Married With Duda

Married With Duda
MWD 75 : Meet



Azka menghela nafas kasar, melonggarkan dasinya kemudian mendongak menatap langit-langit ruangan.


Tumpukan kertas-kertas di atas meja tampak berserakan, sepertinya hal itulah yang membuat CEO satu ini lelah, baru kali ini menyeleksi berkas sebanyak itu.


"Ini gimana ceritanya, masa iya aku harus ke luar kota lagi, mana sebulan lagi," Azka mengusap wajahnya, bayangan beberapa tahun lalu saat ia pergi meninggalkan istri dan anaknya kembali terngiang. Bahkan tadi Azka sempat konfirmasi ke Rudy menanyakan batas waktu ia di sana.


Tiba-tiba ide cemerlang muncul di otaknya, senyum senang tak bisa dielakkan, seluruh beban pikiran tadi perlahan kian memudar digantikan dengan kabar gembira. Buru-buru Azka merapikan kertas-kertas tadi dan kembali menyusunnya seperti semula, tangannya bergerak meraih jas yang ia sampirkan pada sandaran kursi dan hendak pergi.


"Tuan mau kemana? Masih ada dua tumpukan lagi yang perlu di tandatangani," Rudy yang baru tiba di depan pintu kaget karena Azka juga sama sudah berdiri di balik pintu.


"Lupakan, aku akan lanjutkan besok, masih ada hal penting yang harus aku kerjakan," Azka melambaikan tangannya lalu berjalan santai menuju lift. Rudy menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan pola pikir atasannya, seenak jidat keluar masuk perusahaan, iya tau sih Azka yang punya nih bangunan tapi tetap saja tidak boleh berleha-leha karena kita tidak tau bahaya apa yang akan mengancam nantinya, apalagi menurut data banyak sekali kerugian yang dialami oleh perusahaan karea kasus korupsinya karyawan di sini, bukankah itu disebut penghianatan, dari situ bisa Rudy simpulkan bahwa banyak yang tidak menyukai perusahaan Azka ini tetap beroperasi. Rudy mengedikkan bahunya lalu berjalan masuk ke ruangan Azka untuk meletakkan semua kertas yang tadi ia bawa.


.


Bolos kerja bukannya pulang, Azka malah belok menuju sebuah bangunan Kafe yang cukup jauh dari pemukiman warga. Azka segera turun dari mobil dan memperhatikan bangunan yang berdiri kokoh di hadapannya, Kafe ini baru dibuat beberapa bulan yang lalu dan baru beroperasi dua hari yang lalu. Bukan tanpa alasan Azka ke sini, menurut laporan yang dia dapat, Kafe tersebut merupakan kepunyaan salah satu mantan karyawan Azka. Agak aneh, dulu karyawan itu mengirim surat pengunduran diri tepat saat berita tentang laporan keuangan perusahaan Azka yang menurun drastis. Azka tersenyum licik, mereka salah pilih target.


Dengan langkah pelan tapi pasti, Azka kini sudah berdiri di pintu Kafe, dua orang bodyguard berdiri di sisi kanan dan kiri pintu menatap Azka datar. Dua orang berbadan besar itu saling menatap sebentar sebelum membukakan pintu untuk Azka.


"Silahkan masuk, nikmati kesenangan yang tak akan pernah anda dapatkan di tempat lain," ucap bodyguard di sebelah kiri. Azka merotasikan bola matanya malas, memilih untuk tidak menggubris ucapan si kepala botak itu.


Azka berjalan di lorong yang gelap namun masih ada sedikit pencahayaan dari lampu 10 watt, lorong tersebut sangat pengap dan tertutup, untuk bernafas saja rasanya sesak sekali, Azka sampai beberapa kali bernafas menggunakan mulut. Tinggal beberapa langkah saja, Azka sudah dapat melihat sebuah ruangan luas yang ia duga tempat orang joget gak jelas ditemani minuman alcohol. Sebenarnya jika dipikir-pikir buat apa Azka mampir ke tempat maksiat ini, yakni demi membuat orang yang sudah mencuri uang perusahaannya bertekuk lutut, Azka rela kok menapakkan kakinya di tempat yang terkutuk ini.


