
Farel berjalan cepat di lorong untuk sampai ke ruangan sang Ayah, menurut laporan resepsionis di lantai bawah tadi, Azka sedang ada tamu jadi Farel diarahkan langsung ke ruangannya saja.
Di sepanjang jalan, Farel bersiul ria padahal semenit tadi mood nya rusak gara-gara disuruh nganter makanan pakai motor, alhasil bekal untuk Ayahnya sedikit oleng dan berantakan di dalam sana. Jangan salahkan Farel jika sudah begini.
Untung saja pintu ruangan Azka tidak dikunci jadi gampang masuk.
"Hmm, nyaman juga ruangan Ayah. Terakhir datang ke sini pas gue SMP, banyak yang berubah ternyata," Farel menatap sekeliling setelah meletakkan rantang dan yang lainnya di atas meja yang penuh akan tumpukan kertas, ketahuan banget Azka semakin males ngerapihin barang-barangnya sendiri.
Farel ambruk di atas sofa, menaikkan kedua kakinya pada meja kaca di depannya. Seharusnya dia langsung pulang, tetapi rebahan sedikit gak masalah kan ya?
Saat Farel santai main game online di ponselnya, tiba-tiba ada yang narik benda pipih tersebut dari tangannya, otomatis Farellangsung berdiri untuk melihat siapa pelakunya.
Nyali Farel langsung menciut saat mendapati Azka dengan tampang menyeramkan sambil memutar ponsel putranya di udara. Farel yang awalnya hendak ngamuk langsung mengurungkan niatnya.
"Ngapain kamu di sini? Kalo sampai klien Ayah lihat kelakuan kamu yang kurang sopan seperti tadi, mau ditaruh di mana muka Ayah. Kaki dinaikin ke atas meja, mau jadi Bos kamu," cerocos Azka sambil bersidekap dada. Farel menunduk dalam, memilin lengan hoodie-nya, kejadian ia dimarahi seperti ini membuat Farel nostalgia pada masa SMP dulu, persis sekali dengan yang sekarang.
Azka membuang nafas kasar, tanpa sadar dia menepuk bahu lebar putranya lalu meletakkan ponsel Farel di atas meja.
"Kamu boleh pulang," ucap Azka, kini nada suaranya kian melemah tanda ia merasa bersalah. Farel mengangkat kepalanya kemudian mengangguk pelan, menyambar ponselnya dan berlari kecil ke arah pintu. Di depan Farel gak sengaja berpapasan dengan Rudy dengan barang bawaanyang super duper banyak berupa kardus tiga kotak, sampai wajahnya tidak kelihatan, hampir saja Farel nabrak Rudy.
"Paman? Butuh bantuan?" tawar Farel saat tau bahwa orang tersebut adalah Rudy. Rudy memiringkan kepalanya melihat siapa yang berdiri di depan dan mengajaknya bicara.
"Ohh, Farel. Tidak, terima kasih. Ayah mu ada di ruangannya kan?" tanya Rudy sambil memperbaiki posisi kardus yang sedikit oleng. Farel mengangguk singkat meski tau Rudy tidak bisa melihatnya.
"Ya sudah, Farel pergi dulu," Farel ngetuk kardus tersebut lalu berlari di lorong Kantor.
Sementara itu, Rudy sibuk mengatur ulang posisi kardus yang tadi oleng dan jatuh ke lantai, untung gak kebuka dan membuat isinya berantakan. Tarik nafas sebentar sebelum mulai menggotong kardus tadi.
.
Farel tiba di lantai bawah, banyak karyawan lalu lalang di depannya, tak jarang ada yang salah fokus dengan kehadiran Farel di sana, bahkan sampai ada yang bisik-bisik tetangga melihat ketampanan Farel yang nurun dari Ayahnya.
Hal itu tidak membuat Farel bangga, malah dia sedikit risih dan berusaha menutupi wajahnya dengan menunduk memandangi lantai, berjalan lurus tanpa memperhatikan jalan.
BRAKK!!!
