Married With Duda

Married With Duda
bab 9



Cara menghempaskan tangan kanan yang menggenggam tangannya lantaran sangat kesal dan kecewa lagi-lagi laki-laki itu tidak mengungkapkan cintanya pada dirinya padahal sudah sangat jelas sekali Jika Adnan dari tadi itu tengah cemburu saat menggoda merayu dan mendekatinya.


Tak ada inisiatif untuk menembaknya padahal sudah disindir oleh Sinta tetapi masih saja laki-laki itu seakan tidak memiliki dosa sama sekali menggenggam tangannya tanpa adanya hubungan apapun di antara mereka berdua.


Darah tidak ingin dirinya dianggap wanita murahan lantaran mau-maunya di pegang dipeluk bahkan di berlakukan seakan dirinya adalah kekasih laki-laki ini tapi nyatanya mereka tidak memiliki ikatan apapun Zahra ingin kepastian Zahra ingin status yang jelas.


" Zahra kamu kenapa?" Tanya Adnan dia melihat tangannya yang dihempaskan Zahra tadi.


" Nggak papa oh ya aku pulang naik taksi duluan ya." Sebisa mungkin Zahra menahan air matanya dia benar-benar kecewa lantaran Adnan sama sekali tidak peka kemudian dia berlari menuju taksi yang terparkir di pinggir jalan depan mall.


" Zahra tunggu, Zahra." Akan mencoba mengejar Zahra tetapi gadis itu sudah naik ke dalam mobil kemudian Adnan mengetok pintu kaca pintu mobil tersebut.


" Cara buka pintunya sebenarnya kamu ini kenapa kalau kamu mau pulang ayo aku antar," ucap Adnan dia menggedor-gedor pintu kaca mobil taksi tersebut.


" Cepet jalan Pak," kata Zahra kepada sang supir dia mengusap air matanya Zara tidak ingin melihat wajah Adnan lagi pandangan matanya lurus ke depan tidak mempedulikan bahwa Adnan saat ini tengah pintu kaca mobil taksi tersebut.


" Cepet Pak jalan aja dulu nanti saya kasih tahu ke mana," lanjut Zahra dengan nada sedikit tinggi lantaran Adnan terus saja menggedor-gedor pintu air mata Zahra sudah mengalir deras di pipi ia tidak tahan lagi menahan tangis.


Berharap jika Adnan adalah laki-laki terakhir dalam hidupnya dan menjadi imam nya kelak, dia sudah kembali mempercayai cinta Sudah mau menerima laki-laki itu apa adanya. Tapi apa yang ia dapatkan malah ketidakpastian status yang tidak jelas walaupun sebenarnya ia tahu jika Adnan memiliki rasa pada dirinya, ada pepatah mengatakan cinta itu tak perlu diungkapkan tetapi sebagai wanita ia ingin mendengar ucapan cinta dan memperjelas status mereka sekarang ini.


Zahra tidak menginginkan apapun Zara hanya ingin dicintai dan mencintai dan jika memang Adnan mencintainya seharusnya laki-laki itu langsung mengungkapkan isi hatinya dan memperjelas status mereka tidak mengambang seperti putih abu-abu dan tidak digantung statusnya entah kekasih atau teman Zahra tidak tahu yang jelas mereka belum menjalani ikatan apapun selain teman akrab yang mesra.


Mobil taksi itu melaju dan meninggalkan Adnan yang sedari tadi mencoba untuk membuka pintu mobil taksi tersebut. Adnan mengusap wajahnya kasar menjambak rambutnya lantaran Zahra pergi meninggalkan dirinya kemudian Adnan merogoh kantong dia mencoba untuk menelpon Zahra. Tetapi panggilannya ditolak Adnan kembali mencoba menelepon Zahra lagi, dan lagi-lagi panggilan teleponnya malah direject oleh gadis.


" Zahra aku mohon angkat please, dengerin dulu penjelasan aku," kata Adnan dia mengirim pesan suara.


" Adnan di mana Zahra?"


