Married With Duda

Married With Duda
MWD 68 : Fenomena Langka



Azka merasakan suasana tegang di sekitar rumah ini, duduk berdampingan dengan Reyna dan Hattala di seberang tepat di hadapan mereka tampak menatap tajam ke arah Reyna yang sedari tadi menunduk takut, takut jika kakek tua ini tidak menyukainya sama seperti yang dilakukan Wati kepadanya. Azka menghela nafas jengah, sampai kapan mereka akan bertahan di suasana hening begini, tanpa percakapan dan tanpa obrolan. Azka hendak buka suara, tetapi keduluan oleh sang kakek.


"Ini yang kau sebut istri barumu itu?" Hattala tiba-tiba membuat Azka mengangguk mantap tanpa ragu, entah menurut sang kakek jika pilihannya salah Azka tidak peduli, yang namanya jodoh tidak ada yang tau. Hattala berdehem pelam lalu kembali menatap Reyna, yang ditatap langsung menunduk lagi, tidak berani bertemu tatap dengan Hattala.


Hattala membuang muka, kemudian berdiri dari sofa, sontak keduanya bingung dan saling pandang seolah menanyakan ada apa.


"Azka, antara kakek pulang," pintanya hendak berlalu.


"Kenapa buru-buru, Mama masih siepin makan siang untuk kita," ujar Azka, padahal dalam hati udah bahagia banget Hattala mau bertolak balik.


"Kau mau kakek keracunan gara-gara makan masakan dia? Kamu bukannya tau gimana rasa makanan yang dibuat olehnya?" Hattala berdecih, membayangkannya saja dia sudah ngeri, entah diracuni apa putranya dulu hingga mau menikah dengan Wati yang notabennya gila harta dan angkuh terhadap kalangan yang tidak mampu, yah setidaknya sikap Wati ke Reyna sudah membuktikan bagaimana sombong nya wanita itu.


"Tapi setidaknya hargai Mama, kakek. Beliau pasti sudah capek berkutat di dapur untuk memasak makan siang spesial buat Kakek," jelas Azka. Hattala merotasikan bola matanya lalu kembali duduk, sekarang kakinya ia naikkan di atas meja, Azka mau protes tapi tatapan Hattala langsung mengurungkan niatnya.


"Sayang, kamu balik ke kamar saja. Kasihan Azarin tidur sendirian," ucap Azka sembari menoleh ke arah Reyna.


"Hey-hey, siapa bilang dia boleh pergi, kakek belum selesai menilai," sahut Hattala di sela tidurnya.


Reyna melirik Azka penuh permohonan, jujur saja Reyna tidak betah berada di posisi seperti ini.


Azka menggeleng pelan seolah mengisyaratkan untuk tidak mematuhi ucapan sang kakek, karena Azka tau Hattala cuma iseng saja, dia memang suka menakuti orang yang baru ia temui.


Reyna beranjak berdiri berusaha mengabaikan tatapan tajam penuh intimidasi dari Hattala, Reyna membungkuk kecil lalu berjalan pelan menuju tangga. Kedatangan Wati mampu mengusir ketegangan yang ada, wanita dengan apron di tubuhnya baru saja keluar dari dapur.


"Makanan sudah siap," ucap Wati diiringi senyuman manis ala-ala iklan pepsodent. Hattala melirik tanpa minat dan kembali memejamkan matanya. Wati mengerutkan dahi, bukannya Hattala sendiri yabg mengeluh lapar tadi dan sekaranh sudah siap dia malah tidur, sia-sia saja perjuangan Wati berperang dengan alat dapur yang Wati saja belum hafal apa namanya.


.


Sudah yang keberapa kalinya Hattala memuntahkan makanan yang dimasak oleh Wati karena rasanya yang tak pas di lidah, Wati menunduk dengan raut bersalah sekaligus kecewa. Azka juga sedikit tidak suka dengan perangai sang kakek yang tak pernah mernghargai kerja keras seseorang yang bahkan demi dirinya sendiri, Hattala termasuk orang yang kurang peduli.


