
Kini keempat manusia itu sudah berada di dalam bioskop mereka sepakat memilih film horor Jepang yang cukup menegangkan dan pasti sangat menyeramkan. Padahal cinta jelas-jelas sangat takut sekali dengan yang berbau horor akan tetapi demi sang sahabat dia rela masuk ke bioskop dan nonton film yang paling amat ia tidak sukai itu.
" Ini demi lo Zahra, gue harus bisa dan tahan," batinnya menguatkan diri dia duduk dengan tegang padahal film belum dimulai, layarnya saja masih hitam belum dinyalakan sama sekali.
Zahra memperhatikan sahabatnya dia sangat kasihan sekali namun apa boleh buat toh ini rencananya sendiri jadi dia hanya bisa menyemangati Sinta untuk tidak takut saat film dimulai.
Mereka berempat duduk berbaris Sinta di pojok samping tembok yang di sebelah kanannya ada Aryan kemudian di tengah-tengah Zahra lalu barulah Adnan. Film sudah dimulai cinta tak berani membuka matanya dengan kaki ditekuk gadis itu memejamkan mata dan menutup kedua telinganya. Arian sungguh sangat kasihan sekali perlahan sebelah tangannya mengelus tangan cinta seakan mengatakan semua akan baik-baik, saja tenang ada Aku disini.
Sementara Zahra dia terlihat tegang saat melihat adegan-adegan yang mulai mendekati sesuatu yang akan muncul dengan musik yang sudah mulai membuat bulu kuduk merinding dan benar saja sebuah teriakan Zahra saat seketika hantu itu muncul di film sementara Shinta dia mencoba menahan mulutnya agar tidak berteriak namun dia tidak berani untuk melihat.
Harian sebenarnya ingin memeluk kekasihnya itu namun demi rencana agar membuat Adnan segera mengungkapkan perasaannya kepada Zahra Arian pun memilih untuk menarik Zahra kepelukannya seolah menenangkan gadis itu yang tengah ketakutan.
" Jangan takut ada aku di sini," kata Aryan saat menarik Zahra kepelukannya. Sebelah tangan merangkul Zahra sementara tangan satunya menggenggam erat tangan Shinta dia tidak ingin cinta terlewat cemburu lantaran rencana ini yang mengharuskan dirinya memeluk wanita lain.
Adnan yang menyaksikan itu hanya mengepalkan tangannya saja dengan rahang yang mengeras Adnan menatap tajam organ yang menyentuh Zahra.
" Lepaskan Arkan kau tidak berhak untuk memeluknya," kata Adnan dengan suara tertekan. Kemudian Adnan menarik kembali Zahra agar gadis itu bisa duduk seperti semula.
Zahra tersenyum dalam hatinya bersorak dia yakin jika Adnan benar-benar sangat cemburu.
" Aku hanya coba menenangkannya saja," kata Aryan.
" Sssttt, diam lah. Di dalam bioskop dilarang berbicara," kini cinta menjawab dia kembali harus memerankan perannya dan berusaha melawan rasa takut. Diam-diam Sinta dan Aryan aduh tos lantaran berhasil membuat Adnan semakin cemburu.
Dan film semakin menegangkan kembali Zahra menekuk lututnya diam menundukkan kepala dan menutup kedua telinganya lantaran hantu di film tersebut benar-benar sangat menyeramkan Adnan dengan cepat menarik Zahra dan membantu menutup kedua mata gadis itu dengan tangannya sementara tangan satunya ia rangkul lah pundak Zahra agar gadis itu rasa takutnya sedikit berkurang.
Aryan menoleh dia memasang ekspresi tidak suka padahal dalam hatinya tersenyum puas melihat Adnan sudah mulai bertindak sebelum dirinya.
" Kalau kamu benar-benar tidak kuat sebaiknya kita keluar aja," bisik Adnan dia tidak tega melihat Zahra yang ketakutan padahal tadi sebelum memutuskan film apa yang ditonton Adnan sudah meyakinkan apakah serius ingin menonton film horor Zahra dengan sangat yakin sekali mengatakan serius tapi nyatanya malah ketakutan seperti ini.
