
Hattala kembali merasa muda saat kakinya menapak di lantai mansion mewah nan megah miliknya, sekelebat bayangan masa lalu tentang bagaimana usaha Hattala untuk bisa jadi sebesar ini sekarang, tidak sia-sia pengorbanan dan kerja keras yang Hattala lakukan sejak masih umur 18 tahun. Rela mengorbankan masa remajanya untuk mencoba berbisnis, mulai dari awal pekerjaan Hattala yang hanya seorang tukang sapu di salah satu perusahaan yang kini dipimpin oleh Azka, cucu kebanggaannya.
Hattala menggelengkan kepalanya, mengingat masa lalu sama saja akan membuatnya sedih. Kenangan biarlah simpan dalam hati tidak untuk diungkit lagi.
Para maid menunduk hormat karena tuan mereka sudah kembali setelah beberapa tahun lamanya, jangan khawatir soal mansion setiap hari dibersihkan oleh maid yang dipekerjakan oleh Hattala, tidak boleh ada debu sedikitpun yang menempel pada barang-barang yang menurut Hattala berharga. Sekitar 15 maid berbaris di kedua sisi menyambut kepulangan Hattala.
Dengan langkah pelan namun pasti, Hattala menuju lift khusus dirinya, tidak boleh ada yang memakai lift kecuali Hattala sendiri, jadi untuk pihak bawah diharuskan menggunakan tangga jika hendak bersih-bersih ke lantai atas.
Walaupun di mansion, Hattala tetap punya seorang asisten yang terpercaya, yang selalu mengikutinya kemanapun Hattala pergi, kecuali ke kamar mandi dan ketika tidur, karena gak mungkin kan asisten Hattala satu ranjang dengan tuan-nya, No fake fake dah pokoknya. Semua serba komplit, gak ada kurangnya, ya kecuali teman hidup. Hattala tidak berniat nikah lagi wong udah jadi buyut gini siapa yang mau nerima, banyak sih tapi pasti cuma ngincar kekayaan Hattala doang nggak tulus kalo kayak gitu. Jadi, pilihan yang tepat adalah menyendiri, menduda sampai mati. Maaf, Hattala gak butuh perempuan matre.
Setia itu mahal, kalo gak setia gak usah sok berkomitmen - Hattala.
.
"Mas, kamu pernah ke mansion kakek?" Reyna tiba-tiba sudah duduk di samping Azka yang masih fokus dengan layar monitornya, entah sejak kapan Reyna ada di situ yang jelas Azka tidak memperhatikan.
"Astaga, sayang. Datang itu pake salam dulu kek atau apa lah," Azka melirik Reyna sekilas, wajanya cemberut. Reyna cengengesan, menggaruk pipinya canggung.
"Kenapa nanya itu?"
"Ya mau tanya aja sih, soalnya kemarin kakek cerita kalo mansion-nya tuh gede banget, dindingnya dilapisi emas murni dan lantainya dibuat dari berlian, bahkan WC-nya juga dari emas," jelas Reyna dengan nada antusias serta kagum, belum pernah Reyna mendengar tentang hal ini jadi wajar dia kagum plus penasaran. Apalagi semua yang dijelaskan oleh Hattala Reyna anggap cuma ada di dunia dongeng atau nggak ya di dunia mimpi, Reyna sering tuh mimpi punya rumah berdinding emas persis kayak yang Hattala ceritakan kepadanya, Reyna kan jadi pengen ke mansion kakek untuk memastikan.
Azka tertegun, mencerna setiap perkataan Reyna yang terdengar seperti orang nge-rap, tapi tenang saja Azka dapat menangkap maksud Reyna. Dalam beberapa detik, Azka tertawa ngakak sambil memegangi perutnya, Reyna yang duduk di sampingnya mengerutkan dahi bingung, apa ada yang salah dengan ucapanku??
Sudah cukup puas tertawa, Azka menyeka air matanya, cerita Reyna membuatnya menangis, bukan terharu tapi terhura..
