
Wati tampak terburu-buru hendak pergi, sampai cardigan yang ia kenakan miring.
"Bi, saya rasa akan pulang lebih lambat sedikit, sudah ingat kan tentang apa yang sudah saya perintahkan?" Bi Ela hanya mengangguk pelan.
Reyna yang juga ada di sana hanya memperhatikan dialog mertuanya dan Bi Ela yang Reyna sendiri tidak paham, entah apa yang Wati maksud, tapi Reyna mencoba untuk tidak ikut campur dan terus menyantap sarapannya yang tinggal setengah.
Setelah Wati pergi, baru lah Reyna ingin beranjak ke kamar karena memang gak ada yang bisa ia kerjakan jika tangan Bi Ela sudah bertindak.
"Non Reyna mau istirahat?" tanya Bi Ela sopan seraya mengangkut piring kotor bekas makan Reyna di atas meja. Reyna yang tidak biasa dilayani seperti ini sedikit canggung dan malu, hendak membantu juga percuma sih sebenarnya.
"Iya Bi, aku ke kamar dulu ya."
Reyna berjalan tertatih-tatih meniti tangga, lama sekali Reyna melamun sembari kakinya terus melangkah di atas anak tangga. Bicara soal tangga, Reyna jadi teringat tangga yang kemarin dia temukan di pojok ruangan.
Muncul kembali rasa penasaran yang sudah ia kubur dalam-dalam. Mumpung Wati pergi, Reyna rasa ini adalah kesempatan emas baginya. Cepat-cepat ia berlari menaiki tangga yang tersisa tinggal lima.
Sampai di tempat yang dimaksud, Reyna mendesah kecewa karena mendapati pintu yang menampilkan sebuah tangga di dalamnya terkunci, padahal Reyna sudah sangat bersemangat untuk itu.
"Kuncinya sama gak ya dengan kunci kamar mas Azka?" Reyna terlihat berpikir sejenak dan meneliti pintu kayu warna kuning di depannya.
"Hmm coba aja, siapa tau sama," Reyna bergegas pergi untuk mengambil kunci kamar Azka yang bergelantung di pintu dan segera kembali ke ruang rahasia.
Reyna kembali dibuat kecewa karena sekeras apapun dia memutar batang kunci tersebut tidak akan bisa.
"Iya juga ya, mana mungkin pintu mewah disamain dengan pintu yang cocok untuk kamar mandi," gumama nya pelan, usaha Reyna tidak sampai di sini, dia akan kembali lagi dan berhenti kepo jika sudah tau isi dari ruangan ini.
"Dia berusaha membukanya, tapi sepertinya tidak bisa."
"Baguslah, untung saja aku membawa kuncinya."
Reyna berjalan santai di dapur, memeriksa kulkas apakah ada bahan makanan yang habis dan perlu di beli sekarang.
"Sepertinya sudah lengkap semua." Reyna mengerjapkan matanya menelisik isi kulkas dengan teliti, namun tiba-tiba perutnya mendadak mual, tanpa pikir panjang Reyna berlari ke kamar mandj yang ada di samping dapur.
Sempat kaget karena Bi Ela berdiri tepat di depan toilet dengan ponsel jadul miliknya, Reyna tak tau pasti dia tengah menghubungi siapa dan tampak serius sekali sampai Reyna datang dengan langkah berisik saja dia tidak sadar, tetapi Reyna tidak terlalu peduli, saat ini ia hanya ingin menuntaskan hajatnya untuk muntah.
"Permisi, Bi," Reyna tidak bermaksud mendorong, Bi Ela saja yang kurang persiapan sehingga saat tangan Reyna menyentuh pundaknya Bi Ela terkejut setengah mati dan hampir saja kejengkang.
Tak kunjung mendapat jawaban, Reyna memilih masuk kembali ke kamar mandi, karena nyatanya perut Reyna masih merengek.
Kurang lebih 10 menit Reyna berdiam diri di sana, merasa sudah mendingan Reyna bergegas keluar untuk menemui Bi Ela. Tapi aneh, wanita paruh baya itu sudah tak ada di tempatnya tadi, Reyna kembali memutar otaknya dan berpikir jernih, usah muntah membuatnya lapar lagi, tapi makanan di rumah sama sekali tak membuat nafsu makannya naik, malah akan semakin menjadi nanti perutnya.
