Married With Duda

Married With Duda
MWD 47 : Aku Baik-baik saja



"Kalian berdua habis kemana saja?" Wati sudah berkacak pinggang di depan pintu dengan tatapan mengintimidasi ke arah Azka dan Reyna.


"Kami habis dari rumah sakit, Ma. USG kandungan Reyna, dan ternyata jenis kelaminnya perempuan," Azka menyampaikan kabar bahagia yang baru saja ia dapatkan kepada sang Mama, raut wajah Wati masih tetap datar tidak ada ekspresi bahagia ataupun terharu.


Tanpa memberikan jawaban, Wati melenggang masuk menuju sofa, dan di sana sudah ada Farel bersama perempuan yang selama ini sudah gak asing lagi bagi keluarga mereka, siapa lagi kalo bukan Putri. Bukan sekali dua kali perempuan gatal itu datang beekunjung melainkan hampir setiap hari, entah apa tujuannya tetapi Azka sungguh membenci itu, sudah berapa kali Azka peringatkan bahwa ia bisa menjemput putranya sendiri namun Putri seolah tak menghiraukan ucapan Azka dan tetap mengantar jemput Farel alih-alih untuk mengambil hati Azka tetapi jika dipikir-pikir usahanya sama sekali tidak membuahkan hasil, bukannya jatuh cinta Azka malah jijik melihatnya, hanya saja tidak ia tampilkan di depan mata takut orangnya tersinggung. Putri sering dateng kerena memang Wati yang tampak kagum dengannya, sampai membisikkan kalimat yang membuat semangat Putri untuk berjuang mendapatkan Azka semakin menjadi.


"Ayah!! Bunda!!" Farel melompat dari sofa dan berhambur ke pelukan Reyna.


"Jagoan Ayah sudah pulang ternyata," Azka langsung menggendong Farel membawanya ke dekapannya. Putri ikut berdiri menyambut kedatangan Azka tentunya.


"Ayah, Farel dibeliin es krim sama bu guru, banyak banget. Lihat, Oma juga ikutan makan," tunjuk Farel antusias. Azka melirik Putri sekilas dan mendapati perempuan itu tengah tersenyum manis menghadapnya, Azka segera membuang muka.


"Bunda, ayo ikut makan," ajak Farel kini beralih pada Reyna.


"Lain kali saja Farel, Bunda lagi gak berselera," sahut Reyna seraya mengelus surai hitam Farel dengan penuh sayang.


Putri memutar bola matanya malas, memandangi pemandangan mesra dari kedua insan tersebut sudah biasa bagi dirinya, namun bohong jika Putri gak cemburu, walaupun hatinya panas tetapi harapan Wati masih melekat dalam dirinya yang akan menjadikannya menantu.


"Kalo begitu saya pamit ya," karena sudah gak betah, Putri memutuskan untuk pulang, sebenarnya dalam hati ia mau dicegah.


"Gak makan siang dulu, Put?" Wati mencegah saat langkah Putri di ambang pintu.


"Mungkin di lain hari, Bu. Saya juga harus ngajar les," sahut Putri tak lupa diselingi dengan senyuman merekah nya.


"Aduh, Ibu jadi makin salut sama kamu Putri, udah cantik, pintar, rajin lagi. Harapan Ibu masih sama, berharap kamu bisa jadi menantu Ibu secepatnya." Azka sontak melotot tajam, menatap nyalang ke arah Wati yang sudah tidak bisa mengontrol kalimatnya.


Azka kini beralih melirik Reyna yang hanya menunduk lesu, sudah biasa memang tapi untuk kali ini entah kenapa Reyna merasa sesak dan mempunyai pemikiran negatif bahwa Azka akan benar-benar meninggalkan nya. Reyna mendongak, tatapannya bertemu dengan Azka, Reyna menyunggingkan senyum manis seolah mengatakan bahwa ia baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Azka meremat jemari nya kuat, tangannya mengepal, merasa tersinggung dengan ucapan sang Mama yang tanpa sengaja membuat hati Reyna sakit. Reyna mengelus punggung tangan Azka penuh sayang, tatapannya seolah mengatakan untuk tidak terbawa emosi.


"Mama hanya bercanda, jangan masukkan ke hati kamu, mas. Aku gak apa-apa kok." Azka tau Reyna berusaha kuat di depannya, namun jujur saja Azka turut sedih melihat ekspresi Reyna yang lembut.


