Married With Duda

Married With Duda
MWD 66 : Barang Berharga Bunda



3 Tahun berlu....


"Farel, sini pasang dasi dulu, hari ini kan kamu ada upacara," panggil Reyna yang kewalahan menangani dua anaknya yang semakin hari semakin sulit diatur, ada yang lari-larian ngitarin taman ada yang jingkrak-jingkrak di kasur sampai kaki ranjangnya roboh.


Farel menghilang entah kemana, habis mandi tadi dia sudah nyelonong pergi meninggalkan Reyna yang masih sibuk mencari dasi yang entah kenapa bisa ada di atas AC, Capek-capek Reyna bongkar lemari sampai berantakan, barang yang dicari malah santai menggantung.


Reyna berdecak kesal, belum lagi Azarin yang sudah genap tiga tahun yang gak kalah nakalnya dengan Farel meski di umurnya yang masih kecil.


Farel menyembulkan kepalanya mengintip Reyna yang tengah ngomel di kamarnya sambil obrak abrik laci meja belajar Farel yang isinya sampah semua, Farel tipe anak yang malas banget cuma jalan ke tempat sampah untuk buang sampah bekas makanannya, jadi daripada ribet laci meja belajar nya lah yang jadi korban kemalesan seorang Farel. Padahal tempat sampah sudah disediakan di samping toilet.


Reyna yang menyadari kehadiran Farel hanya melotot tajam menatap tegas pada putranya yang kini sudah berumur 9 tahun, itu artinya Farel sudah kelas 3 SD.


"Sini kamu! Belum pake dasi udah ngilang aja," Reyna menarik pelan lengan Farel lalu mengalungkam dasi warna merah pada leher Farel.


"Nah gini kan ganteng," ucap Reyna puas kemudian mencubit hidung Farel.


"Bunda, Azarin nakal. Dia lempar tupperware Bunda ke tempat sampah terus ditumpuk pake batu," adu Farel sambil menunjuk arah luar. Reyna membulatkan matanya sempurna mendengar kata 'tupperware'.


"Tupperware yang mana, yang merek Gucci atau Prada?" tanya Reyna dengan tenang.


"Kayaknya sih dua-duanya Bunda, soalnya tadi Azarin dibantuin Ayah," jawab Farel enteng, gak tau jika pengakuannya tadi bakal memicu perdebatan rumah tangga.


Reyna tersenyum manis, manis sekali namun Farel yang melihatnya langsung bergidik ngeri, sepertinya akan ada yang terjadi.


"ADAWWW SAYANG, AMPUN!!! AMPUN, TADI AZARIN YANG MAKSA. Jadi aku sebagai ayah yang baik membantunya," jelas Azka sambil memegangi tangan Reyna yang menjewer telinganya, Farel dan Azarin saling tatap kemudian tertawa melihat orang tua mereka yang tengah debat.


Reyna kembali tenang, sebenarnya sih dia gak benar-benar marah sih, cuma kesel doang padahal itu tupperware kesayangannya yang paling disayang melebihi kedua anaknya, mana benda itu edisi terbatas lagi, hanya ada 10 biji di dunia dan Reyna salah satu dari 10 orang yang memilikinya.


.


Azka mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, sadar yang ia bawa adalah putra kebanggaannya, tapi kalo diambang ketelatan, jangan ditanya bagaimana cara Azka membawa mobilnya, bahkan pembalap internasional saja bisa kalah melawannya.


Sampai di depan SD Pusaka Bangsa, Farel bergegas turun dari mobil tak lupa salim pada sang Ayah dan berlalu pergi.


Merasa tugas antar mengantar sudah selesai, Azka kembali melajukan mobilnya berlainan arah untuk ke Kantornya.


Sementara itu di rumah, Reyna duduk bersimpuh di dalam kamarnya sambil melihat tupperware nya yang sudah patah menjadi beberapa bagian, Azarin ikut melakukan hal yang sama sambil sesekali melirik takut ke arah sang Bunda, tapi yang namanya bocil mana tau artinya merasa bersalah.


