
Hari yang ditunggu Reyna tiba dengan cepat, Azka memasuki rumah dengan raut wajah bahagia, orang pertama yang dia cari tentu saja istri tercinta beserta putra kesayangannya, eits jangan lupakan orok bayi yang belum lahir, Azka tentu juga merindukannya. Kondisi rumah juga lumayan sepi, maklum udah siang jadi penghuni rumah memutuskan untuk istirahat di kamar, kecuali Reyna yang memang sedari pagi tetap stay di depan televisi sambil sesekali melirik ke arah pintu.
Reyna begitu bahagia saat melihat batang hidung suaminya muncul, Reyna tidak bisa menyembunyikan kegembiraan dalam dirinya, dipeluknya Azka dengan erat sampai perutnya kegencet. Andai janinnya bisa ngomong, mungkin sudah ngomel sambil tendang dinding perut Reyna, tapi untung saja oroknya baik jadi walaupun kegencet truk pun gak akan protes.
"Farel mana?" tanya Azka sembari mengusap lembut perut buncit Reyna yang kian membesar.
"Di atas, lagi tidur siang, padahal katanya mau nunggu kamu, Mas. Ehh tau-taunya udah ngosok, ya sudah aku gendong ke kamar, kasian tidur di sofa gak enak," jelas Reyna. Azka mengangguk kemudian menarik tangan Reyna untuk duduk di sofa sekedar melepas lelah sambil memandangi wajah sang istri biar lelahnya cepat berakhir.
"Azka, kamu kapan pulang?" Wati berteriak cukup keras sampai suaranya menggelegar, maklum gak pernah ketemu satu minggu lebih. Azka tersenyum simpul kemudian kembali melirik Reyna, tanggapan Reyna begitu lembut, bumil itu mengangguk pelan sambil terus mengunggingkan senyum, seolah memberi isyarat pada Azka untuk menghampiri sang Mama karena bagaimanapun juga Wati adalah seorang Mama yang membutuhkan kasih sayang dari anak di umurnya yang renta, begitu juga dengan Azka, pasti ada kalanya juga dia membutuhkan Mamanya.
Walaupun kesal, Azka berdiri dan menghampiri yang lebih tua kemudian memeluknya, menyalurkan rasa rindu yang sudah lama tertunda, jujur Azka juga rindu pada sosok seorang Mama, tetapi sikapnya pada Reyna yang membuatnya terpaksa harus sedikit menghindar.
"Kamu kok kurusan, sayang? Jarang makan ya di sana? Aduh, kamu suka banget bikin Mama khawatir," Wati menangkup pipi Azka kemudian memutar tubuh tinggi itu untuk melihat lebih jelas keadaan tubuh sang Putra.
"Azka gak apa-apa kok, Ma. Di sana, Azka makan dengan teratur, mungkin efek sering begadang dan banyak pikiran, makanya jadi kurus," jelas Azka seraya mengusap punggung tangan Wati yang sedikit keriput.
Reyna menyaksikan pemandangan di depannya tanpa sengaja tersenyum damai, interaksi hangat antara keduanya kini kembali lagi setelah sekian lama perang dingin walaupun hanya Azka yang mengibarkan bendera perang. Reyna tiba-tiba teringat pada orang tuanya yang sudah tiada, pengen banget rasanya merasakan kasih sayang dari mereka, sudah sangat lama Reyna merasakan pahitnya hidup sebatang kara, tetapi takdir baik selalu menyertainya, kini ada Azka dan Farel yang setia menemani dan menghibur hari-harinya, walau sebelumnya telah terjadi cekcok antara mereka berdua dan sekarang malah kehadirannya tidak diterima oleh Wati. Reyna mengelus dada, menghadapi pahitnya hidup memang harus sabar.
"Sayang, kok ngelamun?" pertanyaan Azka membuat Reyna mengerjap lucu dan menatap Wati serta Azka secara bergantian, tiba-tiba saja mereka berdua sudah ada di depannya.
"Kamu baik-baik aja kan?" tatapan Azka penuh selidik.
