Married With Duda

Married With Duda
MWD 87 : Tertolak



Farel datang lebih awal ke Kampus, kelasnya di mulai jam 10 tetapi Farel sudah stay di kampus dari jam 6, tercatat sebagai murid teladan tapi gak sepagi itu juga. Suasana ruangan kelas sangat sepi, di antara deretan bangku hanya bangku ke dua yang terisi, yakni Farel sendiri.


Satpam penjaga gerbang sampai heran tadi karena Farel datangnya sepagi itu, meskipun jurusan lain ada kelas pagi tapi itu jam 8 bukan jam 6.


Karena bosan dan gak ada yang bisa diajak ngobrol kecuali papan tulis dan dinding kelas, Farel memilih untuk tidur saja karena dia juga lupa bawa ponsel, asem banget memang takdir hidupnya, Farel menelungkupkan wajah di atas lipatan tangannya, bukan tanpa alasan Farel tiba-tiba rajin begini. Bukan rajin sih, lebih tepatnya terpaksa, entah karena apa yang jelas Farel ingin tidur di kampus saja daripada di rumah, takut kebablasan sampai jam 12.


Semalam Farel kurang tidur gara-gara nginap di rumah Sandi, memang fakta ya kalo tidur bareng temen pengennya cerita mulu atau nggak main game bareng, dan itu yang Farel alamin selama di sana. Sandi menceritakan tentang sikapnya yang berubah akhir-akhir kemarin. Bagaimana Sandi mengacuhkan teman-temannya, diajak nongkrong Sandi tolak dengan tegas, diajak ngobrol diem doang. Dan tiba pada pembahasan di mana Sandi pernah hubungi Farel sampai Farel ngabsen isi kebun binatang saking kesalnya karena Sandi gak ngomong di telpon. Baru lah terungkap fakta bahwa sebenarnya Sandi malu buat ngomong kalo dia mau pinjem uang sama Farel untuk biaya operasi almarhumah Ibu-nya, tapi Sandi malu duluan makanya gak buka suara, perasaannya campur aduk saat Farel membentak sambil berkata kasar, bukan sedih sih lebih tepatnya kaget jadi Sandi loading sebentar sebelum bicara tapi Farel sudah lebih dulu memutus sambungan telponnya.


Mendengar cerita Sandi, Farel jadi merasa bersalah tapi jujur saat itu juga Farel sedang parno sendirian di rumah. Untung saja Sandi paham dan semuanya juga sudah berlalu, sudah takdir yang di atas, kita hanya manusia biasa bisa apa selain menerima dengan ikhlas dan lapang dada. Meski Sandi bilang ini semua bukan salah Farel, tapi tetap saja Farel merasa bahwa dia yang salah di sini.


Tidur Farel terganggu saat suara ramai memenuhi indra pendengarnya. Perlahan Farel membuka mata, yang pertama kali ditangkap oleh netranya hanya sebuah cahaya yang menyilaukan, tak percaya dengan apa yang dia lihat, Farel ngucek matanya kasar berusaha menajamka mata.


Farel mendengus kesal saat wajah Rian muncul di depan matanya, mana deket banget lagi hingga hidung mereka bersentuhan, maklum hidung Farel terlalu mancung, karena waktu pembagian hidung, Faral maju paling depan.


"Anjing lo," Farel menampar wajah Rian penuh kekesalan, baru bangun malah disediakan muka songong Rian depan mata.


"Mimpi apa lo sampai dateng awal?" tanya Rian dibarengi dengan tangannya yang mengelus pipinya akibat ditampol Farel tadi.


"Gak, pengen aja," Farel memperbaiki posisi duduknya, memperhatikan sekitar yang tampak senyap, mahasiswa lain belum datang. Farel melirik arloji di tangannya, sudah pukul 09:30 tapi kenapa kelas masih sepi, terhitung ada 10 orang termasuk Farel dan Rian di kelas. Farel beralih menatap Rian yang tampak santai memutar pulpen di tangan, tak menghiraukan tatapan penuh tanya dari sobatnya.


"Sandi gak masuk? Mana tuh anak?" tanya Farel yang langsung menyita fokus Rian.