Adnan terkejut melihat Sinta dan juga Aryan sudah berada di dekatnya, set dari tadi dirinya hanya sibuk mencoba untuk terus menelepon Zahra tetapi tidak bisa telepon direject pesan suara tidak dibalas bahkan dibaca pun juga tidak. Adnan menghela nafasnya berat.


" Zahra sudah pulang," ucapnya dengan lirih.


" Pulang? Kok bisa sih, pulang sama siapa?" Tanya Sinta dia bingung kenapa Zahra tiba-tiba pulang seorang diri kemudian dia menatap curiga laki-laki di hadapannya ini.


" Apa yang sudah kau lakukan padanya?" Tanya Arian dengan nada dingin dia menatap tajam Adnan bahkan sampai menarik kerah bajunya.


" Apa kamu membuatnya menangis?" Tanya Aryan kembali dia sudah tahu mengapa gadis itu pulang lebih dulu.


Adnan bungkam dia tidak melawan Apa yang dilakukan Aryan saat ini dia tidak bisa menjawab pertanyaan itu.


Sinta menggelengkan kepalanya dia yakin jika Adnan masih belum juga mengungkapkan cintanya kepada Zahra sehingga sahabatnya itu pergi meninggalkan laki-laki pengecut ini. Ternyata semua rencana yang ia siapkan sia-sia laki-laki ini benar-benar tidak peka sama sekali Entah apa maunya apa tujuannya mendekati Zahra, Sinta pun merasa sangat kecewa kepada Adnan.


" Akan kuhabisi kau jika kau sampai membuatnya menangis." Harian melepaskan cengkraman tangannya di baju Adnan. Dia menatap sinis laki-laki ini.


" Dasar pengecut, laki-laki bodoh. Pergi saja kau ke neraka, dan jangan pernah mendekati Zahra lagi!" Kini Sinta memaki Adnan.


Cinta menarik lengan kekasihnya dan pergi meninggalkan Adnan untuk apa dia harus membuang-buang tenaga hanya untuk memaki laki-laki yang tidak peka ini tidak memiliki perasaan sama sekali. Mungkin karena memang tidak mencintai Zahra sehingga dia tidak bisa memaksakan yang bukan kehendaknya.


Sinta dan Arkan sudah masuk ke mobil mereka yakin jika saat ini Zahra begitu sangat sedih bukan cinta ditolak melainkan cinta sepihak tentu mereka sangat kasihan sekali sudah pernah gagal dalam bercinta dan di saat sudah mulai kembali mempercayai cinta itu malah sia-sia.


" Aku benar-benar tidak menyangka ternyata Adnan laki-laki yang begitu bodoh, jika tahu begini seharusnya sedari dulu mereka tidak usah saling kenal," kesel Sinta saat mereka sudah berada di dalam mobil.


" Mungkin mereka memang tidak berjodoh, ayo kita pulang sebaiknya kamu hibur sahabat kamu itu, kasihan dia aku yakin saat ini hatinya pasti sangat sedih."


Sementara Adnan dia terduduk lemas sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan sebenarnya Adnan adalah laki-laki yang begitu peka dia tahu dan dia mengerti jika Zahra menginginkan ungkapan cinta darinya Dan sindiran-sindiran dari cinta dia juga pakai sekali.


Namun Adnan belum juga mengungkapkan cintanya lantaran dia memiliki rencana lain, rencana yang sudah ia buat 2 bulan yang lalu. Bahkan Adnan sudah menyiapkan suatu kejutan yaitu sebuah cincin dan rumah untuk dijadikan maharnya nanti.


Adnan berencana untuk langsung melamar Zahra tepat saat kedua orang tua Zahra sudah kembali ke kota ini admin tidak mengungkapkan cintanya lebih dulu lantaran dia tidak ingin berpacaran lagi dan maunya langsung melamar kemudian langsung menikah lalu barulah mereka pacaran setelah pernikahan itulah yang Adnan rencanakan.


" Maafkan aku Zahra bukannya aku tidak mau kita menjalani ikatan kasih yang mereka pacaran karena aku ingin langsung lebih serius lagi yaitu pernikahan."


" Maafkan aku karena terlalu lama menyiapkan diri tapi aku janji aku tidak akan menyerah tunggu aku Zahra aku akan meminang mu, sampai saatnya tiba."