Tampaknya, Reyna mulai memasuki fase ngidam, entah gak ada angin gak ada hujan hari ini Reyna pengen makan nasi goreng buatan Azka yang dulu pernah dia buat untuk Reyna yang asinnya melebihi air pantai, tapi kenapa sekarang Reyna sangat menginginkannya ya, padahal sudah tau rasanya.
Tak ingin berlama-lama dalam mencapai keinginannya, Reyna langsung menghubungi Azka yang saat ini tengah meeting di kantornya. Azka sampai rela tunda untuk beberapa waktu ke depan, untung Azka jadi CEO jadi bebas ngulir waktu, tapi jangan keseringan juga bisa-bisa perusahaan gak jalan kalo terus-terusan seperti ini.
Jalanan macet Azka terobos sampai bunyi klakson memekakkan telinga. Sekelebat bayangan pasca kecelakaan nya dulu membuat Azka sedikit merinding dan mulai memelankan laju mobilnya, tapi mendengar rintihan dan rengekan Reyna di telpon tadi membuatnya denial, Azka memang tidak mau kejadian yang lalu terulang kembali.
Syukurlah Azka tiba di rumah dengan keadaan selamat dan sehat wal afiat tanpa luka. Buru-buru Azka masuk untuk menemui Reyna yang katanya ada dalam keadaan darurat.
"Sayang, kenapa? Apa yang gawat? Perut kamu mengalami kontraksi?" Azka heboh sejak masuk rumah dan melihat Reyna yang rebahan dengan posisi telentang, kirain pingsan tau-taunya lagi rebahan.
"Oh, Mas udah dateng?" Reyna meregangkan tangannya sembari menguap, matanya sayu dan sedikit merah menandakan bahwa Reyna ketiduran di sofa.
"Kamu baik-baik saja? Ada yang sakit? Ada yang mau diperiksa?" Azka masih tetap pada kekhawatirannya, masalah yang lain nanti saja.
"Gak ada, memangnya aku kenapa? Mas gak jelas banget," Reyna melah menepis tangan Azka yang bertengger di bahunya.
"Tadi kan di telpon kamu bilang gawat, makanya aku buru-buru ke sini? Kok sampai rumah kamu baik-baik saja?"
"Ohh masalah itu. Mas gawat Mas, AKU NGIDAM!!!!" Reyna berteriak heboh. Azka mematung seketika di tempat, hanya karena ngidam Azka bela-belain tunda rapat dan mempertaruhkan nyawanya di jalanan?
"Kamu jangan bercanda, sayang."
"Aku gak bercanda, mas. Sekarang kamu pergi ke dapur dan buatkan aku nasi goreng yang beberapa bulan lalu kamu masak untuk aku, soalnya lagi pengen makan itu," Reyna memelas dengan waja lesu.
"Bukannya gak enak ya, kata kamu asin banget terus kamu suruh aku buang, aneh kok sekarang minta lagi?" Azka menautkan alisnya bingung, masa iya dia harus masak sekarang, sedangkan dia masih lengkap dengan setelan jas nya, sampai kantor apa gak bau asap?
"Mas cerewet banget, ini kan kemauan anak kamu, udah sana masak buruan, jangan lupa taruh garam nya satu toples biar enak, gak usah pakai takaran," Reyna mendorong tubuh Azka menuju dapur.
Azka mendengus kesal, melepas jas nya dan mulai memasak sesuai arahan Reyna. Saat akan memasukkan garam, Azka sedikit ragu, ini seriusan satu toples? Reyna memang ngada-ada. Azka terpaksa tidak menuruti kemauan Reyna untuk memasukkam garam satu toples, hanya beberapa sendok agar lebih asin sedikit, kelebihan garam juga gak baik buat ibu hamil.
Selesai bergelut dengan alat-alat dapur, Azka langsung menyajikan masakannya di hadapan Reyna, aromanya menggugah selera, Reyna sampai ngiler. Azka memejamkan mata kala Reyna memakan lahap nasi goreng asin buatannya, Azka gak bisa bayangin gimana rasanya apalagi garam yang ia masukkan dua kali lipat lebih banyak dari yang pernah ia buat sebelumnya, bagaimana bisa Reyna tahan akan hal itu. Ibu hamil kadang ngidamnya aneh-aneh.