
Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu, dan kebidupan Reyna itu-itu saja, menetap di kamar mungkin adalah keahliannya sekarang. Azka benar-benar melarangnya keluar rumah apalagi kandungannyang mulai menginjak 6 bulan, dokter pribadinya bilang agar Reyna selalu menjaga pola makan dan menghindari yang namanya stres, dan yang lebih penting Reyna tidak boleh mengangkat barang berat, Azka yang mendengar penjelasan itu memutuskan untuk mengunci Reyna dalam kamar karena takut istri nya ini keluyuran dan melakukan hal yang seharusnya dilarang oleh dokter, tau kan Reyna itu keras kepala bahkan sama suami sendiri, tapi Reyna paham juga kao sedang hamil jadi harus ikutin saran dokter.
Tapi, larangan dan aturan Azka sunggu di luar nalar, bahkan Reyna mengangkat kotak tisu saja Azka tidak mengizinkan.
"Mas, dokter bilang hanya barang berat, kotak tisu mah aku angkat pake kaki juga bisa," kesal Reyna, apa saja yang dilakukannya selalu mendapat protes dari Azka.
"Gak boleh ya sayang, hari ini sampai dua hari ke depan, aku yang akan ngawasin kamu, jagain kamu agar gak bandel, soalnya kamu suka kayak gitu," sebegitu tidak yakinnya Azka pada Reyna dalam menjaga bayi mereka, Reyna hanya bisa mendesah pelan, emang laki-laki selalu kayak gini ya? Posesif nya minta ampun.
"Kita me time berdua sampai pagi, biarin Farel diantar jemput sama sopir saja," ucapan Azka tentu saja mendapat penolakan keras dari Reyna, masa iya anak ditelantarkan demi menghabiskan waktu berdua, kan kasian.
"Farel bisa ngerti kok, nanti aku bicara sama dia, apalagi Farel antusias banget kalo tau sebentar lagi adiknya bakal lahir, katanya besok mau ajak adik main petak umpet," ujar Azka seraya terus mengelus perut Reyna penuh sayang, Azka juga tidak sabar menunggu hari di mana darah dagingnya lahir ke dunia.
"Sayang, mau kemana?"
"Toilet? Kenapa? Mau ikut juga?"
"Tentu saja, siapa tau nanti kamu kesusahan saat cebok," tanpa persetujuan dari Reyna, Azka ngekor di belakang dengan wajah tanpa dosa, gak tau aja gimana ekspresi muka Reyna yang sudah kesal dan risih setengah mati, masa iya kemana-mana harus ditemenin, kan dia bukan anak kecil lagi, walaupun kali pertama hamil, Reyna tau kali cara ngurus diri gak perlu pengawasan seperti ini. Tapi jauh dari itu, Reyna juga sedikit tersentuh karena perlakuan manis sang suami yang rela mogok kerja hanya untuk menemaninya, Azka paham kok selama tiga bulan ini Reyna kesepian ditambah ia harus berdiam diri di rumah tanpa melakukan apa pun.
"Mas, aku sudah selesai. Lihat kan, aku tidak kesusahan sama sekali," Reyna menyelesaikan panggilan alamnya tanpa bantuan Azka, dia hanya berdiri di sisi pintu, setiap kali ingin berbalik Reyna selalu berteriak membuat gendang telinga Azka hampir pecah, tapi tak apa, bisa dimaklumi namanya juga ibu hamil, emosi nya kadang berubah-ubah, sama hal nya dengan perempuan PMS.
Azka menuntun Reyna ke tepian ranjang perlahan-lahan.
"Mas, aku bisa sendiri, mending kamu sarapan dulu sana, dari bangun tadi aku gak lihat kamu makan," titah Reyna yang mulai khawatir, tau banget penyakit maag Azka suka kumat kalo telat sarapan sedikit saja.
"Sudah kok, aku makan roti pake selai kacang, kamu gak perlu risau tentang aku, mending kita rangkai mimpi sama-sama dan memikirkan apa yang akan kita lakukan bersama buah hati kita nanti," belum juga lahir udah susun rencana.