Mengusap wajahnya kasar, Azka menggebrak meja membuat Wati sedikit kaget sedangkan Hattala bersikap acuh sambil memainkan makanan di piringnya bak main masak-masakan sampai tuh makanan gak berbentuk.


"Kakek kalo gak lapar gak usah minta makan, mending dari tadi pesan saja daripada buang-buang begini, mubazir, kakek," ucap Azka menekankan setiap kalimatnya. Hattala menatap Azka tidak peduli, tangannya mendorong piring di hadapannya ke arah Azka.


"Sudah Azka, kamu pesankan saja untuk kakekmu itu, nanti ini semua biar Mama yang beresin," ucap Wati yang mampu memecah ketegangan dan rasa amarah pada diri Azka. Tangan kekarnya mengusap bahu yang lebih tua lalu mengangguk menyusul Hattala setelah selesai dengan pesan-memesan makanan.


Azka melirik jam tangannya, sudah pukul 1 siang. Sial, dia hampir lupa dengan Farel yang harusnya pulang jam 12, buru-buru ia menyambar kunci mobil di atas meja kemudian berlari menuju pintu.


"Kakek ikut, sudah lama kakek tidak ketemu sama cucu kesayangan," Hattala tersenyum senang, membayangkan rupa cucunya sekarang apalagi mendapat kabar Farel sudah naik kelas 3 dan selalu mendapat juara kelas di sekolahnya.


Azka belum menjawab, Hattala sudah duluan berdiri di samping mobil Azka, tatapan matanya seakan memaksa Azka untuk cepat melangkah karena Farel tidak bisa menunggu lama lagi.


.


"Ma, sini Reyna bantu," Wati dikejutkan oleh Reyna yang muncul tiba-tiba, Wati refleks mengusap dada pelan.


"Bisa tidak kalo dateng itu pake suara dikit, jangan asal ngerocos," ketus Wati hendak melempar sendok ke arah Reyna, sedangkan Reyna terkekeh pelan meski sedikit ngeri jika wajahnya kena sendok.


"Maaf, tadi aku lihat Mama kayak sedih gitu, jadi gak berani ganggu, tapi niat Reyna baik kok mau bantu. Mama istirahat aja, biar aku yang selesaikan sisanya," Reyna hendak mengambil alih piring serta mangkok yang sudah Wati susun jadi satu untuk di angkat ke wastafel.


Bukannya membantah seperti biasa yang Wati lakukan, dia malah memberikan ruang untuk Reyna mengambil alih tugasnya. Tetapi, tanpa sengaja pendengarannya mendengar suara tangis dari arah ruang tamu, Reyan yang juga sama menyadari hal itu seidkit panik, cuciannya saja belum sepenuhnya selesai.


"Emm, Ma. Aku lanjutkan nanti, mau tenangin Az--"


"Sudah, biar aku saja. Kamu selesaikan saja itu," Wati melepas sarung tangan khusus cuci piring lalu mengelap tangan dengan kain bersih kemudian menuju ruang tengah di mana Azarin berada. Reyna masih diam mematung di tempat, ini seriusan mertuanya mau tenangi Azarin setelah sekian lama dia tidak pernah mau, bahkan untuk memandang Azarin saja Wati tidak sudi.


"Cubit aku jika ini mimpi," ucap Reyna penuh binar sampai tidak sadar air wastafel belum dia matikan.


Samar-samar Reyna mendengar tangisan Azarin mulai mereda dan digantikan oleh tawa cekikikan dari putrinya itu, karena penasarang Reyna segera menghentikan kegiatan cuci piringnya untuk sekedar mengintip apa yang tengah terjadi.


Hati Reyna langsung menghangat melihat sang mertua bermain bareng Azarin dengan senyum lebar yang belum pernah Reyna lihat selama ini. Azarin juga tampak langsung akrab dengan Wati.


Reyna berharap jika hal ini akan berlanjut sampai selamanya, yah Reyna butuh itu.