Married With Duda

Married With Duda
MWD 64 : Di mana Azarin?



Reyna menautkan alisnya bingung kala mendapati sang suami termenung sendiri di balkon kamar sambil terus menatap langit malam, sirat wajahnya terlihat murung dan tak jarang menghantam besi pembatas balkon untuk meluapkan emosinya, Reyna tak tahu pasti kenapa kondisi suaminya seperti itu, karena sejak pulang tadi Azka terlihat bahagia-bahagia saja, bahkan membawa hadiah untuk anak-anak nya, dan sekarang kenapa tiba-tiba berubah.


Reyna membawa langkahnya mendekat, sebenarnya dalam hati ia tak ingin mengganggu dulu tapi gejolak hati memaksa.


Dengan langkah pelan namun pasti, Reyna sudah berdiri tepat di samping Azka, lelaki itu bahkan sama sekali tidak menyadari kehadiran sang istri, netranya masih fokus menatap lurus ke arah langit yang sedikit mendung.


Sekitar 15 menit Azka baru saja sadar akan kehadiran sang istri, menatapnya dengan tatapan hangat. Azka jadi salah tingkah dan segera memperbaiki posisinya yang semula menyangga tubuhnya di pembatas balkon.


"Kamu kapan di situ?" tanya Azka sedikit berdehem untuk menetralkan ekspresinya.


"Kamu ada masalah, mas?" Memilih untuk mengabaikan pertanyaan sang suami dan bertanya balik, jujur saja ini baru pertama kali Reyna mendapati Azka murung di balkon.


"Sudah malam, ayo masuk. Angin malam gak baik buat kamu," Azka melangkah masuk, sama sekali tidak menjawab pertanyaan Reyna, bukan tak ingin hanya saja ini bukan masalah yang serius baginya, jadi tidak perlu dipermasalahkan lebih lanjut lagi.


Reyna menatap punggung Azka yang menyelinap keluar pintu, entah mau pergi kemana, palingan mentok di dapur atau nggak di ruang tengah. Reyna melangkah masuk untuk membersihkan diri yang tadi sempat tertunda.


.


Putri memasuki gerbang rumah dengan motor kesayangannya. Dia baru saja pulang dari kegiatan mengajarnya. Capek? Tentu saja, apalagi hari ini ada penyambutan untuk murid baru, bahkan Putri pulang jauh dengan waktu ia pulang dari biasanya.


Baru saja hendak menapakkan kakinya di lantai rumah, suara klakson mobil menginterupsinya. Putri berdecak kesal kala mendapati oknum yang baru saja memanggilnya pakai klakson mobil, tidak sopan memang. Itu adalah Pak Bobby, salah satu wali dari murid di TK tempat Putri ngajar, tanpa Putri bertanya saja dia sudah tau jika Pak Bobby ini tertarik padanya bahkan mungkin sejak awal bertemu. Tapi sayangnya, Bobby sudah punya istri kalo gak salah sudah tiga kali gonta-ganti pasangan setahu Putri. Tapi tunggu, bukankah yang seperti itu selera Putri, lelaki yang sudah beristri? Lantas, kenapa tidak sama Bobby saja mumpung orangnya naksir.


Salah satu alasan utamanya ya kurang tampan, ditambah selisih umur mereka berdua yang terbilang cukup jauh, ditambah Pak Bobby ini sudah keriput dan ber-uban, jadi bukan selera Putri lah.


Bobby melambaikan tangannya ke arah Putri dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Gak mungkin kan si tua bangka itu membuntutiku sampai rumah? Benar-benar seorang penguntit," Putri ngedumel gak jelas, tapi tetap saja langkah membawanya menghampiri Bobby di luar gerbang. Sebisa mungkin Putri menampilkan senyuman ramah meski agak dipaksakan karena memang jika di depan wali murid harus terlihat sopan seperti yang dilakukannya sekarang.


"Ada apa ya Pak sampai mengikuti saya sampai rumah?" tanya Putri dengan senyum yang masih tersungging.


"Ahh itu, saya hanya mau minta nomor Bu Putri," jawab Bobby dengan wajah salah tingkah karena terpesona melihat senyuman Putri yang terkesan manis ditambah wajahnya yang cantik jelita.


