
Damien kembali ke ruangannya setelah menyelesaikan urusannya. Ia sepertinya tidak sabar melihat Cathrine.
"Ekhem...Ekhem.."
Tidak ada yang menggubris Damien. Peter dan Cathrine tampak serius mendengar penjelasan dari Peter.
"Sial...tidak ada yang mendengar ku. Dan kenapa posisi mereka begitu dekat" batin Damien tidak suka.
"Ekhem..sepertinya kalian tampak serius sekali, bahkan sampai tidak melihat ku datang" ucap Damien datar. Peter dan Cathrine akhirnya menyadari kehadiran Damien.
"Maaf Pak, kami tidak menyadari kalau Pak Damien sudah kembali" ujar Peter.
"Hmm" balas Damien berdehem.
"Cath, kemari lah. Ada tugas baru untuk mu" ujar Damien duduk di kursi kebesarannya.
"Dan kamu Peter, sebaiknya kamu pulang saja. Aku rasa Cathrine sudah cukup paham. Aku mengizinkanmu cuti selama 3 bulan ini" ucap Damien.
"Baik Pak, terima kasih sebelumnya. Kalau begitu saya pamit dulu" ujar Peter.
"Nona Cathrine saya kembali dulu, kalau ada yang tidak dipahami, anda tidak perlu sungkan-sungkan menanyakannya pada saya" ujar Peter lalu pergi.
"Buatkan kopi untuk ku" perintah Damien.
"Baik Pak, saya akan segera membuatnya" ujat Cathrine.
"Sekali lagi kamu memanggilku dengan sebutan itu maka bibir mu akan kubuat bengkak setelah keluar dari sini" ujar Damien membuat Cathrine menelan ludahnya.
"Baik Damien, kopinya akan segera datang" ucap Cathrine lalu buru-buru pergi. Di tempatnya Damien tertawa melihat ekspresi lucu Cathrine.
Tak lama kemudian, Cathrine kembali ke dalam ruangan Damien dengan membawa secangkir kopi di tangannya. Ia lalu meletakkannya di atas meja Damien.
"Thanks" ujar Damien.
"Jangan pergi dulu, tugasmu belum selesai" cegah Damien.
"Ambil kertas ini dan tulis nama ku disana" ujar Damien memberikan kertas putih kosong yang cukup banyak pada Cathrine.
"Apa? Apa kamu sedang sakit? mana ada tugas sekretaris seperti itu" ucap Cathrine tidak terima dengan tugas yang diberikan Damien.
"Aku bosnya, terserah padaku memberikan tugas apa pada pegawai ku" ucap Damien.
"Lagi pula itu sangat berguna untukmu. Kamu akan selalu mengingat namaku kapanpun dan dimana pun" ujar Damien menampilkan senyuman manisnya yang mampu meluluhkan hati kaum hawa.
"Ya ampun...kenapa pria ini sangat tampan saat tersenyum seperti itu" batin Cathrine. Sebenarnya tanpa disuruh untuk menulis nama Damien diatas kertas yang banyak pun, pikiran Cathrine tetap tertuju pada Damien.
"Dasar bossy..." ucap Cathrine ketus lalu pergi membawa kertas yang diberikan Damien.
"Cath..." panggil Damien. Cathrine menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.
"Kamu cantik hari ini" ujar Damien tersenyum. Cathrine membulatkan matanya, pipinya dipastikan sudah merona hanya karena perkataan Damien. Apakah itu pujian atau ejekan, atau itu merupakan taktiknya untuk mendapatkan hati para wanita. Cathrine tidak tahu pasti. Tapi kata-kata itu sukses membuat jantungnya berdegup kencang. Cathrine kembali melangkahkan kakinya, tidak tau harus mengatakan apa lagi.
Dari ruang kerjanya Damien menatap Cathrine sedari tadi. Cathrine yang merasa diperhatikan menjadi gugup, Ia bahkan tidak berani menoleh karena takut tatapan mereka akan bertemu. Damien senyum-senyum sendiri melihat kegugupan Cathrine dari ruangannya. Ia bahkan tidak memegang laptopnya sejak tadi hanya karena ingin memandangi wajah Cathrine.
Waktu berjalan begitu cepat, Damien melirik jam tangannya dan sudah waktunya untuk makan siang.
"Waktunya untuk makan siang, kamu bisa melanjutkannya nanti" ujar Damien.
"Kamu duluan saja, Aku akan makan disini. Mommy memberiku bekal untuk makan siang ku" ucap Cathrine. Alex mengambil ponselnya dari saku jasnya.
"Antar kan makan siangku ke ruangan ku sekarang juga" ucapnya lalu mematikan ponselnya.
"Kalau begitu kita akan makan bersama disini" ujar Damien duduk di kursi yang ada dihadapan Cathrine.
"Dasar aneh" gumam Cathrine.