
Farel mendengar suara tawa kencang dari balik pohon pisang samping parkiran seusai Maria beranjak pergi dari hadapan Farel. Tatapan tajam bak elangnya mencari sumber suara dan siapa pencipta suara tak enak tersebut. Farel seperti diejek setelah ditolak halus oleh dosennya itu.
Sosok Rian menyembul dari balik daun pisang yang tadi menyembunyikan bagian kepalanya, masih dengan tawa puas mengejek sambil memegangi perutnya yang sakit akibat tertawa lepas seperti tadi. Farel hanya bisa mengumpat dalam hati sambil melirik Rian sinis.
"Nice try bro, lain kali coba lagi ya," Rian menepuk bahu Farel sekilas lalu kembali tertawa sampai air matanya keluar. Farel menggaruk kepalanya, antara kesal dan malu campur jadi satu, ingin sekali rasanya Farel ngubur dirinya hidup-hidup.
.
Farel mengendarai motornya ugal-ugalan di jalan, sementara Rian di jok belakang hampir terbang dibuatnya, kalo waktu bisa diulang kembali, Rian ogah nebeng sama Farel. Apa ini yang dinamakan balas dendam?
"Woy, lo kalo mau mati jangan ngajak-ngajak gue, anjing. Gue masih mau hidup, gue belum punya cucu," Rian menggeplak punggung Farel agar si empunya motor memelankan kecepatan, karena di sepanjang jalan Rian mendengar protesan dari pengendara lain gara-gara Farel asal salip truk dan ambulance yang tengah melaju kencang.
"Berisik!!!" Satu kata menyebalkan keluar dari belah bibir Farel, kemudian ia kembali menarik gas dan mereka berdua melesat jauh bak angin. Kabari Rian jika dia masih hidup, karena untuk waktu sekarang laki-laki itu sudah pasrah dengan takdir jika ia harus menghadap sang pencipta dalam keadaan masih lajang.
.
Farel menggoyangkan bahunya saat merasakan kepala Rian bersandar di sana.
"Gak usah modus lo, gue masih normal. Buruan turun, udah sampai di depan rumah lo nih," ucap Farel sambil terus berusaha membangunkan Rian. Tetapi, laki-laki itu tak kunjung bangun membuat Farel geram. Buru-buru Farel turun dari motor yang otomatis Rian nyusruk ke depan karena gak ada yang menopang kepalanya.
"Anjirr, gue di mana?" Rian mengelus keningnya sehabis mencium jok bekas Farel dudukin, menatap sekitar dengan tatapan tak percaya sekaligus bingung, dan kini beralih menatap Farel yang berdiri di samping motor sambil bersidekap dada, ditambah dengan raut kesal dan heran.
"Farel, lo juga mati? Terus kita masuk surga?" Rian melotot tajam, karena tempat Farel berhenti kayak taman terus ada air mancur ditambah banyak bunga warna warni mengelilingi mereka. Farel berdecak malas, mengetuk bagian belakang helm Rian sebelum menjedorkan kepala temannya menggunakan kepalanya.
"Mati pala lo. Kita di rumah tetangga lo, noh sebelah sana baru rumah lo. Cepat turun, gue harus nugas." Rian tak kunjung turun membuat Farel semakin geram, ditariknya kedua tangan Rian sehingga pemuda itu terduduk di atas rerumputan.
"Kaki gue lemes banget anjir gak bisa berdiri, gue kira gue udah mati," keluh Rian berusaha berdiri, sementara Farel sudah siap-siap ingin melesat lagi meninggalkan Rian sebelum tetangganya keluar karena mereka sudah menginjak rumput yang seharusnya tidak boleh diinjak. Apalagi Farel memarkirkan motor di sana, gak ada akhlak memang.
"Bisa gendong gue gak?" Rian merentangkan tangannya yang langsung ditepis oleh Farel.
"Emang temen bangshattt lo ya, awas aja gue kasih tau semua orang kalo lo ditolak dosen," teriakan Rian tentu tidak Farel dengar karena sudah melaju sangat jauh membelah jalanan kota. Suaranya malah membuat sang tetangga keluar rumah karena berisik dan mendapati Rian masih duduk bersimpuh di atas rumput hiasnya.