"Hmm buat apa ya, kalo boleh tau?"


"Buat jaga-jaga jika nanti anak saya berhalang hadir gak masuk sekolah, entah karena sakit atau ada acara keluarga, bisa langsung hubungi Ibu agar memberikan izin," jelas Bobby.


"Kalo masalah itu bisa langsung hubungi kepala sekolah saja, karena beliau yang punya tanggung jawab lebih atas murid-murid yang lain termasuk anak Bapak sendiri," Putri sudah capek berdiri melayani bapak tua ini, ingin segera masuk kamar dan tidur.


"Ahh begini, saya sebenarnya kurang suka dengan kepala sekolah itu, dan saya tidak mau berurusan dengannya, dia sungguh cerewet dan berisik. Oleh karena itu, saya meminta nomor Bu Putri karena menurut saya hanya anda yang baik dan ramah." Putri membuang nafas kasar, mau gimana lagi jika sudah begini. Dengan terpaksa ia meraih ponsel Bobby bergambar apel digigit di belakangnya, kemudian mengetikkan nomor ponselnya di sana. Pak Bobby tersenyum senang, merasa kemenangan ada di depan mata karena berhasil mendapatkan nomor Putri.


"Sudah ya pak, saya capek mau istirahat," tanpa memberi salam, Putri melangkah masuk lagi ke pekarangan rumah lalu mengunci gerbang, tidak mempedulikan teriakan Pak Bobby yang katanya akan menelpon sepanjang malam.


"Besok kayaknya harus ganti nomor lagi," batin Putri lalu memasuki rumahnya.


.


Reyna selesai mengambil botol susu dari dapur saat matanya tidak sengaja melihat Wati menyeret sebuah kardus besar yang Reyna tidak tau pasti apa isinya, yang jelas kardus itu sepertinya berat terlihat dari cara Wati menariknya, dan sesekali berhenti untuk mengusap peluh akibat capek.


Tanpa pikir panjang, Reyna segera menghampiri dan menawarkan bantuan, siapa tau didorong berdua akan sedikit lebih ringan.


"Mau kubantu, Ma?" tawar Reyna.


"Tidak perlu, saya bisa sendiri. Cepat menyingkir, apa kamu tidak tau ini sangat berat," Wati sedikit mendorong tubuh Reyna untuk menyingkir dari jalannya.


Reyna tak ingin ambil pusing, jika sudah ditolak mau bagaimana lagi, dengan langkah pelan Reyna memasuki kamar tempat semula Azarin tidur.


Mata Reyna membelalak kaget saat mendapati box bayi tersebut kosong tidak ada Azarin sama sekali. Reyna menatap sekitar, mencoba mencari siapa tau jatuh di bawah kolong kasur atau sembunyi di bawah sofa, tapi nihil tidak ada tanda-tanda Azarin sama sekali.


"Gak mungkin Azarin merangkak, dia saja baru umur 4 bulan, untuk turun dari box ini saja kayaknya butuh perjuangan untuk anak seusianya," batin Reyna, mencoba berfikir jernih siapa yang membawa putrinya.


Reyna menoleh ke arah balkon, siapa tau ada penculik anak yang masuk lewat situ, tapi kondisi balkon tidak terbuka malah dikunci dari dalam.


Oke, Reyna mulai panik sekarang, berbagai pikiran buruk bermunculan di otaknya sampai dia tidak bisa berfikir dengan jernih.


Reyna berlari keluar mau menghampiri Wati, satu-satunya manusia yang ia temui tadi, harap-harap mertuanya itu tau di mana Azarin atau nggak setidaknya dia melihat siapa yang membawa bayi kecilnya.


"Ma! Mama lihat Az---"


"Jangan berisik, saya sibuk, minggir!" sarkas Wati sambil terus menarik kardus tadi yang entah mau dibawa kemana dari tadi gak sampai-sampai, heran.


Reyna menggigit kukunya, padahal dia baru meninggalkan Azarin sebentar saja untuk ke dapur, masa iya dibawa sama hantu, gak mungkin lah, ehh apa mungkin??