"Iya, aku gak apa-apa. Ya sudah, akan ku siapkan air hangat untuk kamu, Mas." Reyna membawa tas kerja dan jas milik Azka menuju lantai atas, memberikan ruang untuk ibu dan anak itu menyalurkan rasa rindu mereka satu sama lain.
Saat akan membuka pintu kamar, Farel sudah lebih dulu keluar dengan mata sayu khas bangun tidur, seraya terus mengucek matanya menghampiri Reyna.
"Ehh anak Bunda sudah bangun, sana temuin Ayah di bawah, kayaknya Ayah bawa hadiah deh untuk Farel," ucap Reyna antusias, karena tadi Azka menenteng paperbag lumayan besar. Farel seperti tidak bersemangat dan hanya menyahut dengan deheman pelan sambil terus memeluk kaki Reyna.
Azka keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya, Reyna sudah selesai menyiapkan baju tidur di atas ranjang. Reyna duduk di meja rias, memandangi pantulan dirinya di cermin, ia baru saja habis pakai skincare, rutinitas malam. Reyna juga terpaksa melakukan ini karena Azka yang maksa, katanya biar kulit Reyna semakin terawat dan mulus, padahal pake sabun juga sudah mulus kok, begitu jawaban Reyna jika disuruh Azka buat pakai berbagai macam skincare merek mahal.
Dari belakang, Azka memeluk leher Reyna dan menaruh dagunya pada bahu sempit Reyna.
"Aku kangen banget sama kamu," Azka mencium leher Reyna, karena gemas, Azka menggigitnya sehingga Reyna menjerit karena kaget.
"Mas, sakit," Reyna mengusap bekas gigitan Azka.
"Siapa suruh wangi, mana bau jeruk lagi, kan jadi pengen makan," jawab Azka santai, Reyna memanyunkan bibirnya kesal sehingga mengundang nafsu Azka untuk menciumnya.
"Jangan manyun kayak gitu kalo gak mau bibir kamu bengkak nanti," ancam Azka menahan gejolak yang saat ini bangkit seketika.
"Bodo amat," Reyna malah semakin memajukan bibirnya, menantang Azka yang matanya sudah ketutup sama nafsu. Dengan cepat, ia menarik Reyna untuk berdiri dan menggendongnya menuju ranjang. Reyna sendiri terkesiap dengan tindakan brutal namun masih pelan karena Azka juga sadar masih ada dede bayi dalam perutnya yang perlu dijaga.
"Kamu mau ngapain, Mas?" Reyna melipat tangan di depan dada untuk berjaga-jaga jika Azka melakukan aksinya.
"Tenang sayang, aku akan main dengan perlahan. Sudah lumayan lama aku menahannya, lagipula gak ada salahnya kan menjenguk bayi kita di dalam," seringai Azka membuat bulu kuduk Reyna berdiri, tangan kekarnya mulai mengusap lembut bibir ranum Reyna kemudian turun ke leher dan terakhir ke paha mulus istrinya, Reyna menggigit bibirnya kuat, tak kuasa menahan ******* yang terus memaksa keluar.
Azka menarik sudut bibirnya melihat reaksi Reyna yang terlihat lucu bagi nya, dengan sengaja ia memancing agar Reyna mendesah seperti keinginannya. Azka menarik handuk yang sejak tadi menempel pada tubuh kekarnya, menampakkan kejantanannya, Reyna memalingkan wajahnya, padahal sudah pernah lihat, tapi tetap saja malu. Reyna akui, Azka memang jago kalo masalah olahraga malam.
Satu persatu kain yang membaluti tubuh Reyna, Azka buka dan membuangnya ke sembarang arah. Saat ini, Reyna hanya bisa pasrah dengan kelakuan Azka, mau nolak juga ntar dapat dosa, karena memang sudah kewajibannya. Azka tersenyum bangga karena Reyna tidak memberontak, gimana mau berontak, Azka mengungkunya dengan sangat kuat, seolah tubuhnya jadi benteng.
Dan.....Akhirnya Reyna dan Azka menikmati malam yang panjang, berdua, di dalam kamar, ditemani sinar rembulan yang mengintip malu-malu dari balik awan, menyaksikan kegiatan panas mereka hingga pajar menyingsing, nggak deng, bercanda, yakali sampai pagi, pingsan lah si Reyna.