"Ada, masih di luar noh," Rian menunjuk dengan mulutnya yang maju beberapa centi. Farel ngangguk paham sebelum kembali menidurkan kepalanya di atas meja, rasanya Farel belum puas tidur tapi apalah daya, setengah jam lagi kelas akan dimulai.


"Selamat pagi dunia tipu-tipu, idola kalian baru bisa masuk hari ini." Semua menoleh ke arah laki-laki yang berdiri di ambang pintu dengan senyum cerahnya.


Itu Lars, si pria setengah bule yang baru pindah lima bulan yang lalu, entah apa masalahnya, Lars sering sekali absen dari kelas tanpa keterangan apa pun, dan sekarang dia baru muncul setelah dua minggu tidak menampakkan batang hidungnya.


Dengan kaki yang dihentakkan ke lantai, Lars berjalan menuju mejanya dan melempar ranselnya ke bawah kursi. Aksinya tersebut sama sekali tidak mengganggu yang lain, malah Lars dicap stres oleh teman-temannya.


"Siapa dia?" bisik Rian dengan suara sekecil mungkin karena kebetulan posisi Lars duduk ada di depannya.


"Masa lo lupa sih? Dia itu Lars, yang dulu pernah cuci muka di kloset gara-gara matanya kena sambal bakso Mang Saleh," ucap Farel, suaranya sedikit lantang, entah dia sengaja atau tidak yang jelas ucapannya langsung mengundang tawa seluruh isi kelas, sementara Lars menatap Farel kemusuhan sambil mengacungkan jari tengah. Farel mengedipkan matanya, berfikir apakah dia salah ngomong? Ya iya lah salah, Lars sudau berusaha keras melupakan bencana itu, sampai 7 bungkus sabun dia gosokkan ke wajahnya saat itu juga, mana klosetnya habis dipakai lagi. Gak kebayang bau nya gimana. Dan semenjak saat itu, Lars rajin menggunakan skincare, takut wajahnya iritasi kena air bekas tai.


.


Kelas yang membosankan, Farel tak begitu menikmatinya, dosen yang mengajar kali ini sedikit kaku, penjelasan yang dia berikan juga kurang lengkap dan sedikit melenceng dari materi yang mereka pelajari. Mau komen tapi takut salah bicara, jadi Farel diam saja sambil saling kode dengan Rian dan Sandi yang juga sama dengan dirinya, gak paham.


"Oke. Untuk tugas kalian hari ini, yakni persentasi secara individu dan usahakan materi yang masing-masing kalian dapatkan dirangkum sesuka kalian asalkan rangkaian kalimatnya nyambung dan cepat dipahami oleh teman-teman kalian. Penjelasan harus detail, tidak belibet, dan mengandung fakta. Bapak kasih waktu tiga hari untuk menyelesaikannya, dan hari ke-empat kita mulai persentasinya." Penuturan sang dosen hanya dibalas anggukan malas oleh mahasiswa/i nya, bagaimana tidak jengah, baru masuk langsung kasih tugas, minimal penjelasannya yang detail dikit. Tapi mau gimana lagi, dosen sudah bicara tinggal dituruti asal gak dikasih nilai nol saja.


.


Farel duduk santai di parkiran, suasana kampus sudah lenggang, anak-anak yang satu jurusan dengannya pun sudah tidak nampak biji matanya di kampus ini, menghilang sejak kelas dibubarkan.


Bukannya enggan pulang, hanya saja Farel sedang menunggu seseorang. Nah, itu dia datang.


"Miss Maria!!" Panggilan itu ditujukan pada dosen cantik yang berjalan di depannya hendak menuju perpustakaan. Maria sedikit bingung karena tak menemukan seseorang yang baru saja menanggilnya. Maria tersenyum saat melihat Farel melambai ke arahnya. Farel berlari kecil untuk sampai di depan Maria.


"Ayo pulang bareng," tanpa basa-basi, Farel langsung mengutarakan niatnya. Maria mengerutkan dahi, heran kenapa Farel tiba-tiba mengajaknya pulang bersama.


"Ahhh, tidak apa-apa, saya bisa pulang sendiri," tolak Maria halus, setelah itu berjalan cepat meninggalkan Farel yang mematung di tempat.