"Woyy jangan berisik, anak saya lagi berusaha tidur, itu juga kenapa kamu injak rumput saya. Memang minta dihajar ini anak, Ibu ambilin pentungan di atas lemari," laki-laki paruh baya itu ikut berteriak memarahi Rian yang cengo di tempat, kembali masuk rumah buru-buru dengan iming-iming ambil pentungan, mendengar hal itu Rian segera berlari meski kakinya masih terasa lemas untuk diajak berlari menjauhi rumah tetangga yang terkenal bengis dan pemarah itu.
.
"Abang, dipanggil Bunda," suara Azarin yang melengking berhasil mengusik indra pendengarnya, ditatapnya pintu kamar lamat-lamat sambil menunggu sosok Azarin nampakin diri, tapi dugaannya salah, adiknya hanya menyampaikan amanah dari balik pintu tanpa berniat membukanya, padahal Farel hanya ingin bertanya ada apa Bunda memanggilnya.
Terpaksa Farel bangun dari aksi rebahan enaknya, menggaruk belakang lehernya kesal, dipanggil tanpa tujuan rasanya gak seru.
Farel menopang dagu memperhatikan sang Bunda yang lagi sibuk nyiapin sesuatu dengan terburu-buru. Keberadaan Farel sama sekali tidak dianggap oleh Reyna, padahal dia sendiri yang manggil kalo kata Azarin, gak tau benar atau nggak, soalnya Azarin suka bohong kalo emang mode jahilnya kumat.
"Bunda manggil Farel?" Tak puas diam-diaman, Farel langsung saja mengajukan pertanyaan. Reyna menoleh sekilas lalu mengerutkan dahi, mengingat-ngingat apakah dia pernah menyebut nama Farel hari ini.
"Kapan?" tanya balik Reyna, wajahnya kentara akan kebingungan. Farel berdecak malas, matanya menampilkan sorot kekesalan pada sang adik yang sudah berani mempermainkannya, padahal Farel belum puas rebahan.
Baru saja Farel hendak beranjak mencari Azarin yang akan ia kasih hukuman, tiba-tiba suara Reyna menghentikan langkahnya.
"Oh iya, Bunda lupa. Ini mau minta tolong kamu anterin bekal buat Ayah di kantor, katanya kantin dekat sana baru saja kebakaran, jadi Ayah kamu gak mau makan selain masakan Bunda," jelas Reyna sambil nepuk jidat. Farel memanyunkan bibirnya beberapa centi lalu kembali duduk.
"Gak bisa nanti sore, Bun? Farel mau istirahat bentar," tolak Farel dengan wajah lesu meski dia tau ucapannya sama sekali tidak akan diturutin oleh Bunda-nya, jika dikalkulasikan, rasa sayang Reyna tentu lebih besar untuk Azka seorang, sedangkan Farel dan Azarin sebagai anak berada di urutan ke sekian, gak usah ditanya seberapa bucinnya kedua pasangan itu kalo sudah berduaan, Farel kadang iri kadang mau muntah lihat Azka yang sok manja pada Reyna padahal sudah berumur, udah numbuh uban juga meski hanya dua tiga helai.
Reyna menggeleng tegas, itu artinya tidak bisa dibantah, Farel juga gak berani protes untuk yang kedua kalinya. Dengan keadaan yang acak-acakan, Farel menenteng rantang dan beberapa kantong plastik warna hitam yang entah isinya apaan yang jelas Farel gak mau tau.
"Bun, kunci mobil di bagasi mana?" Farel menyembulkan kepalanya di balik pintu.
"Bunda mau pake mobil itu ke Kafetaria, kamu nganterinnya pake motor saja," jawab Reyna dari dalam rumah. Farel langsung lemas, gimana ceritanya bawa rantang dan kawan-kawannya pakai motor sport miliknya, gak keren banget bagi seorang Farel yang setiap hari jadi idaman wanita. Hancur sudah image Farel kalo kayak gini.