Netra Farel membola karena dia baru saja menabrak seseorang sehingga membuat kertas-kertas berhamburan di lantai. Farel mengangkat kepalanya, dan yang dia lihat saat ini membuatnya terkejut setengah mampus.
"Saya yang harusnya bertanya begitu pada kamu," tukas Maria, berjongkok untuk memungut kertas yang dibawanya. Untuk kedua kalinya Farel melakukan kesalahan yang sama, gak di kampus gak di kantor sama saja, sama-sama suka nabrak orang.
Walau masih loading, Farel tetap membantu Marian mengumpulkan kertas yang cukup banyak. Karyawan yang lewat di sana sampai natap mereka berdua aneh, dan bisik-bisik mulai terdengar lagi.
Maria meringis saat mendapati semua orang menatap ke arah mereka, buru-buru Maria mengemas semuanya dan hendak pergi.
Farel belum habis bicara lagi, tetapi Maria sudah pergi dengan tergesa-gesa, mengambil langkah seribu untuk menghindari sosok Farel yang penuh akan pertanyaan tak berfungsinya.
.
Farel yang katanya mau pulang memilih menetap di perusahaan Ayahnya, tetapi dia tidak masuk lagi melainkan nongkrong di taman belakang yang jauh dari keramaian. Farel juga sudah membeli ice Americano dan beberapa cemilan lain sebagai teman nongkrongnya.
Satu hal yang mengganjal di pikirannya, kok bisa dosennya kerja di sini, ya gak ada masalah sih, cuma kan Maria sudah jadi dosen di kampusnya meski tidak setiap hari masuk kelas, tapi apa gak ribet ngatur jadwalnya, apalagi setahu Farel di perusahaan sang Ayah, karyawan dikhususkan libur minimal sehari dalam seminggu itu pun jika kerjaan lagi kosong.
Farel menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal, otak udangnya sekarang dipenuni oleh dosennya, akhir-akhir ini Maria selalu terbayang di pikirannya. Farel juga gak tau kenapa, masa iya dia jatuh cinta, secepat itukah prosesnya? Farel langsung membantah pemikirannya, selagi belum jelas Farel tak ingin mengikuti alur, dia harus benar-benar membuktikan dulu, tapi gimana caranya?
Gelas ice nya sudah kosong, Farel berdecak kesal padahal dia masih haus, dengan kasar ia melempar gelasnya ke sembarang arah hingga mentok di pot bunga layu dekat rerumputan.
"Siapa yang membenarkan kamu buang sampah sembarangan?" Suara nyaring nan lantang berhasil mengunci pergerakan Farel, matanya melotot kaget, perlahan kepalanya ia balikkan ke belakang.
Sambil berkacak pinggang, Maria menghampiri Farel yang termangu di tempat.
"Pungut!!" titah Maria mutlak, Farel merotasikan matanya lalu berjalan gontai memungut sampah gelas tadi, membuangnya di tempat sampah yang memang sudah disediakan di sana, padahal jaraknya gak terlalu jauh dari tempat ia duduk.
Kini Farel sudah berdiri di hadapan Maria dengan tatapan tajam seakan meminta pengakuan bahwa dia sudah melakukan perintah dari Maria.
Maria mengatup rapat bibirnya saat Farel terus mendekat ke arahnya, mengikis jarak antara mereka.
"Mau ngapain kamu?" Maria sudah memasang benteng menggunakan kedua tangannya untuk jaga-jaga jika Farel macem-macem.
"Saya akan teriak jika kamu melangkah lagi," ancam Maria siap ambil ancang-ancang buka suara, namun ancaman tersebut sama sekali gak ngaruh buat Farel.
Merasa Farel semakin berani, Maria beringsut mundur sampai menabrak tembok pembatas. Farel tertawa pelan melihat reaksi Maria yang berlebihan, padahal niat dia baik hanya ingin menyingkirkan serangga yang nangkring di rambut Maria. Farel gak berani bilang karena dia yakin pasti dosennya itu ketakutan.