka turut serta mengikutinya ke kamar mandi untuk mengurut tengkuk Reyna agar muntahnya cepat selesai dan sesi pemeriksaan bisa segera dilaksanakan.


Tidak ada percakapan sama sekali di antara mereka, hanya saling pandang saja sudah tau apa isi hati masing-masing. Azka merangkul bahu Reyna menuju ranjang dan membaringkannya. Tanpa membantah, Reyna terpaksa mengukuti step by step dari pemeriksaan dokter.


"Sejak kapan mulai mual dan muntah?"


"Dua jam yang lalu."


"Apakah anda juga mengalami pusing, misal kepalanya kayak muter kayak roaller coaster gitu, atau gak hanya sakit biasa?"


"Dua-duanya, dokter. Sejak tadi saya pusing dan nyeri."


Dokter berpikir sejenak, sementara Azka menggigit bibir bawahnya bersiap akan kemungkinan yang terjadi.


"Apa anda sering merasa lelah?"


"Ya, akhir-akhir ini saya lebih cepat lelah dari biasanya, padahal hanya masak doang tapi capeknya luar biasa," penjelasan Reyna sudah cukup bagi dokter untuk mengetahui gejalanya.


"Jadi, gimana dokter? Apa Reyna hanya masuk angin saja?" tanya Azka akhirnya buka suara, yang sejak tadi hanya diam menyimak.


"Ini bukan hanya sekedar masuk angin biasa, tuan Azka. Tetapi istri anda kemasukan benih anda dan sekarang sudau berkembang menjadi janin yang berusia tiga minggu," jelas dokter Ridho dengan wajah sumringah, sudah lama sekali dia tidak memeriksa pasien hamil.


"Apa? Maksud anda gimana, dok?" Azka nge-lag bentar sebelum sadar.


"Istri anda sedang hamil tiga minggu."


"Dok, anda pasti salah prediksi, coba periksa betul-betul agar hasilnya lebih terpercaya, saya tau anda ngantuk pada jam-jam segini tapi periksalah dengan benar." Dokter Ridho mengernyit, baru kali ini ketemu orang yang gak bahagia sama sekali istrinya hamil, malah disuruh periksa ulang.


"Jika tuan Azka tidak percaya dengan hasil pemeriksaan saya, besok-- eh maksud saya nanti kalo udah pagi bisa langsung ke rumah sakit untuk melakukan USG agar anda bisa melihat perkembangan janin istri anda tercinta," merasa diragukan, dokter Ridho sedikit kecewa padahal selama ini hasil pemeriksaan nya selalu benar, spesialis kandungan adalah profesi idamannya sejak dulu, jadi dia selalu bersemangat akan hal itu.


Reyna tak kalah kecewa karena rekasi Azka yang seperti tak terima jika dia hamil, Reyna tidak bisa berharap lebih dengan Azka padahal anaknya sendiri tapi kayak gak mau mengakui.


"Saya akan meresepkan obat untuk membantu mengurangi mual dan sakit kepala, diminun secara rutin biar efeknya cepat bereaksi, tapi jangan minum sekaligus nanti overdosis. Dan saya sarankan untuk jangan terlalu stres dan banyak pikiran karena itu akan mempengaruhi bayi anda. Kalo begitu saya pamit undur diri dulu, mau sambung tidur." Penjelasan panjang lebar dari dokter Ridho membuat Reyna dan Azka sama-sama terdiam. Seketika ruangan jadi canggung setelah kepergian dokter Ridho.


"Ehm maaf, jika saya mengganggu." Azka refleks menoleh begitu juga dengan Reyna, dokter Ridho kembali dengan senyum yang tak dapat ditebak.


"Apa ada masalah? Ada yang tertinggal?" tanya Azka.


Reyna mengusap perutnya yang masih rata, tak menyangka buah cintanya bersama Azka sudah mulai tumbuh, tapi kenyataan menepis rasa bahagianya seketika, ekspresi Azka saat tau dia hamil tadi membuatnya sedih.


Azka kembali menyusul Reyna di kamarnya, perempuan itu tertidur dengan posisi menyamping membelakanginya. Jauh dalam lubuk hati, berita kehamilan Reyna adalah hal terindah baginya namun lagi-lagi kembali pada fakta bahwa mereka berdua sudah bercerai, Azka takut semua ini akan membuat Reyna menanggung sendiri beban akibat perbuatannya.


Azka menutup pintu perlahan agar tidak membangunkan Reyna, Azka bermaksud membiarkan Reyna beristirahat, masalah ini bisa dibicarakan nanti.


.


.


Meski agak pusing dan perut mual gak karuan, Reyna tetap memaksa diri untuk pergi hari ini juga, koper dan tas sudah siap tinggal diangkut keluar.


"Tinggallah lebih lama lagi di sini," Reyna menoleh dan mendapati Azka berdiri di ambang pintu tengah menatap ke arahnya.


"Tidak, terima kasih. Saya akan pergi sekarang saja."


"Apa aku akan membiarkan kamu pergi dalam kondisi seperti ini? Kembali ke ranjang dan beristirahatlah, aku ragu kamu bisa jaga diri di sana terlebih dalam keadaan kamu mengandung anakku." Reyna menarik sudut bibirnya tipis, setidaknya dia masih mengakui anaknya, pikir Reyna.


"Sampai kapan?"


"Apanya?"


"Sampai kapan saya akan tinggal di sini?"


"Mungkin sampai bayinya lahir." Reyna menautkan alisnya bingung.


"Kenapa? Saya bisa mengurusnya sendiri, tidak apa-apa jika anda tidak mau tanggung jawab." Penuturan Reyna mengundang emosi Azka.


"Apa? Kamu bilang aku tidak bertanggung jawab? Hey, berani sekali kamu!! Aku sudah membebaskanmu untuk tinggal di sini lebih lama, apa itu kurang?"


"Sama sekali tidak kurang. Tapi maaf, saya tidak membutuhkan nya, tuan Azka. Alhamdulillah saya sudah punya tempat untuk kembali."


"Apa kamu bisa menjamin bayiku akan selamat bersamamu?"


"100% yakin. Anda tidak perlu risau, saya akan menjaganya dengan sepenuh hati, bagaimanapun, bayi ini juga anakku." Reyna memandang perutnya lalu beralih menatap Azka.


"Kamu memang keras kepala, aku bilang berbaring dan istirahatlah," tanpa pikir panjang Azka mengangkat tubuh Reyna ala bridal style menuju tempat tidur.


"Aku sendiri yang akan melayanimu, panggil aku jika kamu butuh sesuatu." Ucapan Azka tak terbantahkan, Reyna meringkuk di bawah selimut dengan perasaan takut, raut wajah Azka tampak kesal membuatnya tak berani lagi membantah.


Azka beranjak keluar lalu menutup pintu dengan keras sehingga membuat kusen pintu bergetar.