"Mas!!"
"Hmm? Kenapa sayang? Butuh sesuatu? Mau makan sesuatu?"
"Iya, aku pengen makan buah pir ditambah garam," rengek Reyna.
"Kamu ngidam apa gimana sih sayang? Masa tiap hari mau makan yang asin terus? Dokter pernah bilang kan untuk tidak mengonsumsi makanan yang asin, bahay Reyna," ucap Azka menegaskan, kadang Reyna sudah banget diatur.
"Janji deh kali ini aja, habis itu jangan lagi." Azka berpikir sejenak kemudian membuang nafas kasar.
"Satu lagi, buatin jus alpukat ya, kali ini gak pakai garam, cuma pake cuka sama kecap asin," pesan Reyna.
"Itu sih sama saja asin Reyna, baiklah terserah kamu yang penting ini yang terakhir," Azka masih bisa bersyukur selagi Reyna gak ngidam yang aneh-aneh, tapi ini juga kelebihan aneh, makan buah pake cuka, garam, sama kecap? Gimana rasanya? Membayangkannya saja Azka ingin muntah apalagi untuk memakannya.
"Sini tuan, biar saya saja," Bi Ela tiba-tiba datang hendak mengambil alih.
"Gak apa-apa Bi, nanti Reyna ngamuk kalo tau jus yang di minum bukan buatan saya," kekeh Azka. Bi Ela yang tau biasanya Azka orang yang dingin dan berekspresi datar, kini bisa tersenyum dan sesekali tertawa lebar.
"Tuan sungguh sangat romantis, non Reyna beruntung sekali bisa memilik suami setampan dan pengertian seperti tuan Azka," Bi Ela tiba-tiba mengingat masa lalunya yang sedikit kelam bersama sang suami.
"Iya kah? Apa saya seromantis itu? Saya rasa tidak, Bibi tidak usah berlebihan, saya hanya melakukan tanggung jawab sebagai suami," jelas Azka kemudian pamit pergi.
"Andai saja kamu bisa seperti tuan Azka, pak. Selalu menemani istri dalam suka maupun duka, aku berharap kamu bisa menemaniku dan anak-anak sampai di titik ini, tapi tidak apa, aku selalu mendoakan kamu agar mendapat tempat terbaik di sisinya," mata Bi Ela mengembun karena mengingat mendiang suaminya yang sudah lama meninggal.
Betapa girangnya Reyna menyambut kedatangan minumannya, bukan kedatangan Azka ya.
Buru-buru Reyna merebut jus alpukat dengan campuran cuka dan kecap asin sesuai pesanannya pada Azka.
"Enak?" tanya Azka yang penasaran dengan rasanya. lihat Reyna minum bukannya ngiler malah jijik, apalagi baunya yang menyeruak.
"Enak kok, mau?" Azka sontak menggeleng dan sedikit menjauh dari posisi awalnya, takut nanti Reyna memaksanya untuk mencicipi minuman jahannam itu.
"Semoga nanti saat kamu lahir tidak aneh seperti yang kamu idamkan selama ini, Nak," ucap Azka kemudian mengulurkan tangannya menyentuh dan mengusap perut buncit Reyna.
Reyna hanya manggut-manggut mendengar sang suami yang berdialog dengan bayinya padahal tidak direspon sama sekali.
"Kita ke dokter ya hari ini." Penuturan Azka tentu membuat Reyna melotot kaget.
"Ngapain, aku baik-baik saja, apanya yang perlu diperiksa," Reyna sudah ketar ketir dikira bakalan disuntik.
"Hanya USG sayang, mau lihat jenis kelaminnya supaya gampang nentuin namanya besok," jawab Azka tersenyum hangat. Reyna mulai tenang dan hanya mengangguk menyetujui, dia juga sudah lama tidak mendengar detak jantungnya janinnya ini.