" Tapi filmnya belum selesai rugi kalau kita tinggal," bales Zahra berbisik.
Kemudian Zahra mengangguk setuju, lalu Adnan berdiri kemudian dia merangkul pundak Zahra agar gadis itu tidak takut saat keluar dari bioskop lantaran harus melewati layar bioskop saat menuju pintu keluar. Adnan takut saat musik yang menegangkan dan tiba-tiba hantu muncul Zahra berjalan seorang diri langsung meloncat kaget jadi tidak ingin membuat gadis itu malu ditertawakan oleh orang-orang banyak di bioskop ini. Hingga keduanya sudah sama-sama berada di luar bioskop.
" Sayang mereka sudah keluar apa kamu mau keluar juga?" Kini Aryan memeluk kekasihnya dia sangat yakin jika saat ini Sinta sangat gemetar ketakutan.
" Jangan nanti Adnan curiga," ucapnya.
" Tapi jika di sini kamu pasti sangat ketakutan Aku nggak mau kamu sampai mimpi buruk nantinya. Kita keluar aja ya," bujuk Aryan.
Namun Sinta tetap menolak, dia tidak ingin Adnan curiga dan dia juga ingin melihat apa yang akan dilakukan Adnan apakah laki-laki itu langsung mengungkapkan cintanya kepada Zahra malam ini.
Akan tetapi, jika semua rencananya ini sia-sia dan Adnan masih belum juga mengatakan perasaannya kepada Zahra, maka Sinta tidak akan pernah lagi mau mendukung Adnan untuk mendekati sahabatnya itu lagi.
Adnan mengajak Zahra pergi ke tempat sesuatu yang cukup lumayan indah dipandang ada taman bunga air mancur dan lampu berkelap-kelip dan itu semua ada di luar mal tersebut. Keduanya duduk Sambil memandangi air mancur dan kelip-kelip lampu hias di taman bunga itu.
" Kamu mau es krim?" Tanya Adnan saat ada penjual es krim lewat.
" Boleh." Segera Adnan memanggil penjual es krim tersebut dan membeli 2 satu untuknya dan juga satu untuk Zahra.
Mereka sama-sama menikmati ice cream dan sambil memandang air mancur tersebut dengan orang-orang yang lalu lalang di dekat mereka karena tempatnya mereka duduki ini ini memang tempat umum.
Setelah ice cream Adnan habis kemudian laki-laki itu membuang kulitnya tetap sampah kemudian dia berdiri tepat di hadapan Zahra yang masih duduk di bebatuan. Zahra menatap Adnan begitupun juga Adnan menatap dirinya.
Deg ... Deg ... Jantung Zahra langsung berdetak dia tersenyum malu mungkin inilah saatnya sudah tiba waktunya Adnan akan mengungkapkan perasaannya kepada dirinya. Momen ini yang sudah lama Zahra tunggu-tunggu, dia tidak sabar ingin menjalani hubungan asmara dengan Adnan laki-laki yang sudah berhasil mencuri hatinya, sudah membuat kembali kepercayaan cintanya yang dulu pernah hilang.
Tangan Adnan menggenggam tangan Zahra dan membuat detak jantung semakin berdebar kencang dan aliran darahnya berdesir begitu deras di tubuh. Wajah Zahra sudah merona, dirinya seakan kesulitan bernafas rasanya benar-benar tidak sabar mendengar ungkapan cinta Adnan untuk dirinya.
" Yuk pulang yuk udah malam," kata Adnan.
Sontak Zahra langsung mendongak menatapnya tajam hancur sudah ternyata harapannya tadi. Yang dia pikir Adnan akan menyatakan cintanya ternyata tidak laki-laki itu malah mau mengajaknya pulang, lantas untuk apa genggaman tangan ini? Apa maksud semua pendekatan ini? Apa benar laki-laki itu hanya menganggap dirinya sebagai teman mesranya saja tanpa status. Tentu Zahra merasa sangat kecewa sekali, kemudian dia hempaskan tangan Adnan yang menggenggam tangannya.