"Percaya aja kamu sama kakek, mana ada dinding dilapisi emas dan lantainya dari berlian, yang ada perampok bakal gerogoti mansion kakek untuk dijual emas-nya," jawab Azka hendak kembali tertawa membayangkan mansion Hattala hanya sisa sofa dan meja makan. Reyna berfikir sebentar, jadi dia sudah termakan omongan Hattala, padahal Reyna udah percaya banget, sampai pas Hattala cerita Reyna hampir pingsan dengernya saking kagum, dan setelah tau fakta yang sebenarnya Reyna malah jadi makin ingin pingsan, tetapi dengan gaya kayang.
"Besok pagi aku bawa kamu ke mansion kakek, mumpung aku free gak ada meeting. Sekalian liburan juga, kamu mau tau kan rupa mansion kakek yang katanya berlapis emas dan berlian itu," ucap Azka menyindir Reyna. Antara senang dan kesal Reyna menanggapi ucapan Azka.
.
Bukan hari minggu atau pun holiday, keluarga Azka sepakat untuk meluncur ke mansion Hattala, tenang saja sudah dapat izin kok dari si pemiliknya, malah Hattala seneng banget Azka mau berkunjung setelah sekian lama, padahal dulu Azka tuh paling males kalo diajak sama mendiang Papa, katanya gak mau ketemu sama anjing Buldog penjaga mansion kakek. Hattala memang pelihara anjing buat jaga-jaga, tapi sekarang sudah ia jual karena berisik tiap malem ditambah tetangga juga agak keganggu sama kehadiran tuh anjing satu. Orang lewat depan gerbang aja langsung digonggongin, gimana gak kaget para pejalan kaki yang lewat, padahal dibatasi gerbang tinggi tapi tetap saja mereka pada takut jika anjing itu lepas kendali dan mengejar mereka.
Lokasinya sedikit jauh dari rumah Azka, membutuhkan sekitar satu jam perjalanan, hal itu sama sekali tidak membuat mereka bosan, bahkan mereka menikmati setiap momen di dalam mobil. Azarin sama Farel duduk di kursi belakang sambil bermain me-ji-ku-hi-bi-ni-u, meskipun Azarin tidak paham tapi tetap ngikut aja yang penting Abang-nya seneng dan gak bosan melihat kebucinan orang tua mereka di depan.
Singkat cerita, mobil Azka sudah tiba di depan gerbang menjulang tinggi warna emas. Dari sini Reyna bisa menyimpulkan kalo ucapan Hattala terbukti benar, Reyna melirik Azka yang santai seolah tidak terjadi sesuatu. Dua orang dengan jas dan kacamata hitam membukakan gerbang, menyambut kedatangan Azka dan keluarga. Oh iya, Wati gak mau ikut karena... ya gak mau ikut lah intinya.
Reyna tertegun saat melihat bangunan mansion dengan empat lantai seluruhnya berwarna emas. Tebak, siapa kali ini yang berbohong. Oke, ingatkan Reyna untuk minta penjelasan Azka setelahnya.
Pintu setinggi 10 kaki terbuka lebar, menampilkan Hattala dengan tangan dilipat di belakang, berjalan menghampiri mereka ber-empat. Reyna tak menyadari karena sibuk memandangi dinding mansion yang memang berlapis emas, hampir keseluruhan.
"Selamat datang. Kakek dari tadi menunggu kehadiran kalian," ucap Hattala seraya menggendong Azarin yang sudah mendesak pengen di gendong. Reyna tersenyum ramah begitu juga Azka.
Reyna menoleh ke arah Azka yang terlihat biasa saja.
"Apa?" tanya Azka bingung, karena sejak tadi dia merasakan hawa mistis saat ditatap Reyna. Tak menggubris ucapan Azka, Reyna nemilih ngekor di belakang Hattala, mengabaikan Azka yang kebingungan. Maklum sudah tua jadi sedikit lupa dengan percakapan mereka kemarin.
Kini Reyna beralih menatap lantai mansion yang ternyata memang benar terbuat dari berlian, sumpah demi saturnus, Reyna bak bermimpi di atas awan saat memasuki mansion Hattala. Mulutnya sedari tadi terus menganga karena kagum.