Married With Duda

Married With Duda
bab 19



Zahra cepat-cepat pemberitahuan jika keluarga laki-laki yang mau dijodohkan dengannya akan datang berkunjung ke rumah.


Dan Adnan mengatakan untuk menerima kedatangan mereka dengan senyum karena Adnan ketidak ingin Zahra langsung menolak mereka begitu saja.


Hingga pertemuan dua keluarga itu sudah tiba tepatnya hari ini keluarga Zahra sudah bersiap-siap menyambut kedatangan tamu besar mereka. Sementara Zahra bersikap santai lantaran dia sangat malas untuk bertemu dengan mereka terutama kepada laki-laki yang akan dijadikan calon suaminya tersebut walaupun dulunya mereka pernah berteman tetapi itu sudah lama sekali tentu Zahra tidak memiliki perasaan apapun kepadanya.


" Assalamualaikum." Cepat-cepat keluarga Zahra menyambut lantaran mereka sudah berada di depan rumah.


" Waalaikumsalam, mari silakan masuk." Cara dapat melihat begitu ramah sekali kedua orang tuanya menyambut kedatangan tamu yang mereka harapkan.


Zahra bangkit dari tutupnya kemudian dia menyalimi tamu tersebut.


" Kamu pasti Zahra ya, ampun kamu sangat cantik sekali," puji mereka. Zahra hanya tersenyum saja.


" Apa kabar tante," ucapnya saat mereka cipika-cipiki.


" Kamu sudah sangat besar ya sekarang tidak menyangka jika dulu saat kamu masih usia anak-anak padahal sangat kecil sekali dan sekarang sudah seperti malaikat cantik," ucapnya kembali memuji.


Mereka dipersilahkan duduk Zahra juga ikut duduk di samping ibunya. Iya tidak ingin melihat sosok laki-laki yang sedari tadi hanya memperhatikan dirinya.


" Faris kamu tidak mau menyapa Zahra?" Ujar wanita itu kepada Faris.


" Maklum saja Jeng mereka sudah lama tidak bertemu wajar jika keduanya sama-sama tidak lagi saling kenal," ucap Rindi melihat Faris dan Zahra yang tidak saling menyapa.


" Zahra ajak Faris ke taman belakang kalian mengobrol lah di sana agar bisa lebih kenalkan lagi," ujar Bayu. Mungkin mereka malu lantaran ada ramai orangnya di sini.


Zahra dengan sangat malas sekali dia bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan lebih dulu menuju taman rumah di bagian belakang. Zahra tidak menyapa laki-laki itu.


Dan ternyata laki-laki itu mengikutinya dari belakang kemudian Zahra duduk di bangku taman dia sibuk dengan handphone miliknya.


" Kamu sama seperti dulu ya acuh dan cuek," ucap laki-laki itu sekarang dia mau mulai bicara setelah suasana sudah sepi.


" Memangnya Apa yang perlu dirubah, hanya zaman saja yang cepat sekali berubah," ujar Zahra kemudian dia menoleh ke arah laki-laki yang bernama Faris tersebut.


Zahra melihat jika laki-laki ini masih begitu sangat mudah usianya tak jauh dengan dirinya. Cara dapat nilai laki-laki di sampingnya ini cukup lumayan tampan dengan kulit putih bersih hidung mancung perawakan tinggi bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan namun sedikit lebih kurus tapi Zahra tidak tertarik sama sekali hatinya tidak merasakan getaran di sana.


" Kita sudah saling mengenal apa kamu lupa," ujarnya.


Zahra menghela nafasnya memang mereka sudah saling mengenal tapi itu dulu sekali waktu di mana dirinya masih ingusan masih bocil yang tidak mengerti apa-apa.


" Lupakan saja tentang masa kecil, itu hanyalah masa lalu yang tidak penting, jadi tidak perlu mengingatnya lagi. Yang aku tanyakan sekarang untuk apa kamu menerima perjodohan ini?"