Azarin nyodorin uang pecahan dua ribuan ke arah Reyna dan dibalas tatapan bingung.


"Buat beli gantinya, Bunda," ucap Azarin sambil monyongin bibirnya, Reyna terkekeh gemas. Merasa tak dihiraukan oleh Bundanya, Azarin menarik kembali uang tersebut dan menaruhnya di kantong ****** ***** lalu berlari keluar, Reyna mengerjap pelan, membereskan mayat tupperware-nya dan bergegas mengejar Azarin sebelum barang-barang yang lain jadi sasaran.


Wati berjengkit kaget mendengar teriakan Reyna memanggil nama Azarin, padahal dia baru saja meletakkan kepalanya pada bantal sofa.


"Kamu pikir ini hutan bisa sepuasnya teriak, huh?" bentak Wati seraya mengusap kupingnya.


"Maaf, Ma. Mama lihat Azarin gak?"


"Tuh tadi dia keluar." Wati dengan wajah masamnya memilih untuk naik ke kamarnya saja untuk istirahat. Reyna memandang ke halaman depan di mana Azarin lagi bawa batu yang lumayan cukup besar untuk anak seusia Azarin, terlihat dia sangat kesusahan membawa batu itu. Reyna yang paham apa yang akan dilakukan anaknya segera berlari menghampiri, dan benar saja, ada sebuah lubang di tanah entah siapa yang gali, dan di sana sudah ada panci pink kesayangan Reyna yang hendak Azarin timpuk pake batu.


"Stop! Azarin stop!" Reyna merentangkan tangan menghalangi segala upaya Azarin.


Azarin tersenyum lucu namun terlihat menyebalkan di mata Reyna. Buru-buru ia merebut batu dari tangan Azarin dan membuangnya ke sembarang arah. Azarin mencebikkan bibirnya kesal, Reyna mengambil panci pink miliknya dan menggendong si bayi nakal kemudian bawa masuk ke dalam rumah.


"Nah, sekarang kamu diam di sini, Bunda ambilin handuk dulu. Baru selesai mandi udah kotor lagi," omel Reyna setelah mendudukkan Azarin di tepi ranjang.


.


Suara ponsel berdering membuat Azka yang tengah fokus pada layar monitor terjungkal kaget, Azka merutuki sang penelpon yang sudah mengganggu kefokusannya. Tanpa melihat nama si penelpon, Azka langsung mengangkatnya.


"HALO!!! KENAPA SIH?" Azka berteriak kencang karena kesal.


"Kenapa apanya? Bisa tidak kalo ngomong itu yang sopan sedikit sama orang tua!" Azka menelan salivanya susah payah saat suara yang tidak asing menghampiri indra pendengarnya, pelan-pelan Azka menurunkan benda pipih itu dan memperhatikan nama si penelpon.


"Ka-kakek?" tanya Azka pelan.


"Kamu ini tidak pernah berubah ya Azka, masih keras kepala seperti mendiang Papa-mu," kekeh laki-laki tua yang dipanggil kakek oleh Azka.


"Maafkan aku kakek, tadi hanya refleks."


"Sayangnya, kakek tidak peduli dengan alasan kamu. Oh iya, minggu depan kakek pulang dari China dan akan mampir ke rumah kamu, jemput ya," pinta sang kakek dengan nada memelas.


"Dih apaan, Azka sibuk. Jadi Kakek jalan sendiri aja, kan banyak tuh angkutan umum yang bisa kakek naikin," tolak Azka.


"Durhaka sekali kamu, kakek kutuk jadi jangkrik mampus."


"Sudah ya kakek, Azka banyak kerjaan. Urusan jemput menjemput nanti Azka kirim sopir pribadi kalo memang kakek gak punya uang buat ongkos taxi."


"Hey manusia, jangan meremehkan kekayaanku."


Azka mendengus kesal, jika sudah berurusan dengan kakek, maka pembicaraan tidak akan selesai sampai tahun baru berikutnya, jadi untuk menghindari hal itu, Azka memutuskan panggilan secara sepihak, entah apa yang akan dilakukan sang kakek nanti saat bertemu.