Seusai kepergian Putri yang sama sekali tidak diinginkan kedatangan nya oleh Azka, Wati berjalan santai di depan putranya yang sudah menatapnya tajam, seolah tak memperhatikan Wati hanya tersenyum miring lalu bergegas menuju kamarnya.


Azka membuang nafas kasar, mau sampai kapan sang Mama akan menerima Reyna sepenuhnya sebagai menantu, bahkan kehadiran anggota baru dalam keluarganya sama sekali tidak membuat Wati gembira, hal itu membuat Reyna merasa bahwa bayi dalam kandungannya seperti tidak diharapkan di rumah ini.


"Jangan masukkan ucapan Mama dalam hati, anggap saja angin lalu yang mengusik," Azka mengecup pucuk kepala Reyna.


"Hentikan, aku tidak suka kamu berbicara seperti itu, bagiku kamu sudah sempurna dibanding perempuan mana pun, kamu adalah perempuan yang istimewa dan kelebihan kamu itu jarang dimiliki oleh wanita pada umumnya, jadi jangan merendah seperti itu," Azka menatap Reyna sendu, ia paham apa yang ada di pikiran Reyna.


"Ayah, Budan! Dari tadi aku masih di sini lohh." Tatapan mereka terputus karena suara Farel yang menginterupsi keduanya.


"Astaga hampir lupa, maaf ya sayang. Kita terlalu serius sampai gak nganggap kamu ada di sini," Reyna mensejajarkan tubuhnya dengan Farel seraya mencium pipinya. Farel mengerucutkan bibirnya kesal yang membuatnya semakin terlihat menggemaskan.


"Cih, sampai kapan pun aku gak akan terima atau menganggap kamu menantuku, jadi jangan terlalu berharap lebih, perempuan tidak berpendidikan dan miskin seperti kamu tidak pantas bersanding dengan Azka."


.


.


Tengah malam, Reyna terbangun karena tiba-tiba perutnya merasakan sakit yang luar biasa. Bukan sekali dua kali Reyna mengalami sakit ini setiap malam, mungkin malam ini sudah kali ke-lima. Hari sebelumnya masih bisa ia tahan tapi tidak untuk hari ini, rasa sakitnya berkali-kali lipat.


"Sakitthhh," Reyna berusaha meredam suaranya agar sang suami tidak terbangun, kasihan juga Azka dari tadi pagi sangat ekstra menjaganya.


"Akuhh tidakhh tahan lagihh," Reyna meremat selimut dengan kuat, tanpa sadar Azka terbangun karena pergerakan Reyna.


"Sayang, kamu kenapa?" Mata Azka masih belum sepenuhnya terbuka, kesadarannya pun masih setengah.


"Akuhh tidakhh tau, Mas. Inihh sakitthhh banget," Reyna memejamkan matanya menahan rasa sakit yang terus menjalar setiap detiknya. Azka langsung panik dong, segera ia loncat dari tempat tidur dan membuka pintu agar ia bia dengan gampang membawa Reyna.


Azka menyambar kunci mobil di atas nakas, kemudian meraih tubuh ringkih Reyna menggendongnya menuju mobil. Azka sudah gak kepikiran buat ngeluh karena berat badan Reyna yang semakin bertambah.


Sebenarnya Azka bisa saja menghubungi dokter kepercayaan nya, tetapi sudah tidak ada waktu lagi terlebih Azka yang paniknya minta ampun jadi tidak bisa berpikir ke sana.


"Bertahan ya sayang, sebentar lagi sampai," sambil nyetir Azka mengelus kepala Reyna dan sesekali tangan kekarnya turun ke perut buncit Reyna, mencoba menguatkan.


"Semoga saja ada rumah sakit yang masih buka tengah malam begini," harapan Azka di sepanjang perjalanan. Jarak rumah sakit dari rumah mereka memang tidak terlalu jauh, lima menit saja sudah sampai jika pakai kendaraan.


Azka berteriak seperti orang gila dari luar, para suster yang berjaga di meja resepsionis menatapnya aneh. Azka yang kelewat emosi langsung menarik kerah baju seorang petugas laki-laki yang kebetulan berada dekat dengan Azka.


"Cepat ambil brankar, istri saya sedang kesakitan," ucap Azka dengan segala penekanan dalam kalimatnya.