Suara musik yang cukup keras mengisi gendang telinga Azka, dia sampai memejamkan mata karena terganggu. Sempat kakinya berhenti untuk tidak melangkah lebih dalam lagi, karena kemungkinan besar resikonya. Tetapi tujuannya masih sama, menemui pemilik dari tempat ini. Sebelum lanjut, Azka menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


Baru beberapa langkah, bau alcohol menyeruak memenuhi sekitar ruangan. Azka melirik setiap sisi tapi suasana kosong cuma musik yang menggema, hanya ada pelayan Kafe dan beberapa pelanggan yang menghabiskan waktu untuk menyesap minuman keras, mungkin karena masih siang jadi gak ada yang minat buat ke sini, biasanya malam baru rame.


Netra setajam elangnya berhasil menemukan sebuah ruangan yang diduga adalah ruangan sang pemilik Kafe ini. Tiba-tiba saja Azka dihadang oleh seseorang yang seragamnya persis dengan pelayan Kafe.


"Maaf tuan, Bos tidak membenarkan siapa pun masuk kecuali ada yang berkepentingan," ujarnya dengan raut datar. Azka mendecih dan menggeser sedikit tubuh pemuda yang nampaknya lebih muda dari Azka.


"Panggil Bos kamu keluar!"


"Siapa anda suruh-suruh saya?" Pelayan itu membusungkan dada hendak melawan. Azka mengeraskan rahangnya hampir meninju wajah si pelayan itu sebelum pintu terbuka menampilkan laki-laki paruh baya.


"Kenapa ribut-ribut di sini?"


Atensi keduanya teralihkan ke sumber suara.


Azka langsung menoleh membuat laki-laki itu melotot tajam. Azka tersenyum puas melihat ekspresi ketakutan dari mantan pegawainya dulu.


"Oh, jadi benar ternyata. Kamu dibalik semua ini," Azka tertawa sarkas, suaranya menggema sehingga memancing pandangan aneh dari para pengunjung. Laki-laki paruh baya tadi meneguk ludahnya kasar namun berusaha untuk menetralkan ekspresinya.


"Wah, sebuah kehormatan Tuan Azka sudi berkunjung ke Kafe kecil-kecilan milik saya," ujarnya dengan nada sok akrab, Azka tersenyum smirk menatap penampilan laki-laki itu dari atas sampai bawah.


"Jujur saja saya gak sudi datang ke tempat ini, dikarenakan kamu yang menjalankan bisnis haram ini saya jadi mikir, apakah kamu menggunakan uang haram untuk membuat tempat haram juga? Wow, kamu pasti bangga banget investasi dosa." Azka bertepuk tangan sambil tertawa seperti setiap ucapannya mengandung lawakan.


"Berhenti menghakimiku Mahendra!"


"Lihat, sekarang kau bahkan berani menyebut marga keluargaku, sangat mengejutkan nadiku," Azka pura-pura kaget. Lelaki paruh baya sudah mengepalkan tangannya kuat, siap ambil ancang-ancang untuk memukul tepat pada pipi Azka, tapi sayangnya dia kurang cepat, Azka lebih dulu mengenali pergerakannya, dengan refleks yang bagus Azka dapat dengan mudah menangkis serangan pak tua itu.


"Lain kali, pergilah latihan karate dulu agar serangan anda tidak meleset." Laki-laki paruh baya mulai tersulut emosi, tangan yang satunya melayang hendak menampar wajah Azka tapi sama sekali tidak kena karena masih bisa ditahan olehnya. Pelayan tadi ingin ikut nimbrung tapi saat Azka menatapnya tajam dia langsung menunduk takut.


Azka menghempas tangan laki-laki itu kasar lalu merapikan jas nya yang sempat terangkat.


"Buang-buang waktu saja. Lihat saja nanti, saya akan membuat anda membayar semuanya, jangan remehkan ucapan saya," Azka beranjak pergi tanpa menoleh ke belakang lagi.