Karena menurut Zahra itu sangat konyol sekali hubungan masa lalu saat dirinya masih berusia 5 tahun dengan sekarang yang sudah 20 tahun yang lalu tentu dia sudah melupakan masa-masa anak-anak itu.


" Tetapi aku tidak bisa melupakan kenangan masa lalu kita Zahra, apa kamu lupa dulu kamu mengatakan padaku bahwa kamu ingin menjadi istriku, dan aku juga sudah berjanji kepadamu jika aku tidak akan mau menikah dengan wanita lain selain dirimu jadi sebab itulah mengapa aku mau menerima perjodohan ini lantaran aku ingin menempati janjiku dulu Zahra."


Laki-laki bernama Faris Setiawan itu mengingatkan akan masa lalu mereka masa lalu yang tidak mengerti apa-apa dan ternyata begitu membekas di hatinya. Faris ingin menepati janjinya jika dirinya akan hanya mau menikah dengan gadis yang pernah ia janjikan dulu karena di dalam agama pun janji harus dibayar karena janji adalah hutang.


Zahra kembali menghela nafasnya kemudian dia menatap lekat laki-laki di sampingnya ini. Tidak menyangka jika laki-laki di sampingnya ini begitu sangat serius sekali menganggap perkataan anak anak yang tidak mengerti apa-apa kalau itu ucapan anak-anak yang dianggap hanya gurauan semata saja bahkan dirinya tidak mengingat jika dulu pernah mengatakan ingin menikah dengan laki-laki kejadian itu sudah lama sekali hampir 20 tahun perbandingannya tentu Zahra tidak mengingatnya lagi.


" Kamu itu benar-benar konyol ya kenapa kamu terlalu menganggap serius hanya karena ucapan anak kecil waktu itu," heran Zahra.


" Karena aku sejak dari itu sudah sangat menyukai kamu."


Untuk membuat Zahra tertawa tertawa terbahak sampai perut merasa sakit di sampingnya ini pintar sekali membual.


"Kau jelas-jelas laki-laki yang tidak pandai berbohong, lantas untuk apa kamu berbohong? tidak mungkin banget kau masih menyukai wanita gadis kecil yang sudah 20 tahun lamanya tidak pernah bertemu." Zahra menyetek air matanya lantaran sendiri tadi dirinya terus tertawa.


" Tapi aku serius," ucapnya sehingga Zahra spontan menghentikan tawanya lalu menetapnya.


" Jangan berbohong tuan, aku yakin selama 20 tahun ini pasti kamu sudah pernah jatuh cinta kepada gadis lain." Tentu Zahra tidak mempercayai bualan laki-laki di sampingnya ini.


" Pasti kamu sudah dengar cerita bukan dari ibuku jika aku dulu pernah memiliki tulang dan bahkan berencana akan menikah sebentar lagi tetapi sayangnya kami tidak berjodoh hingga dari itu aku tidak lagi mempercayai laki-laki manapun maka dari itu ibuku berusaha untuk terus memperkenalkan laki-laki lain agar aku percaya lagi dengan yang namanya cinta."


" Dan kebetulan ulah saat itu ibuku berjumpa lagi dengan ibumu kemudian mereka berteman dan sama-sama saling menceritakan kisah kita karena mereka anggap cocok lantaran terjadilah perjodohan ini," lanjut Zahra dia menebak alur cerita perjalanan tentang perjodohan mereka.


" Dan karena kebetulan Kamu jomblo Aku pun juga jomblo maka dari itu kamu menyetujuinya dan kebenaran sekali saat itu kita pernah saling mendekat hingga kamu mencari tahu masa-masa kekanak-kanakan kita dan juga ucapan janji bodoh kita dulu. Maka dari itu kamu langsung menyetujui tentang perjodohan ini karena pasti kamu sudah melihat fotoku bukan, dan sekarang kamu mengatakan Jika kamu sedari dulu sudah menyukai aku dan ingin menepati janji bodoh kita dulu konyol sekali," kata Zahra.


" Dan asal kamu tahu aku sudah memiliki kekasih yang amat sangat aku cintai jadi aku harap kamu membantuku untuk membatalkan perjodohan ini."