
" Aku Adnan kiar Ardani ingin melamarmu. Maukah kamu menikah denganku?" Adnan berjongkok kemudian dia mengeluarkan kotak cincin yang sudah ia siapkan beberapa bulan sebelumnya.
Zahra menutup mulutnya dengan tangan dia benar-benar tidak percaya jika Adnan akan melamarnya dia menatap Dinar cincin dalam kotak itu yang terlihat sangat indah momen inilah yang Zahra tunggu-tunggu di mana admin menyatakan cinta padanya apalagi melamarnya seperti ini tentu dia sangat bahagia sekali. Namun sebelum menjawab iya Karena sejujurnya Zahra memang sangat mencintai laki-laki itu tetapi dia takut kemudian dia menatap wajah bapaknya yang terlihat masam dan menatap tajam arah Adnan.
" Apa-apaan kamu ini, kami saja tidak mengenalmu dan sekarang dengan begitu beraninya kamu melamar anakku." Terdengar nada yang tidak suka begitu lantang.
Raut wajah yang dingin serta tatapan tajam itu mengarah kepada Adnan tentu dia sangat marah dia tidak mengenal laki-laki itu sama sekali bahkan anaknya saja tidak menceritakan apapun tentang laki-laki di hadapannya ini namun sekarang tiba-tiba langsung melamar anaknya. Tentu saja siapapun pasti akan tidak langsung menyetujui dan menerima laki-laki yang tidak dikenal ini untuk anaknya karena setiap orang tua menginginkan laki-laki yang baik dan tentu sudah mengenal satu sama lain.
" Saya minta maaf sebelumnya pak saya sebenarnya memang sudah lama ingin mengenal bapak dan juga Ibu Namun karena kalian jarang berada di rumah sehingga saya mengurungkan niat untuk memperkenalkan diri," ucapkan sekarang dia sudah kembali berdiri namun kotak cincin tersebut masih ia pengan.
" Jadi kamu menyalakan saya?" Dingin Bayu.
" Tidak, bukan seperti itu Pak."
" Kamu benar-benar tidak sopan sekali anak muda, bagaimana saya mengetahui Jika kamu adalah laki-laki yang terbaik untuk anak saya, sementara kami saja tidak mengenal apapun tentangmu. Status, pekerjaan, rumah semuanya kami tidak tahu."
Mendengar keributan pada tetangga mulai satu persatu keluar dan mendatangi apa sebenarnya yang terjadi begitupun juga dengan Pak RT di kompleks tersebut. Mereka melihat ada sebuah acara tetapi tuan rumah malah terlihat sangat marah sekali tentu mereka ingin mengetahui yang terjadi.
" Apa kalian akan menyerahkan anak perempuan kalian kepada laki-laki asing yang tidak kalian kenal?" Tanya Bayu kepada seluruh anggota keluarga Adnan.
Tentu mereka menggelengkan kepala karena mereka juga akan berhati-hati saat menyerahkan anak perempuan mereka kepada calon suaminya karena ini menyangkut masa depan anak mereka.
" Mohon maaf sebelumnya Pak Lukman bukan saya bermaksud ingin mempermalukan keluarga anda tetapi sebelum itu saya bertanya lebih dulu," ujar Bayu kepada Luqman.
" Silakan," kata Lukman.
" Jika anda memiliki anak perempuan dan tiba-tiba ada laki-laki asing datang melamarnya sementara anda sendiri tidak mengenal laki-laki itu. Tidak mengetahui asal usulnya, sifatnya, perlakuannya. Apa anda akan menyerahkan anak gadis Anda kepada laki-laki asing itu?" Tanya Bayu dia menatap serius kepada Luqman.
" Tentu saja tidak karena sebelum mereka memutuskan untuk ke tahap serius, seharusnya si laki-laki asing itu sudah lebih dulu memperkenalkan diri dan juga keluarganya kepada keluarga wanita," jawab Lukman dia sangat malu sekali karena pada saat dulu dirinya melamar dia mantan istrinya Adnan setengah tahun sebelum lamaran terjadi dirinya sudah mengenal Tia terlebih dahulu.
Lukman meretuki kebodohannya mengapa ia tidak menanyakan lebih dulu kepada Adnan mengenai keluarga Zahra. Lukman lupakan hal tersebut seharusnya dia tidak menyetujui usul anaknya yang ingin melamar Zahra secara tiba-tiba seperti ini.
"Anak saya, darah daging saya. Saya besarkan dia dengan peluh keringat saya. Saya lindungi dia seperti nyawa saya sendiri. Lantas bagaimana mungkin saya menyerahkan anak paling berharga dalam hidup saya kepada orang asing yang tidak saya kenal. Bahkan jika saya memberikan sumbangan kepada orang, saya harus pilih-pilih dulu. Saya melihat apakah orang itu benar-benar layak menerima sumbangan tersebut atau tidak. Apalagi ini anak saya sendiri."
Semuanya terdiam bahkan begitupun juga dengan yang kini tertunduk malu.
Bayu menghela nafasnya kemudian dia mengusap wajahnya kasar. Ini baru pertama kalinya ia melihat mendengar dan bahkan mengalaminya sendiri tiba-tiba ada orang asing yang meminta anaknya untuk dijadikan istri. Sungguh lucu sekali pikirnya. Kemudian Bayu menatap lekat Adnan yang kini tertunda malu.
" Berapa usiamu, dan di mana kamu bekerja, dan berjabat sebagai apa?" Tanya Bayu pada Adnan.
Adnan sontak mendongak." Usia saya 30 tahun Pak dan saya bekerja di bank Indonesia sebagai manager," jawabnya lantang.
" 30 tahun? Dan kamu masih lajang?" Kini yang bertanya adalah Rindi lantaran laki-laki seusia 30 tahun masih lajang sangat jarang sekali ditemui.
" Tidak, status saya adalah duda beranak satu. Saya sudah bercerai 2 tahun yang lalu, dan anak saya berada bersama mantan istri saya. Usianya saat ini sudah 5 tahun." Adnan menjelaskan dengan detail tanpa ditanya.
" Apa? Jadi kamu seorang duda!" Tentu terkejut apalagi duda beranak satu mereka tidak tahu asal usul perceraian itu tentu saja membuat mereka semakin tidak yakin dengan laki-laki yang dicintai anaknya itu.
Bayu menghela nafasnya dia mau memijat pelipisnya lantaran tidak habis pikir masalah sebesar ini dirinya tidak mengetahui.
" Saya mohon maaf tapi, saya tidak bisa menerima lamaran kamu. Alasannya kamu sudah sangat tahu bukan, seperti yang saya jelaskan tadi, saya tidak mungkin menyerahkan anak saya begitu saja kepada orang yang baru saya temui. Apalagi status kamu yang ternyata adalah seorang duda beranak satu, kami tidak tahu asal usul perceraian kamu dengan mantan istrimu. Jadi maaf."
Bayu menangkup tangannya dia mau minta maaf karena tidak akan mau menerima lamaran Adnan untuk anaknya terlebih lagi statusnya sebagai seorang duda tentu semakin membuatnya yakin untuk menolak laki-laki ini.
" Tapi Pak," kata Zahra.
" Suatu saat kamu bakalan mengerti Zahra. Jika kamu sudah memiliki seorang anak," kata Bayu.
" Adnan ayo kita pulang," ajak Lukman tidak ada gunanya lagi berada di sini toh lamaran mereka ditolak karena kebodohan anaknya sendiri hingga akhirnya wajah malu yang mereka dapatkan.
Adnan berdiri mematung menatap Zahra, bukan ini yang diharapkan.